MASIH BUKAN CINTA BIASA : SEKUEL POTENSIAL YANG TAK MAKSIMAL

MASIH BUKAN CINTA BIASA

Sutradara : Benni Setiawan

Produksi : Wanna B Pictures, 2011

Sama seperti judul film pertamanya, Bukan Cinta Biasa, film besutan Benni Setiawan ini memang bukan drama komedi biasa. Ada feel yang beda dari penggabungan drama, komedi, musik sampai sentuhan-sentuhan reliji yang biasanya dibawa Benni dalam skenario tulisannya, dalam mengisi sub genre-nya sebagai sebuah family rom-com. Klise-klise dalam genre ini memang sulit dihindari secara ratusan bahkan ribuan film baik dari dalam sampai luar mengemasnya dalam packing mirip. Permasalahannya, karya Benni masih sering terasa tak konsisten dalam usaha menghindari tipikalisme skenario kebanyakan film kita. Konflik dalam premisnya boleh jadi menarik dan wajar-wajar saja, namun gelarannya ke dalam skenario masih sering tampil serba pincang dengan kesinambungan yang jauh lari dari kewajaran. Tapi begitulah. Ketika Anda cukup sukses membuat film dengan amunisi yang sangat bisa diandalkan, apalagi hasilnya secara komersial tak mengecewakan, sebuah sekuel tentu tak sepenuhnya salah. Toh semua kekuatan itu masih bersedia kembali, minus themesong Afgan yang terakhir punya masalah dengan Wanna B sebagai salah satu power utama di film pendahulunya.

Setelah bersatu kembali dengan Lintang (Wulan Guritno) dan putri cantiknya Nikita (Olivia Lubis Jensen), rocker insyaf Tommy (Ferdy Taher) ternyata masih juga tersandung masalah. Kali ini bukan anak perempuan, namun anak cowok urakan bergaya rocker, Vino (Axel Andaviar ; putra Ovy /rif) yang mendadak hadir ke dalam kehidupan mereka. Lintang dan Nikita yang awalnya menentang kemudian membiarkan Vino tinggal di rumah mereka sampai Tommy mendapat kejelasan dari ibunya, Voni (Aline Adita), yang dulu juga sempat punya hubungan dengan Tommy. Dibantu rekan-rekan se-band-nya di The Boxis (Joe P Project, Budi Dalton & Budi Arab), Tommy berusaha menaklukkan Vino yang beringas dan penuh masalah. Kalau perlu dengan kembali meminta pertolongan Ustad Jepret (Mucle) yang dulu memberinya pencerahan. Tapi masalah makin berkembang, apalagi Tommy yang merasa kedudukannya sebagai suami kian terancam di bawah bayang-bayang kesuksesan Lintang yang otoriter, sementara keinginannya untuk kembali sebagai vokalis The Boxis juga sama besarnya.

Meski mengulang konflik utama dalam film pendahulunya, awal-awal penyajian sekuel ini masih bisa tampil cukup fresh, dan justru semakin membuka banyak peluang ke bangunan komediknya. Selain Benni yang bisa menghandle feel yang tak jauh berbeda, amunisi andalannya dalam film pertama juga tetap tertata dengan baik. Ferdy Taher masih berakting santai membangun chemistry-nya bersama Olivia dan Wulan, serta tentunya Joe dan dua Budi yang celetukan-celetukannya makin jenaka itu. Porsi Joe P Project yang dibanding dulu sekarang makin mendominasi film-film komedi kita juga dilebarkan, dan ini bagus. Spontanitas komedinya yang juara hampir selalu bisa menyelamatkan sedikit film-film yang memasang namanya.  Namun skenario yang juga ditulis Benni kelihatannya kelewat bertele-tele secara repetitif meneruskan konfliknya. Satu yang paling fatal dalam tendensi ini malah menekan jauh porsi karakter Olivia demi menampilkan Axel yang jadi tokoh baru namun kelewat annoying dan sulit memancing empati penonton ini. Axel mungkin mampu berakting secara wajar, namun adalah kesalahan skenario yang kemudian mengekspos konflik karakternya secara over sampai chemistry-nya ke Ferdi jadi berantakan.

Salahnya lagi, ini tak hanya jadi miliknya sendiri, tapi juga merembet ke karakter Ferdy dan Wulan yang tampaknya kian keterusan dibumbui konflik demi konflik sampai reaksi-reaksinya terasa tak lagi wajar. Ini seperti kebanyakan film kita dimana sebentar karakternya bisa teriak-teriak tak karuan, sebentar lagi tanpa kewajaran jelas bisa melunak bukan main. Ketika Benni akhirnya bisa beranjak dari bagian-bagian yang berjalan kelewat melelahkan ini, Masih Bukan Cinta Biasa sebenarnya sudah bisa cukup bagus menggelar part dramatiknya yang kembali ke koridor awal dengan cukup menyentuh, termasuk juga sempalan reliji-relijian yang tetap dikemas dengan komedi. Namun lagi-lagi ia keterusan mempush-nya secara overly melodramatic hingga ke ending yang mungkin maunya tampil beda, with a little twist, tapi malah terasa janggal dengan adegan-adegan repetitif yang semakin berpanjang-panjang seperti menyalami satu-persatu banyak orang di sebuah barisan, sampai departemen editing pun tampaknya kehabisan nafas merangkainya satu demi satu. Dan tak juga bisa dipungkiri, kekuatan themesong Afgan di Bukan Cinta Biasa yang memang kelewat meresap di gambaran karakter-karakternya sulit terulang kembali disini lewat theme song baru yang dibawakan oleh Anya. Apa boleh buat, premis yang diawali secara menarik dengan power film pertama itu akhirnya tersisih oleh kelewat banyaknya konflik dan reaksi tak wajar dari apa yang digelar Benni ke keseluruhan plotnya. Sebuah sekuel dengan potensi besar yang sayang sekali tak dimanfaatkan secara maksimal. (dan)

~ by danieldokter on September 15, 2011.

2 Responses to “MASIH BUKAN CINTA BIASA : SEKUEL POTENSIAL YANG TAK MAKSIMAL”

  1. […] Masih Bukan Cinta Biasa […]

  2. tolong minta link film masih bukan cinta biasa
    tolong pencerahannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: