MALAIKAT TANPA SAYAP : TAK CEMERLANG, TAPI RUPAWAN

MALAIKAT TANPA SAYAP

Sutradara : Rako Prijanto

Produksi : Starvision, 2012

Embun tak perlu warna untuk membuat daun tidak jatuh cinta padanya”.

Mencintai bukan berarti memiliki. Mencintai adalah siap untuk pergi, atau siap ditinggal pergi”.

Kamu akan berdegup dengan jantungku. Jantung kita”.

Kadang saya bingung, kenapa seorang Rako Prijanto, yang notabene penulis quote-quote puitis di salah satu film terbaik yang kita punya, ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ serta sudah menelurkan ‘Ungu Violet’ dan ‘Merah Itu Cinta’, keduanya adalah romantisme sinema Indonesia yang cukup baik itu, mau buang-buang waktu dengan sekumpulan karya banyolan yang sama sekali tak penting. Okelah, ‘Ungu Violet’ mungkin penuh dengan tudingan plagiat terhadap sebuah klip musik Korea dari grup mereka, Kiss, ‘Because I’m A Girl’, tapi toh segaris tema yang kemudian dikembangkan jadi sebuah lovestory yang cukup mengharu-biru dengan highlight Dian Sastro dan chemistry luarbiasa dengan Rizky Hanggono yang kala itu baru memulai debut layar lebarnya, dibalik alunan themesong Padi ‘Menanti Sebuah Jawaban’, juga punya pesona yang sulit buat ditampik. ‘Merah Itu Cinta’-nya Marsha Timothy dan Gary Iskak pun sama. Mengalun dengan romantisme berbeda di tengah kekurangan-kekurangannya. Penuh puitisasi dengan visual yang juga lumayan cantik. Entah kalau soal duit, tapi seharusnya Rako lebih rajin mengeksplorasi kelebihannya di genre-genre seperti yang dua ini, plus menahan diri sedikit atas keinginannya menyempalkan twist-twist tak penting yang harusnya tak perlu ada di jalinan plot yang sudah baik, hanya buat mau terlihat berbeda. ‘Malaikat Tanpa Sayap’ yang diluncurkan dalam momen Valentine’s Day bersama ‘Bila’ membawa Rako kembali ke sisi lebih itu.

Sejak kebangkrutan ayahnya, Amir (Surya Saputra), Vino (Adipati Dolken) yang merupakan anak sulung di keluarganya terpaksa putus sekolah. Kepindahan mereka ke kontrakan kecil dan post power syndrome Amir yang terus bertahan dengan harga dirinya pun membuat ibunya, Mirna (Kinaryosih) tega kabur meninggalkan Vino dan adik kecilnya, Wina (Geccha Qheagaveta) yang tertimpa kecelakaan di tengah kegalauannya. Wina yang jatuh di kamar mandi memerlukan perawatan dengan biaya besar untuk tindakan operasi kalau tak mau kehilangan kakinya, sementara Amir tak kunjung mendapat pekerjaan baru. Masalah ini kemudian terdengar oleh seorang calo penjualan organ (Agus Kuncoro) yang berseliweran di rumahsakit. Ia pun mendekati Vino untuk mendonorkan jantungnya dengan bayaran tinggi. Vino yang merasa tak punya jalan lagi menyanggupi transaksi ini tanpa menyadari resipiennya adalah Mura (Maudy Ayunda), anak seorang pengusaha kaya (Ikang Fawzi) yang dikenalnya di rumahsakit. Seorang gadis yang mencoba tegar dibalik kerapuhan fisiknya, yang langsung mencuri hati Vino sekaligus memberinya kembali semangat hidup dan jadi penyelamat keluarganya.

Sama seperti ‘Ungu Violet’, masalah donor-donoran organ dalam sebuah lovestory romantis memang bukan lagi hal baru.  Meski sah saja sebagai resep konflik dalam genre sejenis, tapi dalam konteks karya Rako, ini pengulangan. Plot sampingannya dalam bentukan karakter Vino pun se-klise film-film kita yang dipenuhi problematika keluarga jatuh ketimpa tangga dan kecebur di got pula. Hingga masalah medis yang lagi-lagi, seperti rata-rata film kita, tak dilatarbelakangi survei yang layak dalam menyampaikan masalahnya. Serba ridiculous di tengah usaha mau kelihatan berbeda tapi tetap sama saja. Dari masalah kaki Wina yang seolah separah orang terkena ledakan bom padahal cuma diceritakan jatuh di kamar mandi, carut-marut gambaran fisik Mura hingga sempalan operasi transplantasi yang harus menampilkan Singapura untuk mempertahankan kenyataan padahal berdampak cukup parah pada kewajaran plotnya yang juga lagi-lagi dipaksa muncul dengan twist serba kebetulan yang malah membuat romantisasinya malah jadi sebuah letdown bagi banyak orang. Belum lagi poster dan adegan pembuka sebagai pengantar twist itu yang sebenarnya sudah sedikit blak-blakan menyampaikan sesuatu yang tak perlu ada.

But wait. Di luar kekurangan tipikal itu, Rako ternyata juga sukses membesut sebuah lovestory yang mengharu-biru di segala sisi sinematisnya. Akting bagus para pendukungnya, termasuk Ikang Fawzi yang lama tak muncul dan Surya Saputra yang tak harus merengek-rengek dan overacting demi memancing airmata penonton, digantikan dengan puitisasi ala Rako dalam dialog-dialognya yang bisa tersampaikan tetap wajar dengan ekspresi-ekpresi sama wajarnya. Tak berlebihan, dengan sorot mata yang juga bicara sama bagusnya dalam menggambarkan keterikatan hati antar karakter di tengah konflik-konflik mereka. Semuanya menjelaskan cinta sebagai benang merah utama temanya, bahkan dari sematan komedi pada karakter Agus Kuncoro yang meski mulai terjebak sebuah tipikalisme tetap mampu muncul sebagai daya tarik tersendiri. Dan Rako memang harus diakui cukup peka ke pemilihan aktris dalam film-film drama-nya. Seperti ‘Ungu Violet’ dengan Dian Sastro dan ‘Merah Itu Cinta’ dengan Marsha Timothy, ia membaca pesona Maudy Ayunda dengan sama kuat. Akting natural Maudy dengan mudah membuat penonton jatuh cinta pada karakternya, dan chemistry-nya dengan Adipati terjalin luarbiasa kuatnya. Dialog-dialog yang dihadirkan Rako, percayalah, akan membuat seisi bioskop dipenuhi lenguhan ‘oooh’ dari penonton terutama para wanita yang menyaksikannya, bersama visual yang juga tak pernah jadi berlebihan namun tetap cantik dibalik kepahitan yang ada dalam plotnya. Terakhir, adalah pilihan themesong Dewi Lestari, ‘Malaikat Juga Tahu’ yang memang merupakan salah satu love song Indonesia terindah yang pernah ditulis, yang merangkai semuanya jadi semakin bersinar dalam romantisasi yang digelar Rako. Ini memang sisi lebih yang membuat kita jadi tak lagi sampai hati melibas kekurangan-kekurangan yang ada. Bit ridiculous in many ways, but comes adorably irresistible in its romanticism. Tak bersayap, tak cemerlang, tapi percayalah, ini sangat rupawan. (dan)

~ by danieldokter on February 9, 2012.

7 Responses to “MALAIKAT TANPA SAYAP : TAK CEMERLANG, TAPI RUPAWAN”

  1. “masalah kaki Wina yang seolah separah orang terkena ledakan bom ” ~ haha gw stuju nih, penjelasan kenapa bisa berdarah darah gitu gak cerdas.

    • Haha bener moan, lengkap pake dialog ada pecahan tulang (mereka secara asal nyebutnya sel) pula di kaki itu. Either konsultannya dukun patah, atau belum selesai kuliah dokter😀

  2. eh gilaa ya mas penutup reviewnya ini pas, nikmat dan syahdu..hehhehehe dan pun embel2 judulnya hehehehe

  3. suka judulnya dehh sama ending nya.. setuju sama Andy.. *jempol*
    Tak bersayap, tak cemerlang, tapi rupawan. *peluk lukman sardi* #loh

  4. […] Malaikat Tanpa Sayap […]

  5. jempol ja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: