THE ARTIST : A LOVE LETTER TO CINEMA

THE ARTIST

Sutradara : Michel Hazanavicius

Produksi : La Petite Reine, ARP Selection, The Weinstein Company, Warner Bros, 2011

Let me ask you. How often a best picture nominee in most giant festivals really swept you off your feet? Pastinya tak setiap tahun. Dan apa alasannya sampai film itu bisa terasa begitu spesial? Production values? Adegan kolosal? Menyentuh dalam taraf over the top? Akting? Whatever it is, yang jelas, jawabannya adalah keunikan. Sesuatu yang lain dari yang lain. So be prepare for this one. Tak banyak mungkin kita yang mengetahui kiprahnya di Cannes tahun lalu saat Jean Dujardin memenangkan Best Actor Award disana. Namun semakin mendekati award seasons diikuti peredaran lebih luas dari negara asalnya, Perancis, hype-nya kian berkembang. Then we know, ‘The Artist’ adalah sebuah sajian yang penuh dengan keunikan. Sebuah breakthrough luarbiasa dibalik kemajuan teknologi yang malah mengembalikan semuanya ke cinematic effort paling mendasar. B&W silent movie. Film bisu, dengan unsur-unsur konvensionalnya. But however, orang-orang ini bukan mencoba mengulang benar-benar sejarah itu. Syut aslinya saja dengan kamera sekarang, and originally in color. As the director, Michel Hazanavicius, said, bahwa `The Artist’ adalah sebuah love letter to cinema, ini adalah homage. Tribute ke sejarah sinema konvensional dengan satu tujuan. Membuat kita semua kembali menyadari mengapa kita begitu mencintai gambar hidup bernama sinema atau film itu  secara mendasar. Ambisi Hazanavicius sejak lama yang disiapkannya bukan dalam sebentar, apalagi film-filmnya sebelum ini pun sudah menunjukkan kesukaannya pada yang kuno-kuno itu.

Dan Hazanavicius memang beruntung punya Jean Dujardin dan Bérénice Bejo, istrinya sendiri, yang sudah menerjemahkan ambisi serba kuno tadi dalam dua instalmen remake parodi detektif Perancis tahun ‘60an, OSS 117. Gestur Dujardin memang tak seperti kebanyakan aktor sekarang. Ia punya kualitas tampang old fashioned komikal ala Clark Gable, dengan keluwesan gerakan ala Gene Kelly atau Fred Astaire. Bejo juga tak jauh beda. Begitu pun, kebisuannya bukan lantas ditangani dengan musik orkestra yang dimainkan live di bawah panggung. Tepatnya, ini bukan murni silent movie tapi sebuah effort sinematis untuk membawa kembali tampilan film di era tersebut. Once you watch it, Anda akan tahu secermat apa mereka menyiapkan semuanya sekaligus apa tujuan Hazanavicius membesut ‘The Artist’ dengan style itu. So yes, this ‘is’ special.

Sebagai seorang superstar Hollywood di tahun 1927, George Valentin (Jean Dujardin) punya segalanya. Karir bagus, kontrak di Kinograph Studios dengan produsernya, Al Zimmer (John Goodman) yang takluk padanya, mobil mewah, istri cantik, Doris (Penelope Ann Miller) serta dua sahabat setia. Supir plus asisten pribadinya, Clifton (James Cromwell) bersama anjing kecil kesayangannya, Jack (Uggie The Dog). Namun Valentin tak memperkirakan bahwa satu waktu teknologi akan beranjak dari era film bisu dimana ia meletakkan secara penuh ketenarannya. Seorang gadis yang dikenalnya dalam sebuah premiere filmnya, Peppy Miller (Bérénice Bejo) dan sempat membuat heboh para media, mulai jadi sorotan ketika Zimmer dan Kinograph memutuskan melangkah ke teknologi film bersuara. Valentin masih mencoba menandingi mereka dengan memproduksi sendiri film bisunya, namun kenyataannya, ia dikalahkan secara telak. Valentin mulai tenggelam. Doris mengusirnya, harta-hartanya terpaksa dilelang, bahkan Clifton yang sudah hampir setahun tak sanggup digajinya terpaksa dipecat hingga berujung pada kecerobohan yang hampir merenggut nyawa Jack dan dirinya. Sementara Miller yang diam-diam mencintainya tetap mengawasi dari jauh, menunggu waktu yang tepat buat menyelamatkan hidup Valentin. Kalau perlu sekaligus memenangkan hatinya.

Inovasi sinematis, itu benar. Tapi bukan tak ada resiko dibaliknya. Penonton sekarang yang tak siap disuguhi film bisu dan belum pernah merasakan excitement-nya, bisa jadi akan ngedumel keluar bahkan meminta refund, dan ini terjadi di beberapa tempat. Rentang ke era silent itu mungkin memang sudah kelewat jauh bagi penonton sekarang untuk bisa menikmatinya dengan nyaman. But do realize that this is the history of cinema. Jauh sebelum kita merasakan hingar bingar bang and boom ala Michael Bay yang dahsyat atau how people like Spielberg created his creatures, inilah sinema dalam gambaran dasarnya. Dan kalau Anda sudah terbiasa atau paling tidak pernah beberapa kali merasakan feel menonton film-film bisu jadul itu, feel ke homage-nya pasti bisa jauh lebih terasa. So that’s it. Saya tak mau kedengaran terlalu membela, tapi kebutuhan terhadap secuil informasi tentang seperti apa ‘The Artist’ ini memang sangat penting sekaligus membuatnya jadi segmental. But once you get it, trust me. Anda akan mengagumi setiap detil terkecil yang disuguhkan Hazanavicius dengan kecermatan luarbiasa.

Mulai dari production values; set, kostum, makeup hingga pemilihan cast yang begitu sempurna menerjemahkan style dan tampilan orang-orang di era 20-30an itu, dari tribute hingga mocking-mocking penuh sindiran termasuk ke kehidupan artis yang serba glamour berikut sepenggal ekses perkembangan teknologi dari era silent ke audible. Bahkan anjing kecil Uggie The Dog pun bisa mencuri hati dan membuat kita tertawa seolah menyaksikan film-film bisunya Charlie Chaplin. Skor musik besutan Ludovic Bource yang sebagiannya meminjam skor-skor klasik termasuk love theme Hitchcock’s Vertigo karya Bernard Herrmann itu juga sangat juara membawa kita ke feel film-film silent era-nya. And deep down, dibalik semua kesempurnaan tadi, kisah tentang pride and glory, friendship hingga lovestory ini sudah dengan sendirinya membangun sebuah dramatisasi yang menarik. Mudah-mudahan status mendasarnya sebagai sinema Perancis tak menghalanginya untuk bersaing di deretan nominasi Oscar untuk best picture sebagaimana kemenangannya di Golden Globe barusan. They usually love musicals, dan biarpun ‘The Artist’ bukan benar-benar sebuah musikal, it looks like one. So it’s not that often to have a kind that swept you off your feet. For me, this is the one, and I hope it’ll be yours too . A wonderful love letter to re-live our love for cinemas, and simply swept me off my feet! Délicieusement enchanteur! (dan)

~ by danieldokter on January 24, 2012.

5 Responses to “THE ARTIST : A LOVE LETTER TO CINEMA”

  1. […] THE ARTIST – Thomas Langmann THE DESCENDANTS – Jim Burke, Jim Taylor and Alexander Payne EXTREMELY LOUD AND INCREDIBLY CLOSE – Scott Rudin THE HELP – Brunson Green, Chris Columbus and Michael Barnathan HUGO – Graham King and Martin Scorsese MIDNIGHT IN PARIS – Letty Aronson and Stephen Tenenbaum MONEYBALL – Michael De Luca, Rachel Horowitz and Brad Pitt THE TREE OF LIFE – Dede Gardner, Sarah Green, Grant Hill, Brad Pitt and Bill Pohlad WAR HORSE – Steven Spielberg and Kathleen Kennedy […]

  2. […] (SUMBER) […]

  3. […] THE ARTIST […]

  4. Setuju sekali dengan review-nya, saya mencoba langsung merasakan sensasinya menonton di bioskop (walau hanya 5 orang) tapi memang membekas di benak saya. Satu kritik mungkin (sok jago) hehe. Penggunaan komposisi Bernard Herrmann Scene d’Amour (from Vertgio) durasi 6 menitan harusnya mengurangi penilaian Ludovic Bource untuk Best Original Score (jelas-jelas itu komposisi 53 tahun yang lalu).

  5. […] The Artist […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: