7AUM ARIVU (THE SEVENTH SENSE) : KOLLYWOOD’S NEXT BREAKTHROUGH IN SCI-FI MARTIAL ARTS CINEMA

7AUM ARIVU (THE SEVENTH SENSE)

Sutradara : A.R. Murugadoss

Produksi : Red Giant Movies, 2011

Meski masih bernaung di satu negara, perfilman Tamil yang lazim disebut Kollywood, dengan Bollywood sebagai industri nasionalnya, memang seolah punya perang urat syaraf. Diluar kerjasama dalam remake dan dubbing timbal balik (meski perfilman Tamil lebih sering jadi source dengan ide-ide segarnya) dan invasi masing-masing artisnya, ada persaingan yang jelas kelihatan. Lihat saja bagaimana ‘Ra-One’ barusan membalas ‘Enthiran/Robot’ yang lebih awal mendahului mereka dalam teknologi dengan sindiran terhadap karakternya. Oke, satu-satunya film India modern yang masuk ke dalam ‘Time Magazine’s All Time 100 Best Movies’ yang bergengsi itu, ‘Nayagan’ (1987), memang berasal dari Tamil, tapi harus diakui juga bahwa dalam skup internasional, kebanyakan negara lain, termasuk Indonesia, lebih mengenal perfilman Bollywood yang kebanyakan lebih terkesan ‘wah’ terutama dari tampilan aktor-aktrisnya. Dunia pun lebih kenal trio Khan (Salman-Shah Rukh-Aamir) atau Amitabh Bachchan ketimbang dua aktor legendaris mereka, Rajnikanth atau Kamal Haasan. Kecuali segelintir versi dubbing, kita memang tak punya kran impor untuk film-film daerah mereka seperti Malaysia atau Singapura.

And so, perang ini tampaknya masih terus akan berlangsung di wilayah groundbreaking efforts terhadap penggunaan teknologi. Masih belum puas dengan ‘Robot’, mereka kembali mengajak Legacy Effects-nya Stan Winston (‘Terminator’, ‘Aliens’, ‘Jurassic Park’ hingga ‘Avatar’) dalam racikan efek spesial di film yang plotnya digagas secara kontroversial oleh penulis/sutradara A.R. Murugadoss, sineas yang sebelumnya sukses mengadaptasi lepas ‘Memento’ ke ‘Ghajini’ hingga berlanjut ke remake Bollywood-nya. Hasilnya, ‘7aum Arivu’ (dalam bahasa Inggris; ‘The Seventh Sense’) ini pun menuai kontroversi dan tuduhan. Tak hanya dituding Bollywood menjiplak ‘Chandni Chowk To China’, martial arts internasional Bollywood pertama namun tak punya sisi sci-fi yang kental di dalamnya, game ‘Assassin’s Creed’ hingga yang lebih parah, dari segi historikal dengan memberikan atribut tamil ke tokoh legendaris ‘Bodhidharma’, pendeta Buddha yang dari legenda Cina-nya merupakan penggagas awal biara Shaolin. Sah saja sebenarnya, secara sebagian kita juga percaya bahwa Pandawa Lima dan tokoh-tokoh pewayangan berasal dari Jawa padahal ada dengan nama sama dalam sejarah India. Ekspedisi mereka ke berbagai negara mungkin menimbulkan persepsi asal yang berbeda dalam mengembangkan suatu kepercayaan, tapi mari tak berdebat soal itu. This is only a movie. Yang jelas, ‘7aum Arivu’ sudah memulai genre baru dalam perfilman mereka, dan dengan kerja tim Stan Winston plus pemeran antagonis yang diimpor dari Vietnam, Johnny Tri Nguyen, yang belum lama ini cukup menggebrak lewat ‘The Rebel’, wrapping keseluruhannya jadi sangat spesial. Pemeran lokalnya pun aktor nomor satu sekarang di industri film Tamil, Surya Sivakumar (known as Surya) yang juga tampil dalam ‘Ghajini’ versi asli dan Shruti Haasan. Yang terakhir ini merupakan putri dari pernikahan aktor legendaris mereka, Kamal Haasan dengan aktris Bollywood Sarika, yang agaknya bukan sekedar aji mumpung tapi punya potensi besar baik di akting maupun tampilan fisik dengan kecantikan mirip seperti ibunya. Peredarannya yang menyambut Hari Raya Deepavali barusan semakin menekankannya sebagai sebuah blockbuster. Here’s the plot.

Dimulai dari gambaran kehidupan masa lalu Bodhidharma (Surya) yang dijelaskan sebagai putra raja dari Dinasti Pallava dengan kemampuan medis tradisional serta beladiri tinggi. Ekspedisinya ke Cina awalnya dimaksudkan untuk membantu wabah pandemik yang sedang berlangsung disana dan mencegahnya masuk ke India. Dalam sekejap, Bodhidharma dipuja oleh rakyat Cina atas usahanya mengobati penduduk dengan ramuan-ramuan bahkan melawan perusuh-perusuh yang meresahkan banyak daerah disana. Bodhidharma pun lantas mulai menyebarkan aliran Buddhism-nya baik dalam pengobatan tradisional, beladiri Shaolin serta hipnotis. Namun kepercayaan sebagian pihak untuk menguburkan mayatnya sebagai penangkal serangan wabah membuat Bodhidharma menerima nasibnya setelah makanannya diracuni. Ia merelakan diri menyelamatkan mereka demi penyebaran alirannya, dengan sebuah ramalan di masa depan.

Kini di masa depan, sebuah organisasi teroris di Cina menggunakan jasa Dong Lee (Johnny Tri Nguyen) yang menguasai teknik beladiri dan hipnotisme Bodhidharma untuk menyebar teror biokimia dibalik nama ‘Operation Red’ ke India. Virus yang sama dengan wabah masa lalu itu direkayasa ulang dan disuntikkan ke anjing-anjing jalanan di Chennai, India, untuk menularkannya pada seluruh masyarakat. Di saat yang sama, seorang mahasiswi jurusan rekayasa genetik tingkat akhir, Subha Srinivasan (Shruti Haasan) tengah meneliti sample DNA keturunan Bodhidharma yang dipercayanya bisa membangkitkan kembali sang pendeta. Pencarian Subha mengarah pada Aravind (Surya) yang bekerja di sebuah sirkus dan masih memegang garis keturunan Bodhidharma. Satu-satunya profesor yang mendukung penelitian Subha ternyata merupakan kontak Dong Lee untuk melaksanakan teror itu. Mengetahui potensi Aravind dan Subha sebagai penghalang, Dong Lee pun melakukan segala cara untuk membunuh mereka berikut tim rekan-rekan Subha. Namun Aravind yang sadar akan garis keturunannya juga siap sekali lagi menempuh takdir seperti leluhurnya, mencegah virus itu menyebar ke seluruh India, bahkan dunia.

Intriguing, namun film India, sayangnya tetaplah seperti kebanyakan. Ketimbang mencoba beranjak seperti beberapa yang sudah mulai makin menyeimbangkan inovasi di sana-sini, sebagian lagi masih berklasik-klasik ria dengan ciri khas mereka termasuk di tampilan lagu dan dance, serta part romance dan komedi yang seakan tabu untuk dibuang. Konsep plot yang menggabungkan sci-fi medis modern dan martial arts seru ala Asia plus pesan moral untuk menghargai sejarah leluhur ini sayangnya juga belum mau beranjak dari pakem klasik tadi, secara Murugadoss, meski diakui unggul dari racikan plot yang kreatif comot sana-sini hingga jadi kelihatan baru dan di satu sisi punya style yang mementingkan keindahan shot dari para sinematografernya, memang bukan sutradara serba arthouse, tapi tetap di ranah blockbuster komersil. Paling tidak, satu yang paling menonjol dalam film-filmnya sehingga membuatnya cukup kredibel adalah kehandalannya menguasai set dengan detil. Film-filmnya hampir selalu menampilkan adegan di tengah hiruk-pikuk masyarakat yang lalu-lalang sebagaimana penduduk India yang super padat, namun tak lantas kehilangan detil-detil figuran yang tampil wajar.

Jadi ketika pakem klasik itu masih muncul, mau sedemikian hebat pun penggarapnya, tak usah heran ketika seusai bagian pembuka yang tampil penuh kecermatan dari set di Cina dengan bahasa aslinya kemudian melorot kembali ke tampilan romance comedy serba cheesy ala film India, lengkap pula memakai pelawak dengan cacat fisik bertubuh cebol. Benang merahnya memang tak hilang sambil memperkenalkan satu persatu karakternya. Okelah, lagu-lagu dan dance serba cantik yang dibesut di Phi Phi Beach, Thailand itu memang menarik, mostly untuk semakin memperkenalkan Shruti yang memang cantik ini ke layar lebar mereka, namun bagian tak begitu diperlukan yang melorot sedikit kelewat panjang hingga melewati intermission, mau tak mau menurunkan intensitas plot utamanya dalam gambaran sci-fi dan martial arts itu, apalagi dengan Surya yang terlalu asyik berkomedi dibalik posturnya yang gede.

Bisa jadi juga, Murugadoss memang menyadari bahwa ia hanya memiliki tiga bagian paling unggul untuk menjadikan film ini kelihatan lain dari yang lain diluar 15 menit adegan pembuka itu untuk benar-benar dijadikan sebagai pamungkas yang dahsyat. So if only you could stand over one hours of rom-com, barulah ‘7aum Arivum’ menunjukkan kehebatannya, dimulai dari adegan ‘street chaos’ dengan serangan mobil dan motor melayang-layang hasil kerja tim Stan Winston, sedikit deskriptif medis mutakhir yang meskipun mengkhayal tapi sah-sah saja sebagai sisipan sci-fi yang bisa seolah akurat dengan set cukup detil, ke adegan full contact Surya-Johnny Tri Nguyen hasil kerja stunt/fighting choreography Peter Hayne, sineas berdarah Vietnam yang juga membesut koreografi ‘Ghajini’ dan ‘Robot’, yang tampil cukup seru. Mungkin durasinya masih tak sepanjang gelaran mereka dalam ‘Robot’, dan tak juga semulus serta se-rapi itu dalam usahanya yang terasa kelewat bombastis, namun gabungan dari efek spesial adegan aksi, sci-fi dengan martial arts yang menunjukkan jelas-jelas kehandalan Nguyen beraksi plus six-packnya Surya di deretan klimaks itu tak salah juga diacungi jempol. ‘7aum Arivu’ mungkin belum lagi bisa dikatakan benar-benar berhasil atas kombinasi plot gado-gado yang kelewat berpanjang-panjang di pakem klasik film India. Hasil perolehan box officenya pun belum bisa menyaingi ‘Robot’. Namun secara keseluruhan, ini adalah satu lagi ground-breaking effort dari perfilman mereka yang terasa makin dahsyat karena datangnya justru dari Kollywood, bukan Bollywood. Bukan tak mungkin dalam waktu dekat Bollywood akan ikut-ikutan latah seperti ‘Ra-One’ atas ‘Robot’ tempo hari, bisa saja dengan Salman Khan yang juga sama-sama sixpack dan handal di adegan-adegan full contact. Yang jadi pertanyaan sekarang, dalam konteks tematik yang melangkah ke wilayah dan genre baru, ‘Kapan ya sinema kita bisa begini?’ (dan)

~ by danieldokter on December 19, 2011.

2 Responses to “7AUM ARIVU (THE SEVENTH SENSE) : KOLLYWOOD’S NEXT BREAKTHROUGH IN SCI-FI MARTIAL ARTS CINEMA”

  1. […] 7aum Arivu (The Seventh Sense) (Tamil) […]

  2. […] lokal yang berbasis di Hyderabad yang juga sebelumnya sudah membesut efek spesial tambahan dalam ‘7 Aum Arivu’, sci-fi martial arts Tamil serta ‘Ghajini’-nya Aamir Khan. Dengan supervisi dari Pete […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: