NEGERI 5 MENARA : THE SKY IS THE LIMIT

NEGERI 5 MENARA

Sutradara : Affandi Abdul Rachman

Produksi : KG Productions & Millions Pictures, 2012

I bet, meski harapan itu ada, tak bakal ada yang menyangka, setelah sekian lama jumlah penonton film kita anjlok besar-besaran, menyisakan sebarisan pocong dan kuntilanak bahkan belahan dada mencolok jadi juara, ‘Negeri 5 Menara’ bisa menembus jumlah penonton ratusan ribu dalam seminggu masa putarnya. Oh ya, ini seperti ‘Laskar Pelangi’ yang sukses besar karena animo yang sudah gede dari novelnya. Media baca yang berisi pesan inspiratif, berbalut sedikit banyak unsur religius. But let’s admit. Bukan ‘Laskar Pelangi’ yang memang luarbiasa ataupun ‘Ayat-Ayat Cinta’, yang masih cukup bagus itu, selebihnya, walaupun novelnya tergolong bestseller, seringkali tak diimbangi dengan kualitas adaptasi layar lebar yang layak meskipun tetap laku. Karya Ahmad Fuadi yang mengisahkan kesuksesannya meraih mimpi dengan sejuta metafora ini kini diterjemahkan oleh seorang Affandi Abdul Rachman.Notable director in our own cinema, dalam pengertian karya-karyanya yang positif. Sejak rencananya dipublikasi, ‘Negeri 5 Menara’ sudah mengundang ekspektasi. Mari tak mengharap titik demi titik penerjemahannya akan menuangkan semua detil novelnya. Ini adalah sebuah adaptasi, yang jelas-jelas dibatasi durasi, dan Salman Aristo yang menulis skenario sekaligus berdiri di belakang salah satu kursi produser, bersama Affandi, sudah punya niat untuk menyampaikan pesan kebaikannya pada kita. Dimana ‘Man Jadda Wajada’, means ‘Great Things Come To Those Who Will’, kira-kira, bukan sekedar jargon tak penting. Dan bukankah novelnya sendiri memuat Islamic conventional wisdom ‘ Ballighul ‘anni walau aayah’? Sampaikanlah sesuatu meski hanya sepotong ayat. They already did, I guess.

Alif (Gazza Zubizareta ; yang sekaligus menjadi penokohan Ahmad Fuadi sendiri) yang datang dari Minang tak pernah ingin melanjutkan pendidikannya di pesantren seperti yang diinginkan Amaknya (Lulu Tobing). Sebagai siswa yang hendak memasuki dunia SMU dan kemudian bangku kuliah, Alif punya impian sama seperti sahabatnya, Randai (Sakurta Ginting). Merantau untuk melanjutkan sekolah dan kuliah, kemudian sesukses tokoh-tokoh dari ranahnya, Hatta, HAMKA atau Habibie. Sasaran mereka adalah Bandung dan ITB. Toh pandangan dari ayahnya (David Chalik) meluluhkan juga hati Alif untuk mengikuti keinginan sang ibu. Menuju sebuah pesantren di Ponorogo, Madani, batin Alif masih dipenuhi gejolak keraguan, hingga ia mulai mengenal sahabat-sahabat sekamarnya yang datang dari berbagai penjuru Indonesia ; Baso (Billy Sandy) dari Gowa, Atang (Rizki Ramdani) dari Bandung, Said (Ernest Samudera) dari Surabaya, Raja (Jiofani Lubis) dari Medan dan Dulmajid (Aris Putra) dari Madura, untuk menuntut ilmu di pesantren itu, yang ternyata bukan melulu mengajarkan agama, tapi seperti perkataan Kyai Rais (Ikang Fawzi), kepala pesantren, juga ilmu pengetahuan dan kebesaran hati. Suka duka yang membuat Alif perlahan mulai mengerti bahwa keberhasilan akan datang pada orang yang mau bersungguh-sungguh, seperti mantra yang didapat mereka dari seorang ustadz  (Donny Alamsyah) disana. ‘Man Jadda Wajada’. Dan para sahibul menara ini pun mengikrar janji demi menggapai menara mereka masing-masing.

Yup, kisah itu memang sejatinya adalah sebuah kisah inspiratif dari pengalaman hidup Ahmad Fuadi sendiri, yang aslinya mengenyam pendidikan pesantren di Gontor hingga menjadi seorang wartawan VOA yang berkelana ke luar negeri seperti legenda Ibnu Batuta yang mereka jadikan inspirasi. Walau dari luar kelihatan sangat kental di sisi reliji, jauh mendobrak pandangan-pandangan miring tentang pesantren yang banyak disalahartikan karena aji mumpung-aji mumpung yang lantas menggiringnya kesana, ini adalah sebuah kisah universal tentang pendidikan hidup yang sesungguhnya. Tentang kesungguhan. Tentang semangat. Tentang bagaimana mimpi bisa diraih. Dan adaptasinya, tak bisa ditampik, sudah tampil dengan menarik, sama kuat dengan nilai-nilai yang ada dalam novelnya. In many ways, kredit terbesar harus diberikan pada penampilan enam karakter utamanya, yang notabene bukan aktor cilik profesional, namun didapat melalui casting di beberapa kota. Masing-masing bisa menerjemahkan beda-beda sisi karakternya dengan kuat tanpa tumpang tindih satu sama lain, meski masih terjebak di dialek Medan yang menggampangkan semua ‘e’ menjadi ‘E’ hingga lebih terdengar sebagai mocking terhadap dialek Batak yang salah kaprah. But however, chemistry keenam-enamnya menyatu dengan sangat baik dan menonjolkan satu-persatu di saat skenario menuntut porsinya masing-masing. Then technically, Affandi kelihatan sangat bersungguh-sungguh membesut semuanya mulai dari set asli di Gontor, production values lain dengan kecermatan untuk menghadirkan atmosfer 80an sesuai ceritanya, termasuk ‘stageact climax’nya, dan ini yang terpenting, yang banyak dianggap remeh oleh banyak sineas dan produser-produser kita yang hanya mau mengeruk keuntungan ; dialek, terutama dialek Minang yang muncul sangat solid, Jawa dalam bentuk berbeda serta Madura yang tak lantas latah jadi sekedar dialek penuh joke.

Aktor-aktor pendukungnya juga bermain dengan akting yang kuat, dari Andhika Pratama, David Chalik, Donny Alamsyah, Rangga Djoned, hingga Ikang Fawzi yang bertransformasi paling baik sebagai Kyai Rais dengan wibawa yang pas dibalik dialeknya. Terakhir, adalah score dari trio Aghi Narottama-Bemby Gusti-Raymondo Gascaro dan themesong garapan Yovie Widianto yang terasa begitu padu dengan setiap adegannya. Kalaupun ada satu lagi yang harus sangat disayangkan, adalah ending bersetting asli di Trafalgar Square, yang jadinya tak tampil sekuat semangat ‘Man Jadda Wajada’ lain di sepanjang filmnya, mungkin karena penempatan yang terasa agak terburu-buru demi kepentingan durasi. But let’s be positive. Pencapaian selebihnya, sungguh-sungguh terlihat lebih dari kekurangan itu, dan mari menghargainya lebih dengan sambutan hangat dari penonton kita yang mau beramai-ramai kembali memenuhi antrian di tiap pemutarannya. Like one said, ‘The Sky Is The Limit’. Tak ada batasan buat meraih puncak menara dari tiap-tiap hati yang bersungguh-sungguh. ‘Man Jadda, Wajada’! (dan)

~ by danieldokter on March 9, 2012.

3 Responses to “NEGERI 5 MENARA : THE SKY IS THE LIMIT”

  1. kalau.boleh ingin tukaran link untuk nambah persaudaraan di dunia review..aku pasang link ini di blog ku ya..trims

  2. be my guest. sama2. ‘Feel Good Movie for me’nya saya taruh di link🙂

  3. […] Negeri 5 Menara […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: