MATA TERTUTUP : AND THE HEARTS OPEN

MATA TERTUTUP

Sutradara : Garin Nugroho

Produksi : Maarif Production & SET Films, 2011

Let’s just say, I’m not that into Garin Nugroho’s movies. No, bukan karena filmnya tak punya kualitas artistik luar biasa. Saya tak menampik itu sama sekali, karena saya sudah mengikuti karya-karyanya sejak Garin dulu pertama kali mendobrak perfilman kita yang sedang sesak nafas dengan ‘Cinta Dalam Sepotong Roti’. Tak hanya dalam visual, ia melangkah ke sebuah keberanian tema yang sama puitis seperti bahasa gambarnya. Namun satu, bahasa gambar yang luarbiasa indah itu seringkali dalam kebanyakan karyanya lebih ke segmental ketimbang universal dalam menyampaikan sebuah sisi storytelling. Dan satu yang saya kurang suka, selain shot-shot yang hampir selalu sama menggambarkan ibu-ibu lansia di depan halaman rumah mengerjakan tugasnya dengan iringan tone musik yang sangat mengedepankan etnis tertentu, adalah gagasannya dalam menyampaikan selipan ideologi seks yang seringkali berlindung dibalik kesan artistik namun vulgarnya lebih dari sekedar visual meski hanya sebatas dialog. Ke’tidak terus terang’an yang membuat risih itu, walau bukan berarti tak bagus. Hanya subjektif. But however, sebagian filmnya, juga menunjukkan bahwa Garin sebenarnya bisa menjadi storyteller yang baik dengan sejuta nilai yang disempalkannya. ‘Rindu Kami PadaMu’, itu adalah salah satunya.

Dan kini, Garin agaknya harus memilih jalur itu kembali, dengan gagasan yang datang dari seorang Buya Ahmad Syafii Maarif, mantan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dari Maarif Insitute. Sebuah institusi yang aktif bergerak di bidang kultural dan humanitas berbasis Islam dalam pandangan yang universal seperti Muhammadiyah sendiri. Anda mungkin sudah mengenal sosoknya baik dari media maupun biopik ‘Si Anak Kampoeng’ yang salahnya digarap kelewat pretensius oleh Damien Dematra tempo hari. Tapi toh kita semua tetap tahu bahwa mereka memang punya tujuan mulia yang layak didukung, seperti dokumentasi komentar yang hadir dari berbagai lapisan kalangan di akhir film ini. Yup, ini adalah satu lagi film Garin yang lebih universal untuk diikuti semua kalangan penonton tanpa harus berpikir kelewat banyak, meski sedikit banyak ia masih menyisakan style khasnya. Melalui skenario interwoven plot yang ditulis Tri Sasongko, Garin seolah mengajak kita duduk bersama untuk meyakinkan bahwa ia juga bisa menjadi storyteller yang akrab tanpa banyak perumpamaan. Tujuannya sama dengan Maarif serta Yayasan Sains Estetika Teknologi (SET) yang juga bekerjasama disini. They might used the title ‘Mata Tertutup’. Tapi tendensinya adalah membuka mata, pikiran, bahkan hati kita, atas paham-paham dan keyakinan fundamentalis yang seringkali dimanfaatkan banyak pihak, yang makin membawa kehidupan sosial kita di tengah pluralisme pandangan jadi makin berantakan ketimbang menciptakan perdamaian.

Dari tendensi itu, ‘Mata Tertutup’ yang di ibukota sudah menggelar pertunjukan preview-nya sejak November lalu,  diputar dalam peringatan Hari HAM Sedunia oleh kedutaan Belanda awal Desember lalu dan juga dibawa ke world premier-nya di Festival Film Internasional Rotterdam (IFFR) Belanda, akhir Januari lalu. Dibesut dengan teknologi baru pembuatan film dengan kamera DSLR Canon EOS 5D, cast yang hampir seluruhnya amatir dan bujet hanya sekitar 600 juta rupiah serta survei mendalam dari Maarif Insitute tentang NII (Negara Islam Indonesia) yang jadi fokusnya, pemutaran perdananya 15 Maret kemarin juga sempat dipenuhi kericuhan soal administrasi LSF yang membuat beberapa jam tayang awalnya dihentikan. Untunglah tak sampai menuai protes-protes seperti ‘?’ nya Hanung Bramantyo. So yes, in many aspects, this is special.

Interwoven plot dalam ‘Mata Tertutup’ digagas lewat tiga cerita. Tentang Asimah (Jajang C. Noer), ibu asal Minang yang kehilangan putrinya, Aini, yang masih kuliah di sebuah fakultas kedokteran. Dari beberapa teman Aini, Asimah mendapatkan info bahwa Aini menjadi korban penculikan sebuah kelompok Islam fundamentalis. Lantas ada Rima (Eka Nusa Pertiwi), mahasiswi yang tengah mencari identitasnya. Pengakuan itu lantas ia dapatkan dari keterlibatannya sebagai salah satu anggota NII (Negara Islam Indonesia), namun idealismenya mulai goyah ketika ia menyadari pengorbanannya makin membawanya jauh dari tujuan semula. Lain lagi Sobir alias Jabir (M. Dinu Imansyah), anak pesantren yang berada dalam kondisi ekonomi terbawah bersama sahabatnya, padahal ia punya niat untuk membahagiakan sang ibu. Kebingungan mereka akhirnya membawa mereka ke sebuah kelompok Islam radikal yang meminta mereka melakukan misi bom bunuh diri.

Dalam merangkai interwoven plot-nya, ‘Mata Tertutup’ hadir dengan benang merah yang jelas. Fundamentalisme Islam dalam bentuk berbeda, satunya penuh kedok dengan kebesaran ala sebuah negara, lengkap dengan proses-proses hukum dan keadilan, dan satunya radikal dengan atribut senjata. Maarif dan SET agaknya mencoba meyakinkan semua pemirsanya, bahwa ini adalah sebuah kesalahan pemahaman, lewat skenario Tri Sasongko yang memang banyak membidik proses-proses detilnya dari perekrutan anggota hingga rapat-rapat tertutup yang terkesan sangat naif, namun juga sekaligus creepy, terkadang menjurus komikal dari dialog-dialognya, meski sebagian besar yang kita dengar juga seperti itu. Mirip seperti G30S PKI. Namun yang hadir sama menarik justru sepenggal kritik sosial dibalik alasan-alasan para karakternya yang dibalut banyak dialog tentang kekecewaan sebagai bagian dari kehidupan bangsa ini. Idealisme anak muda dibalik atribut pendidikan, masalah perut dan banyak niat baik lainnya, hingga ke masalah intern terkecil diantara satu keluarga yang datang dari plot Asimah. Mau tak mau, dalam banyak sisi,  ‘Mata Tertutup’, hadir seperti sebuah dokumentasi penghakiman tanpa solusi untuk membuat semua pemirsanya merasa miris dengan kenyataan yang sekarang terjadi di negara ini. In some ways, sedikit pretensius. Namun di sisi lainnya, tanpa bisa ditampik, ia tetap membuka mata kita atas ekses-ekses resiko tiap tindakan fundamentalis itu, yang makin diperjelas lagi dengan dokumentasi komentar para tokoh di guliran kredit akhirnya. Resepsinya memang terpulang lagi pada tiap-tiap pemirsanya, menerima atau tidak ajakan mereka. Ini sedikit berbeda dengan ide pluralisme dalam ‘?’ yang hanya memberi pandangan tanpa penilaian atau pembenaran, namun luarbiasa berani dalam karakterisasi dan gaya fiktif plotnya. ‘Mata Tertutup’ lebih membidik fundamentalisme dan radikalisme dengan tampilan yang cenderung lebih berupa dokumentasi, seperti rekonstruksi, tapi sama-sama menyulut provokasi yang cukup lantang pada akhirnya.

As to me, sisi terbaik dalam ‘Mata Tertutup’ yang jauh lebih menyita perhatian adalah aspek sinematis yang digelar Garin bersama sebarisan cast-nya yang bukan siapa-siapa kecuali Jajang C. Noer. Totally unbelievable, tampang-tampang yang bahkan kita tak tahu pasti siapa nama aslinya ini rata-rata muncul dalam pameran akting arthouse yang luarbiasa baiknya dalam membuat storytelling Garin jadi tak memusingkan dan tetap menarik untuk diikuti. Cenderung teatrikal dalam banyak gestur serta intonasi, mungkin, namun dalam skup filmnya sendiri, yang terasa seolah seorang individu introvert, penerjemahan mereka terhadap karakter-karakternya jadi sesuai dengan medianya. Jajang C. Noer muncul dengan dialek Minang yang sempurna dibalik kegundahan karakternya, Eka Nusa Pertiwi yang bisa menunjukkan idealisme anak muda yang luarbiasa naif menuju turnover karakterisasi yang merekam detil ekspresinya yang mantap, berikut pemeran komandan NII dan sang penjual buku dengan jubah, celak dan janggut yang meski komikal tapi persis seperti makhluk sejenis yang pernah kita lihat sehari-hari. Garin pun agaknya fokus sekali menekankan penonjolan karakter-karakter itu, termasuk pada karakter Aini yang jadi salah satu tokoh sentral dalam penyebutan nama tapi tak pernah dibiarkan menunjukkan visual detil wajahnya sekalipun. Simbol-simbol yang digunakannya juga mampu bicara sama lantangnya, dari nama-nama karakternya, sprei-sprei bendera Amerika dan atribut kesebelasan bola, kalam, kopiah dan lebai, bundel majalah serta artikelnya, dan tulisan-tulisan hingga ke lagu perjuangan yang ditampilkan, meski Garin lagi-lagi belum bisa menghilangkan kebiasaannya menyelipkan ideologi seksual nyeleneh gayanya itu dalam sebuah adegan pengadilan tertutup NII. Satu lagi yang sangat patut mendapat pujian adalah alunan etnis dalam skor yang dibesut Dwiki Dharmawan, yang membuat semua bahasa gambar Garin semakin mengaduk-aduk emosi para pemirsanya. This is something provocatively compelling. A movie that will dive deep into your mind, dan membuat kita semua menyadari bahwa kita semua punya Asimah-Asimah tempat kita bisa terus berlindung, dan sebuah mata, yang tak boleh terus dibiarkan tertutup untuk menjaga keyakinan dalam keragaman yang ada. (dan)

~ by danieldokter on March 16, 2012.

One Response to “MATA TERTUTUP : AND THE HEARTS OPEN”

  1. […] MATA TERTUTUP […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: