GET MARRIED TRILOGY

GET MARRIED : THREE MEN AND A BIG BABY

Sutradara : Hanung Bramantyo

Produksi : Starvision Plus, 2007

Diantara pertarungan sekuel-sekuel horor yang disebut sineas Rizal Mantovani sebagai “Lebaran Blockbusters” tahun ini, terselip satu film komedi yang dari promonya sudah lama mengundang perhatian karena sebarisan cast-nya. Get Married, produksi terbaru Starvision ini kembali membawa nama sutradara Hanung Bramantyo yang akhir-akhir ini cukup produktif dan tak sekedar asal-asalan saja. Mengikuti gaya satir sosialnya setelah film Kamulah Satu-Satunya, Hanung kelihatan semakin mantap berkiprah di tema-tema ini. Kalau mau dibandingkan, atmosfer dan kekuatan komedi satirnya mungkin bisa disejajarkan dengan sineas senior Nya Abbas Akup yang dulu sangat terkenal lewat Inem Pelayan Sexy dan Cintaku Di Rumah Susun yang mempopulerkan duo Kadir-Doyok.

Get Married sendiri berpusat pada empat sahabat sejak kecil, Mae (Nirina Zubir), Guntoro (Desta Club ‘80s), Beni (Ringgo Agus Rahman) dan Eman (Aming) yang hidup di kampungnya sebagai pengangguran pascasarjana tanpa tujuan hidup yang jelas. Ketika orangtua Mae (Jaja MiharjaMeriam Bellina) berniat menjodohkan Mae, ketiga sahabatnya pun tak tinggal diam untuk membantu Mae menyeleksi calonnya, hingga akhirnya terjadi kesalahpahaman justru pada calon yang disukai Mae, Rendy (Richard Kevin), seorang putra konglomerat yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya. Kegagalan ini membuat sang ibu jatuh sakit dan mau tak mau, Mae harus memilih satu dari tiga sahabatnya untuk dipersunting sebagai suami. Tapi Rendy juga tak tinggal diam, apalagi sahabat-sahabatnya yang datang dari kalangan orang berada di kompleks tempat tinggalnya siap membantu menyerbu kampung Mae untuk membuat perhitungan.

Sejak kesuksesan Nagabonar Jadi 2, nama penulis skenario Musfar Yasin yang sebelumnya menulis Kiamat Sudah Dekat memang jadi sangat terangkat, namun sedikit berbeda dengan dua komedi yang kental dakwahnya itu, disini Musfar justru menghadirkan segudang dialog berisi sindiran demi sindirannya terhadap berbagai aspek sosial, idealisme nyeleneh bangsa kita termasuk dalam hal reliji, dan memang, disinilah letak kekuatan utama Get Married sebagai komedi yang bisa digolongkan dalam genre sitkom satir, bersama nilai plus penyutradaraan Hanung. Plotnya sendiri memang sudah terbentuk sangat kuat dengan banyak celah untuk dikembangkan menjadi komedi berkekuatan ekstra. Sebarisan pendukungnya juga menampilkan chemistry yang luarbiasa kompak, santai dan wajar tanpa harus ber-slapstick ria dalam menciptakan atmosfer komedi yang jauh dari kesan konyol namun tetap mengundang tawa tak habis-habisnya, dan ini semua masih ditambah lagi dengan daya tarik dari kekuatan editing dan alunan soundtrack karya Slank yang terasa sangat padu dengan suasana filmnya. Sebuah satir memang seharusnya membuat penonton menertawakan diri mereka sendiri, dan semua unsur tadi sudah bekerja dengan sangat sukses untuk itu. Kalau sudah bosan dengan tema horor yang masih berada di garis batas itu-itu saja, Get Married bisajadi pilihan yang tak hanya luarbiasa menghibur namun juga mengandung sejuta makna lewat pesan bijaknya tanpa harus membawa beban berat bak film-film Garin Nugroho pada penontonnya. Bukti bahwa sebuah komedi bisa berbicara banyak, dan film ini adalah salah satu yang terbaik yang pernah hadir di perfilman nasional kita. (dan)

from my old blog : http://www.danieldokter.multiply.com

 

GET MARRIED 2 : THREE MEN AND A BIG BABY’S FAMILY

Sutradara : Hanung Bramantyo

Produksi : Starvision Plus, 2009

Kesuksesan Get Married baik dalam perolehan penonton dan banyak review kritikus sebagai komedi yang fresh, tentu membuka seribu alasan untuk melanjutkannya dalam sebuah sekuel. Dan gelaran awal dari skenario Musfar Yasin yang diterjemahkan dengan jitu oleh semua pendukungnya juga membuat kita tahu masih banyak sisi yang bisa digali dari hubungan antar karakternya. Sekarang tergantung ke skenario untuk bisa menyusun plot baru dengan kesinambungan komedik yang paling sedikit sama dengan pendahulunya. Kedua, main castnya bisa dipertahankan. Oh ya, sebagai highlight yang juga sama menarik dengan film pertamanya, soundtrack yang diisi oleh Slank juga ikut kembali. Sayang, ada satu pemeran inti yang diganti. Richard Kevin mungkin tampilannya tak terlalu jauh dari Nino Fernandez yang sama-sama aktor blaster, dan karakternya juga bukan satu yang terlalu dijual dalam tendensi komedinya. Mungkin begitu. And so the movie begins.

Beda dengan tiga badut yang selalu setia jadi pendampingnya dan kini sudah menikah, Guntoro (Desta), Beni (Ringgo Agus Rahman) dan Eman (Aming), Mae (Nirina Zubir) dan Rendy (Nino Fernandez) yang sudah menikah 4 tahun belum juga memiliki keturunan. Berbagai cara sudah mereka coba namun tetap gagal. Saat Rendy yang makin sibuk dengan bisnisnya gagal hadir di acara ulangtahun pernikahan mereka, Mae minggat ke rumah orangtuanya, Babe (Jaja Miharja) dan Bu Mardi (Meriam Bellina). Situasi bertambah kacau karena Babe dan Bu Mardi malah memanasi Mae untuk bercerai karena Rendy tak juga bisa memberikan keturunan. Belum lagi ketika Mae mencurigai hubungan Rendy dan Vivi (Marissa Nasution), seorang rekan kerjanya. Ibu Rendy yang datang atas permintaan Rendy (Ira Wibowo) ikut panas, dan Guntoro-Beni-Eman pun jadi bingung berada diantara sahabat mereka dan Rendy yang kini telah mempekerjakan ketiganya. Mae yang kemudian berusaha mencari pekerjaan menyadari bahwa ia sudah hamil. Rendy yang tahu berita ini kemudian menugasi Guntoro-Beni-Eman untuk menjaga Mae yang menolak rujuk dengannya. Sambil memanipulasi Rendy, ketiga sahabat ini ternyata tetap berusaha membujuk Mae, walau istri-istri mereka mulai protes. Namun di tengah konflik antar orangtua yang makin meruncing, Mae dan Rendy yang sadar masih saling mencintai itu akhirnya kembali berhubungan secara sembunyi-sembunyi.

Pengembangan cerita yang sudah sukses menghadirkan karakter-karakter menarik di instalmen pertamanya boleh saja lari kemana-mana, namun yang penting ada poin-poin penting yang bisa terus dipertahankan dari kelucuannya. Cassandra Massardi sebagai penulis skenario sekuel ini mungkin sedikit keterlaluan mengembangkan karakternya jadi terlihat agak nyeleneh dalam usaha melebarkan konflik. Ini bisa jadi bumerang kalau-kalau predikatnya yang sudah menjadi franchise nantinya berniat dilanjutkan kembali dengan karakterisasi yang semakin sesak, tapi juga tak bisa dipungkiri bahwa sisi komedi baru yang digelarnya dari bagian-bagian Desta-Ringgo dan Aming menjadi pegawai Rendy, Mae yang sibuk mencari lowongan pekerjaan dan kehamilan Mae bisa muncul sebagai kelucuan baru yang cukup fresh. Dan Hanung juga tak terlalu jauh beranjak dari konsistensi pengarahannya di film pertama. Chemistry Nino dan Nirina mungkin tak muncul sebaik Richard Kevin, tapi masih terlihat cukup believable. Oke, meski di beberapa bagian pengembangannya terlihat agak dipaksakan sehingga tak mampu menyaingi pendahulunya, tapi usahanya mempertahankan sisi komedi yang jadi jualan utamanya boleh dibilang cukup berhasil, dan memang itu yang paling diperlukan. Untuk sebuah tendensi komersil, ini masih belum tergolong sebuah kesalahan. Overall, bolehlah. (dan)

from my old blog : http://www.danieldokter.multiply.com

 

GET MARRIED 3 : THREE BABIES AND THE GRANDIES

Sutradara : Monty Tiwa

Produksi : Starvision Plus, 2011

Tak hanya dikembangkan menjadi Get Married The Series tahun lalu di sebuah teve swasta sebagai prekuel Mae dan tiga sahabatnya di masa kecil mereka, produser ternyata masih ingin meraup untung di masa-masa lebaran yang jadi ajang pertarungan film Indonesia. Get Married pun dilanjutkan lagi dengan film ketiganya, di tengah ekspektasi penuh kekhawatiran karena sekuelnya 2 tahun lalu tak bisa tampil dengan kualitas sama. Tapi dari perolehan penonton yang kabarnya lebih dari jumlah 1 juta itu, pasti sulit untuk mengabaikannya begitu saja. Semua castnya masih hadir kembali, dengan satu yang entah karena kutukan apa, tetap mengalami pergantian. Hanung pun diganti dengan Monty Tiwa. Seorang penulis yang baik, namun ketika jadi sutradara jarang bisa memberikan hasil yang diharapkan.

Setelah melahirkan 3 anak kembar, Mae (Nirina Zubir) dan Rendy (kini diperankan Fedi Nuril) berniat untuk jadi orangtua mandiri. Mereka khawatir, campur tangan Babe dan Bu Mardi (Jaja MiharjaMeriam Bellina), ibu dan adik Rendy (Ira WibowoKimberly Ryder) serta tiga sahabat Mae, Guntoro-Benny-Eman (credited as Deddy Mahendra DestaRinggo Agus RahmanAmink) akan lagi-lagi menimbulkan keributan. Namun kemudian Mae yang terkena ‘baby blues’ justru membuat Rendy meminta pertolongan pada ketiganya. Kehadiran ketiga sahabat ini kemudian tercium oleh Babe dan Bu Mardi sehingga turut menuntut bagiannya. Ibu Rendy dan Sophie pun tak ketinggalan. Awalnya, semua berjalan baik dalam membantu kondisi Mae namun lama kelamaan Rendy yang mulai merasa tersisih karena ketidakmampuannya mengurus bayi. Dengan diam-diam, ia mendatangkan Nyai (Ratna Riantiarno), nenek Mae yang selama ini bekerja sebagai TKI di Arab. Nyai yang super cerewet dan merupakan musuh bebuyutan Babe dianggap Rendy bisa jadi kunci untuk mengusir semua kerabat ini dari rumahnya. Sudah bisa ditebak, keributan pun terjadi. Bukan hanya keluar dari rumah, Babe minggat dan Mae yang akhirnya mengetahui siasat Rendy mengusirnya dari rumah. Ketika akhirnya menyadari motivasi Rendy agar bisa menjadi ayah yang baik dari anak-anaknya, Mae pun balik meminta pertolongan Guntoro-Beni-Eman untuk mengembalikan rasa percaya diri Rendy.

Mirip seperti trilogi Meet The Parents, Get Married tampaknya makin kehabisan amunisi dengan pengembangan sekuelnya. Tak hanya narasi Arie Dagienkz yang jadi terasa makin garing, skenario Cassandra Massardi dan penyutradaraan Monty Tiwa pun seolah tak lagi punya kesinambungan adegan demi adegannya. Kekuatan komedinya kini berpindah ke tangan Jaja Miharja sebagai babe, tapi dengan drastis mengurangi porsi Desta-Ringgo dan Amink yang jadi kehilangan chemistrynya sama sekali. Meski Jaja Miharja masih bisa melontarkan joke yang sesuai dengan perubahan itu, kebanyakan usaha yang lain untuk melucu dengan dialog-dialog yang ada malah jadi semakin garing. Satu lagi adalah masalah karakter yang semakin terasa sesak. Kalau ingat dengan review Get Married 2  dua tahun lalu, saya sudah memperkirakan bahwa karakter yang makin banyak dengan keluarga tiga sahabat Mae itu akan jadi bumerang dalam pengembangan selanjutnya.

Cassandra ternyata memilih jalan aman menghilangkan semuanya dan menyisakan satu hanya disebut dalam dialognya, namun menambah karakter Nyai yang kelihatan sekali direncanakan sebagai highlight baru franchise ini. Tak ada yang salah dengan Ratna Riantiarno yang sudah sangat senior dengan aktingnya selama ini, namun gambaran karakternya oleh Cassandra-lah yang sudah jadi tak wajar dari sananya, yang tanpa motivasi jelas, muncul kelewat buru-buru di perempat akhir dan langsung berubah-ubah seenaknya demi menggampangkan penyelesaian konflik yang sudah dilipatgandakan sedemikian rupa, juga bersama karakter-karakter yang lain. Yang ada akhirnya adalah seperti anak ayam lomba lari namun arenanya sudah tak memungkinkan. Belum lagi alunan soundtrack Slank yang seolah terus-menerus jadi latar tak penting di tiap adegannya, serta bayi-bayi yang tak diekspos dengan tepat. Dan yang paling parah adalah pilihan cast Rendy yang jatuh ke Fedi Nuril. Tanpa mempertahankan karakter Rendy yang selalu dibangun serius di tengah nuansa komedi dua film pertamanya, Cassandra justru melunakkannya kelewat jauh sampai harus melucu disini. Tak hanya kelihatan pincang dengan Ira serta Kimberly, raut wajah dan gestur Fedi yang kelewat serius itu juga membuat mau sejauh apa pun ia melucu atas tuntutan skenario Cassandra (termasuk di adegan menggoda dengan menari ala striptis yang kacau balau itu), hasilnya jadi terasa garing luarbiasa. Sia-sia rasanya Get Married 3 menambahkan dayatarik dari sebarisan cameo mulai dari Titi DJ, Raffi Ahmad, Candil, Dwi Sasono sampai Bona Paputungan karena fondasinya sudah begitu lemah sejak awal. Lagi-lagi saya jadi teringat dengan Little Fockers yang hampir bisa dibilang gagal di semua bangunannya. Please stop right here, guys. Please stop. (dan)

 

 

~ by danieldokter on September 2, 2011.

4 Responses to “GET MARRIED TRILOGY”

  1. Buat saya, Get Married 1 memang salah satu komedi terbaik Indonesia di era film Indonesia marak kembali, Get married 2 sudah berkurang kualitasnya tapi masih lucu dan layak dinikmati, sementara yg ketiga hancur. Oke, kelucuan2 masih ada, Monty Tiwa toh bisa bikin komedi juga – tapi yg kali ketiga ini ceritanya jadi absurd. Apa mungkin karena faktor “Cassandra Massardi”? Saya kok sinis banget sama cewek satu ini, karena dia cenderung bikin cerita / latar belakang yang absurd. Get married itu menarik karena dia menciptakan kelucuan dari realita. Tapi di sekuel ketiga ini serasa dibuat2 banget. Fedi Nuril? ya ampun – mustinya cari pengganti harus yg muka Indo – karena tuntutan cerita juga! Udah gitu ga lucu pula. Mau contoh karya Cassandra yg menunjukkan keabsurd-annya? Try “Kawin Laris”!

  2. 🙂. emang bener kok. Blunder Cassandra terbesar itu ada di Purple Love. seenaknya buat inti konflik dgn memilih penyakit ‘kanker jantung’ yg pasti cuma dieksplornya dari google padahal kenyataannya no such medical terms kaya gitu. selain itu penulis kita emang susah sekali membagi porsi, kalau lagi fokus menulis yg satu dan terasa lucu, terus2an stuck disitu. highlight2 yg sebenernya potensial jadi dilupain begitu aja. that’s the truth.

  3. […] Get Married 3 […]

  4. […] keempat. Dalam film kita, ini masih tergolong jarang, bahkan hampir tak ada dalam genre komedi. ‘Get Married’ adalah salah satu contohnya, bahkan sampai merambah televisi sebagai ‘Get Married : The […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: