MACHINE GUN PREACHER : REAL LIFE RAMBO, ARMY OF GOD

MACHINE GUN PREACHER

Sutradara : Marc Forster

Produksi : Relativity Media & Lionsgate Pictures, 2011

Hope is the greatest weapon of all. Ini tagline yang mengantarkan kita ke sebuah biopik dari seorang Sam Childers, pengkhotbah sekaligus aktifis perlindungan anak di tengah perang saudara Sudan Selatan, perbatasan Uganda, yang tak kunjung berakhir. Kisah hidup Childers seperti yang tertuang dalam memoir ‘Another Man’s War’, yang dijadikan sumber adaptasinya, memang dipenuhi keunikan. Dibalik sisi inspiratif Childers yang mengorbankan kehidupan pribadinya demi menyelamatkan ratusan anak-anak korban perang ini, ia juga berjuang dengan senjata bak seorang Rambo tanpa kenal rasa takut bersama pejuang-pejuang pembebasan. Masa lalunya sebagai bikers pemakai sangat kelam, dan obsesi ke perjuangan itu menjadikannya berada di dua sisi koin yang berbeda seperti banyak anggapan orang-orang. Seperti Dr. Jekyll & Mr Hyde dengan jiwa terbelahnya. Malaikat, sekaligus psikopat. Dan sutradara Marc Forster (‘Quantum Of Solace‘, ‘The Kite Runner‘) menuangkan semuanya sejujur memoir-nya. Walau terasa sangat pretensius dan sekilas tampil seperti a show of preach, Forster balik mempertanyakan kebenarannya pada para penontonnya. So don’t be narrow-minded, terutama bila kepercayaan Anda berbeda dengan khotbah-khotbahnya. Di kalangan Kristen sebagai kepercayaan Childers sendiri, film ini menuai tanggapan keras yang menyebutnya ofensif. Namun lebih dari masalah reliji, ini adalah sebuah human true story tentang keyakinan yang jauh lebih besar dari itu.

Berulang-ulang masuk penjara, Sam Childers (Gerald Butler), biker pecandu dari pinggiran Minnesota masih tak kapok. Ia masih terus bergelimang narkoba bersama sahabatnya, Donnie (Michael Shannon), merampok sana-sini, bahkan tak segan menghabisi nyawa orang. Istrinya, Lynn (Michelle Monaghan) pun masih dipaksanya kembali ke pekerjaan lamanya sebagai penari striptease, dan Sam tak pernah perduli dengan ibunya (Kathy Baker) serta putri satu-satunya, Paige (Madeline Carroll). Namun satu kejadian akhirnya membuat Sam mau juga mengikuti Lynn ke gereja. Ia dibaptis dan mencoba berubah. Bisnis kontraktornya menanjak drastis. Atas ajakan seorang misionaris yang bertugas di tengah perang saudara di Sudan, Sam kemudian memulai perjuangannya. Lynn mendukungnya bahkan mereka ikut menyelamatkan Donnie ke jalan yang sama. Lama kelamaan, perjuangan ini menjadi obsesi. Seluruh miliknya, termasuk Lynn dan Paige, rumah, kekayaan berikut keselamatan dirinya tak lagi diperdulikan Sam demi menyelamatkan anak-anak Sudan Selatan. Berbekal kejahatan masa lalu yang membuatnya fasih menggunakan senjata, Sam juga tak ragu-ragu menyerang pasukan LRA (Lord Resistance’s Army) bersama Deng (Souleymane Sy Savane), pejuang pembebasan dan pasukannya yang sukarela mengabdikan diri pada perjuangan Sam. Namun garis antara perjuangan dengan obsesi itu makin tipis, dan bisa berbalik menghancurkannya sewaktu-waktu.

Here’s a little tips. Aware that this is a true biopic yang rekaman-rekaman foto karakter-karakter aslinya bisa Anda saksikan di guliran end creditsnya bersama themesong ‘The Keeper’ dari Chris Cornell, atau persepsi ke penceritaan yang digagas Forster dari memoir Childers akan sangat penuh dengan distraksi, terutama kalau Anda mengharap tampilan Gerald Butler menggenggam senjata di posternya untuk sebuah tendensi tontonan penuh aksi. Jauh dibalik adegan-adegan pretensius ke sisi relijius yang bisa jadi kelewat panjang untuk yang mengharap sebuah action, Forster dan Childers yang langsung terlibat di pembuatannya sama sekali tak mengharapkan sebuah keberpihakan. Mereka malah menggambarkan dengan gamblang naik turun keadaan psikologi dan perilaku Sam sebagai manusia biasa dengan kelebihan dan kekurangan dibalik anggapan mukjizat-mukjizat penduduk lokal Sudan yang hampir tak pernah membuat satu peluru pun mendarat di tubuhnya. Gerald Butler terlihat berusaha menghadirkan aktingnya dengan maksimal, intens dan berapi-api walau kadang masih terasa kurang pas di turnover-turnover dengan style khasnya yang masih kelewat melekat, sementara Monaghan, Shannon dan Carroll sama sekali tak mengecewakan sebagai pemeran pendukungnya. Namun yang menampilkan akting paling wajar justru Souleymane Sy Savane sebagai Deng beserta barisan figuran-figuran pemeran penduduk lokalnya. Entah para penggagasnya mungkin sejak awal sudah tahu bahwa biopik Sam Childers ini bukan sesuatu yang kelewat potensial untuk dijual karena aspek-aspek yang saling berlawanan untuk membangun simpati penuh ke karakternya, bahkan berpotensi untuk menimbulkan polemik politik hingga reliji, karena itu juga peredarannya di AS sangat terbatas dengan hasil box office yang tak juga banyak bicara. But trust me. Ini adalah sebuah biopik yang sangat menarik untuk disimak. Pretensius, tapi humanis dan membuka mata atas persepsi terhadap pilihan-pilihan dalam suatu keyakinan. The point is don’t be narrow-minded. And the rest, is up to you. (dan)

~ by danieldokter on November 27, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: