JOHN CARTER : A REAL TREAT FOR CLASSIC SCI-FI LOVERS

JOHN CARTER

Sutradara : Andrew Stanton

Produksi : Walt Disney Pictures, 2012

This is kind of nuts. Memegang rekor film dengan development hell terlama, karya Edgar Rice Burroughs, yang di luar AS lebih terkenal dengan ‘Tarzan Of The Apes’ ketimbang ‘A Princess Of Mars’ (1917) (sebelumnya dimuat di ‘The All Story’ magazine sebagai cerita bersambung dengan judul ‘Under The Moons Of Mars’, 1912), rencana adaptasinya sudah dimulai dari tahun 1931 sebagai film animasi. Sebagai karya sci-fi yang terinspirasi karya-karya H.G. Wells di tahun 1800-an, karya Burroughs ini memang jadi salah satu pionir yang nantinya menginspirasi penulis-penulis sci-fi terkenal dari Ray Bradbury, Robert A. Heinlein hingga Carl Sagan, dan pastinya, kreator ‘Buck Rogers’ dan ‘Flash Gordon’, Alex Raymond, di kelas lebih ke pop culture ketimbang idealisme dan mimpi-mimpi kehidupan di planet lain termasuk Mars. Proyek itu kemudian dikembangkan di tahun 1935 oleh sutradara Bob Clampett (‘Looney Tunes‘) bersama putra Burroughs, John Coleman Burroughs namun batal setelah reaksi negatif dan ketakutan eksekutif MGM melawan serial animasi ‘Flash Gordon’ dari Universal. Tak hanya kehilangan kesempatan sebagai ‘the first feature length-animated ever made- pada ‘Snow White & Seven Dwarfs’nya Disney, berkas aslinya yang sebenarnya sudah hampir selesai pun dikabarkan hilang sebelum akhirnya ditemukan dalam keadaan tak utuh lagi.

Walt Disney yang kemudian memegang copyrightnya meneruskan rencana adaptasinya lagi bersama popularitas sutradara sci-fi spesialis stop-motion Ray Harryhausen di tahun ‘50an namun kembali gagal memasuki tahapan produksi. Haknya kemudian baru dibeli lebih dari 30 tahun kemudian oleh produser Carolco Mario Kassar & Andrew G. Vajna (‘Rambo’) dengan nama-nama terkenal di sutradara dan cast termasuk John McTiernan dan Tom Cruise. Toh akhirnya Tiernan mengundurkan diri karena merasa teknologi efek spesial belum lagi bisa sempurna menerjemahkan set dan efeknya. Proyek yang lantas sempat diberi nama ‘John Carter of Mars’ ini pun kemudian sempat jadi rebutan panjang antara Paramount dan Columbia, dimana Paramount memenangkan bidding dan sempat merekrut sutradara Robert Rodriguez di tahun 2005. Lagi-lagi gagal, dan pengembangan selanjutnya dari sutradara Jon Favreau mentok lagi karena Paramount lebih memilih reboot ‘Star Trek’. Baru di tahun 2007 proyek yang kembali ke tangan Disney itu kembali mendapat lampu hijau dengan sutradara Andrew Stanton  (‘Wall-E‘) yang direkrut setelah kesuksesan ’Finding Nemo’. And here comes ‘John Carter’ yang kembali ke versinya untuk tontonan PG-13 atas visi Disney, setelah Stanton akhirnya memilih kata ‘Mars’ dalam judulnya diletakkan di penghujung film menuju rencana dua sekuel adaptasi sekuel novelnya sebagai trilogi. Perjalanan penuh ambisi ini juga yang mungkin membuat eksekutif-eksekutif Disney tak keberatan menyiramkan bujet raksasa hingga 250 juta USD (plus isu overbujet selama pembuatannya). So now the question is, will it be a huge success at the box office? Yeah, this is kind of nuts.

Plot asli dari novelnya yang dikembangkan oleh Stanton bersama Mark Andrews dan Michael Chabon digagas dengan sentuhan sedikit berbeda dengan menampilkan karakter authornya, Edgar Rice Burroughs dalam petualangan John Carter dalam sebuah narasi paralel. Melalui sebuah medallion misterius, John Carter (Taylor Kitsch), veteran konfederasi perang sipil AS yang baru saja kehilangan anak dan istrinya dalam sebuah insiden direkrut kembali dengan paksa untuk menghadapi suku Apache, tiba-tiba menemukan dirinya berpindah ke planet misterius bernama ‘Barsoom’ yang belakangan diketahuinya dalah planet Mars (‘Barsoom’ dan ‘Jasoom’, masing-masing merupakan analogi Mars dan Bumi yang diciptakan Burroughs bagi penghuni Mars dalam novelnya). Planet itu ternyata sedang berada di ambang kehancuran atas perseteruan dua kota, Zodanga, yang menghisap energi Mars untuk kehidupan mereka, dengan Helium, dengan rajanya Tardos Mors (Ciarán Hinds), yang berusaha bertahan. Ancaman Zodanga yang diperalat kaum Therns dengan kemampuan jauh lebih unggul dibawah pimpinan Matai Shang (Mark Strong) membuat Tardos terpaksa menyerah  pada tuntutan raja Zodanga, Sab Than (Dominic West) memperistri sang putri Helium, Dejah Thoris (Lynn Collins). Dejah yang di ambang penemuan sebuah sinar ajaib yang memegang rahasia kemenangan Helium terang-terangan menentang rencana ini namun juga tak bisa menolak permintaan sang ayah demi perdamaian kedua kubu. Sementara ketibaan Carter disana langsung disambut kaum martian hijau, suku Tharks dengan rajanya, Tars Tarkas (Willem Dafoe), di tengah rencana kudeta oleh Tal Hajus (Thomas Haden Church),  menyimpan niat atas kemampuan Carter yang mampu melompat tinggi atas pengaruh perbedaan gravitasi tanpa diketahuinya.  Usaha pelariannya kemudian membuat Carter bergabung bersama Dejah berikut Sola (Samantha Morton), putri Tarkas yang berniat membantunya namun dianggap berkhianat, namun justru disini Carter perlahan menyadari takdirnya melindungi Mars, sekaligus menyelamatkan Dejah yang mulai mencuri hatinya sebagai sebuah redemption atas kehilangan anak dan istrinya dulu. Tapi Matai Shang juga tak begitu saja menyerah kalah.

Walau novel aslinya dianggap punya genre variatif dari scientific fantasy hingga planetary romance dibalik influence kisah-kisah western dan sword-sorceries, ‘John Carter’ sejatinya merupakan sebuah classic sci-fi legends seperti ‘Flash Gordon’, namun pengaruh dari karya-karya sci-fi yang lebih serius termasuk ‘The Time Machine’-nya H.G. Wells yang punya banyak kesamaan ide dalam bagian plotnya, membuat ‘John Carter’ jauh lebih dalam ketimbang sebuah sajian pop. Berada di tengah-tengahnya, tak se-pop ‘Flash Gordon’ namun tak seserius ‘The Time Machine’, justru membuat ‘John Carter’ terlihat seimbang. Hanya penokohan serta latar belakang tiap makhluk Mars yang aslinya digagas Burroughs dengan detil luarbiasa mau tak mau membuat penuangannya menjadi skenario yang padat jadi sedikit sulit menjabarkan informasi-informasi penting yang ada di dalamnya, terutama untuk penonton yang tak begitu menyukai genre sci-fi fantasy. Ini memang rumit, namun trio Stanton-Andrews dan Chabon yang masuk belakangan untuk revisi akhirnya tampak menyelami sekali aspek-aspeknya secara mendalam, termasuk menambahkan narasi paralel yang menampilkan karakter Burroughs muda (Daryl Sabara) di film ini, yang jadinya menyisakan sedikit antiklimaks dalam membalut kebutuhannya memuat sedikit twist di bagian-bagian ending. Meski begitu, ideologi sci-fi murni yang digabungkan dengan pop, in terms of movie entertainment itu mau tak mau cenderung kelihatan serba gampang, as cheesy as a commercial fantasy di permukaannya, hingga jadi tak sejalan dengan trend yang ada sekarang. Though however, untuk penikmat classic sci-fi, plot serta visualisasi set dan efek spesialnya pasti akan terasa sepadan dengan bujet raksasanya. A total excitement. Adegan-adegan jagoannya termasuk pertarungan di arena Tharks melawan dua ‘white ape’ raksasa berikut final showdown yang tampil semegah adegan penyerangan para Vulkan dalam ‘Flash Gordon’ (1980), dengan teknologi yang jauh lebih mantap, meski sedikit kelewat singkat, juga sama juaranya. Gimmick 3D konversinya masih bekerja dengan baik di adegan-adegan seru. Belum lagi alunan skor Michael Giacchino yang semakin menekankan tendensi mereka dalam nafas classic sci-fi-nya.

Di departemen casting, meski sempat menimbulkan banyak keraguan, Taylor Kitsch boleh dibilang cukup berhasil memberi image ‘rebellious boyscout with hearts‘ untuk karakter ini. Meski tak sesempurna Sam J.Jones dalam ‘Flash Gordon’ dengan otot-otot yang terlihat kurang kokoh dibalik tampilannya yang mengharuskan itu, romantic spark-nya dengan Lynn Collins, which is physically attractive sebagai tokoh sentral yang menjadi titel novelnya tampil dengan chemistry yang cukup baik. And since this is a blockbuster in pop-culture, akting komikal para bintang pendukungnya yang diisi nama-nama lebih senior mulai dari Dominic West dan James Purefoy yang masing-masing bisa mencuri perhatian lewat scene mereka dengan baik, Samantha Morton, Thomas Haden Church dan Willem Dafoe dalam balutan CGI, Ciarán Hinds serta Mark Strong sebagai main villain-nya justru semakin menambah daya tarik ‘John Carter’ dalam nafas genre itu. So be it. Jebakan development hell yang terjadi berulang itu kini sudah menemukan jalannya, meski resepsinya banyak dibantai oleh kritikus yang mungkin tak lagi mengharapkan style classic sebuah sci-fi hadir di depan mata mereka. But if you and if you’re so into sci-fi classic legends, here I’ll assure you. With the grand scale of sets and visual effects, ‘John Carter’ will give you an excitement worth its budgets. A real treat for classic sci-fi lovers! (dan)

~ by danieldokter on March 14, 2012.

5 Responses to “JOHN CARTER : A REAL TREAT FOR CLASSIC SCI-FI LOVERS”

  1. Wah, gw suka nich bro, mantep…

    Bro, tukeran link yuk, mau nggak?

  2. Nice review.

    Banyak hal2 janggal di film ini.
    1. Nape John Carter gak pake baju astronot? darimana dia dapet oksigen?
    2. Sebagai film sci-fi, berasa kurang sci-fi. Nggak ada peralatan canggih. Bahkan kendaraaan pun hewan. Bahkan senjatanya aja pedang. Sungguh keterlaluan sekali., Di Star Wars aja ada light saber!
    3. Kok bisa gitu cepet jatuh cinta ama cewek yg baru ditemuinya? Helooo… dia kan mestinya trauma karena ditinggal mati istri-anaknya.

    Intinya: Film ini seperti fantasy era jaman dulu dengan sentuhan supernatural. Settingnya aja di padang pasir!

  3. @MRPBlog From Fanboy : udah tuh linknya🙂.

  4. @Kencana : haha, let’s just say, Burroughs memang buat ceritanya spt itu. Flash Gordon jg ga pake baju astronot seringnya, dan Mars, kan diceritain punya oksigen disana🙂, biarpun ga secara detil dipaparkan di film. they just said, ga seperti yg diperkirakan, kehidupan ada di Mars. Genre novelnya emang bukan hitech. ini conventional classic dan sering disebut planetary romance. kombinasinya lebih ke arah cerita2 western dan sword-sorceries, makanya setnya padang pasir. soal jatuh cinta, ya sama kaya Time Machine-nya HG Wells yg jadi salah satu inspirasi Burroughs. kan ada keraguan yg digambarin disana, tp intinya adalah redemption untuk ga ngulang kesalahan yg sama. just a philosophy in classic sci-fi, bahwa teknologi bisa berkembang sejauh apa, but one cannot change history. IMO, i thought so🙂.

  5. […] John Carter […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: