THE SORCERER AND THE WHITE SNAKE : A CHINESE CLASSIC GOES MISCONDUCT

THE SORCERER AND THE WHITE SNAKE

Sutradara : Tony Ching Siu-tung

Produksi : Distribution Workshop, 2011

Berita yang sudah datang jauh-jauh bahwa Jet Li akan membintangi sebuah remake (ah, it’s not actually a remake tapi tepatnya re-telling) dari sebuah legenda klasik Cina, Legends of the White Snake, sudah melahirkan dua sisi ekspektasi yang berbeda. Pertama, bahwa sutradaranya adalah Tony Ching Siu-tung, sutradara dan koreografer laga terkenal yang sudah malang-melintang dari perfilman Hongkong, Cina hingga Bollywood (oh ya, kiprahnya di perfilman Amerika dengan film straight to dvd Steven Seagal, Belly Of The Beast, mari dilupakan saja). Di Hongkong dan Cina, Tony sudah menghasilkan sebaris film legendaris sebagai sutradara (diantaranya dua trilogi klasik A Chinese Ghost Story dan Swordsman) dan penata laga (this includes Hero, House Of Flying Daggers dan Shaolin Soccer). Aksi superhero Bollywood, ‘Krrish‘-nya Hrithik Roshan juga merupakan hasil koreografinya. Retelling baru ini kabarnya akan menampilkan porsi CGI gede-gedean bahkan dibesut dalam trend 3D. If that sounds like a highlight, satunya adalah sebaliknya. Bahwa judul yang dipilih adalah ‘It’s Love’, yang OMG, terdengar lebay meskipun pada dasarnya legenda klasik ini memang adalah sebuah lovestory. Untunglah akhirnya mereka memilih maju dengan titel baru, ‘The Sorcerer and the White Snake’, yang semakin menjelaskan bahwa mereka tak mau sia-sia memasang nama besar Jet Li sebagai satu dari empat karakter utama legenda ini, biksu Fahai the demon hunter yang sama legendaris dan pasti sudah dikenal semua yang tahu kisah ini. Selain dua produksi berbeda dari Shaw Brothers, versi terakhirnya tahun 1993 yang disutradarai Tsui Hark, menggunakan sudut pandang satu karakter lagi dan dibandrol judul sesuai itu, ‘Green Snake’, juga cukup punya nilai klasik, baik di barisan cast yang memasang Vincent Zhao, bintang laga yang menggantikan Jet Li di instalmen ‘Once Upon A Time In China’ berikut plot yang sedikit dibelokkan dari legenda aslinya. So then comes the official poster, yang jelas-jelas hanya menonjolkan si biksu. Oke. It’s Jet Li anyway, dan kita pasti paham sekali alasannya. Dalam konteks jualan, mau tak mau ya sah-sah saja.

Iblis-iblis yang dalam legenda ini dipercaya sejak dulu hidup berdampingan dengan manusia sebagai binatang jadi-jadian dan siap menunggu kesempatannya menggoda, harus berhadapan dengan seorang biksu bernama Fahai (Jet Li) bersama murid kepercayaannya, Neng Ren (Wen Zhang) serta sebarisan pasukan yang siap menangkap mereka untuk ditawan ke pagoda suci di atas bukit tengah lautan. Namun dua siluman ular berusia ribuan tahun dengan kekuatan luarbiasa, Bai Suzhen/White Snake (Eva Huang) dan Xing Xing/Green Snake (Charlene Choi) yang hidup mengasingkan diri ke sebuah hutan tersembunyi tak bisa menahan keinginan mereka ketika Suzhen jatuh cinta pada Xu Xian (Raymond Lam), seorang herbalis lugu yang berniat mencari tanaman obat disana. Xing Xing pun mati-matian membantu Suzhen untuk dapat menikah dengan Xu Xian. Sementara Neng Ren yang berubah wujud menjadi siluman kelelawar setelah menjadi korban gigitan juga akhirnya dekat dengan Xing Xing, mau tak mau hubungan terlarang ini memancing Fahai untuk memisahkan mereka. Saat sebuah insiden membuat Xu Xian tertenung di kuil para biksu, Fahai harus menghadapi dua siluman ular dengan amukan Suzhen yang siap menyapu seluruh kota dengan air bah.

Kesuksesannya di genre martial arts selama ini mungkin membuat Tony Ching Siu-tung menjadi over-ambisius untuk menghadirkan retelling legenda klasik ini. Sentuhan koreografi aksi-nya yang hampir selalu remarkable itu masih tetap terlihat di beberapa sekuens yang diterjemahkan dengan silat klasik Jet Li, namun balutan CGI dalam tendensi sebuah fantasi 3D itu justru tampil dalam porsi kelewatan sehingga memberikan efek kanibalisasi bagi kepentingan plot dan bangunan empati penonton terhadap karakterisasinya. Terus terang, sebagian polesan CGI itu memang terasa luarbiasa untuk ukuran film Asia, apalagi treatment 3D-nya dibesut dengan gaya klasik seperti ‘Final Destination 5‘ barusan. Meskipun versi 3Dnya tak dirilis disini, kita bisa merasakan excitementnya kala pecahan batu, hempasan air bah, kepakan sayap kelelawar serta adegan penuh efek lainnya seakan sengaja diarahkan tepat ke muka. Tampilan binatang-binatang mungil CGI-nya juga diset dengan atmosfer dongeng penuh kemegahan bak sebuah animasi Disney. Sebagian cast-nya pun terasa pas bersama cameo-cameo bintang terkenal mulai dari Vivian Hsu, Miriam Yeung, Lam Suet dan Chapman To yang sama menariknya.

But noted too, efek ular raksasanya kadang seperti unfinalized CGI yang tak jauh beda dengan sinetron-sinetron legenda lokal kita, dan kesalahan ‘A Chinese Ghost Story’ versi baru (A Chinese Fairy Tale) yang belum lama ini hadir kembali terulang di tangan Raymond Lam yang sama sekali tak punya kharisma untuk jadi the leading man dalam part romance-nya. Chemistrynya dengan Eva Huang yang sangat ekspresif malah diterjemahkan Raymond seperti orang tolol. Kembali ke plot dan karakterisasinya, legenda klasik yang seharusnya punya pesan bijak di batas tipis kebaikan dan keburukan oleh nafsu itu pun jadi mentah bukan dengan gambaran abu-abu, namun hitam putih yang berubah-ubah secara cepat dan kelewat ekstrim dalam tendensi membangun keberpihakan pemirsa pada karakternya yang serba tak jelas. Chemistry White Snake dan Green Snake yang harusnya jadi bagian terpenting itu juga lenyap entah kemana. Belum lagi ketika skenario Charcoal Tan yang dipenuhi dialog ekstra cheesy itu seketika berpanjang-panjang menggelar preach-nya terlalu terus-terang seakan mendengarkan kuliah relijius, dan lantas meninggalkan kita dengan romance mendayu-dayu yang sempat terpenggal-penggal sebelumnya demi sederet adegan aksi. Bahkan themesong bagus berjudul ‘Promise’ gubahan komposer Choi Jun Young yang dinyanyikan sendiri oleh Eva Huang dan Raymond Lam tak lagi bisa berbuat banyak. Ini mungkin masih sedikit lebih baik dari ‘A Chinese Fairy Tale’ namun secara keseluruhan, semua sisi lebihnya benar-benar diluluh-lantakkan oleh ambisi overblown yang serba tak sinkron. Too bad. (dan)

~ by danieldokter on October 2, 2011.

2 Responses to “THE SORCERER AND THE WHITE SNAKE : A CHINESE CLASSIC GOES MISCONDUCT”

  1. […] The Sorcerer And The White Snake […]

  2. Rating ****/*****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: