TARUNG : CITY OF DARKNESS : THE NAYACTION

TARUNG : CITY OF DARKNESS

Sutradara : Nayato Fio Nuala

Produksi : Jelita Alip Films & Parco Films, 2011

Kriteria genre memang agaknya relatif sekali dan bisa berbeda-beda persepsinya bagi yang satu dengan yang lain. Tapi percayalah, tak hanya dengan adegan bak-bik-buk, pukul sana pukul sini, bahkan sampai berdarah-darah, film Anda lantas jadi mendapat predikat genre film action. Segudang film-film Asia Andy Lau tentang melodrama lovestory preman jalanan yang penuh adegan hajar-hajaran sampai pecah kepala toh di movieguide internasional manapun tak dikategorikan sebagai film action. Tidak juga dari poster, yang sekedar memajang cowok pamer otot, terbang kesana-kemari, lengkap dengan darah-darahan juga, film itu jadi lantas bergenre action. Lihat saja film-film yang beredar di Indonesia tahun jebot sampai awal ’90-an. Tak perduli drama, komedi, atau film seaneh apapun, posternya selalu dilengkapi dengan tangan memegang pistol yang seenaknya diletakkan tanpa perhitungan skala yang pas, atau bibir yang tiba-tiba jadi sumber darah mengucur. Meh!

Sekarang, siapa sih Shak Lap Fai? Yuen Woo Ping, Tony Ching Siu Tung, Donnie Yen, itu semua penggemar martial arts tahu predikatnya sebagai penata koreografi handal di film-film bergenre sama. Try googling it. Salah-salah jatuhnya ke menu makanan Chinese. Entah dia fiktif, nama samaran, atau entah siapa yang mendadak dititahkan akte lahir palsu oleh production company yang, ah, entah iya atau tidak eksis ini, yang jelas, satu nama yang terpampang gede-gede di film laga yang mulanya seliweran promonya dengan judul Fight : City Of Darkness ini, kita semua tahu. Fiktif juga dalam koridor tertentu. Orangnya ada, tapi namanya segudang. Bisa jadi kru bagian apa saja, bisa pasang nama apa saja mengatasnamakan, katanya, tim.Siapa lagi kalau bukan Nayato Fio Nuala. Sekarang, melangkah dari horor-horor dan drama perek-perekan, mari menyebutnya itu, yang kebanyakan kacrut, ia berkoar-koar mau ikutan dalam trend yang baru lahir lagi di perfilman negeri ini. Genre action, dan katanya, dari trailernya, kelihatan menjanjikan. Judul lebih awalnya, katanya lagi, mirip pula dengan judul Indonesia The Raid, Serbuan Maut, yang sama sekali bukan produksi abal-abal. Halah!

Dan oh, entah mau seperti film India, film Mandarin atau terinspirasi sekali dari Pirate Brothers yang memang genre-nya action itu, Ery Sofid yang mendalami tema-tema pocong Nayato sebagai salah satu penulisnya menggambarkan keempat karakternya adalah mantan bocah panti asuhan. Tapi Tarung tak bermau berpanjang-panjang menekankan itu di filmnya. Cerita cukup dimulai ketika dua dari empat bocah ini sudah dewasa, Galang (Guntur Triyoga) dan Reno (Volland Humonggio) terlibat dalam sebuah perkelahian (mungkin maunya gang) di lintasan kereta api. Seorang lawannya terbunuh, polisi datang, Reno menyuruh Galang pergi, dan ia dipenjara. Lalu muncul dua lagi mantan bocah itu, Choky (Krishna Putra) yang pantang dicap lemah dan bekerja sebagai pengantar narkoba, serta Daud (Daud Radex) yang sudah memiliki bengkel sendiri. Entah kenapa Daud ini seperti bukan satu dari empat yang diceritakan berteman sejak kecil karena lewatnya hanya sekali-sekali. Lantas menyambung lagi ke cerita panti asuhan, mereka masih disayang sekali oleh Bu Lastri, pengurus panti asuhan itu. Now enter the conflict. Galang yang katanya anak jalanan dan mainannya tiap malam adalah diskotik, entah pura-pura atau sok ja’im jadi seorang hero polos yang jatuh cinta ke Astrid (Cinta Dewi), penari striptis merangkap, ya, seperti biasanya di film-film Nayato. Perek. Choky lain lagi. Ia menggelapkan dana gembong narkoba itu untuk disumbangkan ke panti asuhan. Sementara Reno, masih harus berhadapan dengan dendam musuh-musuh lamanya. Oh, untung Daud tak dikejar-kejar rentenir. Ia seperti biasa, lewat-lewat saja dengan kepala botak bertatonya. Sekarang entah siapa yang ikut siapa, tapi Galang, Reno dan Choky akhirnya jadi The Three Musketeers. Melawan musuh sama yang menyakiti salah satu, lagi-lagi entah yang mana karena rasa-rasanya pemaparannya memang seperti kamera ala Nayato yang sok dinamis itu, larinya serba tak jelas. Eh, Daud kemana? Ya begitulah. Perannya memang lewat-lewat saja, atau mungkin maksudnya ini imaginary friend ketiganya sejak kecil, yang bahkan musuhnya saja sering tak nampak bahwa ia ada.

Oh My God. Entah apa yang terlintas di kepala Nayato ketika menggagas film ini sebagai (maunya) film action. Ini memang tak pakai tampilan pocong dan Azis Gagap bersama Zaky Zimah, tapi plotnya masih tak jauh-jauh dari film perek-perekan itu, yang selalu bersinergi dengan narkoba sebagai makanan pokok mereka di film-filmnya. Kadang kita seperti sedang menonton Virgin, kadang seperti 18+, kadang seperti Belum Cukup Umur, dan ah, entah apa lagi judul-judul miring itu. Sementara hajar sana hajar sini-nya cuma jadi sempalan yang tak dimasukkan pun tak mengapa. Tapi parahnya, itu pula (maunya) jualan utamanya. Entah memang Shak Lap Fai ini cuma seorang pemilik toko obat berizin atau pengobatan tradisional Chinese, yang jelas hampir tak ada yang patut dibandrol dengan sebutan koreografi disini. Cuma ada rumble seenaknya dengan kamera yang juga sama seenaknya dibalik alasan klise Nayato, artistik. Cuma soundnya yang asal ribut tak jelas yang menjelaskan bahwa orang-orang ini sedang bertarung dibalik kegelapan lighting yang selalu jadi trademark Nayato. Kasihan Volland. Bakatnya di penguasaan beladiri capoiera yang handal itu tersia-sia total disini. Okelah, Nayato boleh-boleh saja menganggap The Tree Of Life bukan film, tapi saya yakin sekali bahwa ini, kalaupun mau disebut film, sama sekali bukan film action. Lantas komen-komen di posternya yang penuh pujian gegap gempita dari situs-situs terkenal seperti twitch film dan lain-lain? Saya jadi ragu. Jangan-jangan kita sedang hidup di dimensi lain, dimana Shak Lap Fai itu benar-benar ada sebagai Yuen Woo Ping-nya dunia martial arts yang disebut orang-orang ini stage fight choreographer. Yeah, right. Tapi yang jelas, andai pun benar, bersyukurlah kita bahwa kita tak hidup di dimensi itu, karena penghuninya pasti orang-orang tolol semua. (dan)

~ by danieldokter on September 16, 2011.

2 Responses to “TARUNG : CITY OF DARKNESS : THE NAYACTION”

  1. […] Tarung […]

  2. […] TARUNG  […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: