IN TIME : A FUTURISTIC BONNIE & CLYDE THAT MOCKS OUR SOCIETY

IN TIME

Sutradara : Andrew Niccol

Produksi : Regency Enterprises, New Regency, Strike Entertainment, 2011

Banyak yang tak menyadari bahwa Andrew Niccol sebenarnya berhak bersanding dengan sutradara-sutradara dengan inovasi raksasa seperti Christopher Nolan ataupun Darren Aronofsky. Film-filmnya, mulai dari ‘Gattaca’, ‘S1mone’, bahkan ‘Lord Of War’, punya konsep dengan detil luarbiasa untuk memaparkan sesuatu yang bukan sudah biasa diangkat ke layar lebar. In Time, walaupun tetap ada dalam koridor sci-fi, juga seperti itu. Hampir tak ada celah untuk plothole yang menumpuk. Sayangnya satu, bahwa Niccol, tak mau berkompromi kelewat bombastis, tak juga mau menampilkan penyampaian se-aneh Aronofsky. Ia memilih jalan yang terlalu mild untuk menggelar konsep luar biasa itu. Luarbiasa bagus, tapi tak bisa menjangkau perhatian terlalu banyak orang. Itu juga mungkin yang membuat pihak produksinya terlihat agak kurang percaya diri. Sebelum akhirnya maju dengan titel ‘In Time’, kisah sci-fi distopia ini sempat diberi judul ‘Now’ dan ‘I’m.mortal’. Untung bukan ‘Time Is Money’ seperti tagline-nya, biarpun pas ke temanya.

Di tahun 2161, kemajuan rekayasa genetika telah memunculkan peradaban baru untuk membatasi populasi dengan seleksi. Manusia tak lagi bisa bertambah tua setelah menginjak usia 25 tahun, namun kelangsungan hidup mereka setelah itu ditentukan oleh waktu sebagai alat pembayaran resmi. Batas waktu itu tercetak seperti jam digital di lengan mereka. Kekayaan pun ditentukan dari batas digit yang bisa mencapai 13 digit usia, sementara kaum pekerja kecil harus siap mati seketika. Status sosial ini lantas membuat manusia terbagi dalam strata dalam dua timezone, Dayton yang seperti Ghetto dan New Greenwich, tempat para bangsawan usia mengatur segalanya. Will Salas (Justin Timberlake) yang menyelamatkan pria yang memiliki lebih seabad waktu hidup, Henry Hamilton (Matt Bomer) dari serangan Fortis (Alex Pettyfyer), pimpinan The Minutemen, preman ghetto yang kerjanya mencuri waktu hidup orang lain dengan paksa. Atas usahanya, Hamilton yang sebenarnya sudah bosan hidup selama 105 tahun menghadiahkan semua sisa waktunya pada Salas dan bunuh diri dari di atas jembatan sebuah sungai. Namun di saat yang sama, ibunya, Rachel (Olivia Wilde) kehabisan waktu untuk membayar bus karena kenaikan harga secara tiba-tiba. Salas mencoba menyelamatkan namun terlambat. Maka ia pun merancang pembalasan dendam pada sistem tak adil ini. Timezone New Greenwich disusupinya dengan kekayaan baru itu, dan dengan segera ia bergabung dengan first class society, pemilik bank peminjaman waktu Phillipe Weis (Vincent Kartheiser) dan putrinya Sylvia (Amanda Seyfried). Sementara para penegak hukum, The Timekeepers dibawah pimpinan Raymond Leon (Cillian Murphy) juga mulai memburu Salas atas ditemukannya mayat Hamilton yang terpantau kamera pengawas. Salas kemudian menyandera Sylvia yang akhirnya berbalik membantunya melawan ketidakadilan ini, bahkan jatuh hati pada Salas. Berdua mereka beraksi bak Bonnie & Clyde dengan hati Robin Hood, merampok bank-bank milik Weiss dan merusak saham waktu dengan mendermakannya pada lingkungan ghetto. Sekarang yang menjadi pertanyaan, sejauh mana mereka bisa berjuang merubah sistem dengan Leon dan Fortis sebagai pihak bertolak belakang yang terus memburu mereka.

An intriguing premise. Sinopsis itu saja sudah cukup untuk membuat kita mengerti seberapa matang konsep yang diusung Niccol, dan tetap seperti stylenya yang biasa. Ia tak hanya sekedar berfantasi, tapi menyindir sosialita di kehidupan nyata, politik, ekonomi, strata sosial sekaligus obsesi-obsesi terdalam dari jiwa manusia. Dan Niccol mungkin perlahan sudah memulai kompromisme sinematisnya sejak Lord Of War tempo hari, biar belum benar-benar total. Ia tak memilih jalur distopia serba gelap seperti ‘Never Let Me Go’, tapi dalam ‘In Time’, Niccol sudah mulai menyempalkan sisi thriller, action dan adventurous sci-fi yang lebih akrab ke pasar penonton pada umumnya. Meski tak terlalu cepat, gelaran aksi yang dibesutnya bagai ‘Bonnie & Clyde’ itu tampil ke depan sebagai sajian yang paling menjual dari ‘In Time’ untuk bisa dinikmati tak hanya oleh penyuka sci-fi. Dan Timberlake yang sedang naik daun dikejar-kejar sineas besar dalam produksi mereka memang kelihatan semakin matang dari awal karirnya sebagai pentolan boyband N’Sync. Chemistrynya dengan Seyfried tampil begitu lepas, intens, namun juga sangat stylish di setiap bahasa tubuh mereka. Cillian Murphy juga muncul dengan kualitas ‘aktor’ nya yang selalu remarkable, bersama Alex Pettyfer yang juga awalnya banyak dicemooh tapi disini bertransisi menjadi tokoh antagonis yang meski muncul singkat tapi memikat. So selagi penyuka sci-fi dan Niccol bisa menelusuri konsep luarbiasa dalam plot full of mocking penuh metafora itu, yang lain termasuk penonton belia juga bisa nyaman menikmati aksi-aksian dan pameran tampang Timberlake-Seyfried-Pettyfer.  Sama seperti karya Niccol lain yang tak membuat genre hanya terbatas jadi sekedar genre, ‘In Time’ juga jauh lebih dalam dari sekedar sci-fi. Mudah-mudahan dari sini Niccol bisa bersanding dengan nama-nama besar itu. Kalaupun belum, don’t worry, kami akan sabar menanti saat itu. Kalau perlu dengan merekayasa waktu. (dan)

~ by danieldokter on November 13, 2011.

One Response to “IN TIME : A FUTURISTIC BONNIE & CLYDE THAT MOCKS OUR SOCIETY”

  1. […] In Time […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: