DILEMA : A PERFECT BLEND OF TALENTS

DILEMA

Sutradara : Adilla Dimitri, Rinaldy Puspoyo, Yudi Datau, Robert Ronny, Robby Ertanto

Produksi : WGE Pictures, 2012

Sebuah film dengan segmen-segmen film di dalamnya, baik yang dibubuhi judul or else, ditangani sutradara-sutradara berbeda di masing-masing segmen, can be called an omnibus or anthology. Omnibus ini bisa saja memiliki kaitan berupa benang merah yang mengarah ke karakter, set atau yang lain, bahkan yang akhirnya digelar jadi segmen tersendiri. Contohnya ‘Paris, Je t’aime’, atau dari dalam negeri sendiri, ‘Jakarta Maghrib’ tempo hari. Then there’s a style called interwoven, interlinked, atau sebutan-sebutan lain, yang merupakan plot yang dibangun dari karakter-karakter dengan pusat konflik masing-masing, seakan tumpang tindih tapi punya benang merah dari beberapa diantaranya. Walau mirip segmen, tapi alurnya yang berjalan bersamaan dengan sutradara sama tak selalu dianggap sebagai omnibus. Like ‘Traffic’, ‘Crash’, ‘Valentine’s Day’ atau ‘New Year’s Eve’ barusan.

Dilema’, film Indonesia yang hadir minggu ini, punya kasus sedikit berbeda. Tampilan sebenarnya adalah sebuah omnibus, 5 segmen dengan sutradara berbeda. Namun dari benang merah yang dimiliki plotnya, ia disuguhkan sebagai sebuah interwoven plot. Segmen-segmen yang punya sutradara beda itu tak lantas disuguhkan dengan judul untuk mengawali satu-persatu namun dibiarkan bergulir seperti puzzle tanpa kesinambungan menuju tautan benang merahnya secara perlahan. If you saw a Korean movie titled ‘Romantic Heaven’, yang meski hanya punya satu sutradara tapi menekankan omnibus-nya lewat segmen yang hadir satu-persatu dengan judul, ini kurang lebih seperti itu. It’s formerly an omnibus, tapi disuguhkan dengan style interwave.  Multi-naratif dalam berbagai style, seperti film-film Alejandro González Iñárritu. So yes, kita boleh punya omnibus sebelumnya, tapi dari narasinya, ini adalah sesuatu yang spesial, dan benar-benar spesial. Kelima segmen anthology itu seakan dicampur ke dalam satu kuali lewat editing yang kemudian memisah-misahnya tanpa aturan. It’s like you go through the puzzle dan mendapat jawabannya ketika seluruh puzzle itu selesai. Belum lagi dari barisan bintang senior dan junior yang dipertemukan Wulan Guritno yang selain ikutan main, juga duduk di kursi produser lewat karya perdana rumah produksinya, WGE. Satu lagi yang penting, ‘Dilema’ menuangkan isu yang dekat ke kehidupan kita sedikit lebih dalam ketimbang menjual cinta-cintaan secara komersil, sebagai human drama dengan sindiran sosial dan balutan benang merah sebagai sebuah drama kriminal. Now let’s go to the segments.

Dalam ‘The Officer’ karya Adilla Dimitri yang mengawali ‘Dilema’ seperti bagian awal thriller-thriller polisi/kriminal luar, kita dibawa ke karakter Brigadir Ario Bayu Sustoyo (Ario Bayu), polisi idealis yang baru memulai patroli hari pertama tugasnya bersama seniornya, Bowo (Tio Pakusadewo), polisi korup yang tengah mencari biaya untuk tindakan operasi putrinya. Tugas membawa mereka ke sebuah konflik intern antar ulama berbeda aliran di sebuah mesjid.

Garis Keras’ yang disutradarai Robby Ertanto Soediskam mengisahkan tentang ormas Islam yang keluar jalur dalam memerangi kemaksiatan dan problema-problema Islam di lingkungan mereka. Pasalnya, dua penggerak utamanya yang sekaligus adalah sahabat lama, Said (Winky Wiryawan) dan Ibnu (Baim Wong) semakin terdorong ke garis berseberangan. Di saat Ibnu mulai menyadari perjuangan agama yang semakin keluar jalur dan ditunggangi banyak orang demi alasan ekonomi, Said justru diserahi kontrak berbahaya dari seorang pengusaha besar yang tak bisa ditolaknya demi menghidupi putri kecilnya.

The Big Boss’ karya Rinaldy Puspoyo mengetengahkan sosok Adrian (Reza Rahadian), arsitek muda sukses yang sudah memiliki firmanya sendiri bersama sahabat setianya, Bari (Abimana Aryasatya), yang seketika didatangi wanita paruhbaya yang bernama Hetty (Jajang C.Noer) dan memaksanya untuk menyambangi pengusaha besar Sony Wibisono (Roy Marten) yang terbaring menunggu ajal. Adrian tak menyadari bahwa ada rencana besar menyangkut hidupnya yang diinginkan Sony.

Rendezvous’ karya Yudi Datau mengisahkan gadis galau bernama Dian (Pevita Pearce) yang tengah menyepi di sebuah cottage tepi pantai namun diajak oleh Rima (Wulan Guritno) untuk berbaur di pesta yang digelar putranya. Dua wanita beda usia dengan masalah masing-masing, Dian yang merasa kurang perhatian dari sosok ayah dan Rima dengan latar belakang kekecewaan pada lelaki ini mulai mencoba mengenal satu sama lain, dan Dian tak menyadari adanya rencana dibalik perkenalan itu.

The Gambler’ dari sutradara Robert Ronny membawa kita ke sebuah kasino gelap dalam dunia underworld crime dimana seorang pria tua, Sigit (Slamet Rahardjo) kini kembali untuk menebus kekalahan lamanya dari bos Gilang (Ray Sahetapy), pemilik kasino itu. Anjuran dari manajer kasino (Lukman Sardi) yang mengingatkan Sigit tak lagi didengarnya. Tanpa modal cukup, Sigit memutuskan untuk merubah nasibnya disana.

Inisial SW pada salah satu karakter yang merupakan benang merah utama dari segmen anthology ‘Dilema’ ini mungkin sedikit mengingatkan ke karakter nyata bernama belakang sama untuk menggelar kisah kriminalitas mafia dibalik kedok pengusaha kaya berinisial belakang sama, lengkap dengan kerjasama dan seterunya pada penegak hukum plus kritik-kritik sosialnya. Meski menggunakan Jakarta sebagai setnya, ini merupakan fenomena yang tak hanya ada di ibukota, tapi juga di kota-kota besar lain sebagai bagian dari isu-isu yang hampir setiap hari kita jumpai di media. Dari sana, sutradara-sutradara muda ini menggagas bangunan plot serta karakter-karakter yang saling terkait satu sama lain dalam konflik-konflik dilematis sesuai judulnya. Problem sampingannya bisa jadi sama klise dengan kisah-kisah itu, namun yang hadir dalam ‘Dilema’ adalah suatu kewajaran tanpa sekali pun bergerak keluar dari jalurnya. Jahitan benang merah itu dijalin dengan rapi melalui segmen-segmennya, tanpa style penyutradaraan yang kelihatan timpang satu dengan lain, namun masing-masing hadir sama kuatnya. Sinematografi dari tiap segmennya terasa berjalan secara sinergis, blended perfectly ke editing Sastha Sunu yang juga sangat kuat memisah-sambung tiap segmen menuju konklusi yang saling menubrukkan karakter dari tiap segmen ke opening twist yang meski sebagian besar tertebak tapi tetap punya sisi surprise dan tak mengakhirinya dengan hitam putih. All human, dengan usaha membuat interwave omnibus itu menyatu dengan sempurna. Skoring musik dari Tya Subiakto juga semakin memberikan kesan majestis ke tiap pengadeganannya.

Namun untuk penonton awam yang mungkin belum terlalu biasa disuguhkan narasi puzzling seperti ini, daya tarik ‘Dilema’ tetap ada pada barisan castnya yang nyaris sempurna menerjemahkan karakter masing-masing, dari nama-nama senior, generasi tengahnya sampai ke generasi aktor-aktor muda sekarang. Dari Slamet Rahardjo dan Roy Marten yang tampil paling solid menokohkan karakter mereka dengan kekuatan akting yang menunjukkan senioritasnya, Ray Sahetapy, Tio Pakusadewo dan Jajang C.Noer yang memberi nuansa komikal namun tak lantas jadi over, chemistry Winky dan Baim dalam permainan emosi yang naik turun dengan wajar, transformasi Wulan Guritno yang melepas atribut wanita cantiknya, hingga Ario Bayu, Reza Rahadian, Lukman Sardi dan Pevita Pearce yang bermain santai tapi tetap bagus, dan Abimana yang lagi-lagi tampil sedikit tipikal tapi menyimpan kekuatan di penghujung film. Pameran akting lintas generasi ini adalah salah satu kunci yang membuat ‘Dilema’ tetap bisa dinikmati dengan sangat nyaman dibalik puzzling narrative-nya. In the end, semua unsur-unsur sinematis itu sudah membangun jalannya bersama menjadi sebuah tontonan yang beda, sekaligus juara. This is not just a show of stars, but goes with visceral depth beyond a cinematic perfection. Salah satu pencapaian terbaik dari sinema kita yang sangat layak untuk dihargai. Be sure to watch this! (dan)

~ by danieldokter on February 24, 2012.

3 Responses to “DILEMA : A PERFECT BLEND OF TALENTS”

  1. […] DILEMA […]

  2. […] Dilema […]

  3. […] sebagai film nasional. Dan Wiluan sendiri memegang jabatan produser bersama Robert Ronny (‘Dilema’, […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: