ONE DAY : LONG JOURNEY OF LOVE

ONE DAY

Sutradara : Lone Scherfig

Produksi : RandomHouse Films, Film4, Color Force, Focus Features, 2011

We might all agree that ‘An Education’ adalah sebuah drama kisah cinta yang bagus. Remarkable one. Bersama nama Carey Mulligan, sang sutradara wanita asal Denmark, Lone Scherfig, juga ikut terangkat. Kesensitifannya membesut ‘An Education’, mau tak mau membuat kita percaya, genre ini adalah keahliannya. And there goes ‘One Day’, lagi sebuah love story yang diadaptasi dari novel David Nicholls di tahun 2009, yang sesaat menjelang peredarannya sudah menimbulkan hype cukup besar di kalangan penggemar film-film romantis. Ah ya, poster itu mungkin jadi salah satu poster terindah di tahun lalu. Sekaligus memberikan keingintahuan besar terhadap filmnya, bersama Anne Hathaway yang dipasangkan dengan Jim Sturgess. A cinema’s sweetheart and a heartthrob. Set London dan Paris yang serba panoramik ala Eropa pun semakin menguatkan keindahannya. Already feels like a romantic movie trip. But is that so?

Seperti tiap chapter novelnya melukiskan satu tanggal yang sama dalam rentang teramat panjang, 20 tahun, terhadap hubungan dua manusia free-spirit, gadis Yorkshire Emma Morley (Anne Hathaway) dan playboy Dexter Mayhew (Jim Sturgess), begitulah Scherfig menggelar filmnya. 15 Juli, tanggal itu, dimulai dari tahun 1988 dimana Emma dan Dexter melewatkan semalam bersama namun berikrar untuk tetap menjadi sahabat, menyimpan perasaan mereka mereka yang saling menyukai satu sama lain. Tahun demi tahun, problem demi problem, bertemu, berpisah dan saling merindu, Dexter dan Emma sampai pada pencarian hati yang sebenarnya. Namun takdir berkata lain.

Plot itu menyampaikan storytellingnya dengan unik, walau sebenarnya bukan lagi hal baru dalam ranah drama-drama romantis yang menggelar tarik-ulur perjalanan panjang dua hati untuk mempertemukan dunia mereka bersama. ‘One Day’, sebenarnya sudah punya semua unsur yang diperlukan untuk menggelar romantismenya ke atas angin. Sedikit mirip dengan ‘Before Sunrise’ atau ‘500 Days Of Summer’ yang penuh dialog bertranslasi cinta di tiap sekuensnya, namun sayangnya, Hathaway dan Sturgess tak bertransformasi selekat Ethan Hawke-Julie Delpy dan Joseph Gordon Levitt-Zooey Deschanel di dua film itu. Bisa jadi, rentang waktu 20 tahun memang punya sisi penerjemahan yang sulit untuk mempertahankan karakterisasinya se-lovable itu. Dan entah novelnya sama atau tidak (I didn’t read it, either), bentukan karakter Dexter dan Emma memang kerap lebih terlihat tolol ketimbang menggambarkan kemisteriusan perasaan. Akibatnya, konflik, perjalanan panjang dan dialognya jadi terasa lumayan melelahkan untuk berjalan sinergis bersama atmosfer romantisnya. Anne Hathaway memang kelihatan benar-benar mencoba berakting dengan dialek Yorkshire dibalik sosok aslinya yang asal Amerika, walaupun tak juga terlalu cemerlang, sementara lebih dari separuh film digunakan Sturgess lebih pada permainan jual pesona ketimbang berserius-serius menyelami karakter Dexter yang sebenarnya kompleks di tengah kepopuleran dan problem intern keluarganya. Dan ini berdampak tak begitu baik ke sekuens akhir setelah sedikit kejutan menghentak namun tak lagi baru untuk penikmat film-film romantis tahun ‘70an (termasuk Indonesia) dengan ending berbelok seketika, yang harusnya bisa luarbiasa jadi menyentuh.

But however, in terms of romantic entertainment, mostly on this moment of love celebration yang dipilih buat peredarannya disini, mau bagaimanapun akting dan chemistry itu muncul, Hathaway dan Sturgess pastinya merupakan dua sosok yang tetap jadi feast for audience’s eyes bersama romantisasi set ala Eropa yang digelar Scherfig. Sinematografi besutan Benoît Delhomme bekerja dengan sangat baik, begitu juga skor musik dari Rachel Portman plus theme song ‘Tear Off Your Own Head’ dari Elvis Costello. Serba romantis. Sedikit banyak, kolaborasi ini bisa menolong tampilan plot yang draggy dan kadang terasa pointless dengan simbol-simbol lain genrenya sebagai sebuah lovestory. Jadi begitulah. Di balik kekurangan-kekurangannya, ‘One Day’ memang punya atmosfer romansa seindah fotografi dan tone color yang sangat menjelaskan cinta pada posternya. Cantik!  Happy Valentine’s Day! (dan)

~ by danieldokter on February 13, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: