UMMI AMINAH : REALITY BITES, WITH A GOOD HEART

UMMI AMINAH

Sutradara : Aditya Gumay

Produksi : MVP Pictures, 2011

Jauh dibalik karya-karya bagus yang menjual kelebihan sinematis, kita punya seorang sineas yang jadi spesial lewat sebuah kesederhanaan. Aditya Gumay, bersama kolaborasinya dengan Adenin Adlan, yang sudah menyuguhkan kita ‘Emak Ingin Naik Haji’ dan ‘Rumah Tanpa Jendela’, memang tak pernah muluk-muluk menyampaikan pesan yang pretensius. Film-filmnya hadir dengan konsep down to earth yang jelas, dengan satu ciri lain yang juga menyeruak sama kuat. Sebuah niat baik tanpa bangunan hitam putih penuh penghakiman. Aditya yang sejak dulu sudah muncul dengan kesederhanaan yang sama dengan ‘Lenong Bocah’ dan sanggar seni yang menjaring bakat-bakat belia selalu punya premis simpel, polos, dan straightly, membuat kita jatuh hati. Anda boleh saja menganggap pesan moral apalagi reliji dalam tampilan film itu sesuatu yang konyol, tapi kala hati kita bisa tersentuh lewat gelaran adegannya, di dalam sebuah konsep sinematis, that’s right. Sesekali, kita perlu itu. Dan lagi, di karya terbarunya, Aditya berkomunikasi dengan kesederhanaan tadi. Lewat karakter-karakter yang dibangun seolah orang-orang terdekat kita. Ibu, Ayah, Kakak, Adik, Keluarga. Ia memang membangun konfliknya di ranah klise, bahkan sudah sejuta kali kita lihat lewat sinetron. Tapi senjata down to earth dengan sebuah niat baik, bisa jadi membuatnya berlipat-lipat jadi menarik. Dan tak perduli betapa relijinya tampil dalam satu kepercayaan, tontonannya jadi sesuatu yang universal.

Sebagai seorang ustadzah yang punya jamaah setia, Ummi Aminah (Nani Wijaya) tak luput dari masalah pribadi. Khotbah dan ceramahnya mungkin selalu memberikan kebaikan, namun, ia dan keluarganya, semua adalah manusia-manusia biasa. Setelah bercerai dengan suami pertamanya yang kurang baik, Abah (Rasyid Karim), suami keduanya, selalu mendukungnya bersama sahabat Ummi yang setia mendampinginya (Atie Kanser). Namun ambisi Abah untuk melebarkan bisnis kontrakan kerap membuatnya tersandung. Dua anak dari suami pertama Ummi, Umar (Gatot Brajamusti) adalah seorang pengusaha sukses, namun sang istri, Risma (Yessy Gusman), tak pernah cocok dengan keluarganya. Dan Aisyah (Cahya Kamila) hidup serba sederhana dengan Hasan (Budi Chaerul). Anak-anaknya dari Abah pun sama. Zarika (Paramitha Rusady), karyawati ambisius yang belum punya pasangan di usianya yang seharusnya pantas, tergelincir dalam sebuah perselingkuhan dengan rekan kerjanya, Ivan (Temmy Rahadi). Zainal (Ali Zainal), tamatan D3 yang sudah menikah dan tengah menunggu kelahiran anak keduanya dengan Rini (Revalina S. Temat) tak punya kerjaan layak selain jadi supir pribadi Ummi dan masih tinggal seatap dengannya. Zubaidah (Genta Windi) lain lagi. Selain fisiknya tak secantik saudara-saudaranya, kecerdasannya juga sama. Ia memimpikan posisi asisten pribadi Ummi yang dipegang sang adik, Ziah (Zee Zee Shahab), lulusan sarjana yang cantik. Kerjanya sehari-hari cuma menyambangi seorang anak kos di dekat rumahnya. Yang terakhir, Zidan (Ruben Onsu), malah punya masalah dengan gender dan berwiraswasta dengan salon kontrakannya. Problem Zidan tak pernah bisa diterima oleh Abah. Masalah-masalah ini memuncak kala perselingkuhan Zarika mulai dibuka di jejaring sosial atas status public figure Ummi, sementara Zainal yang baru mulai sukses dengan usaha dagangnya terjebak dalam masalah narkoba oleh ulah rekannya. Ummi pun kehilangan pegangan saat jemaahnya mulai meninggalkannya. Namun di saat terjerembab ke dasar paling dalam pun, harus masih ada sepenggal rasa syukur yang tersisa saat kita masih punya satu hal yang sepatutnya jadi harta paling berharga. Keluarga.

Ah ya. ‘Ummi Aminah‘ memang meletakkan dasar segalanya di atas ranah yang sangat klise, yang sehari-hari sudah kita cicipi lewat sinetron. Tanpa perlu sinematografi serba mencolok juga. Semua minimalis. Namun ini juga adalah sebuah gambaran kenyataan atas borok-borok yang ada di sekitar kita sebagai manusia. Bahwa tampilan cantik di depan tak selalu sama dengan apa yang ada dibaliknya. Khilaf, naif, munafik, ketololan yang selalu didasari niat di balik harapan akan sebuah status sosial, sebaliknya, tampil apa adanya tanpa berusaha dilebih-lebihkan oleh Adenin Adlan yang menulis ceritanya bersama Aditya. Konfliknya memang sudah seperti makan nasi ala film kita, dimana sebuah penderitaan muncul bak sudah jatuh tertimpa tangga, tak jauh pula dari masalah selingkuh-selingkuh, narkoba dan masalah rumahtangga. Namun reaksinya sama sekali tak digagas kebanyakan secara berlebihan jadi rengekan penuh air mata, dimana penerjemahan emosinya muncul cukup pas di akting masing-masing pendukung yang menyiratkan harapan bahkan sempalan humor miris di sela konflik tadi. Aa Gatot dan Yessy Gusman, nama terakhir yang sempat jadi idola film remaja jadul kita dan lama sudah tak muncul, mungkin sedikit agak kaku, namun penampilan natural pemeran lainnya bisa menutupi satu sama lain disamping Nani Wijaya dan Rasyid Karim yang paling berkilau disini. Ekspresi kesedihan, akting emosional hingga tetesan air mata atas reaksi-reaksi yang terbangun dalam plotnya muncul dengan wajar, seperti hidup itu sendiri sehari-hari. And that’s why, walaupun beberapa klise tetap tersisa, you’ll be moved with it. Ikut tertawa, merengut, jatuh hati bahkan tersentuh dan meneteskan airmata bersama gelaran konflik yang digelar Aditya dan Adenin. Score dari Adam S. Permana dan soundtrack besutan Opick pun muncul sesuai porsinya, dan sebagai catatan tambahan, ending yang terasa silent namun memunculkan persepsi beda-beda atas semua pesan penuh hikmah atau sekedar mau tampil beda, itu sesuatu yang berani. Saya tak bicara soal produser di belakangnya, bahwa agaknya tak mengapa juga mencoba membangun konflik di ranah-ranah serba klise itu, tapi kunci membuatnya jadi sebuah sajian yang sangat down to earth, sama seperti film-film Aditya sebelumnya termasuk ‘Lenong Bocah‘ sekali pun, dan ini yang terpenting, sebuah hati yang baik dibaliknya,  itu besar artinya. And the result, could be totally heartwarming. Ini adalah sebuah contoh dimana pesan moral termasuk reliji bisa berjalan bersama sebuah tontonan yang baik dan bisa dinikmati secara universal, and it’s a blessing bahwa film-film Aditya masih belum beranjak dari sana. Trust me on it, go watch it with your loved ones, and hug them as well after that. (dan)

~ by danieldokter on January 7, 2012.

4 Responses to “UMMI AMINAH : REALITY BITES, WITH A GOOD HEART”

  1. wah, bagus banget ya? kalau baca resensi ini, kayaknya film ini keren banget banget. pengin nonton jadinya. kayaknya bisa menang FFI 2012 deh.

  2. Thx atas review film Ummi Aminahnya ya Bang Daniel.

  3. @mudin : yup it’s good. go watch the movie🙂

    @ Adenin Adlan : sama2🙂

  4. […] Ummi Aminah […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: