PETALING STREET WARRIORS : A HILARIOUS MILESTONE IN CHINESE MALAYSIAN CINEMA

PETALING STREET WARRIORS

Sutradara : James Lee & Sampson Yuen

Produksi : Juita Entertainment & Golden Screen Cinemas, 2011

Seriously, di tengah etnis yang katanya paling beragam, agaknya kita harus sedikit mengaku kalah dengan sebutan ‘Truly Asia’ negeri tetangga. Paling tidak, in terms of local movies. Bagaimana Malaysia dari dulu bisa punya film etnisnya, and no, saya tak bicara soal daerah, tapi mereka punya film Chinese dan Tamil mereka sendiri, yang masing-masing berdialog asli etnisnya. Sementara kita, jangankan artis yang baru belakangan ini mau maju membawa nama etnisnya tanpa harus mengaku orang Manado atau semacamnya. Kepinginnya menunjukkan keberagaman dibalik nasionalisme, tapi kenyataannya mengedepankan karakter non pribumi saja masih tak bisa seimbang. Hampir  semua film seakan-akan menunjukkan etnis penghuni Indonesia tercinta ini cuma pribumi asli dan indo bule. Kalaupun ada sinetron etnis asing produksi joint venture, kita lebih jauh-jauh memilih Arab ketimbang yang dekat dan lebih banyak ada disini, Cina atau India. Sementara mereka, punya sinetron Cina lokal ala TVB. Ya begitulah.

Yang sudah biasa bepergian ke Kuala Lumpur pasti tahu ‘Petaling Street’. Selain jadi salah satu pasar malam terbesar dimana turis bisa mendapatkan barang-barang belanjaan serba bajakan dengan harga miring, daerah Chinatown ini juga salah satu pusat terbesar penduduk Cina mereka, yang tak jarang, gayanya pun seperti pendekar, kalau tak mau menyebutnya preman atau street gangster. Ternyata mereka juga punya latar historis dari etnis itu tentang kawasan ‘Petaling Street’. Dan ini yang diangkat oleh sutradara James Lee Thim Heng dan Sampson Yuen Choi-Hin sebagai produksi joint venture mereka dengan Singapura yang secara historis juga tak jauh-jauh. Satu lagi, ini juga adalah keunikan sinema mereka, seperti ‘Hikayat Merong Mahawangsa’ yang suka sekali membawa kebanggaan atas latar historikal campur-campur itu untuk membesut suguhan yang berbujet gede ketimbang berlebay-lebay dengan melodrama serta horor jorok. Dengan dialek dan bahasa campur baur dari Mandarin, Kanton, Hailam sampai Hokkien lokal dan sebagian Jepang, Inggris serta Melayu,  pendekatan sinematis ‘Petaling Street Warriors’ dibalik alurnya adalah martial arts comedy dalam nafas sama seperti ‘Kung Fu Hustle’. Jika highlight komediknya datang dari Mark Lee, aktor Cina Singapura yang sudah akrab Anda saksikan kalau Anda penggemar film-film Jack Neo, untuk martial arts choreography-nya yang juga tak dibesut sembarangan, mereka mendatangkan Yuk Sing-Ma, koreografer fighting asal Hong Kong yang karyanya sudah kita lihat dalam ‘Storm Riders 2’ dan ‘A Chinese Fairy Tale’ versi terakhir. Dan oh ya, keseriusan mereka juga membuat riset dan pembuatannya memakan waktu dua tahun, hingga mendapat pujian dari beberapa sineas Hongkong sebagai ‘milestone’ dalam perkembangan industri film Chinese Malaysia. So yes, tampilannya boleh saja berkonyol-konyol ala film Stephen Chow, tapi produksi dan penggarapannya, serius, sama seperti hasilnya saat dirilis penghujung tahun lalu di Malaysia dan Singapura. Now let’s go to the historical background of the plot.

Berdasar legenda perjalanan Kaisar Jianwen dari Dinasti Ming yang dipercaya sempat menjelajah Asia Tenggara untuk ekspedisi dagang setelah dikudeta oleh pamannya sendiri dan lama bersembunyi disana menghindari ekspedisi Zheng He yang bertujuan memburunya, Shi Duyao (Mark Lee) yang sehari-hari menjual ‘Hokkien Mee’ bersama istrinya, Zhung Lichun (Yeo Yann Yann) tak pernah tahu bahwa ia masih merupakan keturunan sang Kaisar. Mereka malah kerap menjadi korban keganasan pemerintah kolonial Inggris dan samseng-samseng setempat disana, dimana Duyao yang gemar berjudi terlibat masalah hutang. Duyao sebenarnya masih menyimpan kebingungan mengapa Lichun tak mau melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri namun membubuhkan gembok besi di alat vitalnya, bahkan mencurigai sepupu Lichun, Liu Kun (biduan hip hop/rapper kontroversial Malaysia Namewee / Wee Meng Chee yang pernah memplesetkan lagu kebangsaan mereka) yang lebih dekat dengan Lichun ketimbang dirinya. Misteri ini mulai terbuka ketika seorang jagoan kung fu dengan kecantikan luar biasa, Xiaoju (Chris Tong, aktris/model Cina Malaysia) hadir dalam kehidupan Duyao dan membuka rahasia keturunan itu, diikuti oleh serbuan pendekar-pendekar dinasti Qing dan ninja Jepang mencari peta harta karun yang mereka percaya ada pada Duyao. Mau tak mau, meski cemburu setengah mati pada Xiaoju yang mulai menggoyahkan kesetiaan Duyao, Lichun, Liu Kun dan Wilson Ng (Sunny Pang)  yang ternyata menyimpan kunci dari rahasia penjaga warisan itu membuka jatidiri asli mereka, sekaligus menyadarkan Duyao akan kemampuan rahasia yang selama ini dimiliki tanpa disadarinya.

Memulai karirnya dari gerakan underground film indie Malaysia, salah satunya juga sebagai produser beberapa film indie Malaysia-nya Amir Muhammad yang mungkin jauh lebih dikenal ke luar, sutradara James Lee memang memilih pendekatan komedik ala film-film Jack Neo di ‘Petaling Street Warriors’ yang bertemplate mirip dengan ‘Kung Fu Hustle’ sebagai martial arts comedy ini. Bagi yang tak terbiasa mengikuti film-film Jack Neo serta tak begitu paham dialek-dialek Hokkien lokal Malaysia-Singapura mungkin akan merasa kurang akrab dan sekedar menikmati konyol-konyolan dan tampang nyeleneh Mark Lee yang sekilas punya style melucu mirip pelawak  kita, Daus Separo. Sebagian humornya juga masih mentok di wilayah serba Asia yang serba menyerempet porno-pornoan meski bukan berarti tak lucu. Namun dibalik lucu-lucuan itu, ‘Petaling Street Warriors’ jadi terasa lebih dalam menyuguhkan latar belakang historis yang juga dibesut dengan detil production values tak sembarangan. Berbagai mocking serta sindirannya terhadap politik, sosial hingga sistem pemerintahan bersama sejarah Petaling Street dengan  backdrop tahun 1908 itu berhasil disempalkan dengan menarik sehingga secara keseluruhan tak membuatnya muncul sebagai komedi yang sekedar dangkal-dangkal saja.

Apalagi, ada satu highlight lagi yang membuatnya jadi semakin juara, yakni koreografi aksi yang tak dibesut sembarangan. Intensitas kung fu rumbling oleh Yuk Sing-Ma itu diterjemahkan dengan keluwesan luar biasa dari gestur Yeo Yann Yann, Namewee, Sunny Pang, Frederick Lee serta Chris Tong yang tak sekedar menjual remarkable beauty dari karir modelnya saja, hingga kelihatan tak kalah seru dengan film-film klasik ala Hong Kong. Di tangan kolaborasi James Lee dan Sampson Yuen, ketiga unsur itu sudah bersinergi sangat kuat melahirkan sebuah martial arts comedy yang sangat menarik, apalagi kalau Anda lebih sedikit akrab dengan budayanya, sebagai ‘milestone effort’ dalam sinema etnis mereka. Komedinya hilarious, latar historisnya dalam dan fighting actionnya seru. So now let’s get back to the question, bila animasi sekelas ‘Upin dan Ipin’ saja sudah bisa menampilkan perpaduan antar etnis itu untuk deskripsi asimilasi yang seharusnya juga ada disini, kenapa kita tak berusaha memulainya? (dan)

~ by danieldokter on January 29, 2012.

2 Responses to “PETALING STREET WARRIORS : A HILARIOUS MILESTONE IN CHINESE MALAYSIAN CINEMA”

  1. mantappppppppppppppppp…………
    semaga kita terus beljar dari malaysia untk hal2 yg baik..
    eh kita juga ada kok film yg bertemakn etnis2, walaupun hnya sekedar karakter pemain…

  2. […] Mau tak mau, meski cemburu setengah mati pada Xiaoju yang mulai menggoyahkan kesetiaan Duyao, Lichun, Liu Kun dan Wilson Ng (Sunny Pang)  yang ternyata menyimpan kunci dari rahasia penjaga warisan itu membuka jatidiri asli mereka, sekaligus menyadarkan Duyao akan kemampuan rahasia yang selama ini dimiliki tanpa disadarinya. (sumber) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: