THE THREE MUSKETEERS : BRAINLESSLY ENJOYABLE NEW PACK

THE THREE MUSKETEERS

Sutradara : Paul W.S. Anderson

Produksi : Constantin Films, Entertainment One & Summit Ent, 2011

Coba tanyakan ke anak-anak sekarang. Kenal atau tidak mereka dengan ‘The Three Musketeers‘ atau authornya, Alexandre Dumas. Dalam line-up literatur klasik dunia yang dulu sempat jadi bacaan wajib orang-orang yang sempat tumbuh besar di tahun ’70an ke ‘80an dengan sebuah seri komik terbitan Gramedia Pustaka bernama Album Cerita Ternama, yang merupakan kombinasi terjemahan dari komik-komik serial Eropa, Classics Illustrated, American Westerns karya Karl May serta legenda klasik India, Three Musketeers ini adalah salah satu yang paling terkenal. Istilah literatur dunia itu memang bukan sekedar gaya-gayaan, karena hampir ke belahan dunia manapun Anda pergi, termasuk Jepang yang kemudian menggusur popular knowledge itu dengan serbuan komiknya ke Indonesia, semua orang pasti tahu kisahnya. Bahkan ‘Slumdog Millionaire’ sudah menjelaskannya. Sekolah paling darurat di kawasan kumuh India sana pun mempelajari kisah ini dalam kurikulum formal, yang kemudian menjadi pengetahuan umum wajib yang ditanyakan di kuis ‘Who Wants To Be A Millionaire’-nya. Bukan mau cerewet, but trust me. Ketika anak sekarang lebih tahu karakter komik Jepang ketimbang literatur dunia dengan ratusan nama-nama penulis terkenal, that’s something we should be ashamed of.

The Three Musketeers lahir dari negaranya, Perancis, lewat sebuah novel berjudul ‘Les Trois Mousquetaires’ karya Alexandre Dumas di tahun 1844. Kisah para pengawal raja yang menggunakan pistol panjang beramunisi mesiu jaman kuno (musket)  itu mencampur fiksi dibalik timeline sejarah asli mereka, dengan empat karakter legendaris, Athos, Porthos dan Aramis, tiga musketri (yup, ini bahasa baku Indonesia untuk musketeers), dan d’Artagnan, bocah muda yang akhirnya bergabung bersama mereka menyelamatkan kudeta penuh intrik terhadap raja. Motto para musketeer itu, ‘All For One, One For All’, juga muncul jadi istilah sama legendaris dengan kisahnya. Versi filmnya pun sudah berulang kali muncul, mulai dari film bisu, hitam putih sampai serial televisi, animasi dan ripoff-ripoff-nya. Namun ada tiga instalmen yang paling dikenal. Yang pertama, versi semi musikal yang dibintangi aktor musikal Gene Kelly (1948), dwilogi Three dan Four Musketeers yang dibintangi Richard Chamberlain, Michael York bersama sebarisan bintang terkenal di jamannya (1974), plus tentunya, versi back to basic family adventure Disney 1993 yang dibintangi Kiefer Sutherland-Charlie Sheen-Chris O’Donnell, yang semakin klasik dengan kolaborasi Bryan Adams-Sting-Rod Stewart di themesong ‘All For Love’. Setelah itu masih ada unofficial sequel ‘The Man In The Iron Mask’-nya Leonardo diCaprio, serta ‘The Musketeers’ yang menggabungkannya dengan kungfu ala Asia-nya Tsui Hark. Bukan hanya plot yang setia ke novelnya, tapi ada satu pakem yang kerap jadi typical image ke adaptasinya. Selain ensemble cast para musketeer ini yang perlu dijagokan, namun lineup para villainnya, Kardinal Richelieu dan algojonya Rochefort, plus cewek manipulatif Milady De Winter, justru harus lebih atau sama dengan pemeran Three Musketeers.

Sekarang adalah gilirannya Paul W.S. Anderson, sineas yang terkenal lewat franchise Resident Evil dan tentu saja, Mr.-nya Milla Jovovich. Tetap berjalan di jalur hi-tech ala videogame, Anderson ternyata tak mau ikut arus dengan trend reboot dengan prekuel fiktif untuk menuju aslinya. Ia melangkah ke wilayah yang jauh lebih gila dengan garis besar plot asli yang tetap dipertahankan. No, bukan berarti musketeers itu akan melawan zombie atau alien, tapi dengan kreatif Anderson memasukkan unsur steampunk yang serba modern diatas timeline klasik yang sedikit direka ulang namun tak sampai mengobok-obok keseluruhannya. Ada swashbuckling dalam tradisi pirates movie, acrobatic walkthrough ala Tomb Raider, infiltrating act ala ‘Mission:Impossible’ sampai sky raids air balloon yang eksplosif luarbiasa dalam balutan 3D. Dan desingan mesiu musket-musket sebagai unsur dasar term musketeer yang biasa tertinggal oleh pedang-pedangan kini tampil seimbang ke depan. Whoa!

Setelah dikhianati oleh Milady De Winter (Milla Jovovich) yang bekerja sama dengan Duke of Buckingham (Orlando Bloom) dalam sebuah usaha pencurian cetak biru proyek rahasia dari museum Leonardo da Vinci di Venesia, tiga musketeer, Athos (Matthew Macfadyen), Porthos (Ray Stevenson) dan Aramis (Luke Evans) harus menghadapi keputusan kerajaan Perancis yang tahtanya jatuh ke Louis XIII (Freddie Fox) yang masih ingusan, untuk membebastugaskan kesatuan ini. Ternyata, kekacauan pemerintahan itu digagas oleh Kardinal Richelieu (Christoph Waltz) yang punya rencana licik untuk mengkudeta sang raja muda dengan bantuan Duke of Buckingham. Seluruh musketeer diperintahkan Richelieu untuk dihabisi di bawah komando anak buahnya, Kapten Rochefort (Mads Mikkelsen). Athos, Porthos dan Aramis kemudian secara tak sengaja bertemu dengan d’Artagnan (Logan Lerman), putra seorang mantan musketeer yang ambisius ingin melanjutkan karir ayahnya dan menantang mereka. Namun keadaan berbalik begitu d’Artagnan mendapati dirinya berada di tengah perlawanan para musketeer terhadap Rochefort. Didorong oleh Ratu Anne (Juno Temple) yang tengah menjajaki perjodohannya dengan Louis XIII yang juga terkesan dengan perlawanan mereka, empat musketeer ini kembali diangkat menjadi pengawalnya. Bersama kecurigaan Ratu Anne yang mengirim Constance (Gabriella Wilde), pengawalnya yang menarik perhatian d’Artagnan, mereka kemudian mencium rencana busuk Richelieu yang ternyata juga bekerja sama dengan Milady yang ingin mengambil keuntungan lain atas rencana Richelieu memfitnah Louis XIII dengan pemindahan perhiasan Ratu ke istana Buckingham di Inggris. Namun Duke of Buckingham yang sudah berhasil membangun armada perang modern diatas balon udara juga tak tinggal diam.

Oke, line up pemeran d’Artagnan, Athos, Porthos dan Aramis (Macfayden, Stevenson dan Evans) mungkin tak terlihat se-wah dan berkualitas big stars versi 1993. Theme song ‘When We Were Young’ yang dibawakan Take That juga bukan tak bagus, namun masih jauh dari kehebatan trio Bryan Adams-Sting dan Rod Stewart di versi 1993. Tapi Jovovich’s Milady yang jadi menyeruak paling ke depan setangguh superhero dibalik kostum ala victorian-nya, duet Christoph Waltz-Mads Mikkelsen sebagai Richelieu-Rochefort dan Duke of Buckingham-nya Orlando Bloom yang kini diplot lebih jadi villain utama yang sejajar dengan karakter Richelieu dan  bergaya swashbuckling ala Jack Sparrow, really are something. Gelaran action bersama efek spesial serba modern-nya juga tampil sangat menarik dibalik highlight 3Dnya yang meski tak terlalu mewah tapi tak jatuh ke kelas film-film konversi. Anderson memang kelihatan asyik sekali membuat racikan baru atas kisah aslinya sampai menggamit teknologi Da Vinci serta menyindir culture gap bahasa para musketeer yang dalam film-filmnya tak pernah berbahasa Perancis dengan karakter-karakter Inggrisnya. Begitu juga pemeran-pemeran yang di-set buat tampil ke depan tadi. Semuanya kelihatan terlalu asyik bermain-main dengan karakternya, baik Jovovich maupun Bloom yang sepertinya sudah lama menginginkan perannya di franchise ‘Pirates Of The Caribbean’ bisa muncul sekuat nyelenehnya Jack Sparrow. Fun it might be, kita semua mengerti, apalagi jualan Jovovich sebagai primadona yang notabene istrinya sendiri. Tapi ada satu efek kanibalisme terpenting yang justru menimpa karakter terpenting yang harusnya tanpa kompromi boleh dibiarkan mundur selangkahpun. So begitulah, di barisan para musketeers, hanya Lerman yang karakternya sedikit mendapat ruang untuk digali lebih. Selebihnya, memang lebih menonjol buat ber-action ria tanpa pendalaman karakter, dan parahnya, tertinggal pula di adegan-adegan aksi menuju klimaks yang seharusnya menghadirkan empat tokoh paling utama dalam kisahnya bersanding bersama tak hanya buat menyatukan pedang menyerukan ‘All For One, One For All’. Yup, Anderson memang sedikit kelewatan melepaskan fantasi gilanya bak anak-anak yang sesuka hati menyusun action figure pujaannya, hingga lupa yang dibesutnya adalah kisah klasik yang begitu melegenda mengusung judul karakter-karakter penting tadi. Dan sepertinya, kegilaan itu bakal semakin naik lagi di sekuel yang kemungkinannya sudah jelas-jelas tergambar disini. This is The Three Musketeers comes in a whole new Anderson’s pack. Brainless, but fun. (dan)

~ by danieldokter on October 22, 2011.

8 Responses to “THE THREE MUSKETEERS : BRAINLESSLY ENJOYABLE NEW PACK”

  1. I wanted big and ludicrous and silly, with swords and airships. That’s pretty much what I got. Still, I’m not surprised one bit that just about everybody hates this film. Good review. Check out mine when you get a chance.

  2. yup, depends on each expectations🙂. the usual Anderson. strong fun factor and he pushed it over the limits. i never against fun though🙂. thanks. gonna check yours soon🙂

  3. salam kenal,
    aq blogger baru. jangan lupa mampir, ya…🙂

  4. sama2 salam kenal juga. wah spesifikasinya ke film thailand sepertinya ya🙂. keep writing! ntar saya link ya🙂

  5. I fell asleep watching this swashbuckling mess. Even Cristoph Waltz failed to dazzle. Btw it’s Matthew Macfadyen not Macfayden🙂

  6. whew! you were right, it’s Macfadyen, tapi emang banyak sekali yg salah pronounce namanya ya, mgkn krn sebelumnya ada beberapa aktor dgn nama belakang Macfayden yg lebih umum. thanks for correcting it :)!

  7. You’re welcome. Enjoy reading your reviews, by the way. Keep reviewing!

  8. […] The Three Musketeers […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: