SPY KIDS 4 : ALL THE TIME IN THE WORLD : AND WAY TO LOSE IT, TOO

SPY KIDS 4 : ALL THE TIME IN THE WORLD

Sutradara : Robert Rodriguez

Produksi : Dimension Films & Troublemaker Studios, 2011

Tak bakal ada yang menampik kalau ‘Spy Kids’ itu merupakan ide cemerlang dari seorang Robert Rodriguez. Banyak orang malah terkejut ketika bandrolnya di film-film indie pengikut gaya Quentin Tarantino bisa menghasilkan film anak-anak penuh fantasi yang fun dan sekaligus seru. Sekuelnya, masih lumayan. Namun usaha Rodriguez meneruskan film ketiganya dengan lebih banyak lagi inovasi, terutama gimmick 3D yang di tahun 2003 itu masih berupa anaglyph 3D yang konvensional, plus penampilan Sylvester Stallone di awal-awal penyelamatan karirnya, sayangnya hanya menuai cercaan dari plot yang tak dikembangkan dengan baik. Sama seperti titelnya, franchise ini pun seakan ‘Game Over’ sampai disitu. Entah mungkin Rodriguez memang seorang bapak yang baik, ia masih mencoba memulai franchise lain berjudul ‘The Adventures Of Sharkboy And Lavagirl’ atas ide-ide anak-anaknya di tahun 2005, tetap dengan anaglyph 3D, namun hanya bergeming sedikit di perolehan box office. Hingga 5 tahun kemudian mungkin Rodriguez merasa pergantian generasi sudah memungkinkannya melanjutkan franchise ini lagi, dimana tampilan Jessica Alba sebagai agen federal dalam ‘Machete’ menginspirasinya untuk membesut film keempat ‘Spy Kids’. Sekarang, di saat kedigdayaan teknologi 3D sudah jauh berkembang menyentuh teknik digital dan High Definition, Rodriguez pun kembali berinovasi. 3D itu ditambahkannya dengan teknik yang disebutnya sebagai 4D Aromascope, yang dilengkapi dengan kartu tambahan yang bila digosok akan menimbulkan aroma dan merupakan pengembangan dari inovasi ‘Smell-O-Vision’ di era ‘60an dan pernah pula digunakan untuk versi terbatas dari sekuel ‘The Rugrats’.

Proyek Spy Kids yang ceritanya sudah dihentikan pemerintah sejak akhir petualangan Carmen (Alexa Vega) dan Juni Cortez (Daryl Sabara) dulu kini kembali membawa dua saudara kembar Rebecca dan Cecil Wilson (Rowan Blanchard & Mason Cook) atas ancaman evil mastermind ‘The Timekeeper’ (Jeremy Piven) yang tengah dihadapi ibu tiri mereka, Marissa Wilson (Jessica Alba) di tengah kelahiran putri pertamanya. Marissa adalah agen rahasia yang selama ini menyembunyikan identitasnya bahkan dari suaminya sendiri, Wilbur Wilson (Joel McHale) yang justru bekerja sebagai presenter acara spy-hunting di televisi. Serangan The Timekeeper yang berniat mencuri waktu di seluruh dunia demi mencapai tujuan pribadinya membuat rahasia itu tak lagi bisa dipertahankan Marissa demi melindungi Rebecca, Cecil dan bayinya yang masih kecil. Awalnya, Carmen yang kini sudah bekerja di satuan intelijen itu ditugaskan Marissa untuk mengawal Rebecca dan Cecil, namun perkenalan mereka dengan proyek ‘Spy Kids’ justru membuat insting petualangan dua bocah ini muncul. Sekarang, bersama Marissa, Carmen bersama Juni dan Wilbur yang belakangan ikut bergabung, mereka harus menghadapi The Timekeeper dan Tick-Tock (juga diperankan Piven) yang merupakan musuh lama Marissa untuk menyelamatkan dunia.

Gadgets, spy family, sedikit paparan hubungan keluarga terhadap karakter-karakter lama Antonio Banderas-Carla Gugino hingga Uncle Machete (Danny Trejo), evil mastermind sebagai seteru mereka, memang tetap dipertahankan sebagai sebagian benang merah yang membuatnya bisa tetap asyik dinikmati penonton dewasa atau yang membawa anak mereka ke bioskop. Namun secara sebaliknya, highlight-highlight dalam pakem franchise ‘Spy Kids’ ini juga jadi bumerang atas plotnya yang mentok dan tak bisa berkembang. Apalagi, dua pemegang kunci kesuksesan sekuel ini, Rowan Blanchard dan Mason Cook tak bisa menghadirkan kharisma yang sama dengan Alexa Vega dan Daryl Sabara dulu. Jeremy Piven yang diserahi peran multikarakternya juga tak bisa membantu dengan tampilan villain-nya yang tetap berkonyol ria bersama suara Ricky Gervais mengisi dialog Argonaut yang kedengaran seperti Russell Brand sekali.  Jessica Alba dan Joel McHale pun jelas-jelas bukan Banderas-Gugino dalam level apapun. Chemistry dan humor-humornya juga sama garingnya. About the aromascope, meski sayangnya di Indonesia tak tersedia di semua teater yang memutarnya, pun kabarnya muncul sebagai gimmick percuma. Minus part-part heartfelt yang masih terbangun dengan baik di dua film pertamanya, elemen-elemen yang tersisa dari sekuel ini hanya pameran gadgets dan adegan aksi childish yang walaupun sudah ditangani dengan teknik 3D digital masih terasa tetap basi seperti franchise-nya. Oke, dalam pandangan berbeda, mungkin tak ada salahnya juga untuk menikmatinya sebagai tontonan ringan bersama seluruh keluarga, apalagi yang belum pernah menyaksikan film-film ‘Spy Kids’ sebelumnya. Semua tergantung ekspektasi Anda, tapi yang jelas, dalam kaitannya sebagai sebuah franchise yang sudah dimulai Rodriguez secara inovatif, ‘Spy Kids : All The Time In The World’ benar-benar terlihat bagaikan aji mumpung yang cukup sia-sia, yang bahkan tak akan dinanti penonton barunya untuk dikembangkan lagi ke sekuel-sekuel selanjutnya. If you’re into the franchise before, I might say beware. You might lose ‘all the time in the world’ watching this one. (dan)

~ by danieldokter on December 16, 2011.

2 Responses to “SPY KIDS 4 : ALL THE TIME IN THE WORLD : AND WAY TO LOSE IT, TOO”

  1. […] Spy Kids 4D: All the Time in the World […]

  2. SPY KIDS KEREN BINGITS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: