CAPTAIN AMERICA : THE FIRST AVENGER : HEART OF A HERO

CAPTAIN AMERICA : THE FIRST AVENGER

Sutradara : Joe Johnston

Produksi : Marvel Studios & Paramount Pictures, 2011

Sama seperti salah satu slot komiknya, DC Versus Marvel, dua raja penerbit komik ini sebenarnya secara halus berseteru dalam persaingan mereka. But noted. DC bisajadi sangat bangga dengan Superman dan Batman yang jadi ikon teratas ketika kita menyebut ‘superhero’, tapi sejarah mencatat naik turun kesuksesan mereka jauh lebih sering terombang-ambing dari sang saingan. Sementara Marvel, dengan lineup utamanya yang kalau mau dihitung satu-satu lebih banyak menelurkan karakter legendaris ketimbang DC, mulai menapak semakin mantap di era milenium baru setelah status kebangkrutannya. Yeah, right. DC boleh menorehkan sejarah lewat Superman Christopher Reeve meski kendur di film ketiga dan keempatnya, pernah punya Batman Tim Burton sampai melahirkan trend baru pendewasaan genre superhero di Batman-nya Christopher Nolan yang lantas kepingin ditiru semua produser, termasuk franchise baru Superman yang belum apa-apa sudah jadi kontroversi.

But face it. Asal Anda menganggap X-Men : The Last Stand sebagai sebuah mimpi buruk yang tak pernah ada, serta Hulk-nya Ang Lee cuma hype keterusan dari kejayaan Crouching Tiger, Hidden Dragon di Oscar, Stan Lee dan tim Marvel punya satu celah kekuatan yang tak dimiliki DC. Mereka tak sedang terus mencari-cari konsep dan mengekor-ngekor kesuksesan yang satu. Produknya juga hampir seratus persen tetap berkutat di komik klasik, ketimbang DC yang sudah lari ke konsep-konsep lain seperti novel grafis untuk mencari diversifikasi baru. Stands with each differences, visi Marvel membawa satu persatu karakter superhero-nya ke layar lebar dalam sebuah proyek impian yang sudah hampir sepenuhnya jadi nyata ke hadapan kita, The Avengers, tak perlu mengekor kesana kemari. Poin serta tendensi terhadap karakterisasinya tergelar dengan mantap, dalam benang merah sama namun style berbeda satu dengan yang lain. Whether you like it or not, inilah universe superhero sesungguhnya. Tanpa kompromi, dan mereka bangga dengan itu. Bahkan Kenneth Branagh yang membawa Thor ke wilayah baru tanpa pernah terbayangkan sebelumnya. Dan pastinya, termasuk Captain America : The First Avenger sebagai klimaks sebelum fusi para karakternya di The Avengers. Ini juga merupakan konsep yang benar-benar jempolan. Why be the last? Oh yeah. Mereka tak sedang sekedar mengadaptasi komik-komiknya yang lahir di era pencarian jatidiri rakyat Amerika di masa perang dunia kedua. Note this. Mereka sedang membeberkan pada kita, para pembaca, penggemar komik serta film-filmnya, bahkan orang-orang yang baru mengikuti franchisenya, kenapa Captain America layak menjadi pemimpin para superhero itu nantinya.

Penemuan sebuah pesawat di tengah reruntuhan salju di New York oleh para agen S.H.I.E.L.D. membawa kita ke era perang dunia tahun 1942. Dominasi Nazi dengan pimpinan divisi paranormalnya yang setengah sinting, Johann Schmidt (Hugo Weaving), dengan ambisius merebut sebuah kubus berkekuatan ajaib dari dimensi lain dan mengembangkannya dengan bantuan ilmuwan Dr. Armin Zola (Toby Jones). Sementara seorang pemuda ceking dan sakit-sakitan, Steve Rogers (Chris Evans) begitu berambisi diterima dalam pasukan militer AS seperti sahabatnya, James ‘Bucky’ Barnes (Sebastian Stan), kalau perlu dengan terus memalsukan identitasnya. Usaha Rogers akhirnya terdengar oleh Dr. Abraham Erskine (Stanley Tucci), ilmuwan pengembang serum ‘super soldier’ yang sebelumnya membelot dari Schmidt dan sekarang didanai multimilyuner Howard Stark (Dominic Cooper) untuk tentara AS. Walau ditentang pelaksananya, Kolonel Chester Phillips (Tommy Lee Jones) bersama agen Inggris Peggy Carter (Hayley Atwell), Erskine bersikeras bahwa ia menemukan sebuah kualitas lain dibalik ambisi Rogers. A big heart, yang bisa jadi makin baik dengan serum super itu. Fisik Rogers pun seketika berubah menjadi tinggi besar-berotot dan berkekuatan super, namun di saat yang sama Schmidt yang sudah melacak keberadaan Erskine mengirimkan agennya untuk menghabisi Schmidt.  Alih-alih ikut dalam perang, Rogers malah ditugasi Senator Brandt (Michael Brandon) menjadi duta obligasi untuk dana perang AS dibalik kostum ketat dengan atribut superhero bernama Captain America. Rogers yang awalnya yakin dengan misi kebaikannya dengan cara apapun lama-lama jengah. Apalagi ketika mengetahui Bucky tengah ditawan oleh Schmidt. Dengan bantuan Carter dan Stark, ia menerobos masuk ke sarang HYDRA, organisasi teroris yang didirikan Schmidt untuk menyelamatkan Bucky serta ratusan tawanan lain. Misi ini berhasil dan Rogers menemukan kenyataan bahwa dengan serum yang sama sebelumnya, Schmidt telah beralih rupa menjadi monster yang menamakan dirinya Red Skull. Misi lain Rogers sebagai the real ‘Captain America’ yang telah berkembang menjadi ikon komik bagi rakyat Amerika berlanjut untuk sepenuhnya menghancurkan Red Skull bersama serdadu dan persenjataan kreasi Dr. Zola dari energi kubik ajaib itu. Stark dengan setia membantunya dengan inovasi persenjataan baru termasuk perisai vibranium, metal indestruktibel serta kostum baru, sementara Phillips dan Carter yang kian terlibat hubungan asmara dengan Rogers tetap mengatur strateginya. Dr. Zola pun berhasil ditangkap, namun sebuah misi finalnya terhadap Red Skull mengakhiri semuanya. Rogers tak punya pilihan selain menjatuhkan pesawat Red Skull ke tengah salju demi menjaga kehancuran umat manusia. For this is a summer blockbuster sekaligus part of pieces ke instalmen The Avengers, stay after the credits rolled. Ada hint dalam bangunan benang merahnya, dan this ain’t a spoiler but a highlight which everyone should be awared. Silahkan minta ke manajer bioskop untuk membiarkannya bergulir, biarpun Anda jadi penonton satu-satunya diantara penonton tipikal kita yang langsung beranjak keluar. You’ll watch the teaser trailer of that giant project!

Here’s the hint dari konsep cemerlang Marvel dalam penyatuan para superhero itu. Bahwa masing-masing tokohnya hadir dengan gambaran karakterisasi yang batasannya sangat jelas. Semua punya ciri khas sampai ke style filmnya sendiri, dan akan sangat menarik melihatnya senyawa jadi satu. Pemilihan sutradara tiap-tiap franchise terpisahnya pun digagas dengan perencanaan matang. Jon Favreau yang penuh konsep komedik dipasang buat Iron Man sampai Kenneth Branagh untuk membangun atmosfer kedewaan Thor dari sisi science. Now enter Joe Johnston, sebagai salahsatu keuntungan penggabungan Marvel dengan Walt Disney. Set superhero berlatar Perang Dunia II yang sebelumnya hadir di The Rocketeer-nya Disney yang underrated itu, kiprahnya di departemen efek spesial Star Wars sampai Indiana Jones, sampai family fantasy yang begitu melambung dalam Jumanji, Honey, I Shrunk The Kids dan tentunya Jurassic Park III, tentu membuat Johnston jadi pilihan pas yang sangat bersinergi dengan konsep Marvel membesut Captain America. Dari tiap adegan penting seperti never back down, holds a bomb dan line-line uplifting yang sangat ‘superhero’ untuk penekanan poinnya,   kalau perlu menghadirkan sebuah icon-mocking dalam plotnya dimana kiprah Captain America di dunia nyata-lah yang melahirkan komik sampai merchandise lainnya, just like Disney’s Hercules, Johnston bisa menyampaikan maksudnya dengan jitu.

Multiple shot plus CGI yang menampilkan Chris Evans mini itu tampil nyaris tanpa cacat, gelaran efek di adegan-adegan aksinya muncul dengan feel nostalgik ke film-film perang klasik, pilihan castnya pun tepat. Tak hanya Chris Evans yang bisa membuang jauh imej nakalnya sebagai Human Torch di franchise Marvel lain, Fantastic Four, Sebastian Stan sebagai sidekick abadi Captain America yang hidup mati terus di komiknya,  Tommy Lee Jones, Toby Jones dan Dominic Cooper yang berlomba jadi scene stealer sampai sosok british Hayley Atwell yang tampilannya klasik sekali, semuanya juara. Skor yang dibesut Alan Silvestri juga terasa paling sakti dan catchy di semua instalmen The Avengers bahkan film-film Marvel lainnya, hingga feel lovestory seperti Thor yang kembali disempalkan dengan pas menjadi quote dialog di endingnya. Paling hanya cast The Invaders (dalam komiknya disebut The Howling Commandos) serdadu tim Rogers yang multi-ras yang sayangnya tak bisa tampil begitu menonjol di tengah durasinya yang memang sudah sedikit over dan Hugo Weaving sebagai Red Skull yang masih kurang maksimal di final showdownnya. Namun yang jelas, ini jauh dari Captain America versi teve-nya Reb Brown tahun 80an (bagian keduanya, Death Too Soon, dulu diputar untuk konsumsi bioskop kita) atau buatan low budget di tahun 90an yang meski setia pada komiknya tapi terasa kurang darah itu. Konversi 3D-nya? Ah, tak usah susah payah. Kecuali Anda tak tumbuh besar dengan device bernama ‘View-Master’, tambahan kocek itu memang tak akan banyak artinya. Sekali lagi, racikannya memang menunjukkan Marvel tak sekedar sedang mengadaptasi komik Captain America. Seolah sebuah election, mereka hanya sedang meyakinkan kita seberapa pantas karakter ini memegang leadership The Avengers. Rogers bukanlah seorang multimilyuner pongah, superhero dengan segudang masalah atau anak dewa pembangkang yang terusir. Ia hanya seorang manusia goyah dengan satu tujuan. And believe me, you’ll agree with it. This is their hero with a bigger heart! (dan)


~ by danieldokter on September 9, 2011.

One Response to “CAPTAIN AMERICA : THE FIRST AVENGER : HEART OF A HERO”

  1. […] Captain America: The First Avenger […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: