HAPPY FEET 2 : DANCING IN THE DARK

HAPPY FEET 2

Sutradara : George Miller

Produksi : Village Roadshow Pictures, Warner Bros, 2011

Tak ada yang menyangka bahwa kolaborasi Warner Bros Animation dengan Animal Logic Studios di tahun 2006, bersama sutradara berstatus acclaimed, George Miller (‘Mad Max Trilogy’, ‘The Witches Of Eastwick’) dalam ‘Happy Feet’ muncul sebagai sajian animasi yang begitu spesial mencuri hati setiap penontonnya, bahkan memenangkan Oscar untuk kategori Best Animated Feature mengalahkan Pixar dengan ‘Cars’-nya. Miller yang hengkang dari karirnya sebagai dokter itu memang cermat sekali memanfaatkan momen eco-message sebuah spesies pinguin bernama Emperor yang belum sampai setahun sebelumnya hadir dari film dokumenter karya Luc Jacquet, ‘March Of The Penguins’ yang juga memenangkan Oscar dalam pleasure yang berbeda dan lebih potensial dalam resepsi universalnya. Menggabungkan talenta-talenta besar para pengisi suaranya yang rata-rata aktor papan atas Hollywood (sebagiannya asal Australia, negara asal Miller) dengan style musikal yang dipenuhi lagu-lagu pop/rock klasik, Miller membuat semua pemirsanya seakan ikut menari bersama para pinguin itu sambil belajar tentang ekosistem mereka. So then, ditambah hasil box office yang juga sama fenomenalnya, tentu tak ada alasan untuk tak melanjutkannya.

Namun Miller mungkin cepat sekali lupa dengan salah satu franchise miliknya yang juga berkelas monumental dan tak jauh-jauh dari animasi meski tampilannya live action, ‘Babe’, dimana ia terjerembab dalam penggarapan sekuelnya. Sebagian kritikus mungkin tetap mengelu-elukan keberanian Miller mengeksplorasi gaya berbeda dari sekuelnya yang terjebak dalam kegelapan secara overexposed itu, sama seperti sekuel ini. Yeah, right. Sebuah franchise boleh saja dilanjutkan dengan inovasi berbeda. Sah, namun meninggalkan benang merah excitement-nya terlalu jauh ke belakang, juga bukan tindakan yang diinginkan banyak orang. Dan kenyataannya, Miller mengulang lagi kebiasaan itu dengan seabrek kesalahan yang sama. Tone yang kelewat di-push untuk jadi segelap mungkin, pesan yang jadi preachy dan cerewet, berikut banyaknya karakter baru yang porsinya jadi overdominated sampai menyepelekan karakterisasi tokoh-tokoh kunci bagi franchisenya.

Erik (Ava Acres), anak dari pasangan pinguin Mumble (Elijah Wood) dan Gloria (kini disuarakan Alecia Moore aka Pink setelah Brittany Murphy tutup usia beberapa waktu lalu) mengalami nasib yang sama dengan ayahnya dulu. Ia bingung menyadari bakat sebenarnya di tengah kebiasaan para pinguin yang suka menyanyi dan menari. Tersisih akibat choreo-phobianya, bersama temannya Boadicia (Meibh Campbell) dan Atticus (Lil P-Nut), Erik mengikuti pinguin Ramon (Robin Williams) kembali ke tanah asalnya di Adelie-Land yang sekarang berada di bawah pengaruh The Mighty Sven (Hank Azaria), pinguin terbang dengan sejumlah keajaiban. Mumble yang menyusul mereka terpaksa pasrah dengan kenyataan bahwa Erik lebih mengidolakan Sven ketimbang dirinya. Dalam perjalanan pulang, Mumble menyelamatkan singa laut raksasa/elephant seal Bryan (Richard Carter) yang awalnya menghalangi mereka dengan angkuh sebagai penguasa samudera. Namun masalah sebenarnya justru baru berlangsung atas bencana runtuhnya gunung es yang menjebak populasi mereka di tengah-tengahnya. Bersama Erik, Mumble pun harus memutar akal untuk menyelamatkan sukunya, mulai dari berburu ransum, melawan serbuan burung-burung ganas, meminta pertolongan Sven bersama pinguin-pinguin Adelie bahkan balik meminta balas budi Bryan bersama spesiesnya saat sekelompok manusia penyelamat lingkungan pun gagal menyediakan jalan. Satu-satunya cara adalah tap dancing massal untuk meruntuhkan sebagian lagi gunung es yang jadi penghalang. Nun jauh di bawah sana, dua udang kecil/krill Will (Brad Pitt) dan Bill (Matt Damon) tengah berusaha merubah nasib mereka dalam rantai makanan terbawah di Antartika.

Tak bisa disangkal, usaha Miller bersama tiga penulis lainnya, Gary Eck, Warren Coleman dan Paul Livingston dalam menghadirkan karakter dua krill yang kebetulan diisi oleh Brad Pitt dan Matt Damon sebagai nama terbesar di sekuel ini terasa sekali terpengaruh oleh kesuksesan Scrat dalam franchise ‘Ice Age’ sebagai distractor plot terbesar namun sekaligus jadi highlightnya. Tapi tak digagas lepas seperti Scrat yang serba polos tanpa dialog, mereka malah terlihat keasyikan membangun karakternya dengan parodi bromance dibalik motivasi yang (maunya) dihubung-hubungkan dengan pesan lingkungan tapi malah jadi konyol tak kepalang. Dan Miller agaknya mengulang lagi kesalahan terbesarnya dalam ‘Babe : Pig In The City’ dalam menghadirkan konflik serba gelap dari excitement segala umur yang sudah sukses dimunculkannya dalam ‘Happy Feet’ di tengah-tengah pusat plot yang malah mirip film disaster, lengkap dengan gambaran penderitaan memilukan dan chaos psikologis yang pastinya tak bisa berkomunikasi akrab dengan pemirsa belia. Apa yang hadir ke depan penontonnya justru lebih seperti keluhan seorang nenek-nenek cerewet yang menjemukan ketimbang popular knowledge yang informatif.

Bangunan karakter-karakter baru termasuk Sven dan twistnya yang tak masuk akal bersama plot cinta-cintaan antara Ramon dan Carmen (Sofia Vergara) pun jatuhnya jadi annoying dan serba tak perlu. Belum lagi sejumlah karakter pinguin baru (salah satunya yang disuarakan rapper Common) dan para elephant seal hingga sempalan manusia yang seakan saling berlomba mengambil kepentingan. Dan parahnya, ini justru menempati posisi terbesar hingga menggeser karakter baru yang harusnya tampil paling ke depan atas bangunan plotnya, Erik, bersama pastinya dua tokoh utama dalam film pertama, Mumble dan Gloria. Salah satu adegan yang seharusnya sangat penting menunjukkan turnover penemuan bakat Erik justru muncul dalam musikalitas gaya opera dengan lirik yang obviously ridiculous, bahkan mungkin tak membuat pemirsanya perduli atau mengingat nama Erik sekuat kita semua mengingat Mumble dalam ‘Happy Feet’. Anda pun tak bakal ingat sebagian tampilan karakter pinguinnya ketika disodori action figure atau merchandise lain. Apa boleh buat, sekuel ini hanya menyisakan tampilan singing dan dancing sequence bersama beberapa lagu pop/rock klasik termasuk beberapa nomor lain dari Queen yang memang menarik dibalik digital animation-nya, kali ini dari Dr. D Studios, yang cukup rapi. Terserah sebagian kritikus yang membandrolnya penuh pendalaman hingga berserius-serius ria bagi kepuasan penonton (sok) dewasa. Namun selebihnya, I’ll assured you once again, this was meant to be a holiday movie of the seasons, but these feet, ain’t as happy as the first one. (dan)

~ by danieldokter on December 10, 2011.

3 Responses to “HAPPY FEET 2 : DANCING IN THE DARK”

  1. wahh jadi males buat nonton nh film. kirain sama bagusnya sama yang pertama.

  2. 🙂. selera bisa beda-beda. dont depend on others’ review, baiknya dijadiin sekedar panduan aja. kritiknya kan punya alasan masing2🙂

  3. […] Happy Feet Two […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: