X : THE LAST MOMENT : PENYULUHAN? YEAH, RIGHT…

X : THE LAST MOMENT

Sutradara : Bambi Martantio

Produksi : Prima Media Sinema, 2011

Di luar film-film yang memang punya kualitas, ada satu penyakit yang dari dulu masih mendarahdaging dalam tipikalisme perfilman kita. Saya tak tahu kalau memang film yang didukung oleh BNN (Badan Narkotika Nasional) ini punya tujuan serta niat yang baik, entahlah. Only God knows. Mereka memang menyebutkan dari awal kalau film ini adalah film penyuluhan tentang narkoba. Oke. Dalam konteks sebuah penyuluhan, seperti sepenggal dokumenter yang juga disempalkan ke dalam salah satu adegannya, sah-sah saja kalau mereka ingin jangkauannya lebih jauh dengan polesan sebuah feature fiksi. Tapi kerangkanya harus benar, bukan sekedar memindahkan sebuah dokumenter dengan skenario film fiksi yang memuat hal-hal tipikal tadi secara pretensius tanpa arah dimana semuanya dihubungkan seenaknya saja. Lagi saya menyebutnya. Perek dan sinonim-sinonimnya. Hamil di luar nikah. Perkosa-Perkosa. Dan tentunya, narkoba, yang memang jadi tema sentral disini. Katanya lagi, tujuannya agar para orangtua memiliki sistem kewaspadaan dengan mengetahui secara pasti bentuk-bentuk peralatan yang digunakan bila anaknya pemakai. Sekarang coba tanyakan ke diri Anda sendiri. Orangtua mana yang belum tahu bahaya narkoba sebagai barang haram yang sudah diatur dengan undang-undang di negeri ini? Siapa yang belum tahu bahwa narkoba itu memiliki efek buruk hingga fatal? Kalaupun tak pernah melihat bentuk peralatan dan efek-efeknya dari segi medis, kenapa tak membuat dokumenter yang benar, yang ditujukan bagi kalangan yang dianggap belum tahu seluk-beluknya? Mengapa harus fokus ke visual-visual akibatnya yang memuat semua tipikalisme itu dalam bentuk jualan komersil lengkap dengan tampilan seksi dan sensual seperti ini? Ini tak jauh beda dengan liputan-liputan media yang memberi contoh rekonstruksi yang sebenarnya salah kaprah, yang sebenarnya sudah diprotes dimana-mana.

But then again, inilah tampilan negara kita. Dimana aji mumpung-aji mumpung belum bisa lepas satu dengan yang lainnya. Dimana sebuah niat luhur selalu dijadikan tameng buat hal-hal lain yang tak benar. Dimana sebuah penyuluhan selalu memberi contoh tipikal yang serba salah kaprah, yang juga jadi alasan kenapa mitos demi mitos tak bisa dilepaskan. Seperti anak-anak yang dilarang keluar rumah malam-malam bukan dengan alasan benar tapi karena takut digondol hantu. Seperti dulu ‘Hantu Aborsi’ juga berdiri dibalik penyuluhan dengan poin, ‘jangan melakukan aborsi, nanti janin yang dibunuh itu jadi hantu dan balas dendam pada orangtuanya’. Pendeknya, hanya ada satu garis nasib yang membuatnya harus dihindari. Narkoba itu membuat Anda-Anda jadi perek, terjerat pergaulan bebas, gampang diperkosa, melakukan seks bebas hingga sekali berhubungan pasti hamil, kemudian ketahuan dan dipukuli orangtua, lantas bunuh diri. Atau overdosis, halusinasi, lantas terjun bebas. Sempit sekali, padahal ada seribu bentuk kerugian lain yang kalau divisualkan semua bisa jadi sinetron seribu episode. Tapi bukan itu poin terpentingnya, kan? Penyuluhan lebih punya tujuan untuk suatu sistem informasi sebenar-benarnya. Apa bahaya narkoba? Ada banyak, narkoba memang bahaya namun semua metamorfosis garis hidup diatas itu bukan jawaban paling tepat. Jawabannya bukan Anda bakal jadi perek, Anda bakal terjun bebas, dan sebagainya. Kalau Anda menganggap itu jawabannya, maka Anda belum pantas membuat penyuluhan. Beberapa jenisnya memiliki efek peningkatan libido. Silahkan jelaskan itu, kalau memang ada niat baik, tapi pastinya bukan dengan tampilan dua orang berasyik-masyuk membuka baju satu-persatu di atas ranjang secara detil. Itu belum lagi bicara soal kualitas dari aspek filmisnya. Plot yang seperti tipikalisme lain film kita, selalu tampil tanpa kewajaran atas reaksi over konflik-konfliknya. Apapun itu, pokoknya aktor-aktris kita dipaksa harus piawai berteriak-teriak tanpa juntrungan ketimbang menampilkan ekspresi yang bisa lebih banyak berbicara. Asal mampu, beres. Jadilah sebuah film. Dan entah berita yang marak minggu lalu tentang peredaran permen narkoba di sekolah atas beberapa siswa yang jadi korban merupakan promosi terselubung seperti sebuah dialog dan adegan yang juga ada disini, apa ada hubungannya dengan perilisannya yang juga sempat tertunda, saya tak mau asal menuduh. Only God knows. Mari tak menganggapnya seperti itu, mudah-mudahan.

Jadi dimulailah sebuah gambaran persahabatan lima anak sejak kecil di sebuah lingkungan yang dipoles dengan adegan pertarungan hebat, lengkap dengan salto-saltoan, tendangan dan pukulan serba maut. Kemudian mereka beranjak dewasa dan masih akrab. Lima-limanya, Ikang (Mike Lucock), Dido (Keith Foo), Angga (Rocky Jeff), Ijul (Ridho Boer), Anung (Ikang Sulung), terlibat narkoba. Tapi Ikang yang bekerja jadi bandar marah besar begitu mengetahui teman-temannya ikut memakai narkoba. Alasannya, dia tahu kalau pemakai pasti jadi bodoh. Ia tak perduli dengan korban-korbannya, yang penting temannya jangan terlibat walaupun Ijul bekerja sebagai kurirnya. Kalau perlu dengan teriak-teriak di sebuah restoran sampai semua orang berhamburan keluar dan tahu dia bandar. Seorang bandar dengan batasan yang mulia sekali, bukan begitu? Kalau perlu berkorban sampai mati ditembak polisi. Yeah right. Lantas Dido yang hobi ke diskotik dikenalkan dengan Yayang (Cinta Dewi) yang dijerumuskan seorang rekannya. Yayang dibuat mabuk, berhubungan seks dengan Dido, lantas, ya, hamil. Ketahuan oleh orangtuanya, Yayang dihajar habis-habisan dan kemudian jadi gila. Dido yang kian terjerumus akhirnya terjun bebas dari atas gedung. Ijul berkenalan dengan seorang pelanggan kesepian penuh nafsu, Asti (Indah Purnamasari) memakai bersama-sama, jatuh cinta, dan kemudian berniat lepas namun berakhir tragis dengan Asti yang gantung diri. Sementara Angga yang anak orang kaya menjadi pemakai karena kekurangharmonisan keluarga dimana orangtuanya sering bertengkar. Ia overdosis dan berakhir tragis. Anung yang suka bertransaksi lewat internet pun sama-sama bernasib tragis.

Semua jalinan kisah itu memang persis seperti dokumenter singkat yang disempalkan secara dipaksakan di sebuah adegan di kamar praktek dokter yang menangani Angga. Bahwa akibat narkoba hanya tiga. Mati, bodoh atau jadi gila atas efek kerjanya pada sistem syaraf otak, yang divisualkan secara animasi yang katanya memakan biaya M dan berkali-kali tampil dengan visual sama setiap kali adegan menunjukkan mereka memakai narkoba secara detil. Kira-kira, itulah yang terjadi di dalam badannya. Tapi ini cuma visual. Tanpa ada tulisan apa itu bagian-bagian yang divisualkan. Mungkin mereka menganggap semua sudah tahu itu syaraf yang mana, organ yang mana, zat kimia apa saja yang berperan di dalamnya selain hanya satu yang disebutkan, hingga lebih penting lagi memvisualkan secara nyata peralatan-peralatannya. Kira-kira seperti itu. Lantas ceritanya dibangun dengan tipikalisme tadi, seperti yang ada di sinopsis diatas, tapi maunya seperti dibangun dengan dramatisasi sempurna lengkap dengan para pendukungnya yang kelihatan serius sekali mencoba menampilkan akting terbaik dalam karir mereka tapi jadinya serba konyol (padahal beberapa diantaranya, sebut saja salah satunya Mike Lucock, sama sekali bukan aktor asal-asalan). Jadi ya begitulah. Entahlah memang tujuannya serba mulia sebagai sebuah penyuluhan, tapi yang jelas, ini bukan sebuah penyuluhan yang baik, baik dari segi informasi maupun bangunannya menjadi sebuah film. Dengan embel-embel ‘based on true research’ serta didukung pihak-pihak yang harusnya jadi pemberi informasi yang benar terkait masalah-masalah kesehatan pula. Dan di ending, para pembuatnya menyelipkan sebuah tulisan di bawah judul ‘X : The Last Moment’. Disamping saya tak tahu apa itu X karena narkoba pun tak lazim disebut X, tulisan itu berbunyi ‘Kehilangan Yang Berlebihan’. Apa sih maksudnya? (dan)

~ by danieldokter on December 11, 2011.

2 Responses to “X : THE LAST MOMENT : PENYULUHAN? YEAH, RIGHT…”

  1. […] X – The Last Moment […]

  2. […] X: THE LAST MOMENT  […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: