HAYWIRE : WELCOME TO SODERBERGH’S TASTE OF ACTION

HAYWIRE

Sutradara : Steven Soderbergh

Produksi : Relativity Media, 2012

Maybe it’s time for Steven Soderbergh to let go of George Clooney. Well, acclaimed director yang merupakan salah satu pahlawan revolusi film indie hingga begitu menjamur sekarang lewat kejayaan ‘Sex, Lies And Videotape’ di Cannes 1989 dulu, memang terkenal suka me-recycle aktor yang sama di film-filmnya. ‘Haywire’, film terbarunya yang sebenarnya disyut sebelum ‘Contagion’ mungkin masih menyisakan Michael Douglas sebagai aktor yang sudah pernah bekerja dengannya, namun meski menggunakan nama terkenal dari ajang MMA, Gina Carano, sebagai pemeran utamanya, ‘Haywire’ adalah awal kerjasama Soderbergh dengan male-muse barunya, Channing Tatum, yang juga bakal muncul dalam dua proyeknya ke depan, ‘Magic Mike’ dan ‘The Side Effects’. Soderbergh juga terkenal suka menyuguhkan ensembel cast nama-nama besar dalam film-filmnya, namun tak selalu berakrab-akrab dengan style kelewat mainstream, dimana style indie dalam penyutradaraannya yang beda hampir selalu muncul dengan jelas. And that also happened to this movie.

Sebagai kiprah pertamanya dalam genre action, premis ‘Haywire’ memang memberi kesan kental sebagai sebuah heroine-showdown dalam tradisi ‘Salt’ atau ‘Colombiana’. Jagoan cewek yang terjebak dalam dominasi intrik kaum pria. You might never heard of Carano kecuali rajin mengikuti perkembangan MMA. Di film pun kiprahnya baru segelintir dalam film-film low budget yang dilempar langsung ke konsumsi video seperti ‘Blood And Bone’-nya Michael Jai White, dan bukan pula peran terlalu gede. Tapi sebaris bintang prianya, dari Ewan McGregor, Michael Fassbender, Channing Tatum, Bill Paxton, hingga Antonio Banderas dan Michael Douglas, itu terdengar sangat menjanjikan. And hey, what is a ‘Haywire’? That’s an english idiom for screwed. Kira-kira begitu. So welcome to Soderbergh’s taste of action, yang sejak awal sudah menyisakan rasa penasaran, seperti apa jadinya kalau Soderbergh menggagas genre ini dalam style khas film-filmnya?

Mallory Kane (Gina Carano), wanita tangguh dari firma outsource pemerintah pimpinan Kenneth (Ewan McGregor), mantan pacarnya, diserahi tugas untuk menyelamatkan seorang sandera, Jiang (Anthony Brandon Wong) di sebuah motel di Barcelona. Agen muda Aaron (Channing Tatum) yang bekerja dalam timnya sempat meremehkan strategi Mallory, namun kemudian operasi itu berjalan sukses. Jiang kemudian diserahkan pada Rodrigo (Antonio Banderas), kontak dari Coblenz (Michael Douglas), agen pemerintah yang memberikan misi itu pada Kenneth. Mallory sebenarnya berniat untuk beristirahat, namun Kenneth memaksanya menjalani satu tugas lagi, menemani agen Inggris, Paul (Michael Fassbender) menjumpai taipan Studer (Matthieu Kassovitz) di Dublin. Mallory yang sudah punya firasat akhirnya menyadari bahwa misi ini merupakan jebakan baginya, dan ia harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk bisa keluar hidup-hidup sekaligus menyusun serangan balik ke otak konspirasinya.

Menggagas plot maju mundurnya dari skenario besutan Lem Dobbs (Dark City, 1998 dan film lama Soderbergh, The Limey, 1999), dari opening scene yang menyajikan full contact without warning antara Carano dan Tatum, Soderbergh sudah menarik garis batas style action cara dia yang berbeda dari film-film mainstream lainnya. Ini bukan serba hi-tech dengan teknis mutakhir seperti ‘Salt’ dan film-film sejenisnya, yang dipenuhi stunt, koreografi over, trik kamera serta sound effect gebuk-gebukan. Sadar bahwa ia punya Carano yang memang jagoan martial arts, Soderbergh membiarkan adegan-adegan aksinya berjalan sangat natural dan back to basic. Old fashioned, seperti kita menyaksikan sebuah pertarungan di depan mata kita. Untuk sebagian audiens, ini bisajadi sebuah letdown, termasuk beberapa yang memilih beranjak dari teater sebelum ‘Haywire’ mencapai paruh masa putarnya ketika saya menyaksikannya, mungkin karena merasa action yang disuguhkan Soderbergh sama sekali tak seru. Namun sebaliknya, bagi sebagian lagi, style ini justru bisa menyajikan intensitas adegan aksi yang berbeda, dengan sebuah puncak final showdown berlatar beach sunset yang semakin menekankan ke-jadul-annya. Dan Soderbergh tetap menggelar ceritanya dalam style khas-nya yang sama. Berbelit, seringkali tak linear dengan pace di tahapan yang sedang-sedang saja. Skor oleh David Holmes yang terdengar sangat ‘Ocean’s Trilogy’ serta dialog-dialognya juga sangat Soderbergh, yang terkadang dipenuhi line-line yang sebenarnya bisa lebih fokus ke penyampaian ceritanya. But then again, inilah pilihannya, lepas dari Anda suka atau tidak. Toh ensembel cast yang bertabur bintang termasuk Fassbender yang sedang hot-hot-nya digilai penonton terutama wanita memainkan karakter mereka dengan baik. Twist-twistnya yang lebih ke ‘character guessing‘ secara sederhana juga disampaikan dengan alur yang menarik.

Carano sendiri beraksi cukup maksimal baik di adegan-adegan full contact, kejar-kejaran melompat kesana kemari hingga gestur kokohnya yang sempurna ketika memegang senjata tanpa harus meninggalkan sex appeal-nya sebagai atlit MMA dengan atribut tampang dan tubuh seksi. Namun aktingnya ketika harus berdialog panjang terutama dengan karakter Scott, bocah penyelamatnya yang diperankan Michael Angarano, tampak agak keteteran. Intonasi kelewat datar dan kacau itu mungkin memang diakui Carano diambil alih oleh orang lain (banyak yang menduga bahwa suara itu adalah milik Laura San Giacomo, aktris yang tampil dalam ‘Sex, Lies And Videotape’), namun ekspresinya juga tak sepenuhnya sesuai dalam bagian-bagian ini. Yang muncul paling menarik justru Ewan McGregor sebagai tokoh antagonis, sementara Tatum kelihatan sangat ‘diamankan’ oleh Soderbergh untuk mempertahankan empati audiens ke sosok lovable tipikalnya. So it’s up to you, as for me, disamping debut Carano yang sangat appealing tadi, Soderbergh sudah memilih cara berbeda untuk menggagas action tanpa meninggalkan gayanya yang khas dalam membesut sebuah film tanpa harus mengekor, dan itu adalah pilihan yang bagus. A complete pack of action, but in many different ways. Soderbergh’s ways! (dan)

~ by danieldokter on February 4, 2012.

3 Responses to “HAYWIRE : WELCOME TO SODERBERGH’S TASTE OF ACTION”

  1. baru nonton fim ini kemarin, berharap intensitasnya seperti The Raid (kapan ya beredar disini?), tapi ternyata scene actionnya agak aneh.. waktu di pantai dengan long shot dan tanpa score, jadi kayak nonton film2 eropa yang ber-atmosfer gimana gitu.. saya suka baca review2 anda, roger ebert, pajiba dan imdb. keep up the good work!
    monggo mampir ke blog saya.

  2. 🙂. Soderbergh style. beda, dan perlu dihargai saya rasa🙂. thanks a lot for enjoying it, and the compliment, too!. will check your blog too🙂

  3. […] Haywire […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: