THE GREY : SYSTEM OF SURVIVAL

THE GREY

Sutradara : Joe Carnahan

Produksi : Lidell Entertainment & Open Road Pictures, 2012

For some, mungkin bukan faktor Liam Neeson yang belakangan bertransformasi  lewat kiprahnya di film-film aksi yang jadi daya tarik utama dalam ‘The Grey’. Meski poster itu juga menjual tampangnya seorang, ini adalah filmnya Joe Carnahan. Mulai debutnya dalam film pendek produksi BMW, ‘The Hire’, Carnahan sudah menunjukkan potensinya dalam menggelar adegan aksi. Then comes ‘Narc’, thriller kriminal yang diproduseri Tom Cruise dan dibintangi Jason Patric-Ray Liotta. Tak begitu laku, tapi dipuji-puji kritikus. Stylenya makin jelas di ranah film aksi yang kelam, serba keras dan sedikit gila. Followed by ‘Smokin’ Aces’ dan yang paling dikenal, ‘The A-Team’, kini Carnahan datang dengan adaptasi cerita pendek berjudul ‘Ghost Walker’ karya penulis Ian MacKenzie Jeffers yang juga ikut menulis skenarionya bersama Carnahan. Premisnya menarik, tentang sekelompok orang di tengah kerasnya rimba salju Alaska yang terjebak di koloni serigala buas pemangsa. Di kursi produser, ada pula nama Ridley dan Tony Scott. Ini memang bukan fantasi penuh CGI manusia serigala macam ‘Wolfman’, ‘Underworld’, bahkan ‘Twilight’. Mengandung filosofi humanis dibalik tema survivalnya, dari serangkaian promonya kita sudah tahu, bahwa serigala-serigala yang sempat menuai protes dari PETA itu digambarkan se-nyata dan se-manusiawi karakter-karakter manusianya. At times, bisa jadi jauh lebih buas dari sekedar fantasi.

Bersama sekumpulan manusia-manusia lain yang bekerja di sebuah situs penggalian minyak di tengah salju Alaska, John Ottway (Liam Neeson) yang bertugas sebagai sniper pembunuh serigala juga punya latar yang sama kelamnya. Ottway malah sempat berniat bunuh diri akibat memendam kekecewaan atas perpisahannya dengan sang istri, Ana (Anne Openshaw) yang dituangkannya lewat sebuah surat. Menjelang masa akhir pekerjaan mereka, pesawat yang mereka tumpangi mendadak mengalami kecelakaan. Ottway menjadi salah seorang diantara segelintir survivor yang lantas mencoba bertahan hidup disana. Pasalnya, mereka terjebak tepat di tengah koloni para serigala yang kapanpun siap menyerang mereka. Satu-persatu mulai menjadi mangsa di tengah usaha mereka mulai mengenali kebiasaan binatang-binatang buas ini, namun lebih dari itu, hubungan satu sama lain juga mulai diuji di tengah ketakutan dan kewarasan masing-masing sebagai manusia.

Jika pernah menyaksikan ‘Alive’ (1993), karya sutradara Frank Marshall yang menggambarkan kisah nyata survival tim rugby Uruguay setelah kecelakaan pesawat di tengah salju pegunungan Andes tahun 1971, Anda pasti sudah bisa menebak atmosfer film ini. Beberapa adegannya, suka atau tidak, memang sangat mengingatkan setiap penonton yang pernah menyaksikan film itu. Namun Carnahan, membawanya lagi ke level yang jauh lebih menegangkan bahkan menyeramkan lewat sinematografi besutan Masanobu Takanayagi dan pastinya, plot yang menghadapkan mereka dengan serigala-serigala buas itu. Shot-shotnya dipenuhi close-up pada ekspresi karakternya yang seakan berada dalam tekanan terberat yang belum pernah terbayangkan. Wajah dan tangan-tangan kotor, percikan darah lewat serangkaian adegan yang cukup gory, seakan kita melihat keringat yang jadi kontradiktif dibalik atmosfer eerie dinginnya pegunungan salju itu. Bahkan garis-garis kerutan dibalik ekspresi tadi tampak sama hidupnya. Liam Neeson sekali lagi menunjukkan transformasi akting yang cukup baik, namun yang muncul lebih kuat dalam transformasi itu justru Dermot Mulroney yang memang kerap memainkan karakter-karakter berbeda dalam karirnya, dari koboi pengunyah sirih yang mencuri layar dari Charlie Sheen-Emilio Estevez-Kiefer Sutherland dkk di ‘Young Guns’ sampai leading man dalam rom-com ‘My Best Friend’s Wedding’ dan ‘The Wedding Date’. Skor yang semakin menekankan tiap sisi ketegangannya dari Marc Streitenfeld pun bekerja dengan baik bersama sinematografi dan penyutradaraan Carnahan. Dan ‘The Grey’ tak lantas berhenti di sebuah film aksi manusia lawan serigala dalam tendensi hiburan murni. Di tengah plot simpel yang sekilas kelihatan klise, Carnahan membangun skenarionya dengan kedalaman filosofis dari basic instinct dua spesies berbeda buat bertahan hidup di tengah alamnya. Seringkali terkesan informatif,  sekaligus membawa tampilan serigala-serigala-nya sebagai karakter penting yang lebih menyeramkan dari sekedar monster-monster biasa. Sama dengan karakter-karakter manusianya, tak ada hero atau villain dalam batas hitam putih. Seperti salju yang jadi kelam, yang ada hanya garis tipis serba abu-abu seperti judulnya. In the end, dari open ending berikut scene after credits yang bukan juga memberikan konklusi simpel terhadap putusan hidup dan mati yang dangkal, this is about a system of survival, where you should kill or be killed, or eat or be eaten. Anda akan beranjak dari bioskop dengan perasaan tak karuan, dan itu tandanya, Carnahan sudah sangat sukses membungkus semua gagasannya. Deeply Intense! (dan)

~ by danieldokter on February 23, 2012.

4 Responses to “THE GREY : SYSTEM OF SURVIVAL”

  1. Nice review. Btw bocoran dong, endingnya itu om Liam ma serigalanya mati yak? Aku nonton yg bajakan nih jadinya kepotong scene after creditnya.. Sebeeel (di bioskop Pontianak adanya midnight doang-ga bisa nonton) Tq🙂

  2. bukan konklusi juga sih, bukan dipastiin mati atau nggak, cuma diliatin the wolf king itu nafasnya tinggal satu2, sementara si Liam masih tetep di posisinya, ngebelakangin layar. you could suppose he lived, tapi toh itu daerahnya serigala🙂. sepertinya cuma menekankan redemptionnya aja.

  3. […] The Grey […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: