THE DESCENDANTS : PAYNE TALKS PAIN, AGAIN

THE DESCENDANTS

Sutradara : Alexander Payne

Produksi : Lawrence Gordon Productions, The Mark Gordon Company, Fox Searchlight, 2011

So what is so special about Alexander Payne? Let’s see his works, first. Memulai debut layar lebarnya lewat ‘Citizen Ruth’ (1996), yang berbicara lantang tentang kontroversi aborsi dari karakter yang benar-benar nyeleneh, Payne sudah membuat sosoknya dikenal di Sundance Film Festival. Karya keduanya langsung menempatkannya di nominasi Oscar untuk penulisan skenario adaptasi. Yes, film itu adalah ‘Election’ (1999), produksi MTV yang beratmosfer serba MTV namun sama sekali tak se-ringan atributnya. Ia semakin kuat berbicara tentang hal-hal pahit dalam sebuah character study yang sangat detil dari karakter-karakternya. Penuh sindiran, kemarahan, namun selalu meletakkan penderitaan yang dekat ke masalah sehari-hari di satu garis tipis berujung titik terang namun nyaris tak tergapai sepenuhnya dalam konsep happy ending. Husbands and wives. Cheating. Death. Disappointment. Family’s broken relationship. But also suggestive apology which made them not totally depressive or melodramatic in any ways. Ada sedikit percikan kesenangan, comedy of life, tapi tetap dalam keterkungkungan psikologis. Dan ini masih berlanjut pada karya-karya berikutnya, mau dari novel maupun rekaan pribadinya, ‘About Schmidt’ dan ‘Sideways’, termasuk yang sekedar diproduserinya dibalik layar, ‘The Savages’ atau ‘King Of California’ yang semua berstatus acclaimed termasuk Oscar diantaranya. Sebagian boleh saja menganggapnya stuck di konflik itu ke itu saja, bahwa hampir semua karakter utama di film-film Payne adalah objek penderita karena diselingkuhi ataupun berselingkuh. Tapi itulah Payne. He loves to talk about pain. Bitter, but after all, human. Just like life, sehingga penyampaian terasa sangat intimate dan menyentuh perasaan pemirsanya. So this is his power. Sounds like our movies’ cliche dramatic conflicts? Ah, jangan begitu. Ini jauh berbeda. Jauh berbeda.

The Descendants’ yang baru saja berjaya di Golden Globe dan membuat George Clooney membawa pulang piala aktor terbaik kategori drama, juga masih sama. Payne belum beranjak dari spesialisasi itu. Matt King (George Clooney), pengacara yang masih keturunan raja kepulauan Kaua’i di Honolulu, Hawaii dan merupakan pewaris tunggal lahan raksasa yang tengah dalam proses penjualan ke developer atas keinginan keluarga besarnya, tertimpa masalah atas musibah yang menempatkan istrinya, Elizabeth (Patricia Hastie) dalam keadaan koma. Kesibukan Matt selama ini membuat hubungannya tak pernah dekat dengan dua putrinya, Scottie (Amara Miller), 10 tahun, dan Alex (Shailene Woodley), 17 tahun, apalagi Alex yang tinggal di asrama sekolahnya punya masalah perilaku serta teman dekat yang aneh, Sid (Nick Krause). Namun sekarang ia harus mulai membangun kembali hubungan berantakan itu karena keadaan koma permanen Elizabeth membuat dokter mendorong Matt untuk melepasnya lewat tindakan euthanasia. Selagi menyiapkan keberanian untuk menginformasikan rencana ini kepada seluruh keluarga termasuk ayah mertuanya (Robert Forster) yang juga tak begitu akrab dengan Matt, Alex datang dengan sebuah informasi mengejutkan yang sebelumnya sempat merusak hubungannya dengan sang ibu. Elizabeth ternyata terlibat dalam sebuah perselingkuhan dengan seorang lelaki yang belakangan diketahui Matt adalah pengusaha real estate bernama Brian Speer (Matthew Lillard). Matt lantas berniat mengklarifikasi langsung ke Brian, bahkan memberinya kesempatan untuk menjenguk Elizabeth untuk terakhir kalinya, sementara masalah penjualan tanah itu membawa Matt menyadari bahwa beberapa sepupunya termasuk Hugh (Beau Bridges) mati-matian ingin menutup dealnya demi mendapatkan komisi besar dari developer. Dilema itu semakin menyeruak namun apapun alasannya, Matt harus mengambil tindakan, termasuk yang terpenting, bagaimana ia bisa melepas pahit manis kenangannya dengan Elizabeth dengan sebuah keputusan terbaik.

Diangkat dari novel berjudul sama karya Kaui Hart Hemmings, konflik-konfliknya memang terasa sangat lekat dengan style film-film Payne. Dan ia masih memberikan touch-nya dalam koridor yang sama. Konflik yang digelar sejak awal itu memang luarbiasa pahitnya, tapi Payne tak lantas mendramatisirnya di jalur depresif. Dengan kewajaran di skenario dan penerjemahan akting yang juara dari para pendukungnya, Payne membawa kita pada sebuah putaran kehidupan dimana keterpurukan sedemikian dalam pun kadang masih menyisakan senyuman sebagai harapan untuk melanjutkan hidup. Beberapa karakter seperti Sid (Nick Krause) yang sebenarnya disempalkan agak keluar jalur secara komikal demi mempertahankan sisi komedinya juga mau tak mau tak kelihatan terlalu bersalah untuk tendensi ala Payne ini. Dan itu juga yang membuat ‘The Descendants’ jadi hadir dengan sebuah ‘intimacy’ lebih buat memancing emosi dibalik lansekap Hawaii yang digelar sinematografi Phedon Papamichael sama seperti kiprahnya bersama Payne dan panorama ladang anggur dalam ‘Sideways’, bersama alunan lagu lokal mereka yang juga sangat flowing. Shailene Woodley, the most gorgeous breakthrough tahun lalu bermain sangat menarik menerjemahkan karakter Alex yang meledak-ledak diselingi akting polos Amara Miller sebagai sang adik. Sementara penampilan singkat Beau Bridges, kakak aktor Jeff Bridges yang sudah lama tak muncul di layar lebar, bersama Judy Greer yang memerankan istri Brian dan aktor oldcrack Robert Forster juga sama hebatnya. Namun kredit terbesar memang agaknya sangat patut dialamatkan pada George Clooney. Ekspresi dan gestur serba canggungnya menerima serangan konflik demi konflik dalam karakternya, berganti dari kemarahan mendalam, kadang juga meledak hingga sosok seorang ayah yang mencoba mengambil keputusan bijaksana di tengah penderitaannya, itu benar-benar juara. Sangat manusiawi. Dan beberapa menit menjelang adegan akhir adalah perwujudan paling sempurna dalam sejarah karirnya. Bibir bergetar dan sorot matanya mengucapkan dialog dengan suara lirih pada karakter Elizabeth yang terbaring koma diatas ranjang rumah sakit, itu luarbiasa. Then we all know, Payne has again brought his idea of pain ke sebuah kesempurnaan sinematis. A bitterness beauty that will leave you haunted long after the movie ends. Bagus! (dan)

~ by danieldokter on January 27, 2012.

3 Responses to “THE DESCENDANTS : PAYNE TALKS PAIN, AGAIN”

  1. penasaran dah mani film……………
    smoga ni film emng sebagus yang di hebohkan..

  2. […] THE DESCENDANTS […]

  3. […] The Descendants […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: