RA.ONE : BOLLYWOOD STRIKES BACK

RA.ONE

Sutradara : Anubhav Sinha

Produksi : Eros International & Red Chillies Entertainment, 2011

Meski masih bernaung di satu negara dan kerap melakukan crossover kerjasama, baik dalam versi dub atau remake timbal balik, ada persaingan terselubung antara Bollywood sebagai perfilman nasional India dengan Kollywood, perfilman salah satu daerah selatan yang lebih dikenal dengan sebutan film Tamil. Beralih dari produk underdog, Kollywood belakangan mulai melahirkan sineas-sineas go international (A.R. Rahman dan Aishwarya Rai adalah diantaranya) bahkan patokan orisinalitas yang suka di-remake ke perfilman nasional mereka. Meski produk Bollywood tetap lebih memenuhi persyaratan dengan barisan paras pemerannya yang rata-rata serba cantik, namun gebrakan Kollywood tahun lalu lewat ‘Robot (Enthiran)’, yang memasang duet Aishwarya Rai kembali ke kampung halamannya dengan Amitabh Bachchan-nya Tamil, Rajnikanth, sebagai film sci-fi-superhero India berbujet terbesar sekaligus juga versi dubbingnya ke bahasa hindi, cukup membuat perfilman nasionalnya terpukul.

Oh ya, ‘Ra.One’ bukanlah film superhero kedua Bollywood karena sebelumnya sudah cukup banyak superhero made in Bolly namun tak se-global ‘Krrish’-nya Hrithik Roshan dan mungkin tertutupi oleh ramuan komedi dan drama campur baurnya yang kelewat mendominasi. So, selagi masih menunggu sekuel ‘Krrish’ yang terus terkendala, Ra.One yang sudah digagas cukup lama ini pun di-push lebih over the top menuju rencana perilisannya di momen hari raya Diwali. Ide dari cerita pendek yang ditulis sutradara/penulis Anubhav Sinha di tahun 2004 sudah memulai pre-produksinya sejak 2007. Selain polesan efek spesial yang terus diperbaharui, konversi 3D-nya juga masuk ke dalam agenda kejar tayang. Mereka memang tak sampai menggamit kelas pionir Stan Winston seperti ‘Robot’, namun bekerjasama dengan ‘Prime Focus’, perusahaan visual multimedia yang sudah menghasilkan antara lain ‘X-Men : First Class’, ‘Final Destination 5’ , konversi 3D ‘Transformers : Dark Of The Moon’, berikut, yes, ‘Sucker Punch’ yang serba wah itu. Plus satu ambisi lagi. Mengungguli rekor ‘Robot’ sebagai film India berbujet lebih gede. Promosi yang gede-gedean juga membuatnya mencetak rekor box office terbaru di negaranya. Dari penelusuran plot penuh mocking ke karakter tipikal film-film Tamil dan tampilnya Rajnikanth sebagai cameo karakternya di ‘Robot’, if you’re into Indian movies, Anda akan mengerti. Dengan efek spesial, bayaran tinggi ke tampilan singkat Rajnikanth, special appearance Sanjay DuttPriyanka Chopra dan bahkan suara Amitabh Bachchan di sepenggal narasi dan mengundang Akon untuk mengisi soundtracknya (Bukan hanya single ‘Chammak Challo’ yang sudah wara-wiri di MTV itu tapi juga membeli copyright lagu klasik ‘Stand By Me’), they’re striking Kollywood back as hard.

Hanya satu keinginan Shekhar Subramaniam (Shah Rukh Khan), seorang programmer game dari perusahaan Barron Industries dibalik kehidupan perkawinannya yang bahagia dengan Sonia (Kareena Kapoor), yakni mendapatkan respek dari putra tunggal yang sangat dicintainya, Prateek (Aman Verma), yang lebih memuja tokoh jahat dibalik nickname-nya ketika bergelimang di dunia game, Lucifer. Demi obsesi itu, Shekhar, bersama partner bagian teknisnya, Akashi (Tom Wu) dan asistennya, Jenny (Shahana Goswami) pun mendesain game baru dengan tokoh supervillain tak terkalahkan, yang mereka kembangkan dari elemen-elemen superhero-nya ke dalam dua masterchip dengan sebutan HART (Hertz Advance Resonance Transmitter). Sang tokoh jahat mereka namakan Random Access One (Ra.One) yang dibaca Rawan (mengacu ke Raavan/Rahwana) serta superheronya, G.One (dibaca Jiwan, mengacu ke kata Jeevan yang artinya kehidupan). Mereka tak menyangka bahwa program serba super itu akhirnya akan membawa data Ra.One ditransfer ke luar dunia virtual dan siap untuk melancarkan terornya di kehidupan nyata. Sasarannya adalah Prateek yang  jadi orang pertama mencoba game itu. Satu-satunya cara untuk menghentikan Ra.One adalah dengan membawa serta G.One ke dunia nyata, namun Ra.One yang akhirnya mengambil fisik seorang model (Arjun Rampal) juga semakin sulit untuk dikalahkan.

And Bollywood tetaplah Bollywood. Seperti ‘Krrish‘ dan ‘Robot‘ yang masih tergolong film India juga meski dari perfilman Tamil, Ra.One juga tetap merupakan gado-gado campur aduk ala mereka dalam durasi rata-rata dua setengah jam including lagu-lagunya, yang sekarang kebanyakan tak lagi jadi tampilan musikal tapi sebatas soundtrack latar kecuali adegan di bar atau panggung pesta. Superheronya tak sekedar superhero dengan satu kekuatan, tapi merupakan kombinasi comot sana comot sini dari segudang giant Hollywood blockbusters. Here, dejavu-nya bahkan lebih banyak lagi. Mulai dari konsep teleportase ala ‘Star Trek’ yang sedikit diplesetkan antara perpindahan data virtual dengan dunia nyata, dunia game comes alive like ‘Tron’, drama dilematis ala ‘The Dark Knight’, aksi ala ‘Spider-man’, device masterchip ala ‘Iron Man’ dan masih banyak lagi yang lain. Bumbunya? Mulai dari komedi nyeleneh yang khas film-film Shah Rukh Khan sekali, hingga dramatisasi over yang membuat penontonnya tersentuh setengah mati. Namun ini juga jadi spesialisasi tiruan Bollywood yang racikan keseluruhannya muncul jadi sajian yang menawarkan excitement baru, dan di saat guyonan-guyonan ala Asia yang sebenarnya tak benar-benar perlu itu bisa membuat Anda tertawa, dramatisasinya bisa membuat Anda terharu, lagu-lagunya catchy dan sudah menyentuh wilayah modern yang bisa dinikmati semua orang dan efek spesial sebagai inovasi teknologi go-international mereka yang baru bisa membuat kita berdecak cukup kagum, you have no object than to enjoyed its’ cheesy-ness as well. Dan ada nilai plus lain dalam relevansi genrenya sebagai film superhero, adalah sebuah konsep. Ra.One tak lantas tabrak sana tabrak sini tanpa juntrungan, tapi penelusurannya sudah digagas jelas sejak adegan awal. Konsep good vs evilnya jelas, apalagi disini Sinha yang menulis ceritanya sendiri punya benang merah dengan legenda Rahwana yang diangkat sebagai bagian terpenting menjadi moral of the story yang, terus terang, sangat bagus dalam membangun dramatisasi menyentuh tentang father and son’s broken relationship. It’s the greatest crime that comes from your deepest heart. Sebuah cinta yang menjadi dasar terdalam konflik dan meluluhlantakkan dunia para karakternya, which is to me, subjectively, adalah part terbaik dari hingar-bingar efek dan genre superhero-nya. Oke, pameran efek spesial yang terus menggelegar sepanjang film dengan hitungan frame yang jauh lebih banyak itu memang cukup dahsyat meski tak bisa mengungguli ‘Robot (Enthiran)’ yang hanya bermain-main singkat di klimaks namun menggamit Stan Winston yang notabene lebih berkelas pionir ketimbang Prime Focus sebagai penggagas efek spesial dan 3D-nya. Tapi mereka sudah menjawab tantangan itu dengan unsur-unsur yang jauh lebih hebat sampai ke tampang-tampang pemerannya yang pastinya lebih akrab bagi penonton global, terutama Shah Rukh Khan dan Kareena Kapoor. Anda boleh saja mengkritik ini dan itu tapi racikan Ra.One memang hadir jadi sebuah pure entertainment yang sulit untuk dilewatkan. Sebuah pakem klasik yang tak seharusnya dibuang, sekaligus membuka mata kita terhadap sebuah keinginan industri perfilman yang terus kepingin maju tanpa melupakan akar budayanya. Chammak Challo, and  Happy Deepavali! (dan)

~ by danieldokter on October 29, 2011.

One Response to “RA.ONE : BOLLYWOOD STRIKES BACK”

  1. […] Ra-One […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: