CARS 2 : THE RAC(E)SPIONAGE

CARS 2

Sutradara : John Lasseter

Produksi : Pixar & Walt Disney Pictures, 2011

Sebuah karakter mobil, Uncle Topolino, yang disuarakan Franco Nero, dalam film ini berkata : ‘A wise car hear one word, but understands two’. Sesuatu yang berlawanan dengan konsep yang diusung sejak predesesornya, yang dengan cerewet mengkuliahi penontonnya dengan nasehat ini-itu di line-line dialognya. Seperti seorang nenek cerewet yang tak mau berhenti berkicau, baik dari intonasi suara Owen Wilson yang selalu terseret-seret seperti orang baru bangun, serta Larry The Cable Guy yang lantang bak pengkhotbah tapi balutan karakternya tolol bukan main. Let’s bet. I’m quite sure eksekutif-eksekutif Disney panjang lebar berdebat dengan John Lasseter atas gebrakannya di tahun 2006 dulu dengan Cars. Bukan soal konsep cerita yang serba cerewet itu dulu, namun lebih ke tingkat kesulitan tinggi yang menjadi jiwa Cars sebagai animasi sekaligus franchise baru Disney. Kita semua sudah biasa melihat sebuah fabel dalam gelaran animasi yang tak lagi aneh. Tapi mengganti semua benda hidup dengan berbagai rupa mobil tanpa pengemudi? Whoa! That’s new, dan pasti sedikit absurd. But however, bukan Pixar namanya kalau tak bisa membesut teknik animasi digitalnya bak sebuah benda hidup di hadapan mata kita. Cars pun melaju dengan kencang baik di mata kritikus dan box office negara asalnya.

Namun dibanding film-film Pixar lain, yang sangat kuat faktor inovasinya, Cars tersandung di banyak aspek untuk bisa disukai penonton lain di luar AS. Let’s skip Mater yang kelewat annoying karena dilibas oleh faktor ketololan kelewat tinggi oleh Lasseter dkk. Satu saja, karakter utamanya, mobil balap berwarna merah dengan nama tak kalah keren, Lightning McQueen, pasti sudah mengundang ekspektasi semua penonton untuk melihatnya melaju kencang di arena balapan. Nyatanya, Pixar kelewat sibuk memprioritaskan sebuah nostalgia 50an family roadtrip Amerika tentang Route 66 dan Radiator Springs berbalut kisah penuh moral tentang keangkuhan, menenggelamkan nuansa tribute ke dunia balapan yang membuat mereka memakai nama dan memasang aktor yang imejnya lekat ke dunia ini. Satunya nama McQueen yang diambil dari Steve McQueen, serta almarhum Paul Newman yang menyuarakan Doc Hudson, juga karakter keren di Cars. Dua-duanya adalah aktor yang berkarir sebagai pembalap profesional. Padahal kebanyakan penonton termasuk anak-anak terus menunggu-nunggu adegan balapan yang ternyata cuma tampil sebagai tempelan ke nostalgia segmental itu. And the whole middle part goes like, err.. sleeping pill. Pixar hanya menyisakan kedigdayaannya melalui tampilan mobil-mobil pengganti karakter manusia ini dengan tetap luarbiasa dahsyat dan hidup.

And here comes the sequel, dengan trailer, yang terus terang, membuat ekspektasi sesak nafas itu hidup kembali. Mobil-mobil melaju kencang di grand prix, di jalanan Jepang sampai Eropa, bahkan terbang diikuti ledakan, bak live action James Bond yang memicu adrenalin. Sepertinya Lasseter sadar dengan kesalahan mereka di film pertama, bahkan semakin yakin menggeser peredarannya setahun lebih cepat. Yes, it’s promising. Tanggapan banyak kritikus yang melibasnya sebagai film Pixar terlemah, kesalahan Pixar pertama, and so on? Ah, trailer itu membuat kita tak lagi perduli, apalagi setelah tahu sedikit-sedikit premisnya, bahwa ini bukan lagi kisah nostalgia ini-itu. Lasseter dan timnya melangkah jauh membawa sebuah tribute ke style film-film euro super spy tahun 60-70an, yang bagi sebagian dianggap latah oleh Bond, namun sebagian lagi menganggap justru jadi cikal-bakal lahirnya film-film Bond yang semakin hi-tech dengan perkembangan zaman. Ikon untuk tribute-nya? Ada aktor Michael Caine yang menyuarakan Finn McMissile disini. Sebuah gelaran yang paham sekali sejauh apa pameran teknologi animasi digital bisa dibesut oleh Pixar. Kesalahan pertama Pixar, jelas adalah Cars, tapi sama sekali bukan sekuelnya.

Opening sequence seru ala James Bond pun mengantarkan kita ke sepak terjang sebuah mobil agen rahasia Inggris, Finn McMissile (Michael Caine) menyelinap ke sarang penyimpanan minyak raksasa milik criminal mastermind Professor Zundapp (Thomas Kretschmann) di tengah lautan luas. Sementara gelaran ‘World Grand Prix’ yang digagas taipan minyak, Miles Axelrod (Eddie Izzard) yang memperkenalkan bahan bakar alami, Allinol, mau tak mau membuat Lightning McQueen (Owen Wilson) kembali ke arena balap atas tantangan saingannya, mobil balap Itali, Francesco Bernoulli (John Torturro) yang bermulut besar. Bersama timnya, termasuk sang kekasih, Sally (Bonnie Hunt) dan bromance-nya, Mater (Larry the Cable Guy), McQueen pun bertolak ke Jepang. Namun Mater yang terlibat intrik Finn dan partnernya, agen rahasia Holley Shiftwell (Emily Mortimer) dan disangka sebagai kontak Amerika mereka untuk menguntit Zundapp bersama gerombolan mobil kunonya mengacaukan semuanya. Mater yang kecewa atas kemarahan McQueen dan memutuskan pulang kemudian malah terlibat lebih dalam ke pengejaran McMissile dan Shiftwell. Kecurigaan adanya sabotase dibalik pemasaran Allinol juga mulai merebak dengan kecelakaan beberapa mobil di Grand Prix yang dilanjutkan ke jalanan Itali hingga akhirnya Mater menemukan rencana Zundapp untuk membunuh McQueen yang terus memutuskan tetap menggunakan bahan bakar itu di final Grand Prix di Inggris. Kini sebuah bom terpasang dan siap diaktifkan di mesin McQueen yang terus bersaing dengan Bernoulli, sementara Mater yang terjebak sebagai tawanan Zundapp bersama McMissile dan Shiftwell harus memutar otak untuk mencari biang keladi teratas kejahatan ini sekaligus menyelamatkan McQueen, apapun resikonya.

Plot penuh intrik spionase yang disempalkan ke dalam tema persahabatan McQueen dan Mater di arena balapan dalam menyambung benang merah sekuel ini memang awalnya tak bisa menyatu dengan baik dalam pemaparannya. Selain kelewat berat untuk penonton belia, Lasseter bersama penulis naskahnya, Ben Queen, juga agaknya terlalu asyik menjual Mater dan ketololan yang dipush sedikit over the top ke posisi pemeran utama franchise ini. Selain cenderung annoying di durasi awalnya, ditambah dengan karakter-karakter baru yang juga kelihatan sangat diusahakan buat tampil sama menonjol, karakter-karakter inti di film pertama seperti Sally terpaksa menerima nasib numpang lewat belaka, dan tak hanya itu, McQueen pun ikut tersisih ke posisi runner up-nya. Kalau saja Paul Newman masih hidup dan karakter Doc Hudson masih muncul, tumpang tindihnya tentu akan semakin meledak. Lebih parah lagi, entah atas dasar apa, walau penulisnya berbeda, kesalahan ala nenek cerewet di Cars terus-menerus dipaksa untuk masuk dalam line dialog penuh nasehat yang muncul makin tak sinkron di tengah tema spionasenya. Untunglah kali ini Lasseter tak terlalu lama hanyut membiarkan filmnya lagi-lagi jadi sleeping pill. Dengan cepat, selepas set Grand Prix Jepang yang berjalan draggy dari awal, Cars 2 kembali menyambung nyawa opening sequence-nya yang seru itu.

The action starts and getting bigger dibalik set adventurous keliling Eropa yang serba cantik seperti tribute Lasseter tadi ke film-film euro super-spy ‘70an yang bombastis dengan motif-motif dan atribut klasiknya. Intensitasnya menaik drastis berikut banyolan Mater yang seketika menjadi well-blended ke plotnya. Arena balapan yang bercampur baur dengan car chase seru pun tak lagi terasa jadi tempelan menuju ke klimaks seru yang membuat semua penontonnya tak lagi memikirkan betapa krusial sebenarnya resiko penggantian dan pergeseran karakter-karakter utama itu. Just like Mater and those british special agent, Lasseter has saved the day, dan ini bagus, apalagi dalam membuat balutan 3Dnya tak jadi tersia-sia. Walau di scene-scene akhir yang serba berpanjang-panjang Lasseter dkk terlihat kembali ragu membagi porsi baik di tema yang sudah melangkah jauh dari sekedar drama pesan moral di film pertamanya maupun karakterisasi McQueen dan Mater yang sudah berjalan sejajar ketimbang hanya a hero and his sidekick, Cars 2 tetap merupakan sebuah sekuel yang jauh lebih baik dari pendahulunya. Theme songnya, ‘Collision of Worlds’ yang ditulis dan dinyanyikan bareng oleh Robbie Williams dan Brad Paisley juga turut menjelaskan blend British-American classic style yang serba unlikely namun akhirnya bisa menyatu dengan baik. Sekarang, biarkan saja Lasseter berpusing-pusing dengan timnya ke arah mana mereka kalaupun mau melanjutkan lagi petulangan mobil-mobil ini ke film ketiganya. For us, we just want to be entertained, and this worked as well. (dan)

~ by danieldokter on October 13, 2011.

3 Responses to “CARS 2 : THE RAC(E)SPIONAGE”

  1. Jjur… karakter baru yang bener2 saya sukai di sini itu Finn. Dia keren abis walaupun kesannya over-the-top.

  2. sure. he’s a super spy. super cool🙂. that’s why, film2 euro super spy thn 70an hampir semuanya serba bombastis. dari level jagoan, pindah2 lokasi, gadget sampai motif villainnya juga sama bombastis. persis kaya Cars 2 ini🙂

  3. […] Cars 2 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: