HUGO : A TICK-TOCK TO THE LOVE FOR CINEMAS

HUGO

Sutradara : Martin Scorsese

Produksi : GK Films, Infinitum Nihil & Paramount Pictures, 2011

Martin Scorsese might be out of his mind. Might be. Melangkah jauh dari spesialisasinya di tema-tema gangster atau biopik ke sebuah persembahan seperti ‘Hugo’,  yang sama dengan source asli adaptasinya, historical fiction novel/picture book tanpa batasan jelas sebagaimana diakui sendiri oleh authornya, Brian Selznick, yang membawa kisah seorang anak bernama Hugo Cabret dan penemuan ‘Automaton’ dibalik sisi historis pionir filmmaker Perancis, Georges Méliès. ‘The Invention of Hugo Cabret’, judul novel  yang menurut Selznick, ‘not exactly a novel, not quite a picture book, not really a graphic novel, or a flip book or a movie, but a combination of all these things’, sama dengan genre filmnya, memang terpulang pada pandangan penontonnya. Tanpa Robert DeNiro. Tanpa Leonardo DiCaprio. Tanpa jas panjang, jiwa-jiwa depresif serta letusan senjata. Anda boleh saja menyebutnya science fiction, fantasy, period movie, even children movie. But to me, and I’m sure many of you, too, ‘Hugo’, lagi adalah sebuah love letter to the cinema. In much different ways than ‘The Artist’, seperti kebalikan dimana ‘The Artist’ dipenuhi sineas Perancis ke homage Hollywood, ini persembahan Hollywood ke homage sinema Perancis. Sebuah karya, atau bahkan mahakarya yang membawa kita jatuh cinta kembali ke silverscreen. Cinemas. And yes, ‘Hugo’ tak hanya jadi mimpi Scorsese seorang. Ada nama Johnny Depp dengan ‘Infinitum Nihil’nya di kursi produser, penulis skenario langganan nominasi Oscar John Logan (‘Gladiator’, ‘The Aviator’ dan ‘Rango’), dan pastinya, Selznick sendiri. Hypenya yang mulai menaik setelah berada di barisan terdepan jumlah nominee Oscar barusan berikut sederet festival lain dari BAFTA hingga Golden Globe, semakin melambung dengan kemenangannya memperoleh 5 Oscar di kategori teknis. Dan dari awal semua sudah tahu, dibalik treatment 3D yang mempesona, promo-promonya sudah memperlihatkan set serta production values yang sama sekali tak main-main. Scorsese boleh jadi sudah gila. Tapi ini adalah tribute. Homage terhadap kecintaannya pada dunia yang digelutinya selama ini, and overall, to all of us, too. A movie about movies.

And who is that Georges Méliès? Dari puluhan karyanya, ia dikenal sebagai seorang ilusionis yang beralih ke kursi filmmaker yang mempioniri pengembangan teknis dalam sejarah sinema Perancis dan juga dunia, dalam inovasi efek spesial dan sinematografi lain termasuk time-lapse photography, hand-painted colour dan cikal bakal stop-motion. Karya-karyanya, termasuk dua yang paling dikenal, ‘A Trip To The Moon/La Voyage Dans La Lune (1902) dan ‘The Impossible Voyage’ (1904), seringkali menunjukkan penghormatannya pada Jules Verne di ranah fiksi ilmiah namun jauh lebih sureal dalam statusnya sebagai ‘Cinemagician’ sebelum akhirnya melangkah ke genre horror. And yup, it’s true, setelah Perang Dunia I yang menenggelamkan bisnis filmnya dimana Méliès membakar sebagian karya-karyanya, ia memang sempat menghilang dari publik dan bekerja sebagai penjual mainan di stasiun kereta api Montparnasse di Paris. Boneka mekanik ‘Automaton’/’Automata’ itu juga benar-benar penemuannya, termasuk pernikahannya dengan aktris Jeanne d’Alcy dan cucunya, Madeleine (here named Isabelle, a goddaughter), yang hidup bersama mereka, sebelum akhirnya riset-riset tentang Méliès mulai dibuka para jurnalis di akhir era ‘20an. So while the character ‘Hugo Cabret’ remains a mystery,  Méliès benar-benar merupakan bagian dari sejarah awal sinema.

Sepeninggal ayahnya (Jude Law) dalam sebuah kebakaran, bocah berusia 12 tahun, Hugo Cabret (Asa Butterfield), yang tinggal dibalik jam dinding besar di sebuah stasiun kereta api di Paris ditinggal lagi oleh pamannya (Ray Winstone), tukang jam alkoholik yang bertugas menjaga jam besar itu setelah menurunkan ilmunya pada Hugo yang sudah punya bakat dari sang ayah. Hugo pun terpaksa bertahan hidup dibalik jam itu sambil mencuri makanan sesekali. Namun ambisi terbesarnya adalah meneruskan impian ayahnya, mereparasi ‘Automaton’, boneka mekanik yang berada dalam keadaan rusak, sambil berharap ada pesan rahasia dari sang ayah disana. Hugo pun mulai mencuri sparepart mekanik dari seorang pemilik toko mainan, Georges (Ben Kingsley) yang hidup bersama cucunya, gadis belia Isabelle (Chloë Grace Moretz) yang gemar meminjam buku dari pemilik toko buku stasiun, Monsieur Labisse (Christopher Lee). Ulah Hugo yang dipergoki oleh Georges yang kemudian menyita buku catatan ayahnya untuk memperbaiki Automaton membuat Hugo terpaksa bekerja disana membayar kesalahannya, sambil menghindari Inspector Gustave (Sascha Baron Cohen), kepala polisi stasiun yang cacat akibat perang. Persahabatannya dengan Isabelle mulai terjalin dengan Isabelle yang memperkenalkannya pada kecintaan membaca, sementara Hugo mengajak Isabelle menikmati film, sebuah kebiasaan yang dulu kerap dilakukannya bersama ayahnya, yang tak pernah diizinkan Georges pada Isabelle sebelumnya. Ingatan Hugo terhadap film favorit sang ayah,’Voyage To The Moon’ membawa mereka ke penemuan yang selama ini dirahasiakan Georges dan istrinya, Jeanne (Helen McCrory) rapat-rapat dari Isabelle. Dan seorang jurnalis penulis buku, René Tabard (Michael Stuhlbarg), yang memiliki kopi film ‘Voyage To The Moon’, kemudian ikut membantu mereka menemukan sang pembuat film sekaligus legenda hidup bernama Georges Méliès.

This might be a train-wrecked, but only to a dumbhead yang mengharapkannya hadir sebagai sebuah pameran sihir-sihiran, tabrak-tabrakan kereta api, fiksi robot modern atau kisah anak mencari pesan rahasia dari almarhum ayahnya dengan perbandingan secara salah kaprah. ‘Hugo’ sama sekali tak bercerita tentang itu. Kenyataannya, walau alur awalnya kadang berjalan lambat seperti jam yang bergerak perlahan, tanpa pre-informasi apapun mengenai buku dan sejarah awal sinema serta riwayat hidup Méliès sekali pun, Martin Scorsese sudah menelurkan karya paling personal dalam historis karirnya, bahkan mungkin, salah satu yang terbaik, sekaligus sangat menarik untuk diikuti. Apalagi ketika Scorsese mulai menggelar homage-nya ke bagian dari sejarah sinema yang layak diketahui semua pencintanya. Sisi teknis dari desain produksi, sinematografi Robert Richardson beserta efek spesial dan departemen sound yang memenangkan Oscar itu memang tampil solid tanpa sedikitpun terasa main-main. Warna-warni kemegahan Paris serta stasiun kereta yang muncul begitu hidup dengan lalu-lalang penghuninya dibalik treatment 3D yang betul-betul mempesona, detak jam dinding besar dan sebuah kehidupan dibaliknya, serta proses penciptaan sinematis yang tergambar dengan detil sempurna makin membuat ‘Hugo’ menyeruak sebagai sebuah mahakarya dengan set serba megah yang tak sepanjang waktu bisa meraih pencapaian sama. Scorsese boleh saja melangkah jauh dalam genre, tapi tetap menyisakan style khas penyutradaraannya yang merekam detil-detil ekspresi para karakternya. Skor besutan Howard Shore juga kian menekankan kesempurnaan itu. Kalaupun ada satu kelemahan dibalik susunan cast yang rata-rata tampil prima, oh ya, ini termasuk Sascha Baron Cohen yang membawa tribute karikatural film-film tempo doeloe, adalah Asa Butterfield yang kelihatan terlalu berusaha kelihatan seperti aktor dewasa yang menjaga lekat-lekat tiap ekspresinya hingga kehilangan kepolosannya sebagai seorang anak berusia 12 tahun walaupun karakternya digagas dengan segudang kompleksitas. Namun selebihnya, percayalah, seperti lagu nostalgia yang mengalun nyaris sempurna dengan melodius, ini merupakan persembahan Scorsese yang begitu cantik, menyentuh hati, serta yang terpenting, harmonisasi total yang membawa kita semua kembali mencintai gambar hidup bernama sinema. If you love cinema, you’ll love ‘Hugo’. As simple as that, this is a tick-tock to the absolute beauty of cinema! (dan)

~ by danieldokter on March 9, 2012.

3 Responses to “HUGO : A TICK-TOCK TO THE LOVE FOR CINEMAS”

  1. *ehem* kalimat pertama paragraf terakhir *ehem* =D

  2. […] HUGO […]

  3. […] Hugo […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: