REAL STEEL & WARRIOR : TWO HEARTPUNCHING KNOCK OUTS!

REAL STEEL

Sutradara : Shawn Levy

Produksi : Dreamworks Pictures, 21 Laps Production & Reliance Entertainment, 2011

Sewaktu menggagas poster promosinya, pihak produksi mungkin seharusnya mencantumkan peringatan ‘contents may vary’ terhadap ‘Real Steel’. And no, tak seperti yang digeber trailer, promo-promo bahkan posternya, ini bukanlah hingar-bingar pertarungan para robot seperti Transformers. Biar ada nama Steven Spielberg disana, sebaiknya buang jauh pikiran tentang itu. Kreditnya sebagai produser eksekutif disini lebih mengarah ke ‘old fashioned Spielberg’ sebagai sineas yang hampir selalu meracik gabungan sci-fi dengan warmth of the heart. Distribusinya yang dipegang Touchstone Pictures berikut source aslinya dari penggalan short story berjudul ‘Steel’ dari Richard Matheson, author dari ‘What Dreams May Come’, ‘I Am Legend’ serta ‘Duel’ yang dibesut Spielberg,  juga sedikit mengisyaratkan itu. Plus satu lagi, nama Shawn Levy dari ‘Night At The Museum’ di kursi sutradara. Bahwa Real Steel, hanyalah sebuah packaging spektakuler yang membungkus family movie yang penuh arti. Seperti sci-fi sci-fi klasik karya Isaac Asimov, ada batas kewarasan yang tetap tak dilanggar dalam keleluasaan dramatisasinya. Mau secanggih apapun, mereka tetap makhluk dengan intelegensia artifisial yang bukan alien seperti Transformers, tapi hampir sepenuhnya dikontrol oleh manusia. You’ll get the chance to remembering the robots’ names sebanyak 20%, namun sisanya adalah, ya, family movie. Hearts everywhere.

It was 2020, namun setnya yang mirip film-film western kuno membawa kita ke karakter Charlie Kenton (Hugh Jackman), pialang pertarungan tinju robot yang digambarkan sudah jadi sebuah budaya saat itu. Memiliki robot yang dibawanya bertanding ke berbagai event kecil, tak lantas membuat Charlie menjadi promotor kaya-raya. Malah, dalam sebuah pertandingan pasar kaget di daerahnya, ia kehilangan Ambush, robot jagoannya yang dihancurkan banteng hitam Ricky (Kevin Durand) dan harus rela mencari 20 ribu AS yang dijanjikannya. Sampai Max (Dakota Goyo), putra Charlie yang mendadak hadir dalam kehidupannya setelah mantan istrinya meninggal, Charlie mulai berubah. Akal-akalannya memberikan hak asuh pada sang paman (James Rebhorn) dan bibi (Hope Davis) Max untuk membeli robot jago tinju legendaris dari Jepang, Noisy Boy, lama-lama mencair menjadi balasan rasa sayang yang sudah lama didambakan Max. Sekarang bersama Max dan Bailey Tallet (Evangeline Lilly) yang juga pemilik sasana tempat latihan para robot, mereka membangun robot baru bernama Atom yang diupgrade Max untuk bisa dikontrol dengan suara. Melanglang buana ke ajang-ajang pertandingan, sampai akhirnya dilirik masuk ke dalam liga ‘WRB’ (World Robot Boxing). Uang tak lagi jadi masalah, yang penting menang atau kalah, asal Max tetap bisa terus berada di sampingnya.

Okelah, highlight terbesar disini, sesuai dengan tujuannya, memang  menyaksikan tinju para robot yang digagas plotnya buat menyampaikan inti cerita yang pada dasarnya adalah sebuah broken relationship human drama antar seorang anak dan ayah yang tengah berjuang memperoleh kembali kepercayaan dirinya. Penuh homage ke film-film heart-sport nya Sylvester Stallone masa lalu, a cross between ‘Rocky’ dan ‘Over The Top’, efek robot-robot saling bertinju itu digagas tak main-main oleh Legacy Effects, pecahan Stan Winston Studio. Desainnya kuno seperti gaya ‘nostalgia Amerikana’ yang menjadi latar setnya, namun gerakan dan gambarannya serba hi-tech, apalagi langsung disupervisi Sugar Ray Leonard di koreografi tinjunya. Premis short story Richard Matheson yang sangat menarik dan diracik menjadi drama menyentuh oleh Dan Gilroy-Jeremy Leven juga dihandle nyaris sempurna oleh skenario John Gatins dan Sheldon Turner (yang terakhir ini, baru saja berkibar lewat skenario ‘Up In The Air’ dan ‘X-Men : First Class’ tempo hari). Di departemen akting, Jackman menghadirkan sisi akting yang jauh beda dengan karakter legendarisnya sebagai Wolverine di franchise ‘X-Men’. Namun kredit terbesar harus diberikan pada pemeran Max, Dakota Goyo, yang ekspresi aktingnya luarbiasa membangun sisi tearjerker family movie film ini. Konflik ayah dan anak berikut eksekusi ‘heart winning’ yang kini jadi semakin klise di genre sejenis dengan baik tertutupi oleh chemistry Jackman dan Goyo. Di luar mereka, cast lain seperti Evangeline Lilly, Kevin Durand dan Olga Fonda pun sesekali ikut menyeruak mencuri perhatian penontonnya. Satu sisi lain yang muncul sama baiknya adalah skor besutan Danny Elfman yang terdengar catchy dan blends perfectly ke emosi yang dibangun oleh plot tadi.Penonton yang datang dengan eksekusi hingar-bingar suara ‘clang!’ benturan robot-robot ini seperti Transformers bisa jadi merasa tertipu oleh tampilan promonya, but try to look closer. No matter how real your steel seperti lempengan metal yang membungkus tampilan robot-robot tinggi besar itu, pasti akan luluh juga menerima gempuran penuh emosi serba manusiawi yang digagas Shawn Levy menjadi salah satu tontonan terbaik tahun ini.  This is a heartpunchin’ knock out to your soul. Titik. (dan)

This is the official movie poster should be :

WARRIOR

Sutradara : Gavin O’Connor

Produksi : Filmtribe, Solaris Entertainment & Lionsgate, 2011

So, dramatisasi yang dibangun dengan father to son’s broken relationship itu sesuatu. Well, tambahkan lagi dengan hubungan antar kakak-adik, you’ll get the perfect frame. Apalagi latar set keluarga Irlandia-nya yang memang sudah biasa mengungkap luka-luka psikologis, mostly father to sons akibat trauma perang yang panjang dalam sejarah asli mereka. Yup, Warrior yang juga sedikit punya packaging ‘contents may vary’ dengan posternya adalah satu diantara keberhasilan itu. Bukan sekedar tinju dan otot steroid seperti tampilannya sekilas, Warrior memukul kita jauh lebih dalam dari itu. Tinju-tinjuan yang kali ini mengangkat MMA (Mixed Martial Arts)-nya tetap ada sebagai bagian yang sama penting, tapi sedalam penelusuran karakter-karakternya, yang bertabur disini adalah jiwa-jiwa terluka dan perjuangan mereka masing-masing. Where every moves or punch represents a warrior to each of their own.

Tiga jiwa terluka itu adalah sang ayah, Paddy Conlon (Nick Nolte) dengan dua putranya, Brendan (Joel Edgerton) dan Tommy (Tom Hardy). Efek didikan kerasnya yang dulunya menjadikan Brendan dan Tommy sebagai petarung-petarung MMA kini harus ditelan Paddy kembali. Brendan yang sudah lama menjauhinya memilih hidup damai menjadi guru fisika demi menghidupi anak dan istrinya, Tess (Jennifer Morrison) yang juga terpaksa bekerja sebagai waitress. Sementara Tommy menjadi seorang marinir tangguh namun beralih dari satu trauma ke trauma yang lain. Tak hanya ke Paddy, terhadap Brendan yang ikut meninggalkannya sendirian mengurus ibunya yang sakit demi Tess, Tommy semakin dipenuhi dendam. Kini desersi dari korpsnya, Tommy menuntut bimbingan profesional dari Paddy buat kembali ke ring secara profesional, sedangkan Brendan yang dituntut masalah hipotek juga tak punya pilihan lain ketimbang kehilangan rumahnya. Dua kakak beradik yang dengan cepat mengundang reaksi orang banyak atas ketangguhannya masing-masing ini akhirnya menuju final Sparta, sebuah turnamen MMA paling besar disana. Semua kemarahan memuncak, dan Paddy hanya bisa menyaksikan dua darah dagingnya ini beradu di atas ring.

Tom Hardy, that next Hollywood’s big thing yang sudah siap dengan perannya sebagai Bane dalam franchise Batman Nolan serta remake ‘Mad Max’, memang kelihatan semakin mantap menapak karirnya. Emosi aktingnya intens, dan ia tak sedang sekedar main-main dengan lekukan otot-otot gede plus bahu bersayap besar itu dalam potensinya sebagai action hero. Joel Edgerton, kurang lebih sama. Aktor Australia yang sempat muncul dalam dua prekuel ‘Star Wars’ namun baru benar-benar go-Hollywood setelah ‘Animal Kingdom’ dalam remake/prekuel ‘The Thing’ langsung didapuk mengambil kualitas hotseat-nya Kurt Russell dulu, juga sama-sama menjanjikan dalam level berbeda. Tak hanya karena adanya faktor kemiripan, he’s like the next Kurt Russell, bintang yang tak pernah jadi terlalu besar tapi sangat dikenal. Then Nick Nolte. Kita sudah tahu kualitas Nolte. Namun percayalah, film ini menampilkan salah satu akting terbaiknya. Tatapannya bicara, dan setiap teriakan dengan suara khas seraknya itu jadi pisau yang sangat menusuk di tiap dialognya. Di luar kekuatan terbesarnya dari cast itu, Warrior juga secara kompromis menampilkan adegan-adegan full contact MMA yang tak kalah keren. Bukan sekedar bak-bik-buk, tapi dengan penelusuran yang juga relevan ke karakternya. Kala Tommy langsung menghajar dalam hitungan detik dan seketika meninggalkan ring, latar karakter Brendan sebagai guru fisika bicara sama kerasnya dalam mekanika untuk mengalahkan lawannya. Ini seperti ‘Never Back Down’ dengan treatment berkualitas awards. Sinematografi dari Masanobu Takayanagi semakin menekankan trauma mendalam tadi lewat atmosfer kelam yang dibesutnya. But above all, semua sukses itu patut dialamatkan pada Gavin O’Connor yang juga ikut menulis cerita dan skenario Warrior, sebagai sebuah perjalanan dimana karakter-karakternya punya sisi berbeda untuk mendapat predikat seperti yang diusung oleh judulnya. Metaforanya ke narasi literatur klasik ‘Moby Dick‘ dari karakter Paddy juga menggambarkan sebuah redemption dari obsesi destruktif yang kadang baru disadari setelah semuanya rusak berat. Everyone can be a warrior for their loved ones, dan ketika Anda menyadari bahwa eksekusi endingnya tak memerlukan dramatisasi klise ala genre sejenis, berjalan bersama tebakan banyak orang atau malah menikam dalam-dalam ke persepsi kelewat serius, trust me. Semua pukulan itu akan terasa sama sakitnya ke hati semua penonton, bahkan membuat Anda mengeluarkan airmata. Another heartpunchin’ knock out. The ultimate one! (dan)

~ by danieldokter on November 3, 2011.

4 Responses to “REAL STEEL & WARRIOR : TWO HEARTPUNCHING KNOCK OUTS!”

  1. […] Warrior […]

  2. […] 11. WARRIOR […]

  3. […] BRANAGH – My Week with Marilyn JONAH HILL – Moneyball NICK NOLTE – Warrior CHRISTOPHER PLUMMER – Beginners MAX VON SYDOW – Extremely Loud and Incredibly […]

  4. TOP BANGET nih filem😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: