LANGIT BIRU : LOVELY AS A BLUE SKY

LANGIT BIRU

Sutradara : Lasja Fauzia Susatyo

Produksi : Blue Caterpillar Films & Kalyana Shira Films, 2011

Pernah nonton ‘Dunia Mereka’? Film underrated yang sayangnya luput dari perhatian banyak orang meski memasang Adinia Wirasti-Christian Sugiono dan Oka Antara diantara castnya, tentang perjuangan sebuah band dengan masalah intern pencarian jati diri anak-anak muda personilnya, sudah mencatat debut yang sangat baik dari sutradaranya, Lasja Fauzia. Bukan hanya tema band-nya yang tampil begitu solid berikut dramatisasi tambahannya, latar musik blues yang masih jarang-jarang jadi fokus juga ikut bicara dan tak sekedar jadi asesoris. Lama sudah rasanya menunggu kiprah Lasja selanjutnya, sampai film ini akhirnya muncul. Film anak dengan gaya musikal, itu sudah biasa. But let’s admit, sebagian besar film anak kita masih punya dua pola yang sangat tipikal secara tematik. Satunya, bukan berarti ‘Petualangan Sherina’ atau ‘Home Alone’ itu tak bagus, tapi tema-tema anak menghajar sekumpulan penjahat itu sudah kelewat biasa. Satunya lagi, tema anak yang menyorot kemiskinan dan serba kekurangan, dari anak jalanan, anak dari lingkungan kumuh sampai anak dengan kecacatan fisik.  ‘Langit Biru’ melangkah lebih dari stagnansi tema itu. Banyaknya masalah bullying diantara anak yang kian disorot secara lebih spesifik bahkan dikampanyekan belakangan ini, menjadi tema yang benar-benar terasa fresh untuk sebuah film layar lebar. Pesan kampanye-nya mungkin sedikit pretensius, tapi selain memang sangat perlu menjadi perhatian, Melissa Karim yang menulis skenarionya menyampaikan plotnya dengan sangat menarik. Dan ada dua poin penting lagi. Selain produksinya bekerja sama dengan Kalyana Shira serta Nia Dinata di supervisinya, wrapping akhirnya juga agaknya memberi kesan bahwa ‘Langit Biru’ mencoba mendobrak dengan menjadi ‘Christmas Blockbuster’ pertama di Indonesia. Bukannya mau segmental, tapi menunjujkkan adanya keanekaragaman, itu bagus pastinya, secara selama ini kita hanya punya ‘Lebaran Blockbuster’. Siapa tahu nantinya ada ‘Imlek Blockbuster’ atau ‘Deepavali Blockbuster’ Indonesia, kan lebih baik, seperti Malaysia yang punya semua film etnisnya di tengah pembauran mereka yang serba damai. Kita perlu mengarah kesana.

Tiga sahabat di sebuah sekolah, Biru (Ratnakanya Anissa Pinandita), Tomtim (Jeje Soekarno) dan Amanda (Beby Natalie) punya keunikan masing-masing. Biru, anak tunggal Daniel (Ari Wibowo) yang bekerja sebagai pilot di sebuah maskapai penerbangan nasional cenderung bersifat emosional dan protektif karena hidup tanpa kasih sayang ibu yang sudah meninggal saat ia berusia 7 tahun, sementara ayahnya yang sudah berusaha sedemikian rupa tetap tak bisa punya waktu terlalu banyak untuknya. Amanda tak punya banyak masalah kecuali ibunya yang bisnis kue orderan dan sedikit cerewet. Adiknya, Brandon (Brandon D’Angelo IMB) punya talenta yang besar di dunia dance sehingga sering ikut dalam kompetisi. Sementara Tomtim (Jeje Soekarno) yang bertubuh tambun dan begitu dimanjakan ibu single parent-nya (Donna Harun), punya masalah besar di sekolah. Ia kerap menjadi bulan-bulanan Bruno (Cody McClendon) bersama tiga rekannya, Jason (Patton Otlivio Idola Cilik), Samuel (Samuel Nathanael Carol) dan Erlangga (Jonathan Prasetyo). Biru bersama Amanda pun sering membela Tomtim dari perlakuan geng Bruno ini. Sampai akhirnya tugas kelompok yang diberikan Miss Dewi (Becky Tumewu) memunculkan ide untuk membuka kenakalan Bruno lewat sebuah video pendek. Namun sejauh mereka berjalan, tugas itu akhirnya tak lagi hanya tentang bully yang dilakukan Bruno, tapi lebih mendalami kehidupan pribadi Bruno yang ternyata memiliki banyak sifat bertolak-belakang dari trauma yang selama ini dirahasiakannya rapat-rapat. Kawan Bukan Lawan. So Say No To Bullying.

Dibuka dengan nomor-nomor musikal yang tertata dengan baik oleh Yosi Project Pop, Saykoji dan Pongky Prasetyo termasuk di koreografi besutan Adella Fauzi, ‘Langit Biru’ memang tak sekedar mengkampanyekan anti-bully itu pada keseluruhan filmnya. Dengan cermat, skenario Melissa dan penyutradaran Lasja menciptakan ruang yang pas dan efektif buat menjual talenta bintang-bintang ciliknya yang sebagian sudah sangat dikenal luas dari sejumlah talentshow di televisi-televisi swasta. Hampir semua anak-anak ini muncul dengan kepolosan apa adanya tanpa terlihat canggung di depan kamera, especially Ratnakanya dan Bruno yang begitu menonjol. Dukungan serta cameo bintang-bintang seniornya pun tampil tak berlebihan dan bersinergi begitu erat dengan semuanya. Lihat betapa Ari Wibowo yang muncul sesantai biasanya bisa memancarkan chemistry ayah dan anak yang sangat lovable dengan Ratnakanya, atau mantan model 80an Ira Duaty yang belum punya catatan karir di film layar lebar bisa menampilkan akting yang wajar sebagai ibu Bruno. Balutan musikalnya mungkin sedikit tertinggal di bagian tengah menuju akhir, namun di luar skenario yang sangat efektif berikut bangunan yang jadi begitu kokoh oleh castingnya, Lasja sekali lagi menunjukkan kemampuannya mengkomando sebuah produksi film di kursi sutradara. Kita pasti sudah tahu kemana arah ending genre-genre seperti ini, namun penyampaiannya tetap berada di koridor yang serba wajar. Konfliknya tak pernah terulur berlebihan, dan penyelesaiannya satu-persatu juga dipaparkan dengan apa adanya. Tanpa perlu eksploitatif di dramatisasinya, semua unsur yang ada dalam ‘Langit Biru’ sudah tampil dengan lovable. Ia bicara lantang tentang kampanye anti-bully, tapi tak lantas harus membiarkan dramatisasinya kehilangan sentuhan bersama sebuah show of talents. Then what are you waiting for? Ini adalah sebuah genre yang sangat perlu didukung agar sineas kita tak berhenti membuat film yang penuh nilai bagi bagian dari kehidupan kita yang bernama ‘anak’. Leave the rest and go see this with your little loved ones! (dan)

~ by danieldokter on November 20, 2011.

8 Responses to “LANGIT BIRU : LOVELY AS A BLUE SKY”

  1. Baru sekitar sebulan yang lalu menemukan blog anda ini dari seseorang yang mengutip salah satu ulasan anda di forum Kaskus. Luar biasa, seorang dokter yang memiliki pengetahuan banyak mengenai dunia perfilman. Gaya penulisan anda mengingatkan saya pada gaya penulisan Roger Ebert.

    Barangkali kalau boleh memberikan masukan: dalam tulisan ulasan anda, anda kurang memberikan gambaran secara tegas tentang opini pribadi anda terhadap film yang anda ulas apakah itu baik, atau buruk kualitas film tersebut, sehingga bagi pembaca yang berharap mendapatkan informasi tentang bagus/tidaknya film yang anda ulas tidak mendapatkan opini anda terhadap film tersebut. Dalam deskripsi yang lebih gambalng mungkin anda dapat memberikannya dalam skala prosentase seperti ulasan film pada umumnya (misa;: skala 1-10; atau bintang 1-4/5 seperti Ebert*).

    Omong-omong, teruslah berkarya, memberikan ulasan-ulasan bermutu tentang perfilman. Banyak ko yang mengapresiasi karya “non medis” anda seperti saya.

    Best regards from Bandung.

  2. thanks a lot for the compliment, mas Arga🙂
    kalo utk tulisan di koran sini sih ada sistem star ratingnya, 3/3. tp buat blog sebenernya saya nyoba ga terlalu nge-judge tapi cukup ngasih gambaran aja biar penonton secara relatif menentukan tanpa harus ngikutin penilaiannya. after all karya seni itu kan soal selera dan sangat relatif, ga harus ngikut penilaian kritikus juga. point is, you have to stand for your own taste, yg penting, pandangan ke beberapa kritikannya alasannya bisa yang sebener2nya🙂. but ok, i’ll keep this sebagai masukan secara banyak juga yg nyaranin untuk buat rating🙂. makasih sekali lagi ya🙂

  3. Hmm, okelah kalau bicara mengenai rating, tapi setidaknya penilaian anda terhadap film tersebut dapat lebih dipertegas dalam uraian ulasannya, karena sejauh ini yang saya temui ulasan anda kurang memberikan penilaian. Mungkin pada beberapa ulasan dapat saya temui tentang penilaian tersebut, contohnya pada ulasan Breaking Dawn Part I dan Ayah, Mengapa Aku Berbeda? Namun secara umum penilaian anda dalam ulasan filmnya kurang terasa. Memang dalam menonton sebaiknya kita tidak terpaku ke dalam suatu selera mainstream baik itu penilaian buruk ataupun jelek, namun setidaknya kita selaku audiens yang membaca ulasannya dapat mendapat pegangan tentang film tersebut, apakah layak ditonton ataukah tidak. Akan sangat menyenangkan sekali seandainya ulasan anda dapat dijadikan sebagai pegangan bagi kami selaku pembaca dalam merencanakan film yang akan ditonton. Kan keren tuh kalau nanti ada yang bilang: “Hei, nonton film ABC yuk, kata Pak Dokter filmnya bagus lo”, atau “Eh, jangan tonton film DEF itu deh, kata Pak Dokter jelek”, hahaha.

    Regards.

  4. Haha bisa aja. Will do, will do🙂

  5. Kalo saya baru nemu blog ini 2 hari lalu…wah betah dech lama” baca ulasan filmnya, banyak sekali yang bisa saya ambil dari sini … tapi yang sangat membuat saya bersemangat adalah bahwa semua profesi bisa berselingkuh dengan tulis-menulis. Seorang Dokter dengan piawai mengulas film dan dipaparkan dengan bahasa yang lugas. Mantap pak…

    Salam Takzim…🙂

  6. I’m flattered! makasih banyak ya🙂. glad u enjoyed ’em!

  7. kalo boleh tanya, original soundtrack nya apa judulnya?

  8. […] Langit Biru […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: