MATI MUDA DI PELUKAN JANDA : BLA, BLA, BLA…

MATI MUDA DI PELUKAN JANDA

Sutradara : Helfi Kardit

Produksi : Sentra Mega Kreasi, 2011

Ketika Anda menyorot tema-tema sosial dalam balutan komedi negeri ini, tipikalisme karakternya memang sulit untuk dihindari. Itu seperti anggapan bahwa film adalah cerminan kehidupan bangsa, walaupun kadang kita malu, seperti elemen-elemen perek, selingkuh, narkoba, perkosa dan sebagainya, yang hampir selalu hadir di film kita. Dalam konteks kritik dan sindiran sosial dalam film, Indonesia mencatat dua sineas yang paling vokal menyuarakan kritikan mereka. Satunya untuk drama ada Syumandjaja, dan di kotak komedi, Nya’ Abbas Akup. Ketika tipikalisme karakter dan masalah tadi hadir lewat tangan mereka, feelnya bukan sekedar ‘pameran otak kotor’ sineas-sineas lain. Sindirannya kena, dan tipikalisme ini jadi berarti. So, berarti tak selamanya klise-klise itu salah.

‘Mati Muda di Pelukan Janda’ yang seperti biasa, lahir dengan sejuta bombastisme komersil ala film kita dari produser-produser, maaf – bukan rasial, India, sebenarnya juga menggunakan elemen karakter-karakter tipikal yang lebih ke Nya’ Abbas Akup dalam menggelar komedi sosialnya dari skenario yang ditulis oleh Hilman Mutasi (ya, namanya memang itu) bersama Team Bintang Timut (err.. ya, namanya juga memang itu, pakai ‘t’). Here they are : janda-janda, waria, orang kampung, dulu hansip sekarang sedikit lebih keren, Satpol PP, pejabat nyeleneh, supir, pedagang kakilima, dan lain-lain. Pesan moralnya? Ya, mari menyebutnya itu karena memang tak ada sebutan lain di kamus kita. Ya pasti ada, biarpun cuma jadi alasan untuk membangun lucu-lucuannya. Salah? Tidak juga. Sama seperti Nya’ Abbas Akup yang habis-habisan membuat karakter-karakter itu jadi bulan-bulanan, tapi sindirannya kena. Sebagiannya bahkan cukup uplifting. Ini misalnya, transgender yang mencoba jadi ibu yang baik dan bersosialisasi secara normal di lingkungannya. Wanita-wanita ditinggal suami yang mencoba survive dengan usaha kecil. Atau petugas Satpol PP berhati mulia (kalaupun ada) yang selalu menghindari keributan saat merazia. Tapi ya kalau dibangun dengan benar, bukan asal, atau awalnya mau benar akhirnya jadi asal. Dan tak perlulah menulis pesan itu kata per kata sebagai epilog yang seakan mau menyadarkan orang-orang yang bukan semua tak sadar. Tak usah begitu, kalau benar, pesannya juga bakal sampai.

Dan soal janda? Entah kenapa, kata yang juga memang tak ada padanan lainnya di bahasa kita, entah karena adat ketimuran yang seharusnya serba sopan dan berbudi itu, sering jadi sebuah konotasi negatif. Makanya lantas kalau sebagian wanita berstatus itu kemudian, ya, ini benar terjadi, memprotes bagian-bagian yang diwakili aktris seksi Shinta Bachir disini, ya wajar-wajar saja. Tapi tak usah buang waktu lah, senjata produsernya kan sudah tergelar di epilog ending yang ‘oh my god’ tololnya itu, yang memang sepertinya tendensinya adalah berkilah. Dan Shankar RS yang lagi-lagi sebagai produser eksekutif itu kembali macam-macam dengan quote dan tagline-nya, seperti ‘Peringatan (titik-titik diikuti tanda seru tiga kali) Perjaka Ting-Ting dilarang nonton (lagi tanda seru tiga kali)’ serta 22 Sept 2011 ‘Main’ (ya, dengan tanda kutip yang Anda pasti tahu maksudnya ke arah mana) di Bioskop. Bersama judul dan epilog yang ‘ya ampun’ itu, entah memang Shankar yang kali ini memilih dikredit pakai nama alay-nya, Shanx RS, pernah bercita-cita menulis buku lawakan atau puisi indah, hasilnya tetap sama. Tak hanya jorok, tapi garing.

Walau diadopsi oleh seorang transgender bernama Bunga (Julia Robex ; satu lagi, namanya memang itu), Rahmat (Ihsan Tarore) tumbuh menjadi anak yang baik di lingkungannya. Tak hanya patuh, ia juga gemar membantu sesama. Dibalik kekurangannya, Bunga pun berusaha menjadi ibu serta warga yang baik bagi Rahmat dan lingkungannya. Ia membuka salon kecil-kecilan yang memberikan kursus make-up bagi warga sekitar. Karena itu, warga pun memperlakukan mereka sama baiknya. Rahmat yang sehari-hari akrab dengan Bento (Vijey F. Sadiansyah), penjual obat kuat kaki lima serta asisten ibunya yang tomboi (Stevie Dominique Jolie) ini akhirnya mulai mendekati seorang janda bernama Ratih (Ayu Pratiwi), yang ditinggal mati suaminya dan sekarang membuka usaha menjahit bagi warga sekitar. Karena Ratih mengaku suka dengan lelaki berseragam, akhirnya Rahmat pun mendaftar menjadi seorang satpol PP. Kebaikan Rahmat yang selalu menengahi petugas dengan pedagang kaki lima yang ribut saat razia membuat atasannya, Suratan bin Takdir (Joe P Project) menugaskannya sebagai pimpinan razia, yang membuat ajudan sang pimpinan jadi cemburu. Ketika Rahmat menolong Mpok Sari (Shinta Bachir), janda genit pemilik warung yang juga plus-plus (entah simpanan pejabat atau PSK terselubung, tak dijelaskan lebih jauh, mungkin juga karena protes-protes itu) dalam sebuah razia, Sari yang sudah lama menaruh hati kepadanya pun jadi makin gencar. Mengetahui Rahmat mulai menjalin hubungan dengan Ratih, Sari pun merancang sebuah fitnah bekerjasama dengan si ajudan yang juga dendam pada Rahmat. And comes the epilogue, ‘tidak semua janda bla bla bla… ada juga yang mempertahankan kehormatannya dan bla bla bla…’. Yeah, right.

Dengan semua elemen yang membangun plotnya itu, yang terus terang, bila dieksekusi secara benar bisa jadi komedi satir sosial yang lucu, paling tidak sekelas ‘Kawin Kontrak’ yang cukup lumayan di balik ‘ngeres-ngeres’ jualannya itu, Mati Muda ini sebenarnya sudah diawali dengan cukup baik. Bagian pembuka yang menggelar usaha seorang transgender merawat anak dengan penuh kasih sayang seorang ibu itu, walau dibumbui komedi atau tangis-tangisan sekali pun, cukup tampil beda di tangan pemerannya yang mantan Miss Waria Julia Robex yang bernama asli Baby W. Nasroen ini. Mau seberapa nyeleneh juga, peran-peran transgender ini selalu jadi inceran aktor-aktor kita sedari dulu, sebagaimana kabarnya Edo Borne dan Yama Carlos juga sempat ingin memerankan Bunga disini. Akting Ihsan yang sekilas sudah kita lihat di ‘Sang Pencerah’, bersama Vijey, Ayu dan Stevie serta beberapa peran pendukung termasuk Joe P Project juga santai-santai saja tapi wajar. Bersama sempalan komedinya yang mengalir, bagian-bagian Ihsan menjadi satpol PP yang punya hati ketika razia, saat atasannya memaafkan dan memberi seragamnya pada Rahmat yang apel tanpa seragam karena si ibu ngotot mencuci dan tak bisa mengeringkannya dengan hair-dryer seketika pun sama baiknya digarap Helfi dalam penyampaian adegan yang sinkron dengan pesannya.

Namun skenarionya (saya yakin ini atas dorongan produser) tak mau berlama-lama stay di fondasi yang baik itu. Mereka lebih memilih tema sesuai judul yang hanya mau berbanyol-banyol dengan belahan dada Shinta Bachir yang melanglang buana kesana kemari dengan eksploitasi berlebih yang akhirnya malah jadi memuakkan. Belum lagi status transgender Bunga yang awalnya dibangun se-uplifting itu jadi dirusak setengah mati dengan adegan yang disebut dialognya dengan ‘otong-otongan’ serba tak penting itu. Ketika pilihan porsi utama konflik dua janda berebut lajang ini digelar dengan kritik video porno via ponsel yang sudah sedemikian basi, filmnya pun tak terselamatkan lagi. Benang merahnya hilang, dan seperti biasa, penulis-penulis kita memang selalu mencari penyelesaian dan reaksi konflik serba tak wajar. Secepat membalikkan telapak tangan dan awfully bombastic, tambahan para pemeran polisi yang lagi-lagi sok melucu tapi tak pada tempatnya pun semakin membenam kualitasnya jauh ke dasar. Salahnya lagi, sebagian cast yang baik itu masih terus mencoba berakting di tengah-tengah kekacauan yang ada. Mau gerakan pembaharuan film kita juga sedang berjalan dengan bagus-bagusnya oleh sineas-sineas yang punya hati dan otak, inilah salah satu yang belum bisa dan mungkin tak akan pernah bisa dibuang jauh-jauh. Susah sekali memilih jalan baik demi pertimbangan kantong. Bah! (dan)

~ by danieldokter on September 22, 2011.

One Response to “MATI MUDA DI PELUKAN JANDA : BLA, BLA, BLA…”

  1. […] Mati Muda di Pelukan Janda […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: