TINKER TAILOR SOLDIER SPY : EENY, MEENY, MINY, ZZZZZ…

TINKER TAILOR SOLDIER SPY

Sutradara : Tomas Alfredson

Produksi : Studio Canal UK & Working Title Films, 2011

No. Anda tak salah kok kalau mengira judul ini diilhami dari children’s counting rhyme yang jadi permainan anak-anak Eropa zaman dulu jauh sebelum videogame dan internet ditemukan. Sama seperti ‘Eeny, Meeny, Miny, Moe’ atau salah satu counting ryhme versi Indonesia, ‘Bang Bang Tut’, this originally sound ‘Tinker, Tailor, Soldier, Sailor‘ ,and so on. Not spy. So ini seperti plesetan yang dipilih novelis spy terkenal Inggris, John le Carré, untuk judul novel spionase-nya. Dalam novel-novel best seller-nya, le Carré yang bernama asli David John Moore Cornwell ini memang terlihat fasih sekali bicara seluk-beluk spionase Inggris sampai ke istilah serta kode-kode rahasia mereka, sebagaimana Ian Fleming dalam novel-novel James Bond, karena ia memang sempat bekerja di intelijen Inggris MI5 dan MI6 sebelumnya. Namun tak seperti Ian Fleming yang lebih menempatkan action dalam style penulisannya, Cornwell lebih suka menelusuri intrik-intriknya secara lebih detil. Dan ia juga punya James Bond versi dia, walaupun tak se-booming itu, in the name of George Smiley, yang kira-kira sama dengan karakternya. Bukan flamboyan dan jago baku hantam seperti Bond, tapi agen yang bekerja lebih dengan otak. Smiley menjadi tokoh utama dalam ‘The Karla Trilogy’ dimana ‘Tinker, Tailor, Soldier, Spy’ merupakan bagian pertamanya.

Now let’s see some movies adapted from his works. Dari ‘The Spy Who Came In For The Cold’-nya Richard Burton, ‘The Little Drummer Girl’-nya Diane Keaton, ‘The Russia House’-nya Sean Connery & Michelle Pfeiffer, ‘The Tailor Of Panama’-nya Pierce Brosnan hingga ‘The Constant Gardener’ yang jadi kontender Oscar 2005, film-film itu tak pernah sembarangan. Kreator-kreator filmnya rata-rata menghargai sekali status le Carré sebagai novelis terkenal sehingga hasilnya pun rata-rata sama bagus seperti novelnya. Tapi tunggu. Bagus secara sinematis tak lantas menghindarkannya dari faktor lain yang jadi terasa sangat segmental. It’s le Carré’s style yang juga seakan bercerita sangat perlahan, kadang nyaris tanpa thrill-thrill yang menghentak, sehingga adaptasinya juga tak jauh-jauh dari sana. Film-film adaptasi novelnya mungkin termasuk dalam barisan film-film yang walaupun menjual starpower dengan akting yang kuat, namun ditinggalkan separuh jalan oleh penonton-penonton yang walkout saking bosannya. Padahal semuanya rata-rata punya plot spionase yang sangat menarik apalagi kalau Anda menggemari kisah-kisah seperti ini. Tapi itulah kenyataannya, secara persentase penonton yang mengharapkan pure entertainment kala melihat barisan bintang terkenal terpampang gede-gede di posternya, memang masih jauh lebih mendominasi ketimbang penonton-penonton serius. So tak usah heran, kala ‘Tinker Tailor Soldier Spy’ versi bioskop (versi miniseri tevenya pernah dibesut tahun 1979 dengan bintang Sir Alec Guinness) yang akhirnya berjaya mengantarkan akting bagus seorang Gary Oldman ke deretan nominee festival-festival berkelas termasuk Oscar itu, akan dipenuhi pemandangan penonton-penonton walkout di tengah pemutarannya. Bahkan nama Tom Hardy yang sedang naik daun bersama Colin Firth yang bermain sama bagusnya pun tak mampu lagi menyelamatkan mereka dari kebosanan atas guliran kelewat lamban tersebut.

Di pertengahan era perang dingin antara blok barat dan timur, 1973,  usaha ‘The Circus’, kode nama untuk intelijen Inggris yang dikepalai Control (John Hurt) mengirim agen Jim Prideaux (Mark Strong) ke Hongaria untuk mengambil informasi rahasia berakhir dengan kekacauan dimana Prideaux tertembak oleh agen Hongaria. Insiden ini mengakibatkan Control dan tangan kanannya, agen George Smiley (Gary Oldman) dipaksa untuk mengundurkan diri oleh anggota-anggota lain seolah-olah dengan sebuah kecurigaan. Control kemudian meninggal dan jabatan kepala baru The Circus diambil alih Percy Alleline (Toby Jones) beserta deputi-deputinya, Bill Haydon (Colin Firth), yang punya affair dengan istri Smiley, Roy Bland (Ciaran Hinds) dan Toby Esterhase (David Dencik). Namun tanpa tahu penyebabnya, Smiley kemudian ditarik kembali untuk menginvestigasi agen Ricki Tarr (Tom Hardy) yang dicurigai sebagai mata-mata atas skandalnya dengan Irina (Svetlana Khodchenkova), seorang agen Soviet yang justru memberi info penting atas keberadaan mata-mata pada Tarr. Smiley yang sejak awal mencurigai ini segera memulai interogasinya bersama agen junior Stephen Guillam (Benedict Cumberbatch) dan akhirnya mengetahui bahwa Control sejak awal sudah memberikan kode nursery rhymes pada suspek-suspeknya; Tinker, Tailor, Soldier, Poorman bahkan dirinya sendiri sebagai Beggarman. Ia pun harus segera membersihkan namanya dengan menemukan sang mata-mata secepat mungkin. Tinker, Tailor, Soldier… Spy!

Di tangan sutradara asal Swedia yang sebelumnya sudah kita kenal lewat ‘Let The Right One In’ yang fenomenal, Tomas Alfredson, ‘Tinker Tailor Soldier Spy’ (tanpa koma seperti judul asli novelnya) dibesut dengan respek tinggi ke novel asli le Carré seperti adaptasi novel-novelnya sebelumnya. Lamban dan sangat perlahan dalam durasi sedikit melewati dua jam atas karakter-karakternya yang memang lumayan segudang sehingga tak memberi penonton kesempatan berpaling untuk menghubung-hubungkan puzzlenya sebagai sebuah kisah spionase penuh intrik. Gary Oldman memang bermain bagus menokohkan Smiley namun sebenarnya tak lebih kuat dari aktingnya di beberapa film yang lebih beratmosfer mainstream seperti franchise ‘Batman’-nya Nolan. Aktor seribu wajah ini malah terlihat santai-santai saja menerjemahkan Smiley sebagai agen paruh baya yang tak beraksi secepat Bond, jauh dari akting gilanya di ‘True Romance’ atau kepanikan intensnya di ‘Romeo Is Bleeding’. Pendukung lainnya yang punya nama besar seperti Colin Firth, Toby Jones hingga Ciaran Hinds pun sama. Bagus, sesuai porsinya, namun tak sampai menunjukkan kualitas berlebih. Justru Tom Hardy, Mark Strong bersama Benedict Cumberbatch, pemeran Sherlock Holmes dari versi BBC terbaru ‘Sherlock’ yang muncul sebagai scene stealer membuat pace-nya terasa sedikit lebih meningkat untuk menghindari faktor lamban tadi. Though so, saya sama sekali tak mengatakan ‘Tinker Tailor Soldier Spy’ jadi jelek dibalik pace ala adaptasi le Carré. Plot penuh intrik dengan twist-twist kecil yang membangun curiosty ke tebak-tebakannya yang menarik itu sudah digelar dengan baik terutama buat penggemar thriller-thriller spionase secara serius. Sinematografi Hoyte Van Hoytema yang juga berkolaborasi dengan Alfredson di ‘Let The Right One In’ dan ‘The Fighter’ semakin menekankan style old-fashioned espionage Eropa yang sangat kental namun tetap elegan. Just like british. And so, ini adalah film bagus, namun in terms of le Carré’s adaptation, segmental. Anda harus paham bahwa seperti ketika membaca novel, ini bukan termasuk golongan pop ala chicklit. Mengikutinya perlu keseriusan lebih, or else, seperti bermain children’s counting rhymes itu, baru sampai menunjuk orang ketiga, ‘eeny, meeny, miny…’, Zzzzz… You already fell a sleep. (dan)

~ by danieldokter on January 31, 2012.

One Response to “TINKER TAILOR SOLDIER SPY : EENY, MEENY, MINY, ZZZZZ…”

  1. […] Tinker Tailor Soldier Spy […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: