MY LAST LOVE : (LAGI-LAGI) OUR CINEMATIC STUPIDITY

MY LAST LOVE

Sutradara : Nayato Fio Nuala

Produksi : MD Pictures, 2012

Sinema Asia itu identik dengan melodrama. Ada benarnya. Karena belum semaju sinema barat dan tak perlu banyak effort di teknologi? Ah, sebagian dari mereka sudah sepantaran Hollywood kok, tapi ya, ada benarnya juga. Resepnya rata-rata tak berbeda pula. Kalau sudah masuk ke genre lovestory, rata-rata kepahitannya digagas dengan segala macam bentuk penyakit untuk menuju sebuah ending yang tragis. Mau Korea, Thailand, Hongkong atau Indonesia. Yang penting, memancing airmata penontonnya. Mau dibilang meniru juga sebenarnya tak tepat karena tema-tema ini sudah seperti komedi yang dibangun dari kulit pisang atau pintu kaca. Serba lazim. Tapi coba lihat kenapa sinema lain di luar Indonesia bisa tampil lebih baik. Itulah. Ini bukan soal rumput tetangga yang selalu kelihatan jauh lebih hijau, tapi kenyataannya, bedanya ada di otak dan usaha. Entah orang-orang kita memang dari sananya suka sepele dan anggap remeh, ya akhirnya rata-rata penontonnya juga begitu. Pendeknya begini. Untuk sebuah kisah cinta, mereka cukup perlu dua sampai empat karakter yang begitu-begitu saja. 80% tampilannya hanya menangis dan merengek-rengek. Dan untuk gambaran penyakit yang rata-rata berpotensi merenggut nyawa, mostly kanker ini dan kanker itu, mereka cuma perlu hospital bed, selang infus, kadang oksigen atau shot ke mesin pemeriksaan yang sedikit lebih canggih, dua figuran perawat dan satu dokter dengan dialog yang dari dulu sama terus. ’Maaf bu, pak, kita sudah berusaha semaksimal mungkin.’ atau ’Maaf pak, bu, anak Anda positif menderita a, b dan c‘ tanpa perduli istilah lazim ’positif’ itu tak digunakan tenaga medis yang benar buat menyampaikan semua keterangan diagnosis.  ’My Last Love’ yang hadir minggu ini, dari dasarnya sudah punya pola itu. Cinta, dan penyakit, sebagai adaptasi dari novel karya Agnes Davonar yang sebelumnya sudah kita saksikan mulai dari ’Gaby dan Lagunya’, ’Surat Kecil Untuk Tuhan’ sampai ’Ayah, Mengapa Aku Berbeda’. Entah dari novel atau skenarionya, itulah isinya. Ya begitulah. Toh penontonnya rata-rata membanjir. So no matter what, mereka bakal jalan terus.

Hubungan Angel (Donita) dengan Hendra (Ajun Perwira) seketika berantakan kala sebuah kecelakaan merenggut masa depan Angel. Ia dinyatakan lumpuh seumur hidup tanpa opsi oleh karakter dokter dan rumahsakit yang sama jadi-jadiannya, dan Hendra memilih kabur. Pelaku tabrak lari itu, Martin (Evan Sanders), you guess, adalah seorang anak orang kaya yang hidupnya serba nyeleneh di seks bebas, sedikit sempalan persepsi jual-jual anak orang serta bergelimang obat-obatan. Nangkringnya juga seperti biasa, di diskotik hingar-bingar ala visualnya sang sutradara, Nayato Fio Nuala. Tapi ternyata Martin ini masih cukup waras untuk sakit jiwa. Ia dihantui rasa bersalah dan curhat ke temannya yang pengedar. Di diskotik. Awkward. Lantas Angel yang diajak sahabatnya, Nadya (Putri Una Astari) serta saudara sepupunya yang (maunya) lucu dan selalu bicara dengan (maunya) logat Madura, Anton (Jordi Onsu), berlibur ke villanya di gunung, secara ’kebetulan’ bertemu dengan Martin yang ’ternyata’ juga tengah menyepi disana karena rasa bersalah tadi. You know what’s next. Martin, walaupun tampilannya seperti psikopat parah yang matanya melotot terus berseliweran menerawang, akhirnya dekat dengan Angel sambil terus merahasiakan bahwa ia pelaku tabrak larinya. Temannya yang pengedar itu dimintanya playing detective. Jadi informan untuk melacak, ’adakah cara untuk menyembuhkan kelumpuhan Angel?’ hingga akhirnya menemukan seorang dokter (yang katanya) dari Amerika Serikat yang bisa menolong Angel tanpa info lain dari tenaga medis. Hebat. Besok-besok pengedar silahkan buka praktek untuk kasus-kasus yang ngakunya tak bisa ditangani dokter dalam sinema kita. Lalu mulailah muncul keanehan yang sudah ditunjukkan dari sebelum-sebelumnya. Martin yang suka pusing-pusing sambil menggetarkan kepala ala orang dalam fase sisa tripping serta yak, mimisan, itu, akhirnya terdiagnosis ’positif’ (bukan HIV, tapi), kanker otak. Yak, positip, menurut dialog si dokter. Masih kurang? Hendra akhirnya muncul lagi sambil mengaku, ’Aku kabur karena orangtuaku tak setuju dengan keadaanmu’. Begitu kira-kira. Masih kurang lagi? O ya, ada cewek bule yang biasa dipake Martin ’ternyata’ hamil dan kini semakin beringas menuntut tanggung jawabnya. Ya wajarlah kalau Angel dari awal sampai akhir menangis terus, bahkan ketika ia mendadak sontak bisa berjalan di depan Martin yang tengah sekarat sambil terus geleng-geleng kepala.

Begitulah plot itu bergulir dari awal hingga ke akhir tanpa adanya satupun sisi wajar dalam bangunannya. Dan saya tak tahu apakah ini sebuah kebodohan dari sumber mana, lagi-lagi aktor dan aktris kita seakan rela berusaha semaksimal mungkin menampilkan akting yang mereka kira bakal menyaingi kualitas Oscar dengan segala ekspresi dan gestur-gestur tolol yang entah mereka dapat dari saran siapa. Mungkin para pembesutnya berpikir bahwa penonton kita masih semuanya bertaraf jeblok sehingga tak mau pusing dengan hal-hal wajar sejauh airmata mereka bisa dipaksa keluar bersama artisnya. But please. Let me lecture you bahwa tak semudah itu menggambarkan penderita kanker otak hanya dengan geleng-geleng kepala dengan ekspresi psikopat, menggelepar kemudian ambruk sambil mimisan, atau lumpuh seumur hidup hanya dengan satu vonis atau penjelasan. Kalaupun Anda-Anda ini menganggap sebuah survei pada tahapan pre produksi hanya akan memperlambat rencana kejar tayang filmnya di bioskop, ataupun novelnya terlambat dirilis ke pasaran, paling tidak kan bisa bertanya sedikit ketimbang hanya googling-googling dan lantas mengkhayal sambil sok tahu. Dan lagi-lagi, Nayato menunjukkan bahwa visual yang (dianggapnya) artistik ala dia memang berguna sebagai penyelamat terhadap skenario dan plot yang serba jeblok. Mau tak mau saya akan sedikit membenarkan hal itu. Tapi selebihnya, maaf, walau kalian mengaku sudah mengeluarkan usaha maksimal dalam akting dan penggarapannya, this is just another stupidity of our cinema. Mudah-mudahan kalian sesekali mau mencoba berubah dan beranjak dari pola-pola yang sama. Mudah-mudahan. (dan)

~ by danieldokter on January 23, 2012.

3 Responses to “MY LAST LOVE : (LAGI-LAGI) OUR CINEMATIC STUPIDITY”

  1. Bang Daniel, sepertinya ada 2 lapisan yang semakin perlu diedukasi terhadap tontonan yang bermutu. Lapisan pertama insan film dan kedua adalah penonton.

    Sudah lama saya sangat prihatin dengan “pembodohan” terhadap masyarakat melalui film2 sampah. Masyarakat terus dijejali sampah, akibatnya kita akan menuai sampah juga. Ingin sekali menyuarakan hal ini.

    Semoga suatu waktu suara kita didengar dan semoga aliran2 sampah itu bisa berhenti. Digantikan dengan asupan yang membuat penonton dapat berpikir kritis, syukur-syukur semakin mendalami nilai-nilai kehidupan yang benar. Salam

  2. hahahaha, review nya kali ini kocak, om dan :)))

  3. […] My Last Love […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: