SAMPAI UJUNG DUNIA : THROUGH THE SEA AND SKY FOR LOVE

SAMPAI UJUNG DUNIA

Sutradara : Monty Tiwa

Produksi : Nasi Putih Production, 2012

Uniform attribute, in terms of military or else, memang jadi komposisi yang lazim untuk jadi latar dibalik sebuah lovestory. Dari luar, ada ‘An Officer And A Gentleman’-nya Richard Gere, ‘The Finest Hour’-nya Rob Lowe, ‘Annapolis’-nya James Franco, bahkan ‘Top Gun’-nya Tom Cruise, yang juga tak melepas elemen lovestory-nya hanya jadi pemanis. Di perfilman Indonesia, kita pun punya ‘Pelangi Di Nusa Laut’ dan ‘Perwira Ksatria’. Selain tujuan komersil, selalu ada collateral tendencies berupa sebuah promosi dari instansinya sendiri, untuk memperkenalkan dayatarik dari suka-duka kehidupan dibalik pendidikan disipliner-nya. ‘Sampai Ujung Dunia’ yang muncul dari ide cerita Tino Kawilarang dan Monty Tiwa (juga penulis skenario dan sutradaranya) ini menyorot dua sekaligus, akademi penerbangan dan pelayaran, untuk meracik sebuah lovestory sweet rivalry dengan metafora langit dan laut itu. Pastinya merupakan sesuatu yang menarik, apalagi dengan susunan cast yang kuat. Tinggal masalah bagaimana menempatkan racikannya hingga tak berat sebelah antara lovestory yang harus bisa tampil menyentuh dan promosi pendidikan tadi. Hasilnya? Well, dalam perjuangan mengambil alih dominasi film-film horor dan seks kacrut di tengah jumlah penonton film kita yang terus anjlok, bersama ‘Negeri 5 Menara’, ‘Sampai Ujung Dunia’ menjadi alasan yang baik untuk jargon ‘Kamis ke Bioskop’. Yup, ini bukan film sembarangan, dalam batas keseimbangan yang baik ke tendensi-tendensi itu.

Tokoh sentralnya adalah tiga sahabat dari latar belakang berbeda. Anissa (Renata Kusmanto), sejak kecil dititipkan ibunya (Tutie Kirana) yang hijrah ke Belanda bersama suami barunya ke seorang pengasuh (Sita Nursanti) di sebuah panti asuhan. Impiannya hanya satu, menyusul sang ibu ke Belanda ketika besar nanti. Sementara dua lelaki yang menjadi sahabat terdekatnya sejak kecil, Gilang (Gading Marten), adalah anak manja yang datang dari keluarga kaya (Roy Marten-Chintami Atmanagara), sedangkan Daud (Dwi Sasono) hanya anak seorang penjahit (Sudjiwo Tedjo) dengan dua orang adik. Persahabatan mereka berkembang menjadi perasaan cinta yang memisah Gilang dan Daud dalam sebuah persaingan ketat dari syarat Anissa yang kecewa atas keadaan ini. Siapapun yang bisa membawanya ke Belanda pertama kali akan dipilih Anissa menjadi kekasihnya. Untuk memenangkan kompetisi hati ini, Gilang kemudian menempuh pendidikan penerbangan di STPI (Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia) – Curug, sedangkan Daud memilih laut sebagai jalannya lewat pendidikan di STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran). Namun Anissa punya sebuah rahasia yang bisajadi tak akan memungkinkannya menunggu hasil kompetisi itu. Dan cinta, juga punya alasannya sendiri untuk memilih hati.

Sampai Ujung Dunia’ memang tetap belum bisa melepaskan diri dari klise-klise sebuah melodrama Indonesia yang menggelar kisah cinta mengharu-biru dibalik latar belakang medis yang sebenarnya lebih memerlukan kecermatan dalam pengadeganannya. Walau belum sempurna seperti film-film luar, seringkali masih mengandalkan selang oksigen dan infus yang tak selalu sinkron dengan eyeshadow berlebih untuk menggambarkan orang sakit, Monty Tiwa bersama timnya sudah menunjukkan perbaikan di sisi informatifnya tanpa dialog-dialog tipikal yang biasanya hadir dari karakter dokter. Tapi yang paling menarik dari ‘Sampai Ujung Dunia’ adalah narasi tak linear hasil kerja editor Cesa David Lukmansyah dan Ryan Purwoko dalam menggelar kekuatan di karakterisasinya, yang dengan baik bisa di-handle oleh tiga pemeran utamanya. Plot dan konflik sampingannya yang menyelipkan beberapa supporting cast dari  Imelda Chrisdianti (Reyna), Sita Nursanti, Sudjiwo Tedjo hingga senior-senior macam Roy Marten, Chintami, dan Tutie Kirana serta cameo Iwa K. juga tetap tak lari jauh dari koridor tema utamanya dan justru membuat keseluruhan filmnya makin menarik.

Dialog-dialog kuat ala Monty Tiwa yang memulai karir layar lebarnya lewat tiga rom-com musikal yang bagus itu (‘Andai Ia Tahu’-‘Biarkan Bintang Menari’ dan ‘Vina Bilang Cinta’) juga masih solid disini dengan penyutradaraan yang makin baik. Kerja DOP Rollie Markiano dan Art Director Fauzi juga menambah nuansa lovestory-nya makin romantis termasuk setting Belanda yang tak jadi gimmick percuma saja, berikut sisi promosi pendidikan penerbangan dan pelayaran yang menyajikan detil-detil pengadeganan yang sangat menarik tanpa sekalipun melangkahi genre utamanya sebagai kisah cinta romantis. And above all, di susunan cast-nya. Anda boleh saja merasa Dwi Sasono dan Gading Marten terlihat terlalu tua untuk di-flashback sebagai siswa SMU, namun gestur mereka tetap tampak meyakinkan menerjemahkan turnover karakter mereka dari remaja hingga dewasa lewat percikan-percikan emosi yang pas. Namun yang paling mencuri perhatian adalah Renata Kusmanto, sosok cantik yang baru kali ini di-plot menjadi pemeran utama. Wajah melankolisnya begitu menyatu dengan karakter Anissa yang rapuh menjadi seorang ‘sweetheart’ yang membuat kita semua percaya sejauh mana Gilang dan Daud bisa melangkah untuk memenangkan hatinya. Through the sea and sky for love, ‘Sampai Ujung Dunia’ will simply swept your heart away with its lovestory of sweet rivalry. Recommended! (dan)

~ by danieldokter on March 11, 2012.

3 Responses to “SAMPAI UJUNG DUNIA : THROUGH THE SEA AND SKY FOR LOVE”

  1. good job martennnnn…

  2. […]            13. SAMPAI UJUNG DUNIA […]

  3. […] Sampai Ujung Dunia […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: