ARTHUR CHRISTMAS : MODERNIZING CHRISTMAS IN CLASSIC SPIRITS

ARTHUR CHRISTMAS

Sutradara : Sarah Smith

Produksi : Sony Pictures Animation & Aardman Animations, 2011

Aardman Animations memang identik dengan karya monumental mereka, ‘Wallace & Gromit’, yang lahir dari kiprah mereka di BBC Television, Inggris. Namun perkembangan animasi tentu tak mau membuat mereka mentok terus di teknik clay animation itu, meski ‘Chicken Run’ yang mengawali kerjasama awal mereka dengan Dreamworks membuktikan teknologi konvensional ini bisa mencetak sukses luar biasa. Setelah versi layar lebar ‘Wallace & Gromit : The Curse of Were-Rabbit’ dan ‘Flushed Away’ tempo hari, Aardman yang juga berdiri dibalik kesuksesan ‘Shaun The Sheep’ mengakhiri kerjasama mereka dengan Dreamworks. Mereka memang masih belum benar-benar meninggalkan ‘Wallace And Gromit’, namun kiprah mereka yang mulai melebarkan sayap ke animasi digital berlanjut ke kontrak barunya dengan Sony Pictures Animation. ‘Arthur Christmas‘ yang juga semakin menapak dunia animasi modern dengan teknik 3D ini merupakan feature animasi layar lebar pertama dalam kerjasama mereka, dan Sony agaknya tak salah memilih partner. Masih belum percaya kalau penulisnya, Peter Baynham yang berada dibalik ‘Borat’ dan ‘Bruno’ bisa menghasilkan family christmas movie yang aman disaksikan seluruh keluarga? Atau co-writer dan sutradaranya, Sarah Smith, masih belum tergolong siapa-siapa di industri Hollywood? Well, ini adalah sebuah awal yang sudah langsung memberikan bukti. You better watch out. The New Santa Claus Is Coming To Town!

If you live at the North Pole, how come I can’t see your house when I look on Google Earth?’. Satu dari segudang pertanyaan penuh kepolosan yang dilayangkan seorang anak perempuan di Trelew, Inggris, Gwen (Ramona Marquez), yang mengirimkan surat pada Santa Claus agar mengirimkannya sebuah sepeda di malam natal. Namun Gwen tetap percaya pada Santa. Nun jauh di Kutub Utara sana, Arthur Christmas (James McAvoy), putra bungsu Santa (Jim Broadbent) yang bertugas di kamar surat, membalas surat Gwen. Then comes the groundbreaking hi-tech part. Santa sekarang tak lagi mengantar hadiah dengan kereta yang ditarik rusa kutub. Dengan pesawat raksasa super ekspres mirip Enterprise-nya ‘Star Trek’ bernama S-1, tugas malam natal itu tergelar bak sebuah military secret operation di bawah pimpinan Steve (Hugh Laurie), anak sulungnya yang mempersiapkan pengaturan komputer secara cermat. Para elves dilatih seperti pasukan elit, diterjunkan melalui sling dengan kecepatan tinggi untuk mengantarkan 2 juta hadiah itu kepada anak-anak di seluruh dunia dalam 1 malam. Bahkan anak bandel sekali pun, bisa di scan ulang lewat sebuah device. Semuanya sempurna. Tapi sayangnya hubungan antar keluarga Santa tak seperti itu. Meski ada  Mrs. Claus (Imelda Staunton) yang bijaksana, mereka kerap bertengkar di meja makan. Steve berambisi jadi the next Santa, Arthur ceroboh tak kepalang, dan Grandsanta (Bill Nighy), ayah Santa, sedikitpun tak respek pada teknologi baru ini. Ia tetap menganggap cara klasiknya dengan classic sleigh ditarik rusa-rusa kutub dengan bubuk ajaib dan masuk melalui cerobong asap lebih efektif. Sekarang, atas ulah Arthur yang memancing keributan di pusat pengaturan komputer, sementara kekacauan terjadi dengan hampir terlihatnya Santa oleh seorang anak yang terbangun, hadiah buat Gwen tercecer. Arthur yang mengetahui ini merasa begitu bersalah, namun Steve dan Santa memilih untuk mengabaikannya. Maka Arthur yang sebenarnya takut ketinggian merancang misi khusus untuk tetap mengantar hadiah buat Gwen. Grandsanta yang punya misi pribadi untuk pembuktian eksistensi dan ternyata masih menyimpan kereta salju beserta keturunan rusa-rusa kutubnya dahulu menawarkan bantuan. Bersama Bryony (Ashley Jensen), elf dari satuan pembungkus kado yang menemukan kesalahan itu dan Evie, rusa kutub tua kesayangan Grandsanta, petualangan penuh kekacauan menempuh jarak ribuan kilometer sebelum matahari terbit pun dimulai. Mereka tersesat dari Afrika, Kuba hingga Meksiko serta kehilangan satu-persatu rusa kutubnya. Santa dan Mrs Claus yang mencoba menyusul akhirnya melihat sesuatu yang lain dibalik kecerobohan Arthur selama ini, tapi Steve juga tak semudah itu tinggal diam.

Christmas spirit yang memang hampir selalu muncul dalam sajian-sajian family movie untuk menyambut akhir tahun merupakan persyaratan utama untuk kesuksesan genre-genre seperti ini. Kisah Santa Claus sendiri juga sudah berulang kali diracik dengan resep-resep berbeda, dari animasi hingga live-action, meski pakemnya rata-rata sama. Ada komedi, adventurous part yang seru, dan selipan family drama secara menyentuh yang tak boleh ketinggalan dengan pesan untuk selalu percaya pada keajaiban dari jiwa-jiwa yang tulus. Tapi ‘Arthur Christmas’, kenyataannya bisa tampil beda dengan sesuatu yang baru. Skenario Baynham dan Smith yang memberi nafas baru ke sisi hi-tech dengan deskripsi dialog dan adegan yang benar-benar menarik tak lantas jadi sekedar tempelan, namun secara efektif sindiran-sindiran terhadap benturan teknologi ini mereka gunakan untuk membangun konflik-konflik utamanya. Hampir semua bangunan karakternya juga menyatu kesana, dan satu sisi yang tak kalah penting, fun factor dari petualangan dan komedinya juga muncul cukup seru sekaligus lucu dibalik tampilan animasi 3D yang sama rapinya. Tak sia-sia rasanya mereka memasang banyak nama-nama talenta layar lebar Inggris terkenal untuk mengisi suaranya. Untuk pemirsa belia, juga ada Justin Bieber di theme song klasik ‘Santa Claus Is Coming To Town’ yang dijual gede-gede di setiap promonya. Cuma nama Sony Pictures Animation dan Aardman yang masih kalah pamor dibanding kedigdayaan teknologi Pixar mungkin masih jadi ganjalan dalam membuat banyak pemirsa melewatkannya. Tapi buang jauh semua anggapan itu, termasuk rating tinggi dari kritikus-kritikus dunia yang mulanya dianggap sebagai hype overrated. Christmas spirit yang begitu menonjol dibalik pesan berharganya juga  akan dengan mudah mencuri hati Anda di balik tawa dan excitement menikmati sisi petualangan serunya. You’ll laugh, cheer and cry at the same time. Let’s put it this way, seperti terkadang sebuah tepukan lembut di punggung bisa jauh lebih berharga ketimbang hingar-bingar hadiah natal yang mahal, this ain’t a usual Santa. They might modernized the legend, tapi tetap tak melupakan spirit klasiknya, dan ini yang membuatnya terasa begitu spesial. This is an overly wonderful tale to deliver your seasons of holiday. Merry Christmas! (dan)

~ by danieldokter on December 5, 2011.

One Response to “ARTHUR CHRISTMAS : MODERNIZING CHRISTMAS IN CLASSIC SPIRITS”

  1. […] Arthur Christmas […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: