CONAN THE BARBARIAN : A SHOW OF RAGE WITHOUT EMOTIONS

CONAN THE BARBARIAN

Sutradara : Marcus Nispel

Produksi : NuImage & Millenium Films, 2011

Pernah dengar genre swords and sandals? Atau sebagian lagi menyebutnya sword and sorcery? Ini sebenarnya genre yang belakangan secara filmis lebih sering digolongkan sebagai adventure atau action dalam kotak besarnya. Ada juga yang memasukkannya ke genre fantasi. But mainly, ini seperti myths and legends, yang memang bisa luas sekali rentang timeline-nya. Dari perang antar kerajaan seperti Romawi, gladiator, vikings hingga ke kisah-kisah mitos Yunani seperti Hercules, sihir-sihiran, bahkan suku-suku dalam timeline fiktif yang cukup banyak mendominasi genrenya dan tak jarang saling di crossover-kan seenaknya. Dulunya, di era 50-60an, genre swords and sandals ini sempat menjadi trend di perfilman AS sebelum akhirnya marak di Eropa dan produk kelas B hingga awal-awal tahun 80an. Nama-nama karakternya sering menjadi titel yang kedengaran bombastis seperti Ator, Hundra, Red Sonja, Kull sampai yang paling terkenal dalam genrenya, Conan. Karakternya sendiri merupakan ciptaan penulis Robert E. Howard di awal tahun 30an berjudul ‘Conan The Barbarian‘ yang belakangan muncul dalam format beragam mulai dari novel, strip sampai komik yang sempat juga dirilis Marvel serta Dark Horse dalam perkembangan ke depan yang tak lagi ditulis langsung oleh Howard. Dari sekian banyaknya variasi kisah-kisah Conan tadi, ada ciri khas berbeda yang justru terbangun oleh format komik-komiknya yang begitu melegenda di era 70an ke awal 80an, dimana kebanyakan komik menjadi konsumsi anak-anak. Komik-komik Conan dipenuhi kesadisan dan tampilan cewek-cewek seksi sebagai pendampingnya, bahkan sering menyiratkan sexual intercourse yang masih dalam batas komik dan tak eksplisit, namun sedikit lebih berani.

And so, dua adaptasi filmnya berturut-turut di tahun 1982 (Conan The Barbarian) dan 1984 (Conan The Destroyer) sempat terkenal sekali karena selain melambungkan nama binaragawan Arnold Schwarzenegger dan dipenuhi bintang besar seperti Max Von Sydow dan James Earl Jones, pembuatannya juga dimotori sineas-sineas terkenal seperti sutradara John Milius, Oliver Stone yang ikut menulis skenarionya serta produser Dino DeLaurentiis yang terkenal dengan blockbuster-blockbusternya. Namun ada satu yang hilang dalam arus trend genre fantasi masa itu. Tampilan cewek-cewek pendamping yang serba seksi dengan kostum minimnya tetap, tapi dua instalmen itu sama sekali menghilangkan kesadisan yang jadi salah satu bangunan komiknya. Instalmen ketiganya sempat ingin dilanjutkan oleh berbagai pihak lain namun kembali kandas. Satunya dialihkan menjadi adaptasi lain karya Howard, Kull The Conqueror yang dibintangi Kevin Sorbo, dan satunya gagal total karena Schwarzenegger keburu terpilih sebagai gubernur California. Proyek yang sempat berpindah-pindah dari Wachowski Brothers, Robert Rodriguez hingga Brett Ratner itu akhirnya jatuh ke tangan NuImage seiring copyrights kebanyakan karya Howard yang beralih menjadi public domain karena kegagalan claim. Sutradara Marcus Nispel, yang sudah lama malang-melintang di iklan dan videoklip akhirnya dipercaya karena kesuksesannya me-remake film-film horor klasik (The Texas Chainsaw Massacre dan Friday The 13th). Terpilihnya aktor teve Jason Momoa (Baywatch, Game Of Thrones) yang punya darah asli Hawaii bertampang eksotis dengan sorot mata tajam, tinggi besar dan berotot, semakin mengesankan bahwa Conan akan dikembalikan ke pakem yang selama ini diharapkan fansnya. Sadis dan tanpa ampun. So here comes the movie.

Bersetting awal di timeline fiktif karya Howard dengan narasi oleh Morgan Freeman, Hyborean Age, masa sebelum terbentuknya peradaban kuno, sekelompok penyihir dari Acheron membuat sebuah topeng dari tengkorak raja-raja yang diberikan darah putri-putri mereka yang dikorbankan demi kekuatan topeng itu menguasai dunia. Suku Barbar yang dipimpin oleh Corin (Ron Perlman) kemudian berhasil membunuh para penyihir Acheron, mengubur pecahan-pecahan topeng tersebut dan menyimpan satu potongannya agar tak ada yang bisa mendapatkannya kembali. Putranya, Conan kecil (Leo Howard), yang lahir langsung dari perut sang ibu yang terbunuh ketika diserang suku musuh, juga berkembang jadi bocah tangguh. Namun penyerangan yang dilakukan Khalar Zym (Stephen Lang), panglima perang ambisius yang berniat memiliki bagian terakhir topeng itu untuk menguasai Hyborea mengakhiri semuanya. Seluruh suku Corin dibunuh dengan sadis. Conan kecil dipaksa menyaksikan Corin mengorbankan diri demi dirinya.

20 tahun kemudian, Conan dewasa (Jason Momoa) yang masih menyimpan dendam terus menelusuri jejak Khalar Zym bersama sahabatnya Artus (Nonso Anozie). Dari Lucius (Steven O’Donnell), seorang penguasa Messantia mantan serdadu Zym yang ditaklukkannya bersama seorang pencuri, Ela-Shan (Said Taghmaoui), Conan akhirnya mengetahui bahwa Zym merencanakan penyerangan ke sebuah biara demi mendapatkan darah keturunan murni Acheron dari seorang biarawati, Tamara (Rachel Nichols). Sebelum Zym dan putrinya yang seorang penyihir kejam, Marique (Rose McGowan) menangkap Tamara yang melarikan diri, Conan lebih dahulu menyelamatkannya dan menawan kaki tangan Zym, Remo (Milton Welsh) yang juga ikut membunuh ayahnya dulu. Conan akhirnya mengetahui bahwa Zym memerlukan kekuatan topeng itu demi membangkitkan istrinya yang dibunuh oleh para biarawan. Dalam penyerangannya, Conan berhasil dilukai Marique dan Tamara yang mulai terlibat hubungan dengannya tertangkap. Dengan bantuan Ela-Shan, Conan kemudian menerobos kastil Zym untuk menyelamatkan Tamara sekaligus menuntaskan dendamnya. Namun Zym juga sudah berhasil memperoleh kekuatan topeng itu dari darah Tamara.

Seperti sebuah resep masakan modifikasi, Conan versi terbaru ini memang masih belum terasa punya racikan yang benar-benar pas. Di satu sisi, duo penulis Thomas Dean Donnelly dan Joshua Oppenheimer yang baru saja menghadirkan ‘Dylan Dog’ yang serba tanggung itu tampak cukup berhasil mengembalikan Conan ke tampilan asalnya yang kasar dan kejam. Meski memunculkan banyak karakter baru termasuk Khalar Zym dan Marique, sebagian bangunan plotnya juga membawa feel yang sama ke komik-komiknya, lengkap dengan love interest cantik tapi  tak lemah (dalam Conan-nya Schwarzenegger, Sandahl Bergman muncul dengan ketangguhan penuh namun melupakan tampilan cewek cantiknya), part para budak, pencuri, biarawan kuno serta penyihir. Dari 15 menit opening sequence yang sangat menggebrak, adegan aksinya dipenuhi darah bermuncratan yang mengesankan sisi dewasanya bersama adegan nudity dan sex scene antara Conan-Tamara yang sebagian dibabat LSF (meski nudity dengan tampilan nipples para budak itu lepas dengan mulus). Sosok Jason Momoa dengan tubuh kekar dan sorot matanya juga pas sekali menerjemahkan gambar-gambar dalam komiknya, plus Rachel Nichols yang punya wajah klasik inosen yang mirip sekali dengan bomseks Eropa tahun 70an, Sydne Rome.

Namun di sisi lainnya, kekurangan lain juga agaknya hadir hampir sama banyak. Selain subplot yang terlalu padat meninggalkan karakter potensial seperti Ela-Shan dan Artus jadi sekedar lewat dan intensitas fight sequencenya dibesut dengan emosi naik turun, beberapa efek spesialnya juga tak kelewat spesial. Dialognya? Ah, terdengar terlalu modern untuk setnya yang kuno, yang juga Cuma sebatas lumayan. Parahnya lagi, Stephen Lang sebagai main villain yang digambarkan menyeramkan kelihatan melembek sampai ke bagian-bagian akhir. Milton Welsh sebagai Remo yang makeupnya lebih mengerikan dari Lang pun begitu. Jauh dari Rose McGowan yang masih cukup lumayan dipoles sebagai Marique namun sayangnya tak dimaksimalkan oleh skenarionya. Dan ini yang terpenting. Di luar sosok tegap dan sorot matanya, Momoa juga kelihatan belum bisa menyiratkan kharisma yang benar-benar penuh terhadap karakter legendaris ini. Arnold Schwarzenegger mungkin punya ekspresi dan intonasi tak pas dibalik otot gedenya yang cocok, tapi kharismanya sebagai tokoh utama berjalan dengan baik.  However, if you do read and love the comics, ini jauh lebih mendekati aslinya ketimbang Conan-nya John Milius. Sama sekali bukan adaptasi yang mengecewakan secara keseluruhan dengan kelebihan dan kekurangan yang hampir berimbang. Sayang pihak Parkit sebagai pemegang hak impornya di Indonesia enggan membeli versi 3D-nya. Meski lagi-lagi produk konversi, fighting sequences dengan darah bermuncratan itu pasti akan terasa lebih wah dalam format 3D. (dan)

~ by danieldokter on September 18, 2011.

2 Responses to “CONAN THE BARBARIAN : A SHOW OF RAGE WITHOUT EMOTIONS”

  1. The film is dumb, hackneyed and, well, just plain bad – much like the 1982 original – but because it knows and makes fun of that, it plays for a smart and entertaining ride. Good review.

  2. […] Conan the Barbarian […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: