SEEKING JUSTICE & TRESPASS : BOTH CAGE, BIG NAMES, WON’T DO

SEEKING JUSTICE

Sutradara : Roger Donaldson

Produksi : Endgame Entertainment, Maguire Entertainment, 2011

Like it or not, beberapa niat main-main Hollywood ke atmosfer cult sudah membuat sebuah trend back to 80s or 90s yang lebih serius belakangan ini. Eksesnya, produser pun kembali membolak-balik file lama mereka, and vice versa, nama-nama lama semakin merasa ini adalah waktunya untuk bangun dari tidur lama mereka. Sayangnya, faktor kuncinya bukan sekedar nostalgia-nostalgiaan. Masih ada benang merah ke trend penonton sekarang yang jauh lebih cerewet mementingkan kualitas. ‘Seeking Justice’ pun terjebak disitu. Sejak awal sudah tampil kurang percaya diri, judulnya pun berganti-ganti. Dari ‘The Hungry Rabbit Jumps’, kemudian terpecah untuk peredaran Asia dengan judul ‘Seeking Justice’ dan hanya ‘Justice’ di Eropa. Tanpa promo, filmnya muncul seketika, sementara peredaran di negara asalnya justru belum jelas. Padahal, di luar nama Nicolas Cage yang mungkin film non-blockbusternya belakangan ini suka kurang dilirik distributor AS, ‘Seeking Justice’ punya sebaris potensi menjanjikan. Roger Donaldson (No Way Out, White Sands, The Getaway), merupakan sutradara yang sangat dihormati di era 80-90an. Castnya yang lain, ada Guy Pearce dan January Jones sebagai dayatarik ke penonton sekarang. Ini juga salah satu debut rumah produksinya Tobey Maguire. Premisnya cukup kuat, namun eksekusinya, sama canggungnya.

Nick Gerard (Nicolas Cage), seorang guru sekolah publik punya kehidupan keluarga yang sempurna dengan istrinya, Laura (January Jones), cellist di sebuah orchestra, sampai di satu malam Laura menjadi korban perkosaan di mobilnya. Kebingungan Gerard menunggu para penegak hukum kemudian membawanya pada sebuah keputusan cepat saat seorang lelaki misterius bernama Simon (Guy Pearce) datang dengan sebuah solusi. Sebuah kontrak tak tertulis yang akhirnya bisa berbalik mengancam keselamatan Gerard serta Laura sendiri. And nothing is what it seems.

‘Seeking Justice’ yang sudah berwarna 80an sejak adegan-adegan awal sebenarnya sudah dimulai dengan mantap oleh Donaldson. Tak ada juga yang salah dengan akting Cage, Pearce serta Jones. Namun kepentingan membelokkan plotnya bukan ke arah film-film vigilante biasa seperti ‘Death Wish’ dan sejenisnya dengan kombinasi penuh intrik ala ‘The Star Chamber’-nya Michael Douglas juga berbalik jadi ranjau yang penuh resiko. Penelusurannya dimulai dengan cepat, namun berlanjut draggy semakin ke tengah dengan plothole atas motivasi beberapa karakter yang terlalu berlawanan tanpa kejelasan penuh.  Premis yang sebenarnya bisa jadi sangat thrilling dan fresh untuk tema-tema sejenis itu sayangnya dieksekusi serba canggung seperti sedang mencari-cari konsep yang belum jelas. Beberapa pengembangan plotnya yang sudah dimulai seperti latar Gerard mengajar di sekolah publik dengan murid-murid daerah ghetto pun lepas begitu saja sebagai plot sampingan yang berarti. Mungkin Robert Tannen sebagai penulis skenarionya lebih baik melepaskan saja premisnya ke arah klasik yang serba klise tentang vigilante ketimbang mencoba berinovasi namun tak bisa total. So like the title, ‘Seeking Justice’ was trying so hard to seek its concept. Sama bingungnya, sama canggungnya. (dan)

TRESPASS

Sutradara : Joel Schumacher

Produksi : NuImage, Winkler Films, Millenium Films, 2011

Sebelum sekuel Ghost Rider yang dari trailernya sangat menjanjikan itu, Nicolas Cage agaknya lagi senang bermain-main di produksi kecil. Entah karena kerinduannya ke era 80-90an dulu, dibanding ‘Seeking Justice’ yang rilis hampir bersamaan, ‘Trespass‘ bahkan punya lineup produksi yang jauh lebih hebat. Sutradara Joel Schumacher yang memang sudah meredup ke film-film kecil kini kembali bersama produser Irwin Winkler yang sama sekali bukan punya karir sembarangan. Selain itu ada nama Andrzej Bartkowiak di sinematografinya. Bartkowiak yang sudah berkiprah di beberapa action Hollywood-nya Jet Li memang lebih baik kembali ke spesialisasi awalnya, sekaligus bereuni dengan Schumacher setelah ‘Falling Down’. Di castnya, selain Cage, ada Nicole Kidman yang sama-sama berkelas Oscar,  dan seperti January Jones di ‘Seeking Justice’, ‘Trespass’ punya Liana Liberato, aktris muda yang kiprahnya di ‘Trust’ barusan sangat menjanjikan, sebagai penghubung ke audiens lebih muda, bersama Cam Gigandet. Premisnya, juga ke thriller yang sangat ramai di tahun 80-90an sebagai peletak trend sejenis. Claustrophobic thriller dengan keluarga yang disandera sekelompok penjahat, lengkap dengan twist-twist yang sebagiannya bertendensi erotik, namun sayangnya disini, tak dibiarkan lepas. Sama seperti ‘Seeking Justice’. Pilihan yang sah saja, tapi serba tanggung.

Sekilas, kehidupan broker permata Kyle Miller (Nicolas Cage) dibalik rumah jetsetnya bersama sang istri, Sarah (Nicole Kidman) dan putinya, Avery (Liana Liberato) tampak sempurna. Namun ada banyak masalah di dalamnya. Selain Sarah yang kesepian karena kesibukan Kyle, Avery juga dilanda masalah pubertas dengan larangan ini-itu dari dua orangtuanya. Ketika sekelompok perampok yang dipimpin Elias (Ben Mendelsohn) bersama adiknya, Jonah (Cam Gigandet) tiba-tiba menyatroni kediaman mereka dengan sebuah ancaman, hubungan disfungsional ini pun semakin teruji bersama usaha mereka untuk bisa keluar hidup-hidup. Also, nothing is what it seems.

Trespass sebenarnya punya segudang potensi untuk jadi claustrophobic housetrapped thriller yang bagus. Latar motivasinya serba klise. Milyuner sibuk, istri kesepian, anak pembangkang, serta sekelompok penjahat yang tengah dikejar masalah, namun dibangun dengan twist tak biasa yang beruntun dibuka satu-persatu. Tak ada juga yang salah dengan akting Cage, Kidman yang banyak bermain dengan bahasa tubuh serta pemeran-pemeran lainnya. Liberato meskipun terlihat kelewat mengulang karakter sinisnya di ‘Trust’, tampil cukup meyakinkan. Satu-satunya yang salah adalah turnover tiap karakter selama ketegangan demi ketegangan digelar dalam menyempalkan twist-twist itu seringkali terasa sulit dipercaya. Yang akhirnya muncul hanya seperti usaha untuk mengulur-ulur adegannya, dan ini tak bagus untuk intensitasnya sebagai sebuah thriller. Tidak semua harus dibebankan ke Schumacher, memang, namun lebih ke skenario yang dibesut Karl Gajdusek dan Eli Richbourg. Dan sama seperti ‘Seeking Justice’, kekurangan ini semakin dibiarkan tak tertangani dengan bagian-bagian plot yang sudah dimulai namun malu-malu untuk dibiarkan lepas. Tak heran kalau peredaran yang sudah sangat terbatas di AS saja masih memberikan hasil akhir flop lumayan gede. However, faktor Cage dan Kidman mungkin jauh lebih bisa memperbaiki nasibnya di peredaran Asia. Next time, mungkin nama-nama besar ini harus rela sedikit menunggu bangun tidur mereka. (dan)

~ by danieldokter on November 6, 2011.

One Response to “SEEKING JUSTICE & TRESPASS : BOTH CAGE, BIG NAMES, WON’T DO”

  1. […] Trespass […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: