DON’T BE AFRAID OF THE DARK : JENGLOTS IN THE BASEMENT

DON’T BE AFRAID OF THE DARK

Sutradara : Troy Nixey

Produksi : Miramax & Film District, 2010

Bersama ‘The Debt’-nya Sam Worthington, horor terbaru produksi Guillermo del Toro ini sempat mengalami penundaan rilis atas status akuisisi Miramax dari Disney ke perusahaan investor baru bernama Filmyard Holdings. Padahal, trailernya yang hadir menjelang penghujung tahun lalu sudah banyak mengundang ekspektasi, apalagi, remake dari film teve berjudul sama di tahun 1973 ini merupakan ambisi pribadi del Toro yang begitu menyukai kengerian yang ada di film aslinya, meski ia menyerahkan kursi penyutradaraan pada Troy Nixey, pelukis komik ‘The Matrix’ yang baru menghasilkan satu film pendek, ‘Latchkey’s Lament’ (2007). However, ini adalah horor-nya del Toro, yang punya atmosfer beda dengan horor biasanya. Persepsi seram ke sebuah horor kuno mungkin sekarang sudah bergeser dengan trend horor Asia yang merebak sampai ke Hollywood. Rumah ala kastil kuno, makhluk menyeramkan dengan karakter ala film-film horor Vincent Price zaman dulu boleh jadi tak terasa se-menakutkan seperti era -70an dulu, tapi siapa tahu. Deretan sukses del Toro termasuk di ‘The Devil’s Backbone’, ‘Julia’s Eyes’, sampai ‘Pan’s Labyrinth’ yang lebih ke fantasi ketimbang horor itu, sudah membawa kembali suasana eerie yang mengedepankan set-set beratmosfer horor kuno rumah-rumah dengan basement, taman rindang, ornamen klasik dan efek spesial creatures-nya yang sangat berkesan gothic. So welcome to Guillermo del Toro’s world of horror.

Sebuah flashback tentang pelukis Emerson Blackwood (Garry McDonald) yang tengah diliputi ketakutan akan makhluk-makhluk kecil mengerikan di basement rumahnya dan mengorbankan pengurus rumah Miss Winter (Edwina Ritchard) untuk diambil giginya demi mendapatkan kembali anaknya yang ditawan makhluk-makhluk itu, mengantarkan kita ke karakter Alex Hirst (Guy Pearce), seorang duda pialang restorasi rumah kuno di zaman sekarang. Bersama Kim (Katie Holmes), desainer interior yang dipacarinya, Alex yang baru kedatangan putrinya, Sally (Bailee Madison), tengah merenovasi rumah Blackwood yang telah disegel puluhan tahun setelah insiden itu. Sally yang baru memulai adaptasi bersama Alex dan Kim dengan trauma karena merasa dicampakkan sang ibu mulai mendengar suara-suara aneh seiring ditemukannya basement rumah yang tersegel itu. Keingintahuan Sally akhirnya membawa kembali makhluk-makhluk mengerikan itu, yang telah menunggu lama dengan satu tujuan tersembunyi. Setelah mandor bangunan Harris (Jack Thompson) yang mengetahui insiden dulu menjadi korban, Kim akhirnya mati-matian berusaha melindungi Sally, sementara Alex menganggap semuanya hanya fantasi dari keadaan psikologis Sally.

Dimulai dengan opening scene yang gory, versi baru horor ini sudah dengan mantap menancapkan tajinya, tetap dalam koridor style del Toro yang seperti biasa, selalu remarkable. Bahkan nama Troy Nixey pun tenggelam seakan film ini dibesut oleh del Toro sendiri. Sebagian desain set-nya yang menggunakan properti ‘Pan’s Labyrinth’ ditambah sedikit polesan beda seakan ikut bicara membangun atmosfer gothicnya yang serba eerie bersama sinematografi Oliver Stapleton yang sudah berpengalaman membesut film-film berset kuno serta isolated (karya Stapleton diantaranya ‘Casanova’, ‘Ned Kelly’, dan ‘The Cider House Rules’). Iringan skor oleh Marco Beltrami juga terdengar semakin sinergis membangun suasana menyeramkan dibalik set itu. Namun adalah Bailee Madison, aktris cilik yang belum lama ini kita lihat dalam ‘Just Go With It’-nya Adam Sandler serta ‘Letters To God’ yang sangat berjasa membawa kengeriannya ke puncak. Madison yang punya wajah depresif dibalik gestur dan potongan poninya yang menggemaskan ini dengan sukses memerankan Sally yang penuh masalah, lengkap dengan kepolosan childish yang diwarnai gaya sok dewasa-nya. Katie Holmes juga menghadirkan akting cukup berbeda dari sederetan film-film kecilnya selama ini, sementara Guy Pearce, sayangnya dibatasi skenario untuk akting tipikal seorang ayah yang mencoba selalu terlihat realistis. Sinergisme ini bekerja dengan baik untuk menyelamatkan plot yang sekilas seperti punya plothole krusial namun sebenarnya terjelaskan meski kelewat singkat. So how about the CGI effects? Pastinya, del Toro tak akan meninggalkan kebiasaannya membesut makhluk-makhluk fantasi yang menyeramkan. The goblin-like creatures which they described as fairies, yang tersimpan cukup lama itu, menampilkan teknik CGI yang cantik dengan pergerakan dinamis, walau kesannya kelewat modern dan menurunkan tensi seram yang dibangun dengan meyakinkan sejak awal. Tapi bagaimanapun, seperti restorasi rumah kuno yang penuh perhitungan, Don’t Be Afraid Of The Dark sudah membuktikan sekali lagi visi fantastis seorang Guillermo del Toro. Some may called those hairy little creatures as fairies, while kids who just watched smurf may called it bad smurf. But with almost the same description, here in Indonesia, we named it Jenglot. Tapi tak usah khawatir, tak seperti ‘Jenglot Pantai Selatan‘ yang kebablasan dengan pameran paha dan dada, ini film Jenglot yang bagus. (dan)

~ by danieldokter on October 9, 2011.

2 Responses to “DON’T BE AFRAID OF THE DARK : JENGLOTS IN THE BASEMENT”

  1. saya memang selalu tertarik dengan film2nya Del Toro, dan tidak sabar menunggu film ini tayang di layar lebar! Thanks atas reviewnya! Salam dari tiketbioskop.blogspot.com😀

  2. […] Don’t Be Afraid of the Dark […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: