L 4 LUPUS : A HOAX WITHOUT HEARTS

L 4 LUPUS

Sutradara : Damien Dematra

Produksi : Damien Dematra Production, 2011

Coba googling. Tak usah dulu beranjak jauh ke informasi penyakitnya. Baca saja review-review yang ada tentang film ini. Betapa sebuah karya sudah menggiring persepsi, lagi-lagi, mitos terhadap masalah kesehatan di negara kita. Hampir semua review itu, termasuk yang paling berkelas sekali pun, menyebut Lupus, sebagai penyakit fatal. Bagaimana tak banyak lahir kebodohan-kebodohan kalau si pemberi info malah didukung oleh pihak-pihak yang seharusnya memberikan informasi benar tentang suatu penyakit. Oke. Lupus memang merupakan penyakit spesial. Anda tak akan membuat film D 4 Demam, B 4 Batuk, P 4 Pilek, bahkan M 4 Mencret tapi mungkin wajar saja kalau ada A 4 AIDS, K 4 Kanker, kalau Anda mengerti dimana letak poinnya. Bukan karena penyakit itu membunuh (baca:fatal), karena batuk, pilek, dan mencret pun sekali waktu bisa merenggut nyawa. Namun karena ada seluk-beluk yang membuatnya jadi penyakit yang ditakuti karena sulit disembuhkan bahkan belum ditemukan penyembuhnya. Ke-khas-an Lupus sebagai bentuk gangguan atau kelainan imunitas tanpa penyebab yang jelas, mengimitasi gejala banyak penyakit lain hingga belum ditemukannya sisi penatalaksanaannya secara pasti, membuatnya berkembang menjadi penyakit yang sangat perlu mendapat perhatian lebih, itu benar. Bahkan punya istilah untuk penderitanya (odapus) hingga Yayasan yang fungsinya membimbing penderitanya dengan berbagai konseling agar tak salah arah atas gejalanya yang juga melibatkan perilaku.

Thus, saat Anda mengangkat tema-tema tentang penyakit yang membutuhkan informasi dan bimbingan terhadap penderitanya ini, punya hatilah sedikit. Tanggung jawab itu jauh lebih besar dari sekedar ke dokter konsultan atau aktifis-aktifis yayasan tempat Anda bertanya, yang saya yakin disini hanya memberikan overview tanpa mau melihat hasil akhir dan keseluruhan pembuatannya dengan kecermatan penuh namun membiarkan saja si pembuat film mengembangkannya dengan seenaknya ditambah konseling ke ‘Tuhan’-nya internet named google. Have a heart. Anda punya tanggung jawab terbesar ke penderitanya yang tengah bingung mereka mau berbuat apa, bagaimana masa depan mereka dengan mitos-mitos yang menjalari pikiran mereka, serta terpaksa pasrah pada penanganan medis yang seringkali minus informasi di negara ini. Kalau hasil akhirnya ternyata adalah hoax yang semakin membuat orang menjaga jarak yang sebenarnya tak perlu dengan mereka, maka kasihanilah keberadaan Anda sebagai manusia yang memanfaatkan penderitaan mereka sebagai komoditas dagang dan senjata untuk memperoleh rekor-rekor dunia. Dan ini tak termasuk memberikan sedikit gambaran senang-senang di tengah eksploitasi dagang ala film kita yang menjual nasib buruk orang lain. Nanti dulu soal filmis yang lain. First, please. Have a heart.

Dan eksploitasi itupun dimulai  dari karakter Atikah (Virda Anggraini), dokter IGD yang hidup mandiri dengan sang adik, Mutiara (Natasha Dematra) yang cacat fisik dan mentalnya tidak tanggung-tanggung; buta, bisu dan tuli sejak lahir dengan keadaan mental yang juga ikut terganggu. Di Rumah Sakit Kramat 182, Atikah bekerja dibawah pimpinan kepala IGD dr. Cakrawati (Ayu Azhari), dan disitu pula secara tiba-tiba terjadi serangan penderita lupus yang datang ke IGD seperti wabah. Di saat bersamaan, sakit kepala dan gangguan-gangguan kecil yang diderita Mutiara tiba-tiba terdeteksi sebagai, ya, Lupus.  Tak lama kemudian ia meninggal. Atikah yang mulai menjalin hubungan dengan dokter IGD baru dari Manado, Adam (Lucky Moniaga), lantas juga mulai merasa sakit-sakitan. Oke, kelelahan merupakan salah satu pemicu, tapi bukan berarti hanya dengan kelelahan lantas Lupus bisa muncul. Tak juga dengan berada di sekitar penderitanya, dan tak juga dengan satu anggota keluarga penderita Lupus lantas Anda juga berarti penderita. Lupus bukanlah penyakit keturunan walau memiliki peranan genetik, dan ini sudah dideklarasikan oleh para ahli atas jarangnya, walaupun ada, kasus yang melibatkan lebih dari satu orang dalam satu keluarga. Again, have a heart, Anda tak membangun plot dengan segelintir kasus untuk membangun persepsi yang salah. Jangan seperti itu. Tapi itulah yang dipilih Damien. Dan Atikah pun kemudian terdeteksi menderita Lupus. Dan mau sejauh apa Damien memelintir konfliknya, Anda pasti sudah tahu kemana endingnya mengarah.

So dari plotnya saja, ‘L 4 Lupus’ ini sudah merupakan sebuah hoax yang sama sekali tak punya hati dibalik kedoknya yang mau seakan-akan mengesankan perjalanan kisah sejati karakternya penuh dengan hal-hal inspiring dan uplifting. Di bawah ada sebuah companion yang saya berikan dari artikel kesehatan tulisan saya di sebuah media, kalau ingin tahu lebih jauh kesalahan demi kesalahan itu ada dimana. Sesekali memang Damien berusaha memberikan gambaran aktifitas rumah sakit yang cermat tapi sayangnya malah jadi berlebihan, dimana istilah-istilah diagnosis keluar dari mulut karakter-karakter medisnya secara sangat formal padahal kenyataannya sama sekali tak seperti itu, termasuk suster yang berteriak ‘Code Blue! Code Blue!’ sebagai terms kedaruratan yang sayangnya, sayangnya, di sebuah rumahsakit bertaraf internasional di Indonesia pun, belum tentu dipakai paramedisnya. Semuanya sudah merupakan kesalahan yang sangat fatal dalam memberikan ‘penyuluhan populer’ seperti yang digembar-gemborkan sejak awal.

Dan secara filmis, ‘L 4 Lupus’ pun sama berantakannya. Entah apa maksud Damien menyempalkan banyak sekali shot-shot wide angle yang tak bertujuan selain terlihat gaya-gayaan, kemudian pemaparan plot itu pun serba tak sinkron. Ketimbang bercerita dengan gambar dan dialog yang serba kaku, Damien memilih berkata-kata dengan lagu, dan lagu, yang jumlahnya melebihi film India. Lagu-lagu yang hadir bak lagu rohani penuh pesan dengan lirik yang sangat bercerita secara gamblang seolah seperti ‘Hari ini ibuku pergi ke pasar, membeli ini dan itu, kemudian pulang, memasak dan sebagainya’. Oh ya, mungkin saja awalnya Damien juga mau meraih rekor lain sebagai sutradara yang menggunakan lagu ciptaan dan nyanyian sendiri dalam sejarah film. Entahlah. Belum lagi lagu itu berakhir, muncul pula skor yang menggedor-gedor seperti film action, thriller serta horor sampai menutupi dialog yang diucapkan para pemerannya. Subtitel yang muncul pun semakin menjelaskan itu, bahkan ikut-ikutan menjelaskan pikiran karakternya yang sama sekali tak muncul sebagai dialog sebagai narasi tertulis. Kecuali Lucky Moniaga yang kelihatan sangat overacting dan dibuat-buat termasuk mengucapkan dialog terbata-bata dengan ekspresi kelewat diatur, pendukung lain sebenarnya mencoba berakting dengan wajar, tapi sayangnya keseluruhan dialog dan plotnya sudah tak tertata dengan wajar. Lantas seperti mau bermain-main dengan style yang lain, Damien pun kerap memainkan bahasa gambar dan adegan-adegan simbolik dibalik set yang maunya kelihatan megah tapi malah tak sinkron hingga ke flashback-flashback yang digelarnya. However, terus terang, semua kekurangan filmis itu hanyalah suatu kekurangan kecil dibandingkan dengan niat awal yang sudah tak benar dalam balutan keseluruhan plotnya. Namun inilah Indonesia, dimana sebuah kedok bisa dengan mulus muncul dengan sejumlah dukungan dan resepsi yang serba membodohi isi kepala dengan mitos-mitos salah kaprah. Dan tak ada yang lebih fatal seperti tagline di trailernya yang agaknya mencoba menerjemahkan slogan ‘Care For Lupus’ menjadi kata-kata mengerikan, ‘Waspadalah Terhadap Lupus’, atau ‘Waspadalah Terhadap Bahaya Lupus‘ yang lagi-lagi diulang Damien menjadi penutup filmnya seolah Lupus ini jadi penyakit menular yang membuat kita mundur selangkah begitu melihat penderitanya, atau terus-menerus memeriksakan darah setiap ada gangguan kesehatan kecil karena takut hasilnya mengarah ke penyakit Lupus. This is a hoax without hearts, dan mari kita semua lebih waspada ke oknum-oknum di belakangnya. (dan)

Harian Waspada, 16 Oktober 2011  (Please do read it as a companion) :

MENGENAL PENYAKIT LUPUS YANG SEBENARNYA

Minggu ini layar bioskop kita dihadiri film berjudul ‘L 4 Lupus’. Kisah perjuangan Odapus (orang dengan Lupus) sekaligus menggambarkan seluk-beluk penyakitnya. Gambarannya di layar lebar mungkin sudah berkali-kali muncul, tapi sebagai tema utama, film ini mengantarkan sutradaranya, Damien Dematra, memperoleh rekor MURI dan sebuah badan rekor dari Inggris. Bahkan Menkes pun memberikan dukungannya terhadap penyakit yang memang masih kurang dikenal oleh banyak lapisan masyarakat namun perkembangannya cukup tinggi sekarang ini. Karena banyaknya kompleksitas yang bisa mengarah ke hal fatal dan tergolong sulit disembuhkan seratus persen, wajar bila ada suatu ketakutan saat mengetahuinya. Tapi apa pantas bila guliran filmnya ternyata memberikan banyak informasi sepotong-sepotong dan demi dramatisasi yang bertujuan memancing airmata penonton, memilih deskripsi tak seharusnya, cenderung sebagai hoax yang bisa berakibat salah di mata masyarakat dan menakut-nakuti mereka dengan quote ‘Waspadalah Terhadap Lupus’ agar terlihat bombastis ? Waspada? Ini adalah istilah yang dipilih demi tujuan jualan itu ketimbang kalimat ‘Care For Lupus’ yang diusung salah satu yayasan terbesarnya diIndonesia. Care disana lebih ke definisi perduli dan sama sekali bukan waspada. Salah-salah, orang bisa takut melihat penderitanya dan anggota keluarga yang menderita penyakitnya bisa dijauhi keluarga yang lain, padahal sama sekali tak seperti itu. Apa boleh buat. Tak perlu riset sekali pun, semua orang sudah tahu bahwa mitos-mitos kesehatan memang paling banyak berkembang di negara kita, bahkan dianut pula oleh sebagian besar pelaku medis.

Lupus Bukan Penyakit Menular atau Penyakit Keturunan

Lupus yang dalam term medis disebut Systemic Lupus Erythematosus/Lupus Eritematosus Sistemik (SLE) adalah penyakit yang diakibatkan gangguan sistem kekebalan tubuh dimana imunitas tubuh meningkat diatas normal sehingga menghancurkan sendiri partikel-partikel tubuh yang dianggap sebagai benda asing (autoimunitas) dan kemudian menimbulkan peradangan yang bisa menyerang seluruh organ tubuh, mulai dari kulit, otot, persendian, ginjal, otak, hati, mata, syaraf, paru-paru, jantung serta pembuluh darah. Penyebabnya belum diketahui dengan jelas sampai sekarang, namun dipercaya adanya faktor genetik serta pencetus-pencetus lain seperti infeksi dan obat-obatan tertentu, stress dan paparan sinar matahari dalam waktu lama. Walaupun beberapa penelitian menyebutkan adanya kemungkinan penurunan yang kecil sekali, faktor genetik itu lebih mengarah pada ras tertentu dimanaAsia, Afrika serta Hispanik lebih rentan daripada kulit putih. Karena kemungkinan yang sangat kecil itu, Lupus tidak dianggap sebagai penyakit keturunan. Rata-rata penderitanya adalah wanita dalam resiko jauh lebih besar dibanding pria karena adanya latar belakang hormonal sebagai pemicu peningkatan imunitas itu, dan biasanya adalah usia produktif antara 15-40 tahun meskipun dalam beberapa kasus bisa menyerang pria atau usia lebih muda. Lupus bukanlah penyakit yang disebabkan oleh kuman, baik virus, bakteri, atau yang lain. Karena itu tidak ada penularan yang bisa terjadi. Walaupun terkadang dalam kemungkinan yang sama kecilnya dengan penurunan dari orangtua, dua atau lebih anggota keluarga yang sama jarang sekali menderitanya bersamaan. Jadi, tidak ada yang perlu diwaspadai atau tindakan pencegahan tertentu meskipun Lupus merupakan salah satu penyakit imitator terbesar yang bisa mirip gejalanya pada penyakit lain dan jarang disadari hingga telah berkembang merusak organ-organ tubuh, kecuali beberapa tanda sejak dini dicurigai ke arah sana dan dilakukan pemeriksaan secara terarah. Semua pemilik resikonya kadang tak juga dapat diketahui dan memiliki potensi sama untuk terserang, jadi ini bukan penyakit menular atau keturunan yang perlu diwaspadai.

Tanda dan Gejala Penyakit Lupus

Sebagai imitator terbesar, gejalanya juga sangat beragam. Yang paling sering mengawali adalah nyeri persendian kaki dan lengan yang sering disalahartikan sebagai rematik atau akibat asam urat, namun simetris dan bertambah di kala cuaca dingin. Demam dan rasa lelah/lemah hingga anemia bisa saja menyertai, namun biasanya diagnosis baru mendekati arahnya ketika ruam kemerahan di kedua pipi dengan gambaran khas yang disebut ‘butterfly rash’ membentuk gambaran kupu-kupu membuat pasien berobat ke dokter misalnya dokter kulit. Dalam tahapan ini biasanya sering ada gangguan lebih berat yang menyertai seperti ruam-ruam memerah lainnya di kulit, sariawan atau bibir pecah-pecah serta kering, kerontokan rambut, hingga nyeri dada, sesak serta tanda-tanda gangguan ginjal. Beberapa riset juga menunjukkan gangguan autoimunitas yang sudah berkembang pada persyarafan penderita juga bisa menyebabkan stress, depresi hingga psikosis, hingga kesemutan, hilang rasa serta kejang-kejang. Tenaga medis juga biasanya sulit mendiagnosis kumpulan gejalanya dari beberapa laporan hingga pelatihannya masih menjadi salah satu yang diprioritaskan selama ini. Dalam tahapan yang sudah menyerang organ, biasanya diperlukan penanganan terpadu dari beberapa ahli terutama internis yang mendalami ilmu reumatologi atau ginjal bila sudah terserang, yang biasanya paling sering menyebabkan kefatalan akibat gagal ginjal. Keperluan pemberian obat-obatan berupa obat-obat steroid secara terus-menerus juga punya dampak timbal-balik yang semakin memperberat gangguan ginjal dan kerentanan terhadap infeksi lain. Diagnosis biasanya ditegakkan melalui empat dari sebelas kondisi utama yang termasuk ruam kulit, sariawan, fotosensitif, nyeri sendi, butterfly rash, pemeriksaan imunologis, kelainan saraf, gangguan ginjal, tes ANA positif, nyeri dada serta kelainan darah.

Lupus Sulit Disembuhkan, Tapi Dapat Ditangani

Bila ditemukan secara dini, penyakit ini sebenarnya bisa ditangani sebelum gangguan lainnya menyerang organ. Namun faktor resiko/kepekaan tadi tak bisa dihilangkan. Hanya pencetusnya yang bisa dicegah. Anjuran untuk menghindari paparan terik matahari dengan menggunakan tabir surya dan sebagainya, pemakaian obat-obatan yang harus terpantau, stress, gaya hidup yang salah (alkohol, merokok, makanan tertentu) serta konsultasi dan pemeriksaan secara teratur. Odapus tetap bisa bersosialisasi seperti orang normal hingga hamil dan melahirkan walaupun kehamilan dianggap bisa memperberat gangguannya. Pemberian obat-obatan walaupun beberapa diantaranya bisa beresiko memperberat biasanya diperlukan dalam kontrol penuh dari dokter yang menanganinya. Kebanyakan kasus-kasus fatal terjadi karena penderita biasanya berobat pada tahapan yang sudah berat. Beberapa ahli dalam riset mereka menyebutkan bahwa kebiasaan untuk melakukan general medical check-up sangat dianjurkan untuk menekan perkembangan penderitanya yang meskipun belum terlalu banyak namun cenderung meningkat. Pendeknya, diperlukan informasi yang benar-benar tepat untuk suatu penerimaan dari penderita yang sudah terdeteksi. Adanya mitos-mitos yang salah, misalnya dari yang banyak digambarkan dari film salah kaprah yang mengaku-ngaku sebagai penyuluhan demi mau memancing kesedihan penonton itu, hanya akan memperburuk keadaan penderita yang biasanya menganggap tidak ada jalan lain untuk penanganan penyakitnya dan ini bisa memperberat gangguannya. Harusnya pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap penyuluhan dan penanganannya tidak membiarkan hal-hal seperti ini menggiring edukasi kesehatan terhadap masyarakat kita terus-menerus dirusak ke arah yang salah oleh mitos-mitos penuh hoax tersebut. (dr. Daniel Irawan)

~ by danieldokter on November 24, 2011.

2 Responses to “L 4 LUPUS : A HOAX WITHOUT HEARTS”

  1. […] L4 Lupus […]

  2. […] L 4 LUPUS  […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: