THE SMURFS : SMURF THESE SMURFS!

THE SMURFS

Sutradara : Raja Gosnell

Produksi : Sony Pictures Animation, The Kerner Entertainment Company, 2011

Everybody might know Smurf as a charming little blue creatures. Cara mereka mengganti kata-kata dengan istilah ‘smurf’, juga. Bahkan arch-nemesis mereka, penyihir mbalelo bernama Gargamel dengan kucing siriknya, Azrael. Tapi baca semua komik, tahu karakter-karakter dan semua yang ada di Smurf universenya, itu belum tentu. Apalagi setelah trend komik Eropa dihajar habis oleh komik Jepang disini. Smurf yang di Perancis dikenal dengan ‘Les Schtroumpfs‘, adalah kreasi komikus Pierre Culliford yang populer dengan nama Peyo di komik-komik legendarisnya termasuk ‘Johan & Pirlouit‘ (dimana Smurf lahir dari salah satu serialnya, ‘The Six Smurfed Flutes‘), ‘Steven Sterk‘ dan ‘Spirou & Fantasio‘ yang dulu juga beredar di Indonesia medio 80an. Belakangan, serial animasi tevenya semakin meneruskan keberhasilan smurf-smurf ini menjadi karakter animasi legendaris yang dikenal anak-anak seluruh dunia. So now comes the movie, silahkan kembali membolak-balik lembaran kanak-kanak Anda. Ini adalah pure children stuffs, jadi jangan harapkan adaptasinya tampil dengan bergelap-gelap ala trend sekarang. Dan karena itu juga, pemilihan Raja Gosnell, sutradara mantan editor (termasuk di ‘Home Alone‘ 1-2 dan ‘Pretty Woman‘) yang memulai debutnya di ‘Home Alone 3‘ kemudian sukses mengadaptasi ‘Scooby Doo‘ live action, rasanya cukup tepat karena visi family movie dan comics universe-nya memang kental sekali. Once again, ini sajian semua umur Smurf dengan semua universe-nya, yang dibesut dengan CGI dan tambahan penggabungan ke karakter-karakter live action. Bidikannya adalah penonton belia atau belahan hati penonton dewasa yang pernah menyukainya dulu atau sekarang. Mau cara berbahasa ala smurf sampai ke themesong serial animasinya, boleh-boleh saja dianggap garing atau serba annoying. Tapi itu justru sekaligus highlightnya. If you don’t like a thing about it, then just back off. Ada karakter smurf baru, namun pastinya bukan smurf psycho.

Visi yang didapat Papa Smurf (Jonathan Winters, pengisi suara asli serial animasinya) di Blue Moon festival, salah satu perayaan paling penting di tempat asal para Smurf, akhirnya terbukti kala Clumsy Smurf (Anton Yelchin) tak sengaja membuka jalan bagi penyihir Gargamel (Hank Azaria) ke dimensi mereka. Di tengah kerusuhan itu, Papa Smurf, Smurfette (satu-satunya Smurf cewek hasil kreasi Gargamel yang dulu di Indonesia dinamakan Smurfin, disuarakan penyanyi Katy Perry), Grouchy (George Lopez), Brainy (Fred Armisen), Gutsy (Alan Cummings) dan Clumsy Smurf terjebak ke sebuah gua rahasia yang mengharuskan mereka melompat ke pusaran raksasa yang kemudian mengantarkan mereka ke hiruk-pikuk New York. Gargamel dan kucingnya Azrael (Frank Welker, juga pengisi suara asli animasinya) lantas mengikuti para Smurf yang melarikan diri ke apartemen pasangan muda Patrick (Neil Patrick Harris) dan Grace (Jayma Mays). Patrick, pegawai sebuah perusahaan kosmetik pimpinan Odile (Sofia Vergara) yang tengah dikejar deadline iklan kemudian membantu Papa Smurf menemukan mantera untuk mendatangkan bulan biru agar mereka bisa kembali ke asal mereka, sementara Gargamel justru mendapatkan tongkat sihir bernama dragonwand sebagai jalan untuk menghabisi makhluk-makhluk kecil seterunya ini.

To some and mostly serious critics, Raja Gosnell boleh saja dianggap sutradara kacangan untuk sekedar urusan komersil-komersil belaka. Namun penelusuran penulis ‘Shrek’ 2 dan 3, David Stern dan David Weiss, bersama penulis ‘The ZookeeperJay Scherick dan David Ronn di bawah CEO Sony, Michael Lynton, yang merupakan penggemar Smurf sejak kecil jelas tak membawa karakternya jauh dari yang ada di komik. Gosnell yang sudah membuktikan visinya ke genre family movies juga membesut petualangan ini se-simpel komik yang memang jadi konsumsi anak-anak ini. Jadi naif sekali kalau penilaiannya harus memakai standar film-film serius yang mengutamakan plot, akting dan segala tetek-bengek filmis lainnya karena source aslinya toh bukan seperti itu. Dibalik semua kritikan pedas ala dewasa itu, mereka dengan efektif sudah bisa menuangkan penjelasan tentang smurf universe bagi pemirsa yang belum pernah menelusuri benar-benar komik atau animasinya, hanya dalam beberapa adegan dan line dialog, sampai ke asal-usul Smurfette. Cukup sekilas namun jelas. Overly childish, annoying dan slapstick-slapstick itu? Ya memang begitulah kreasi Peyo menggelar hiburan untuk pembacanya. Dan poin terpenting adalah bagaimana hasil tim CGI yang katanya bekerja keras selama 350 ribu jam lebih untuk menghidupkan para smurf ini ke layar lebar dengan treatment 3D yang lebih dijual ketimbang 2D-nya, which is very charming, trust me, serta, note this, how this could brighten your smile just like the comics did. Kedengaran kelewat segmental? Yes, it might be, tapi juga adalah suatu kenyataan bahwa sejak kita semua pasti sudah tahu bisa sejauh mana adaptasi karakter komik anak-anak terkenal ini dibawa. Just unlock that childhood side of yours kalaupun sudah merasa kelewat dewasa untuk mencintai smurf-smurf yang sekali waktu dulu pernah menghias masa kecil Anda, and you’re going to love it. As for me, I smurf these smurfs and this is Smurf!  (dan)

~ by danieldokter on October 9, 2011.

One Response to “THE SMURFS : SMURF THESE SMURFS!”

  1. […] The Smurfs […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: