XIA AI MEI : (LAGI-LAGI) PEREK DALAM SINEMA KITA

XIA AI MEI

Sutradara : Alyandra

Produksi : Falcon Pictures, 2012

Saya tak mengatakan bahwa pesan moral dalam sebuah film itu salah. Sebagian diantaranya malah jadi makin baik dengan adanya pesan-pesan itu. Yang salah, adalah sinema kita, yang suka sekali mengatasnamakan pesan moral buat sesuatu yang salah kaprah. Tema-tema yang tak pernah beranjak dari pikiran-pikiran ngeres para penulis dan pembuatnya, seringkali mengatasnamakan pesan moral sebagai kedoknya. Dan entah mengapa, mau dimulai dari A, B sampai Z, ujung-ujungnya, tema-tema film kita masih bolak-balik terus ke masalah dan problematika yang sama. Selingkuh. Hamil di luar nikah. Narkoba. Perek. Nah, ‘Xia Ai Mei’ yang boleh dibilang memulai promonya secara cukup ambisius dalam menjual pesan moral itu, punya tema yang terakhir tadi, dalam istilah yang jauh lebih pretensius. Human trafficking.

Lagi, tak ada yang salah dalam penyampaian tema yang terus terang juga, menarik, ini. Dari luar saja ada banyak. ‘The Whistleblower’ barusan, contohnya. Atau dari dalam negeri sendiri, ‘Jakarta Undercover’. Bedanya, film kita sering tak bisa jauh melangkah dari komersialisasi yang sama sekali tak pada tempatnya. Ketimbang menggambarkan realita, polesannya jadi jauh tak masuk akal. Dan sayangnya, ‘Xia Ai Mei’ adalah salah satu diantaranya. Hanya dengan mengganti karakter pereknya, walau sama-sama dari desa terpencil, jadi produk impor, ditambah penggunaan bahasa plus lagu Mandarin, para penggagasnya mengharapkan ini jadi sebuah film yang berbeda. But hey, anyway, sinema kita belum pernah punya film khusus untuk menyambut momen Imlek. No, that’s a joke. Malah barisan pemerannya yang punya paling tidak sebagian darah etnis itu, harusnya bisa lebih sadar. Not just by using the language, then you could get a proper movie to celebrate that special moment. Sama sekali tak begitu. Ini bukan spirit yang baik untuk momennya. Bukan.

Plotnya pun tak kalah klise dari tema yang dipilih. Saya tak mengarang, tapi kalimat ini yang ada di baris pertama sinopsis press releasenya. Jeratan utang keluarga. Ya, jeratan utang keluarga, yang akhirnya membuat seorang gadis dari desa kecil Yangshuo, Guangxi, Cina, bernama Xia Ai Mei (Franda) terjebak dalam sindikat human trafficking berkedok tenaga kerja luarnegeri. Bersama korban lainnya, ia dibawa ke sebuah klub private bernama Le Mansion di Jakarta. Dibawah pimpinan Jack (Ferry Salim), klub ini jadi kedok untuk prostitusi cewek-cewek impor asal Cina dan Uzbekistan. Namanya dirubah menjadi Xi Xi dan mereka dilatih oleh germo bernama Nancy (Olga Lydia), tangan kanan Jack. Usaha Xi Xi melarikan diri ketika dijual pada seorang bos mafia membawanya pada AJ Park (Samuel Rizal), kameramen asosiasi kelautan internasional berdarah Korea yang menemani sahabat-sahabatnya plesiran ke Le Mansion. Park pun berusaha menyelamatkan Xi Xi, yang entah dengan ketololan apa, memutuskan kembali ke sarang penyamun itu demi mengambil kembali paspornya yang tertinggal. Kidding me, right?

Nope, saya tak akan mempermasalahkan kontroversi dari beberapa perkumpulan yang merasa terhina dengan film ini bahkan sebelum peredarannya, yang sebagian terkait produk menyambut Imlek yang salah kaprah itu. Tidak juga soal dialek-dialek daerah pedalaman Cina yang dianggap tak pas, atau juga penggambaran daerah asal di Guangxi yang walau (katanya) setnya asli namun tak seperti realita yang ada dimana cewek-cewek impor ini lebih banyak berasal dari wilayah-wilayah Cina yang lain. Walau saya juga tak setuju kalau film bertema seperti ini jadi sajian khusus menyambut Imlek, terserah merekalah dengan kesadaran etnisnya masing-masing. Mari bicara soal keberadaanya sebagai sebuah produk bernama film. Salahnya, dari awal setelah opening sequence yang sedikit berbeda dengan penggunaan bahasa Mandarin yang jarang atau malah belum pernah ada di sinema kita, ‘Xia Ai Mei’ terjebak dalam gambaran serba tak natural dan plot asal jadi itu. Set klub yang dibesut sedemikian rupa jadi over dengan karakter-karakter miring Ferry Salim dan Olga Lydia yang juga sama overactingnya dengan picingan mata, memonyongkan mulut  dan sinetronisme-sinetronisme lain, plus para bodyguard dan bos mafia yang berlagak algojo semaksimal mungkin dengan menjual muka seramnya.

Oke, Shareefa Danish mungkin masih berakting cukup wajar berikut Norman Kamaru yang berperan sebagai intel imigrasi. Gesturnya menggenggam senjata dan beraksi dalam penggerebekan serba telat ala film kita itu cukup baik tapi tak terlalu spesial juga mengingat latar aslinya memang dari wilayah sana. Samuel Rizal bermain sesantai biasanya namun jadi tak pas dengan karakternya, sementara Gilang Dirgahari yang kelihatan sekali disiapkan sebagai highlight untuk memancing kelucuan malah sering beraksi secara searah. Dan jualan utamanya, Franda, yang memang punya tampilan sangat menjual dengan kaki jenjangnya yang dipampangkan secara tunggal di promonya, kelihatan seolah tak berakting sama sekali. Selain tak banyak diserahi dialog, ia hanya jadi seolah manekin tak bernyawa yang diseret kesana kemari di sepanjang film. Tapi itulah sinema kita. Jauh dibalik skenario dan plot serba tak masuk akal itu, nama-nama besar serta punya daya jual yang ada di dalamnya malah seperti mencoba menampilkan akting terbaik dalam karir mereka, termasuk Franda yang kabarnya sampai kursus bahasa Mandarin untuk prolog serta epilog hambar itu. So oh my god. Saya lagi-lagi jadi berpikir seberharga apa pesan moral yang katanya sangat penuh dengan niat untuk menggambarkan realita human trafficking dalam promo-promonya itu, karena hanya dengan membaca berita atau menonton televisi saja, kita semua sudah tahu kok adanya fenomena human trafficking seperti ini. Biar tak vulgar,‘Xia Ai Mei’ tak ada bedanya dengan film-film Filipina jadul yang rata-rata berplot dan berkualitas sama dengan kebanyakan film sejenis kita tahun 70-80an. Cewek terjerat utang keluarga, datang atau dijual ke dunia malam di kota, mencoba keluar tapi berakhir lain. Bedanya, mereka sudah bisa moved on . Bahkan Thailand, dimana prostitusi dalam berbagai bentuk jadi komoditi wisata, tak juga tertarik menyelami tema-tema seperti ini. Tapi sinema kita masih memanfaatkannya seperti makanan sehari-hari, lebih dari kuntilanak atau pocong-pocongan. Have a heart, guys. Have a heart. (dan)

~ by danieldokter on January 16, 2012.

4 Responses to “XIA AI MEI : (LAGI-LAGI) PEREK DALAM SINEMA KITA”

  1. Namanya juga film…..Ngak masalah….Temanya apapun….Tapi yang penting aktingnya harus benar benar serius….Baguuuuus filmnya……Smoga….Lariiiis filmnya….Banyak odeonnya…….

  2. Anda sendiri, should have a heart. Mengomentari film tentang perdagangan perempuan dgn bahasa kasar seperti “perek” dan cercaan2 sepanjang teks,sungguh tak punya hati!

  3. well i dont suppose ‘perek’ adalah istilah kasar. that’s an acronyme dari ‘perempuan eksperimen’, kalau Anda tahu darimana bahasa itu datang di medio tahun 80an. bahasa baku sekali, sama seperti PSK. yg kasar itu satunya lagi, you know which one. The thing is, ada cara yg baik untuk menggambarkan situasi perdagangan wanita tanpa pola klise yg tak harus nyenggol-nyenggol thriller dan action yang dipaksakan, dgn eksekusi asal2an serta vulgar pula dlm memberi kesan bodoh terhadap kaum wanita. And however, perkumpulan etnis-nya sendiri juga melayangkan protes krn merasa terhina. So who’s the one having no heart?🙂

  4. […] Xia Ai Mei […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: