THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO : A RUTHLESSLY BRILLIANT REMAKE

THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO

Sutradara : David Fincher

Produksi : MGM, Yellow Bird Films, Scott Rudin Productions, Columbia Pictures, 2011

Seperti kekecewaan Niels Arden Oplev, sutradara adaptasi Swedia aslinya,  ‘Män som hatar kvinnor/Men Who Hate Women (2009)’ (dengan judul internasional sama), atas remake Hollywood yang dianggapnya pointless, sebagian yang sudah menyaksikan karya Oplev yang sekalian mengadaptasi tiga novel Stieg Larsson back to back sekaligus dalam tahun yang sama, ’The Millennium Trilogy’, pasti melontarkan pertanyaan yang sama. Apalagi karakternya tetap berlatarbelakang Swedia seperti aslinya, bukan diadaptasi menjadi serba Amerika. Namun begitulah Hollywood. Mungkin sebagai pusat industri film dunia, kebiasaan mereka menikmati film luar belum sebesar penduduk luar AS sehingga me-remake foreign movies yang sukses dalam waktu dekat, mereka anggap biasa saja dan memang perlu bagi pemirsa lokal untuk feel yang lebih akrab. Tahun lalu, baru saja ’Let The Right One In’ yang sama-sama berasal dari Swedia mengalami nasib sama menjadi ’Let Me In’ yang hingga ke pengadeganannya saja terasa bagaikan sebuah copy-paste, as to Indonesians, ’The Raid’ yang segera bakal di-remake padahal sebagian besar kita saja belum menyaksikan aslinya. Ketimbang mendistribusikan produk aslinya sebagai foreign movies, mereka memilih perombakan ke produk asli mereka. But still, nama David Fincher di kursi sutradara membuat kita sedikit sulit untuk tak setuju. Apalagi setelah kemudian tampilan promonya yang menyajikan bentuk karakternya dengan mantap di tangan Rooney Mara dan Daniel Craig. Mari menganggapnya sah-sah saja. Beda-beda sedikit, itu biasa, dan membandingkan satu adaptasi ke adaptasi yang lain, kadang justru lebih asyik, apalagi kalau pendalamannya jadi lebih menarik. Buktinya lagi, remake ini banyak mendapat pujian bahkan sebagian elemennya bertengger di nominasi-nominasi award bergengsi. After all, Fincher bersama penulis skenario Steven Zaillian yang berkualitas Oscar tak lantas membuatnya jadi Hollywood-friendly, tapi tetap setia pada feel novel serta adaptasi film aslinya. So yes, this is interesting.

Mikael Blomkvist (Daniel Craig), co-owner dan publisher majalah Millennium baru saja kalah dalam kasusnya melawan taipan licik Wennerström dan harus menyiapkan uang dalam jumlah besar untuk ganti rugi. Mau tak mau ia terpaksa menerima tawaran pekerjaan dari Henrik Vanger (Christopher Plummer), pensiunan CEO Vanger Industries untuk menulis memoir serta menyelidiki keberadaan cucu kesayangannya yang hilang dalam sebuah kasus pembunuhan keponakannya, Harriet, 40 tahun yang silam, yang dipercayanya dibunuh oleh seorang anggota keluarga juga.  Tak hanya dijanjikan honor besar, Henrik bersama CEO baru, keponakan lainnya, Martin Vanger (Stellan Skarsgård) juga bersedia membantu investasi Millennium yang berada di ambang kebangkrutan serta memberi info lebih jauh tentang Wennerström yang dulunya bekerja di Vanger Industries. Melalui pengacara Henrik, Dirch Frode (Steven Berkoff), latarbelakang Blomkvist diselidiki oleh hacker informan Lisbeth Salander (Rooney Mara). Salander, cewek eksentrik biseksual yang menghabiskan sebagian hidupnya di jalanan ini juga punya kasus terhadap status sosial, mental serta finansialnya yang ditanggungjawabi pengawas legalnya, Nils Bjurman (Yorick van Wageningen) setelah pengawas lamanya jatuh sakit. Pasalnya, Bjurman mengambil kesempatan ini untuk kerap melakukan pelecehan seksual pada Salander yang tak bisa menolak. Blomkvist yang melalui penyelidikannya terhadap semua keluarga Vanger yang masih hidup, termasuk Martin dan dua sepupu Harriet, Cecila (Geraldine James) dan Anita (Joely Richardson) menemukan buku harian Harriet yang berisi nama 5 wanita dengan 5 digit nomor yang kemudian diketahuinya berhubungan dengan kitab Imamat (Book of Leviticus) dalam Alkitab. Atas rekomendasi Frode, Ia pun lantas memaksa Salander yang diketahuinya meng-hack komputernya untuk bekerjasama, namun saat Henrik meninggal, ancaman-ancaman dari keluarga Vanger mulai datang untuk menghentikan penyelidikan itu. Semakin merasa penasaran, Blomkvist dan Salander tetap meneruskan investigasi mereka, tanpa menyadari semakin dalam mereka masuk ke dalam rahasia keluarga Vanger, semakin bahaya juga resikonya bagi nyawa mereka.

Apa sih yang membuat novel thriller Larsson menjadi best seller di banyak negara Eropa termasuk AS sekaligus adaptasi film Swedia yang juga dirilis secara internasional itu jadi sebuah karya yang remarkable? Let’s take a deep look, bahwa kekuatan terbesar dalam kisah petualangan Blomkvist dan Salander ini terletak pada keunikan dua karakter sentral tadi. Larsson pun sebenarnya sudah menyiapkan novel keempat bagi karakter ini namun tak selesai karena ia keburu meninggal di tahun 2004 bahkan sebelum novel ’The Millennium Trilogy’ dipublikasi. Latar belakang kebebasan remaja termasuk seksual di Swedia dan pengaruh novel-novel kriminal bagi Larsson membuat bangunan karakter serta konfliknya jadi leluasa untuk tampil sebagai gebrakan yang serba baru dan berani dibalik kegelapan rata-rata alurnya. Dan Blomkvist serta Salander bukanlah sesosok detektif yang berada di jalur hukum seperti Hercule Poirot atau Miss Marple-nya Agatha Christie. Bukan agen rahasia ala James Bond, hero atau heroine, bahkan bukan petualang ala Indiana Jones. Keduanya adalah antihero yang kadang terlihat naif bagaikan orang kurang kerjaan, namun justru disana orisinalitas bangunannya teruji, dan chemistrynya bisa terjalin dengan unik dibalik stempel-stempel negatif yang justru jadi terasa lebih membumi. Seks dan kekerasan pun tak lantas muncul sebagai motivasi dibalik kisah cinta atau criminal mastermind canggih, namun cukup sebagai kebutuhan dan paham-paham lain yang sama manusiawinya.

And so, ini dibaca dengan baik sekali oleh Fincher dan Zaillian yang memang sudah teruji mengakses ranah-ranah serba dark dalam karya-karya mereka. Dimana human nature atau sebuah basic instinct jadi dasar konflik yang kemudian menggunung, bangunan karakter Blomkvist dan Salander beserta chemistry nya justru jadi sangat jitu melebihi film Swedia aslinya. Mereka jadi benar-benar leluasa untuk mengeksplorasi lagi karakter-karakter miring ini semakin dalam, dan inilah hasilnya. Oke, despite banyaknya pujian untuk transformasi Mara menyelami karakter Salander yang eerie dan haunting, patokannya tak bergerak jauh dari penampilan Noomi Rapace yang terlihat lebih tangguh secara alami. Entahlah kalau memang tampilan nyentrik Salander merupakan nyawa yang begitu menyatu dengan franchise ini, Mara masih sedikit tersandung dengan tone suaranya yang lebih wanita dan lebih halus, namun bukan berarti transformasi itu tak bagus. As Craig, berhasil memberi penekanan yang berbeda dan sedikit lebih santai ketimbang Michael Niqvist di adaptasi Swedianya, berikut eksplorasi hubungannya yang lebih diperjelas dengan karakter Erika Berger (disini diperankan Robin Wright) membuat karakter itu jadi makin hidup lagi. Dan disini juga mungkin fungsi remake itu akan selangkah jadi lebih penting, karena karakter-karakter pendukungnya hampir semua sudah lebih akrab dengan para penonton kebanyakan dibandingkan film Swedia aslinya, termasuk Stellan Skarsgård yang jelas sudah lebih dulu go international sebagai aktor asli Swedia, Julian Sands, Berkoff, Plummer hingga Joely Richardson. Kekuatan akting masing-masing dengan adaptasi Swedianya mungkin tak jauh beda, dalam arti semuanya tampil dengan baik, tapi wajah-wajah yang dikenal akan membuat feel menikmatinya jadi jauh terasa lebih nyaman. So be it. Ini memang tetap produk Hollywood yang terasa jauh lebih friendly namun tak lantas jadi kelewat mainstream berkat style Fincher, dan jadi makin bagus lagi dengan score dan soundtrack besutan Trent Reznor-Atticus Ross, dua nama yang sudah menunjukkan kedahsyatan kolaborasi mereka dalam ‘The Social Network’. Here I’ll give you some tips not to missed the opening credits dengan tampilan mirip credit title James Bond dibalik recycled ‘The Immigrant Song’-nya Led Zeppelin oleh Reznor, Ross feat Karen O, dan masih ada satu lagi, ‘Is Your Love Strong Enough?’-nya Bryan Ferry yang dibawakan band kolaborasi Reznor dan Ross, How To Destroy Angels di end creditsnya. Make it a must-see companion untuk semakin meyakinkan Anda, no matter sebagian penonton awam mungkin menganggap film ini sedikit menjemukan, bahwa ‘The Girl With The Dragon Tattoo’ versi Hollywood ini adalah sebuah remake yang tak hanya layak, tapi sama dahsyatnya. Evil shall with evil be expelled, and let the sequels come soon! (dan)

~ by danieldokter on January 8, 2012.

3 Responses to “THE GIRL WITH THE DRAGON TATTOO : A RUTHLESSLY BRILLIANT REMAKE”

  1. Belum pernah nonton baik yang versi swedia maupun yang versi hollywood, tapi karena demen dengan karya-karya david fincher, sepertinya pengen nonton yang versi hollywood sajalah🙂

  2. […] CLOSE – Albert Nobbs VIOLA DAVIS – The Help ROONEY MARA – The Girl With The Dragon Tattoo MERYL STREEP – The Iron Lady MICHELLE WILLIAMS – My Week with […]

  3. […] The Girl With The Dragon Tattoo […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: