THE PERFECT HOUSE : PERFECT ELEMENTS IN THE HOUSE NOT SO PERFECTLY BUILT

THE PERFECT HOUSE

Sutradara  : Affandi Abdul Rachman

Produksi : Vera Lasut Production, 2011

Among the Indonesian promising directors, I bet we’d be more than happy to put Affandi Abdul Rachman’s name in it. Tiga filmnya sudah menunjukkan itu. ‘Pencarian Terakhir’ (2008), Heartbreak.com’ (2009)  dan sekuelnya, ‘Aku Atau Dia’ (2010), semuanya berkualitas di atas rata-rata. Namun ada satu yang menarik dari gaya penyutradaraan Affandi. Ia tak pernah tampil bombastis. Baik di thriller dan komedi, stylenya halus, namun bukan berarti tak bagus. Dan penelusuran plot adalah satu yang agaknya sangat dipentingkan ketimbang berkompromi terlalu jauh ke urusan-urusan kelewat komersil. Melanjutkan kiprahnya di genre thriller yang memang belum pernah berkembang jadi trend di perfilman kita, sekarang sutradara jebolan Columbia College of Hollywood ini membesut ‘The Perfect House’, yang sejak awal promonya sudah menjanjikan, bahkan ditayangkan di ‘PiFan’ (Puchon International Fantastic Film Festival) beberapa bulan lalu. ‘The Perfect House’ mungkin juga bukan psychological thriller Indonesia pertama seperti yang disebutkan pada promonya, namun mengingat satu pendahulunya, ‘Srigala’ (1981), sudah sangat lama berlalu di era sebelum film kita bangkit dari mati surinya, sah-sah saja menyebutnya itu. Sekarang cuma ekspektasinya di set ke arah mana. Salahnya, kebanyakan penonton lewat komen-komen mereka mengharapkan sebuah sajian ala ‘Rumah Dara’ yang menawarkan slasher show penuh darah, apalagi posternya jauh-jauh hari sudah menunjukkan itu. Close, but this ain’t those kinds.

Seorang guru dari Jakarta, Julie (Cathy Sharon) ditugasi pemilik agensinya (Astri Nurdin) untuk menjadi tutor homeschooling bagi Januar (Endy Arfian) di Bandung. Pasalnya, guru sebelumnya, Lulu (Joy Revfa) menghilang entah kemana. Sejak awal Julie dan rekan yang mengantarnya, Dwi (Wanda Nizar, RIP) sudah merasakan keanehan atas perangai nenek Januar, Madam Rita (Bella Esperance) yang penuh aturan dan melarang Januar keluar rumah sepeninggal kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan. Di kawasan rumah kunonya yang terpencil, mereka juga tinggal bersama pelayan rumah, Yadi (Mike Lucock) yang lebih mirip penjagal dan tak pernah berbicara sedikitpun dibalik tampilannya yang mengerikan. Memberanikan diri, Julie pun mulai membimbing Januar yang diyakininya pintar tapi tertutup ke dunia luar ini jadi lebih terbuka, meski berkali-kali diperingatkan oleh Madam Rita. Namun apa yang didapati Julie kemudian jauh di luar perkiraannya.

Sejak opening credit yang meyakinkan, Affandi sudah menunjukkan bahwa hampir semua elemen pembangun ‘The Perfect House’ yang ia miliki bukan sekedar main-main. Atmosfer thrillernya sudah digelar dengan baik secara perlahan ke gaya Asia yang sedikit lambat namun mencekam. Score dari Aghi Narottama dan Bemby Gusti juga semakin menguatkan itu. Detil set dan produksinya sangat, sangat terjaga. Tak ada juga yang salah dengan akting para pendukungnya termasuk Cathy Sharon yang banyak menuai kritikan. Bella Esperance sebagai Madam Rita tampil sangat meyakinkan bersama Mike, sementara aktor cilik Endy Arfian juga secara keseluruhan mampu bermain dengan ekspresi-eskpresi yang diperlukan dalam bangunan karakternya. Namun sayangnya, satu yang terpenting dalam genre thriller dan subgenre-subgenre-nya, dimana sebuah twist harusnya bisa tercover dengan baik hingga tak tertebak oleh penonton, tak dibangun dengan baik oleh skenarionya yang ditulis Alim Sudio (‘Air Terjun Pengantin’ (2009)) bersama Affandi dan Vera. Mereka boleh-boleh saja mengkombinasikan subgenre psychological thriller bersama slasher yang sedikit demi sedikit menyeruak ke dalam gambarannya, tapi dialog-dialog yang digelar sudah lebih dulu bicara ke arah twistnya. Style serba lamban ala Asia yang dipilih Affandi juga agaknya jadi bumerang ke intensitas ketegangan yang sudah terganggu dengan kekurangan skenario itu hingga ke adegan klimaks yang seharusnya bisa tampil jauh lebih intens. Mungkin mereka memang maunya sedikit membawa ‘The Perfect House’ ke arah eerie-ness ala film-film Kim Ki Duk, seperti Affandi yang selalu diam-diam menghanyutkan. Tapi part slasher-slasher-annya yang sudah keburu digelar malah jadi terasa tak total dengan editing dan gerakan lambat para pemerannya di klimaks sebelum twist utamanya yang sudah tertebak itu dilanjutkan lagi. Oke, lagi, persepsi ke judulnya boleh-boleh saja dianggap tak sinkron, tapi yang jelas, ‘The Perfect House’ bukanlah sebuah kegagalan. Kecuali dialog-dialog too obvious dan repetitif di skenarionya, elemen-elemennya sudah juara, namun akan jauh lebih baik kalau dipoles ulang lagi demi menutupi kekurangannya. A director’s cut treatment on the dvd, maybe? (dan)

~ by danieldokter on November 12, 2011.

3 Responses to “THE PERFECT HOUSE : PERFECT ELEMENTS IN THE HOUSE NOT SO PERFECTLY BUILT”

  1. […] Perfect House, The […]

  2. […] THE PERFECT HOUSE […]

  3. Review yang sangat pintar!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: