THE RUM DIARY : FEAR AND LOATHING IN PUERTO RICO

THE RUM DIARY

Sutradara : Bruce Robinson

Produksi : GK Films, Infinitum Nihil & Film District, 2011

Ever heard of Hunter S. Thompson? Well, kalau Anda benar-benar mendalami dunia jurnalisme, Thompson tentunya bukan nama yang terlalu asing. Selain cukup terkenal sebagai penulis dengan sejumlah novelnya, Ia terkenal sebagai pelopor sebuah aliran jurnalisme sastra modern bernama ‘Gonzo Journalism’, dimana seorang reporter/jurnalis terlibat langsung sebagai tokoh sentral di reportasenya yang menekankan sekali sisi sastra-nya. Berkembang di tahun 60an, style jurnalisme ini juga  dipenuhi budaya dan trend masa itu yang bergelimang dengan kebebasan individual. Ada anti-kemapanan, revolusi sekaligus sekte-sekte damai, sampai seks bebas dan tentunya, alkohol dan narkoba sebagai gaya hidup yang sangat menonjol disana. Sepak terjang Thompson sebagai jurnalis yang melanglang buana kesana kemari beserta gaya ‘Gonzo Journalism’ itu memang hampir  mewarnai seluruh tulisannya seolah sebuah memoar, meski ia tak menggunakan namanya sendiri dalam novel-novelnya. Dan sama seperti budaya 60an, Thompson juga memiliki riwayat panjang sebagai alkoholik dan pengguna narkoba hingga mengakhiri hidupnya sendiri di tahun 2005, pada usianya yang ke-67. Term ‘Fear And Loathing’ yang seakan jadi trademark di beberapa judul novelnya juga arahnya ke gaya hidup serba teler itu.

So what’s with Johnny Depp and  Thompson? Oh ya, ‘Fear And Loathing In Las Vegas (1998)’ film Depp arahan Terry Gilliam yang jadi daftar wajib penggemar film-film cult itu juga merupakan adaptasi novel Thompson berjudul sama tahun 1971 yang merupakan salah satu puncak karirnya sebagai penulis. Dari sini, Thompson dikabarkan bersahabat dekat dengan Depp, dan di tahun yang sama sebuah novel tulisannya tahun 1961, berdasarkan memoar pribadi Thompson di tengah gejolak politik Puerto Rico, ‘The Rum Diary’ dipublikasikan untuk pertama kalinya. Jadi tak heran, tak lama setelah ‘Fear And Loathing In Las Vegas’ dirilis, Depp dan Thompson sudah merencanakan adaptasi layar lebar novel ini, namun beberapa masalah gonta-ganti copyright membuatnya terus tertunda hingga tragedi yang mengakhiri hidup Thompson terjadi. And guess what, ketika akhirnya proyeknya mendapat lampu hijau dengan Bruce Robinson, sutradara asal Inggris yang sudah stagnan sejak film terakhirnya di tahun 1992, thriller ‘Jennifer 8’-nya Andy Garcia & Uma Thurman, sekaligus sebagai penulis skenarionya, masalah kembali terjadi. Robinson yang mengaku mengalami writer’s block butuh waktu lebih dari setahun untuk merampungkan skenarionya, itupun setelah kembali bergelimang dengan alkohol yang sudah lama ditinggalkannya. Just like the title, maybe it was meant to be. Dan GK Films serta Infinitum Nihil, rumah produksi milik Johnny Depp sendiri, ternyata setia menunggu Robinson hingga pre-produksinya dimulai di tahun 2009. Behind the scenes story yang sangat, sangat, menarik. Pertanyaannya sekarang, is it gonna be another ‘Fear And Loathing In Las Vegas’? Ah, iya atau tidak, mereka sudah seharusnya tahu, adaptasi ‘The Rum Diary’ ini bakal sama-sama jatuh ke genre film cult yang tak bisa begitu saja dinikmati dengan enak oleh semua penontonnya, kecuali Anda memang penggemar jurnalisme, Depp, or else, film-film cult yang peminatnya segmental. Sama seperti ‘Gonzo Journalism’ itu sendiri, yang cenderung penuh pemaparan agak-agak nyeleneh seiring budaya anti-kemapanan di tahun-tahun itu (baca=teler).

Paul Kemp (Johnny Depp), nama yang digunakan Thompson dalam memoarnya di ‘The Rum Diary’, yang sudah bosan dengan keadaan Amerika dan pekerjaannya sebagai jurnalis di New York, segera mengambil kesempatan untuk bergabung dengan sebuah harian ‘The San Juan Star’ di Puerto Rico. Puerto Rico ternyata jauh dari apa yang ada di bayangan pikirannya. Editornya, Lotterman (Richard Jenkins) adalah sosok temperamental, sama nyentriknya dengan dua rekan sekamarnya, fotografer Bob Sala (Michael Rispoli) dan reporter Moberg (Giovanni Ribisi) yang agak gila dan alkoholik berat. Gejolak politik komunis disana juga membuat sebagian penduduk merasa terintimidasi dengan wartawan, sementara Lotterman juga tak bisa tegas menentukan keberpihakan media. Kemp kemudian akrab dengan seorang pengusaha sekaligus penyeludup kaya dari AS, Sanderson (Aaron Eckhart), yang mengajaknya dalam sebuah proyek real estate. Kemp awalnya ragu, namun ketertarikannya pada Chenault (Amber Heard), kekasih Sanderson membuatnya tak kuasa menahan diri. Sadar idealisme jurnalisnya tak juga bisa merubah keadaan, lama-lama Kemp semakin terlena dengan konflik pribadinya sendiri, dan mulai terseret kegilaan rekan-rekannya dengan alkohol.

Problem terberat dengan adaptasi sebuah memoar adalah sejauh mana ia bisa berkomunikasi dengan penonton yang belum tentu kenal tokoh atau latar belakang yang diangkat. Gaya biopik mungkin merupakan jalan paling aman, namun ini adalah karya Thompson yang punya gaya berbeda, dan sedikit gila. Thus, penyampaiannya pun jadi segmental, sama seperti ‘Fear And Loathing In Las Vegas’ yang belum tentu bisa dicerna semua lapisan penonton. Salahnya lagi, Bruce Robinson sebagai penulis skenarionya tak mau bersusah payah mengakrabkan karakternya dengan sebuah pengenalan adegan ataupun narasi yang lebih rinci, tapi juga tak mau selepas dan seabsurd Terry Gilliam dalam penuturannya di ‘Fear And Loathing In Las Vegas’. Robinson hanya meletakkan dasar yang sama bagi karakter super-nyentrik yang dengan menarik diperankan oleh Giovanni Ribisi, sehingga akhirnya ‘The Rum Diary’ jadi kelihatan seperti tak percaya diri mau berdiri di sisi mana. Tidak komedi, tidak terlalu dramatis, dan tak juga thriller. Depp, di sisi lain memang mencoba menampilkan turnover yang juga serba Thompson di garis tipis kewarasan dan kegilaannya, namun ini sudah berkembang jauh setelah ‘Fear And Loathing’ dimana perannya sebagai Jack Sparrow di empat franchise ‘Pirates Of The Caribbean’ mau tak mau jadi bumerang distraksi bagi aktingnya sendiri. Di luar itu, Amber Heard yang memaksimalkan dayatarik sensualitasnya memerankan Chenault yang seduktif bersama Aaron Eckhart tampil cukup menonjol sebagai benang merah komunikatif untuk membuat penontonnya tetap perduli dengan penuturan Robinson terhadap memoar ini. ‘The Rum Diary’ jelas bukan karya sembarangan maupun film jelek, tapi apa boleh buat, meski sepak terjang Thompson menelusuri karir jurnalisme sebenarnya sangat menarik, ‘The Rum Diary’ pun terjebak jadi tontonan yang sangat segmental terutama bagi penggemar jurnalisme atau Johnny Depp sendiri. Mungkin sedikit tambahan informasi bisa membuatnya lebih enak buat dinikmati, atau mungkin sekalian gila-gilaan seperti ‘Fear And Loathing’. Jadi tak usah heran kalau sebagian penonton kita  tak betah berlama-lama bertahan di gedung bioskop. Hasil box office di AS sendiri, yang notabene lebih akrab dengan karya-karya Thompson pun tak jauh berbeda, jauh di bawah budget produksinya. Apa boleh buat. (dan)

~ by danieldokter on November 30, 2011.

One Response to “THE RUM DIARY : FEAR AND LOATHING IN PUERTO RICO”

  1. […] The Rum Diary […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: