GHOST RIDER : SPIRIT OF VENGEANCE ; HE WHO PEES FIRE

GHOST RIDER : SPIRIT OF VENGEANCE

Sutradara : Mark Neveldine & Brian Taylor

Produksi : Hyde Park Entertainment, Imagenation Abu Dhabi, Marvel Knights, Columbia Pictures, 2012

Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Kalau ‘Ghost Rider‘, kencingnya api. Saya tak tahu joke sejelek ini berasal dari mana, apalagi dengan visualisasi plus dialog yang terang-terang menanyakan itu. Like ‘Mister, I wanna know how you pee”. Apakah dari salah satu penulisnya, yang notabene merupakan penulis komik serta skenario yang lagi dipuja-puji karena kolaborasinya dengan seorang Christopher Nolan, David S. Goyer, atau Scott Gimple dan Seth Hoffman. Atau, justru dari duo sutradara yang dipilih buat meneruskan estafet dari Mark Steven Johnson sebagai sutradara film pertamanya, Mark Neveldine & Brian Taylor (credited as Neveldine/Taylor), yang memang sepertinya agak terganggu. Oh ya, mereka adalah orang-orang yang menghasilkan ‘Crank’-nya Jason Statham, ‘Gamer’ yang juga hampir sama nyelenehnya, berikut adaptasi ‘Jonah Hex’ (sebagai penulis skenario). Dan mungkin karena Stan Lee-Avi Arad dari Marvel sendiri menganggap franchisenya sebagai franchise kelas dua mereka di bawah bayang-bayang ‘The Avengers’, sekuel ini menjadi film kedua di bawah bendera divisi Marvel Knights setelah ‘Punisher : Warzone’ yang menurut Stan Lee dikhususkan ke karakter Marvel yang kurang dikenal dan stylenya lebih gelap. Begitu ya?

Oke. Film pertamanya, ‘Ghost Rider’ memang banyak mendapat cercaan baik dari kritikus dan penonton. Tapi harus diakui juga bahwa Mark Steven Johnson yang juga menulis ceritanya serta campur tangan Nicolas Cage yang katanya fans setia komiknya, sudah berhasil memperkenalkan karakter ini dengan adaptasi sebagaimana mestinya, in the way of superhero movie genres. Seru, fun dan setia ke komiknya. Box officenya juga lumayan hingga mereka merencanakan sekuel ini. Singkatnya, bagi penggemar atau yang tahu lebih banyak tentang komiknya, ini adalah adaptasi yang cukup bagus. Salahnya, di film kedua ini, baik skenario dan penyutradaraan itu meluluh-lantakkan semuanya. Berbanding terbalik dengan teaser trailernya yang kelihatan sangat seru dan menjanjikan, yang kita dapatkan bukan lagi bentuk nyata dari sebuah sekuel, namun seperti reboot dengan kombinasi style ‘Crank’-‘Drive Angry’ dengan fantasi religius penuh khotbah seperti ‘Legion’ atau ‘Priest’. Boro-boro mau kelihatan seperti ‘DaVinci Code’. Bahkan ‘Drive Angry’ yang serba nyeleneh tapi sesuai tendensinya sebagai homage ke film-film drive-in trash, yang tergolong ‘so bad it’s good’, masih jauh lebih kelihatan lebih baik. Gimmick 3D-nya? Sama saja. Ini memang cukup parah.

Seorang pendeta dari sebuah biara terpencil di Turki, Moreau (Idris Elba), ditugasi untuk menyelamatkan Danny Ketch (Fergus Riordan), seorang yang tengah diincar Roarke (Ciarán Hinds), setan dalam wujud manusia yang ingin menggantikan tubuhnya ke tubuh Danny. Danny yang bersembunyi di sebuah biara di Eropa Timur bersama ibunya, Nadya (Violante Placido) segera disambangi oleh sekawanan bandit sewaan Roarke, Carrigan (Johnny Whitworth). Moreau kemudian meminta pertolongan Johnny Blaze (Nicolas Cage), yang tengah menyepi di Eropa Timur atas penyesalannya setelah melakukan perjanjian dengan setan, yang menyebabkannya menjadi Ghost Rider. Blaze awalnya menolak, namun janji Moreau untuk mengembalikan jiwanya membuat Blaze ikut serta dalam pengejaran itu. Mereka berhasil menyelamatkan Danny dan membawanya ke biara Moreau namun pendeta atasan Moreau, Methodius (Christopher Lambert) berniat menghabisi Danny. Di saat bersamaan, Roarke menyerbu bersama Carrigan yang sudah diberinya kekuatan setan sebagai Blackout. Sementara Blaze yang ingin menolong tak bisa berbuat apa-apa karena Moreau sudah menunaikan janjinya. Ia mendapatkan jiwanya kembali, namun kehilangan kekuatan Ghost Rider. Sekarang pilihannya adalah tetap kembali sebagai Johnny Blaze, atau mengharapkan Danny yang tengah ditawan Roarke untuk mengembalikan sosok Ghost Rider ke dalam dirinya.

Ghost Rider : Spirit Of Vengeance’, seperti yang digembar-gemborkan Cage dalam produksinya akan membawa karakter superhero yang anti-hero ini ke level baru yang serba seru, it’s like ‘he’s getting drunk’, katanya, ternyata memang menepati janjinya. Tapi hasilnya malah berbalik dari yang diinginkan, as ‘drunk’ means real drunk dengan treatment dari Neveldine/Taylor yang memang nyeleneh itu. Dibuka dengan stylish opening scene yang cukup mantap dari adegan kejar-kejaran di Eropa Timur, kredit awalnya kembali memperkenalkan asal-usul ‘Ghost Rider’ dari narasi Johnny Blaze. Namun makin ke tengah, Neveldine/Taylor semakin menunjukkan wujud asli mereka dari skenario yang ternyata juga sama berantakannya, termasuk teori-teori biblical tentang ‘Spirit Of Vengeance’ dalam usaha membuat plotnya terlihat seperti novel-novel Dan Brown.

Dialog-dialognya cheesy dan preachy, hampir seluruh pemerannya bermain overkomikal kecuali Idris Elba yang bisa sedikit membuat karakter Moreau, pendeta jagoan itu lebih menarik. Cage malah jatuh ke taraf akting yang seolah malas-malasan menunjukkan karakter Blaze yang tak lagi konsisten seperti di film pertamanya. Sebentar penuh keluhan namun sebentar lagi bersemangat dengan khotbah-khotbah tak penting. Fergus Riordan sebagai Danny yang harusnya jadi pusat perhatian pun sama datarnya. Sebagai villain, Ciarán Hinds dan Johnny Whitworth yang sekilas terlihat seperti versi serius Jim Carrey namun kemudian di make-up mirip Prince Nuala-nya ‘Hellboy’ dengan kemampuan membusukkan lawannya hingga berjamur itu pun tak lagi bisa menyelamatkan meski tampil cukup lumayan. Bahkan aktor senior Perancis Christopher Lambert yang sudah lama tak muncul sampai rela menggunduli kepalanya pun hanya numpang lewat secara tersia-sia.

Visual adegan aksinya dibesut dengan CGI yang sangat tak perlu dan menurunkan intensitasnya. Tak jarang, di tengah showdown yang seharusnya bisa tampil seru, Neveldine/Taylor merusaknya dengan visual ala animasi videoklip yang seakan mau berinovasi tapi malah anehnya luar biasa, hingga dentuman musik cadas yang digeber terus-terusan bersama gimmick 3D konversinya pun tak lagi bisa menolong. Namun yang paling parah memang adalah soal ‘pees fire’ itu, yang entah dengan tujuan apa dimunculkan sampai lebih dari sekali, diawali dialog konyol pula. Sama konyolnya dengan adegan Ultraman dalam ‘Crank : High Voltage’ tempo hari. The main thing, Mr. Neveldine and Mr. Taylor, kami tak bakal perduli dengan bagaimana tokoh superhero ini buang air kecil, tapi bagaimana ia beraksi dengan lemparan rantai dan kobaran api dimana-mana, itu yang penting. Kalian bersama Goyer dkk yang sepertinya ikut terganggu itu tak hanya menghilangkan simbol rantai sebagai senjata utama ‘Ghost Rider’, tapi juga meredupkan flaming fire-nya mau seberapa banyak pun bensin yang kalian gunakan. Ini benar-benar tak lagi kelihatan seperti genre superhero dan secara total kehilangan benang merahnya ke film pertama. As for me, mudah-mudahan Goyer masih bisa waras untuk nantinya tak memunculkan teori Superman kencing di ‘The Man Of Steel.’ Bah! (dan)

~ by danieldokter on February 17, 2012.

One Response to “GHOST RIDER : SPIRIT OF VENGEANCE ; HE WHO PEES FIRE”

  1. […] Ghost Rider : Spirit Of Vengeance […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: