BILA : JUST BELONGS TO THIS GENERATION

BILA

Sutradara : Chiska Doppert

Produksi : Maxima Pictures, 2012

Film kita memang akrab sekali dengan yang namanya trend. Selain horor, dalam drama romantis resep yang digunakan juga hampir seluruhnya sama. Tak ada yang salah memang, secara kebanyakan melodrama Asia yang sering kita jadikan acuan juga seperti itu. Namun sedikit berbeda di pengembangannya, jika mereka membangun kreatifitas dari latar yang sama, kita justru selalu membawa latar itu ke depan tanpa kreatifitas lain bersamanya. Ini sudah berjalan dari satu dekade ke dekade lainnya, dengan style yang juga menggambarkan ciri khas tiap-tiap generasi, mostly di kehidupan remaja yang paling sering menjadi titik eksposnya. Sesekali, kita mungkin punya yang cukup baik serta memorable untuk mewakili zamannya. Dari Romi dan Juli, Galih dan Ratna, Boy dan Vera, Rangga dan Cinta, atau Adit dan Tita. Kadang bukan dari kualitas, tapi dari keberhasilannya meraup penonton dalam jumlah masif hingga jadi karakter-karakter yang selalu diingat orang, bahkan yang tidak berada dalam generasinya. And no, saya tak mengatakan bahwa karakter-karakter dalam ‘Bila‘ lantas mewakili itu, tapi untuk generasi sekarang, suka atau tidak, seumuran atau tidak, inilah bentuk produknya. Dan mengikuti trend yang sekarang sangat dipengaruhi perfilman Asia terutama Korea dan Thailand, hingga ke tampang-tampang pemerannya yang mostly dipenuhi tampilan setengah bule atau serba oriental, plus plot yang terus-menerus di ‘tarik-ulur’ untuk melukiskan sebuah kisah cinta, seperti itulah film ini. Dengan peran sentral yang dibawakan Stefan William, aktor sinetron/FTV yang belakangan populer disebut ‘Aktor Terfavorit 2011‘ dari award-award dunia maya, bersama Shalvynne Chang (credited as Shalvynne) yang baru memulai debut layar lebarnya, ‘Bila‘ yang diluncurkan sebagai tontonan menyambut Valentine’s Day tahun ini memang hadir seolah kita menyaksikan film-film Mario Maurer atau Ha Ji-Won dengan setting lokal.

Bila (Shalvynne) yang sejak kecil hidup bersama ibunya setelah meninggalkan sang ayah yang berselingkuh, bersahabat dengan Shosana (Karina Meita Permatasari) yang jauh lebih populer darinya. Bila pun merasa kalau Shosana dalam segala hal selalu lebih dari dirinya. Namun perasaan itu berubah ketika mereka mengenal Dani (Stefan William), siswa populer di sekolahnya. Meski tetap bersahabat, keduanya lantas bersaing untuk mendapatkan Dani, yang ternyata lebih menyukai kepolosan Bila. Namun pertentangan dari ibu Bila atas sebuah insiden kemudian membuat Bila dan Dani terpisah. Dani memilih menyingkir ke luar negeri. Bila yang patah hati pun melanjutkan hidupnya, hingga akhirnya sekembalinya dari Singapura ia mendapati Dani telah bertunangan, bahkan akan menikah dengan Shosana. Namun jalan terhadap cinta mereka belum berhenti disini.

Dari naskah besutan Cassandra Massardi, ‘Bila‘ memang dipenuhi dengan resep standar film remaja yang serba klise plus dialog-dialog yang terasa sangat lekat dengan ABG bila tak ingin menyebutnya kelewat lebay. Turnover karakter-karakter yang digulirkan Cassandra dalam rentang waktu sangat panjang, berganti dari satu ‘beberapa tahun kemudian‘ hingga ke ‘beberapa tahun kemudian‘ lainnya pun sama. Seringkali reaksi-reaksi terhadap konfliknya juga hadir dengan ke-lebay-an yang secara umum sulit untuk dipercaya. Gambar-gambar dari penyutradaraan Chiska Doppert yang memang sangat senada dengan Nayato juga, meskipun hadir seindah posternya, mungkin tak lagi terasa spesial. Namun tunggu dulu, proses tarik ulur yang seakan-akan mau menyempalkan twist tapi malah dipanjang-panjangkan dengan konflik tambahan justru bisa jadi senjata ampuh bagi sasaran pemirsa belia-nya. Penonton yang bisa jadi sudah melewati generasi itu mungkin akan merasa jenuh tak terkira mengikuti gelaran ceritanya, namun agaknya Cassandra memang menempatkan pikirannya seperti pikiran sasarannya yang notabene generasi SMP-SMU sekarang, dan itu suatu kelebihan, bahkan bagi karakter yang sudah berkembang ke usia dewasa dalam plotnya. Stefan William, Shalvynne bersama Karina pun menghadirkan akting yang sangat senada dengan guliran plot itu, walau chemistry diantara ketiganya cukup lumayan. Kekanak-kanakan,lebay, atau apalah sebutannya bagi sebagian penonton yang lebih dewasa, tapi mari tak men-judge-nya dari situ. Toh generasi sebelum ‘Galih dan Ratna‘ atau anak-anak sekarang mungkin menganggap goretan pisau membentuk hati bertulisan nama di batang pohon, melempar kerikil ke air atau berpuisi-ria untuk melukiskan cinta itu sama konyol bagi mereka. Di saat sebagian penonton merasa jengah, generasi belia sekarang mungkin sangat terhanyut dengan ke-unyu-an yang dihadirkan dari tarik ulur konfliknya. Gemas, tertawa atau menangis mengikutinya. Toh lagi, sebagian melodrama remaja Asia yang bisa dinikmati semua kalangan tak juga jauh-jauh dari kekurangan yang sama. Apalagi ini memang diluncurkan pada momen yang tepat, saat sebagian dari mereka datang ke bioskop untuk menikmati itu. And so, ‘Bila‘ bukanlah sebuah produk yang salah atau jelek. It just belongs to younger generation, dan mari lebih sedikit menghargai itu. (dan)

~ by danieldokter on February 12, 2012.

2 Responses to “BILA : JUST BELONGS TO THIS GENERATION”

  1. Ya sepertinya film ini cuma sekedar minta dihargai bukan untuk di puji..

  2. haha… ya gitulah. kepala harus sedikit di-set ke pola pikir abege🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: