PARANORMAL ACTIVITY 3 : NEW LEVEL OF SCARE

PARANORMAL ACTIVITY 3

Sutradara : Henry Joost & Ariel Schulman

Produksi : Blumhouse Production & Paramount Pictures, 2011

Horor memang sebuah trend yang tak pernah mati. Dan pergerakannya sedikit berbeda dengan genre-genre lain. Selagi action dan science fiction berlomba dengan teknologi atau malah mencoba back to basic, thriller-thriller sibuk membongkar pasang twistnya, genre ini kerap berinovasi lebih variatif. Dan ‘found footage horror’ sebagai subgenre yang dipilih ‘Paranormal Activity’ yang sudah berkembang menjadi franchise harta karun Hollywood ini, memang bukan juga jadi inovasi pembuka. ‘Cannibal Holocaust’ atau ‘The Blair Witch Project’ yang sudah mengobarkan trend genre sejenis, sudah sejak lama memulainya. Namun ‘Paranormal Activity’ menjadi spesial dengan kamera yang menyeruak penuh jadi pemeran utamanya. Seringkali, ia tak bergerak secara handheld bersama pemeran-pemerannya, tapi dibiarkan membangun saksi visual yang membuat kita bergidik sejak film pertama.

Keunikan itu berlanjut ke sekuel yang mulai membangun benang merah plot serta karakterisasinya, sambil sesekali memasukkan unsur-unsur klasik seperti bayi atau anak-anak dalam tendensi menakut-nakuti penontonnya tanpa perlu tampilan hantu penuh make-up dan sejenisnya. Sekuel itu masih tetap menyeramkan, hingga kala film ketiganya mulai dipromosikan, walau sebagian dengan skeptis menuduhnya sebagai keterkungkungan ide, kita pun tambah penasaran. Apa lagi inovasi mereka setelah film kedua dan sebuah spinoff-likenya, ‘Paranormal Activity : Tokyo Night’ yang konsepnya tak jauh beda dengan sang pendahulu? Oh yeah. Ini tak seperti rata-rata franchise horor yang mulai dengan unik namun kehilangan tajinya melewati film kedua. Mereka punya senjata ampuh untuk kelanjutannya. Konsepnya tak berubah, tapi inovasi untuk melebarkan bingkai puzzle itu makin luarbiasa. Dan mereka tak melupakan alasan terpenting orang-orang datang ke bioskop menyaksikan sebuah film horor. They’ll scare the shit out of you even more until you got yourself in the edge of your seat. Boo! Even more.

Di instalmen ketiga ini kita dibawa kembali ke tahun 1988, kala Katie dan Kristi kecil (Chloe Csengery & Jessica Tyler Brown) masih tinggal bersama ibu mereka, Julie (Lauren Bittner) dan pacarnya Dennis (Chris Smith), yang pastinya juga hobi bermain-main dengan kamera video. Dengan premis sama, strange things happened in the house, mereka mulai mendengar suara-suara diikuti kejadian aneh, dan Kristi, kerap berinteraksi dengan teman imajinernya yang bernama Toby. Dennis mulai mengawasi tiap menit segala sudut rumahnya dengan kamera video yang dikaitkannya ke badan kipas angin. And you know what happpened next. Like the tagline said, ‘Discover How The Activity Began’.

Treatment prekuel yang semakin membuka celah-celah tak terjawab di dua film sebelumnya kini digagas oleh duo Henry Joost dan Ariel Schulman dari ‘Catfish (2010)’, dokumenter tentang facebook social networking yang banyak menarik perhatian penonton tahun lalu. Oren Peli, kreatornya, tetap mengawasi dari kursi produser. Ini membuat instalmen ketiga ini mau tak mau mulai berjalan bersama dengan sebuah plot dalam porsi semakin besar dibandingkan dua film pendahulunya. Resikonya, mungkin style ‘found footage’nya tak lagi terlihat mengejutkan, sama dengan ending yang tak bakal lagi meninggalkan kita terperangah atas susunan puzzle yang jadi makin terbuka hingga terasa predictable, namun bukan berarti atmosfer seramdi sepanjang filmnya jadi sama berkurang. Semua masih terlihat hadir dengan konsep serupa. Oke, mungkin makhluk halus itu jadi lebih banci tampil meski bukan berwujud secara visual, tapi ini justru jadi kekuatan tak terduga dari ‘Paranormal Activity 3’ bersama moving video camera yang sangat-sangat juara dibalik segala keunikannya.

Level seram dan mengejutkannya meningkat dari sekedar creepy menjadi kecenderungan penonton buat berteriak-teriak di dalam bioskop, dan ini, terus terang, semakin asyik. Para pemeran pendukungnya juga makin juara tampil dengan kewajaran penuh yang tetap terjaga. Kalau saja para juri-juri penilai tak menutup mata terhadap akting-akting santai yang wajar model begini, mereka-mereka ini sebenarnya layak diganjar award atas keunikan akting di tengah atmosfer seolah realistis itu. Joost dan Schulman seakan hampir tak memberi jeda bagi kita buat menahan nafas dengan putaran detik dan menit tiap rekaman bergerak itu dari satu scene ke scene lainnya. So it depends. Anda boleh saja lebih menyukai pengembangan konsep sebelumnya dengan sisi blur dari plotnya yang lebih banyak tersisa, terlebih dengan eksekusi ending yang makin meninggalkan kesan-kesan ‘found footage’ ke sesuatu yang lebih terlihat sebagai horor normal itu. But let’s admit. Ketika mereka berhasil tak membuat hantu-hantu itu berwujud tapi kita malah semakin ingin menutup mata saking takutnya, dalam terms horror, itu adalah sebuah kesuksesan luarbiasa. Apapun alasannya, ‘Paranormal Activity’ akan tetap membuat penontonnya meningkatkan kewaspadaannya berlipat-lipat ketika sampai ke rumah masing-masing bahkan mungkin memeriksa tiap sudut ruang dengan fobia berlebih atau trauma melihat cermin dan hasil rekaman kamera video mereka. Whether you like it or not, Joost and Schulman has taken this franchise to a new level of scare. Satu lagi, jangan lupa, bila sesekali terserang gempa, coba tanyakan ke tetangga sekitar apakah mereka juga mengalaminya. Or else, you’re already in deep shit! (dan)

~ by danieldokter on January 17, 2012.

2 Responses to “PARANORMAL ACTIVITY 3 : NEW LEVEL OF SCARE”

  1. […] (SUMBER) […]

  2. […] Paranormal Activity 3 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: