FINAL DESTINATION 5 : MORE PAIN, MORE FUN!

FINAL DESTINATION 5

Sutradara : Steven Quale

Produksi : New Line Cinema & Practical Pictures, 2011

Let me ask you a simple question. Apa sih yang Anda harapkan ketika menonton sekuel-sekuel Final Destination selama ini, sejak instalmen pertamanya jadi trend baru di tahun 2000 dulu? Say anything, dari cara penggambaran kematian yang nyeleneh tapi sering hi-tech, atau bahkan pemerannya yang selalu harus manis-manis sekalipun. Tapi kalau alasannya untuk melihat akting bagus atau plot yang serba mencerahkan secara sinematis, itu berarti kesalahannya pada diri Anda sendiri. ‘Final Destination’ (2000) memang melahirkan trend di saat teenage slasher yang melambung dari ‘Scream’ sudah mulai jadi membosankan dengan twist-twist ‘whodunit’. Dengan pintar, skenario yang dimotori James Wong, seorang sineas yang lama melintang di sci-fi teve termasuk ‘The X-Files‘ dan ‘Millenium‘ memberi penokohan baru pada sosok pembunuhnya yang bukan manusia atau hantu. Ini berjalan hingga ke sekuel-sekuelnya dengan desain premis yang terus sama. Highlight yang ditunggu-tunggu penonton bukan lagi tetek-bengek lain kecuali satu. Bagaimana cara satu-persatu karakternya menemui ajalnya. A painful one. Tapi pengulangan selalu ada batasnya. Untunglah kebosanan yang mulai mewarnai komentar penonton lantas bertabrakan dengan teknologi 3D di instalmen keempatnya yang cukup dibandrol judul ‘The Final Destination’. Aha. Satu celah yang bisa membuat gambaran ajal itu jadi semakin menarik, dan jelas pantas buat dilanjutkan dengan teknologi 3D yang semakin membaik serta bukan konversi. So now comes the 5th installment. Mari tak menggerutu mempersoalkan plot sampai aktingnya. Ini masih sama kok, dan para penggagasnya tetap setia mengakomodir kemauan para penontonnya, yang seakan belum puas memicu adrenalin dengan 1001 cara mati menyakitkan itu digelar lagi dan lagi.

Sebuah insiden di jembatan kali ini menyelamatkan delapan orang karyawan atas visi Sam Lawton (Nicholas D’Agosto) dalam bus yang bertolak untuk sebuah gathering perusahaan. Ada Molly (Emma Bell), kekasih Sam yang baru saja memutuskannya, sahabatnya Peter (Miles Fisher) dan pacarnya, Candice (Ellen Wroe), sekretaris seksi Olivia (Jacqueline MacInnes Wood), staf pabrik Isaac (P.J. Byrne) dan Nathan (Arlen Escarpeta) serta pimpinan mereka Dennis (David Koechner). Setelah selamat dari insiden itu, satu-persatu pun menemui ajalnya dengan mengerikan. Survivor-survivor ini kembali harus mencari pola dari visi awal Sam dan menghindari maut sejauh mana mereka bisa dengan cara masing-masing. Bumped in, bumped out, it’s still a same concept.

Now enter step one. Silahkan pilih adegan pembuka favorit Anda dari kelima instalmennya. Kalau selama ini banyak yang memilih film kedua yang mengejutkan serta rollercoaster ride di film ketiga yang seru lebih dari opening scene lintasan sirkuit di film keempat, face this ultimate one. Don’t know about you, tapi saya akan dengan mudah memilih opening scene instalmen kelima ini untuk jadi santapan paling lezat dari semua sekuelnya. Then step two, silahkan pilih WTF death scene dari semua yang ada. Ah, ini susah sepertinya, karena tiap instalmennya masih terus terasa fresh mencari inovasi baru yang bakal memaku penontonnya sambil menahan adrenalin mereka. Bukan hanya karena darah yang memuncrat kemana-mana, tapi lebih ke adu intrik para korban dengan maut yang siap mengincar mereka dibalik sosok misterius Bludworth yang diperankan oleh Tony ’Candyman’ Todd, yang selalu seliweran di tempat kejadian. Todd yang absen di instalmen keempat kini muncul lagi sebagai trademarknya. Step three, adalah sebuah keunggulan teknologi 3D yang tak lagi membuat Anda berpikir kesana-kemari. Dalam konsep paling primitif, tak perlu jauh-jauh ke ‘Avatar‘ atau ‘Transformers 3‘ yang super canggih, kalau akrab dengan teknologi 3D era jadul, instalmen kelima ini sudah melakukan semuanya dengan efektif. 3D-nya bukan sekedar jualan tapi memang disiapkan untuk menambah pacuan adrenalin itu dengan absurditas yang pas. Satu yang sering terlupa dalam film-film 3D sekarang, mereka memanfaatkannya dengan konsep klasik. Banyak sekali gerakan-gerakan yang sengaja diarahkan ke depan muka penonton untuk memicu excitement penonton, sampai-sampai banyak kritikus super serius yang biasa menganggap remeh balutan 3D tak mampu lagi menampik kesenangan mereka. And right, konsep klasik ini adalah salah satu tujuan kita rela mengeluarkan kocek lebih untuk menonton versi 3D-nya.

Oke, mungkin ada beberapa logika yang tak sesuai dengan gambaran kenyataan yang bisa mengusik beberapa profesi seperti beberapa spesialisasi kedokteran di instalmen kelima ini, berikut akting yang kurang pas dari pendukungnya. Salah satunya adalah Miles Fisher yang punya tampang serta gestur yang diakui sangat mirip dengan Tom Cruise sampai muncul di ‘Superhero Movies‘ sebagai dirinya, yang seharusnya jadi penekanan di bagian konfliknya. Ketimbang masuk ke karakter Peter, Fisher malah terlihat sama seperti tengah memparodikan akting Tom Cruise. But then again, ini adalah Final Destination. Just skip those thoughts dan nikmati sajiannya. Rancangan tipu-menipu karakternya dengan maut tetap asyik buat dinikmati, apalagi dengan sebuah twist yang bisa membuka kemungkinan lebih besar lagi kelanjutannya ke depan atau justru sebaliknya. Ah, sudahlah. Right before the end credits rolled, masih ada remix death scenes dari instalmen-instalmen sebelumnya. Yup, more pain, more fun, ain’t it just right? (dan)

~ by danieldokter on September 21, 2011.

One Response to “FINAL DESTINATION 5 : MORE PAIN, MORE FUN!”

  1. […] Final Destination 5 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: