THE LORAX : PREACHY IN THE MOST IMAGINATIVE WAY IT CAN BE

THE LORAX

Sutradara : Chris Renaud & Kyle Balda

Produksi : Illumination Entertainment, Dr. Seuss Enterprises & Universal Pictures, 2012

Kita mungkin baru kenal nama Dr. Seuss lewat ‘The Grinch’nya Jim Carrey. Namun di luar sana, penulis dan kartunis bernama asli Theodor Seuss Geisel sudah menjadi teman akrab bagi jutaan anak-anak lewat serangkaian karyanya, dari ‘The Cat In The Hat’, ‘Horton Hears A Who?’ hingga ‘How The Grinch Stole Christmas’. Sebagaimana sebuah buku anak, Dr. Seuss, nama penanya, selalu memberikan nilai-nilai berharga termasuk dalam ‘The Lorax’ dimana Seuss bicara tentang lingkungan yang sekarang marak lagi dikampanyekan, tapi yang membuatnya spesial, di kebanyakan karyanya, Seuss selalu membangun karakterisasinya lewat tokoh-tokoh utama yang nyeleneh dan sedikit villainous dalam metafora berlawanan ke karakter pendamping yang punya niat baik tentang gagasannya. Pesimis lawan optimis, selalu dengan sebuah harapan. Setelah mengadaptasi dua karya Seuss sebelumnya, kini Universal Pictures menggandeng anak perusahaannya di film animasi, Illumination Entertainment, yang digawangi Chris Meledandri, animator yang hijrah mendirikan perusahaannya sendiri setelah banyak berkiprah di 20th Century Fox Animation. Produksi pertama mereka, ‘Despicable Me’ yang menuai sukses besar dan bakal berlanjut dengan sekuelnya tahun depan, sudah membuktikan visi Meledandri untuk memulai persaingannya di ranah blockbuster animasi yang kian berkembang dengan banyak sentuhan teknologi baru, termasuk pastinya, gimmick 3D yang di publikasi ‘The Lorax’ menggunakan plesetan istilah ‘Tree-D’ untuk versi IMAX-nya. Chris Renaud, story artist dan sutradara ‘Despicable Me’ yang sudah banyak bekerjasama dengan Melendandri sejak ia masih di Fox dulu kembali direkrut menjadi sutradaranya. Voice talentnya pun lebih mengikuti pola Fox, yang tak harus dipenuhi nama-nama sebesar animasi Dreamworks, tapi juga tak se-‘you don’t know who’ animasi klasik Disney kebanyakan. Ada Danny DeVito, Zac Efron, Taylor Swift dan Ed Helms disini. Amunisi-amunisi yang bagus untuk sebuah sajian animasi.

Thneed-Ville, kota berlapis dinding itu sekilas punya kehidupan sempurna dengan higienisme bebas kontaminasi dari asesoris-asesoris artifisial hingga pepohonannya. Namun dibalik itu, kota temuan milioner Aloysius O’Hare (Rob Riggle) yang dibangun demi memasarkan produk oksigen kemasan botolnya membuat satu-dua penduduknya memimpikan dunia nyata. Salah satunya adalah Audrey (Taylor Swift), seorang gadis belia yang ingin memiliki pohon trufulla (pohon fiktif berdaun seperti kain berwarna-warni) secara nyata. Impian ini membawa Ted Wiggins (Zac Efron), bocah periang yang memimpikan cinta Audrey, berusaha menemukan pohon itu meski harus menempuh perjalanan berbahaya keluar dari Thneedville ke tanah terbuang yang sangat gersang tanpa kehidupan. Dari saran neneknya (Betty White) yang juga bosan dengan kepalsuan Thneedville, Ted lantas keluar dari kota menjumpai The Once-ler (Ed Helms), seorang lelaki misterius yang ternyata hidup terisolasi di luar Thneedville. Dari Once-ler, Ted kemudian mengetahui cerita tentang malaikat penjaga lingkungan bernama The Lorax (Danny DeVito) sekaligus alasan kenapa pohon-pohon itu punah dibalik ambisi Once-ler dalam keberhasilan bisnisnya. Sayangnya, atas persyaratan Once-ler yang mengharuskan Ted keluar dari Thneedville setiap hari untuk benar-benar mempercayai niat Ted, O’Hare mulai mencium rencana yang bisa mengancam bisnisnya. Ted pun harus menghadapi kemarahan O’Hare sambil meyakinkan segenap penduduk Thneedville betapa berartinya sebuah pohon untuk kota mereka, sekaligus memenangkan hati Audrey.

So it’s about planting a tree. Dari opening scene yang menggambarkan Thneedville lewat narasi musikal yang meriah sekaligus sangat menarik itu, kita sudah tahu bahwa pesan lingkungan dalam ‘The Lorax’ jelas-jelas akan mengarah pada sebuah plot yang bakal jadi sangat preachy. In many ways, animasi ini bisa jadi seolah nenek-nenek kelewat cerewet dalam menyampaikan pesannya, yang juga tak sekuat itu menggugah perasaan kita kebanyakan terhadap efek tanaman terhadap lingkungan, seperti yang sudah setiap saat kita dengar. Bagi pemirsa belia, ini juga hanya punya dua kemungkinan, peduli atau tidak di tengah jalan pikiran mereka yang masih polos. Salah sedikit, ia bisa jadi ‘Cars’-nya Pixar yang mirip nenek-nenek cerewet itu dalam penyampaian dialog yang penuh ‘jangan ini’ dan ‘jangan itu’, yang lantas kehilangan sisi komedi di lebih dari separuh masa putarnya serta tak mampu tertutupi dengan karakter mobil-mobil balap bicara yang seharusnya bisa sangat menarik perhatian anak-anak sekaligus dewasa. Namun justru disini kiprah Renaud bersama timnya diuji, termasuk skenario besutan duo yang juga menulis ‘Horton Hears A Who?’, Ken Daurio dan Cinco Paul.  Dan ternyata mereka memilih cara yang tak terbayangkan untuk menyampaikan pesan Seuss, jauh melebihi daya tarik para karakter-karakternya dalam style Seuss yang biasa, dark and sometimes a bit evil ; sebuah narasi sangat imajinatif lewat teknik animasi dengan sisi komedi yang mutlak diperlukan produk animasi untuk membalut plot penuh petuah itu. Selagi narasi lucunya akan menarik pemirsa dewasa, komedi-komedi childish di bagian karakter-karakter fabel-nya jelas akan menarik hati anak-anak. Selain teknik animasi yang muncul sangat eye-candy dibalut warna-warni meriah, apalagi dengan gimmick 3D yang juga sama menariknya, narasi unik itu terasa semakin solid dengan  komposisi John Powell plus Cinco Paul di lagu-lagu yang juga ikut bercerita dengan lancar menyampaikan pesan-pesan tadi lewat liriknya. Seperti karakter ‘The Lorax’ yang sekilas terlihat cerewet tapi sekaligus sangat manusiawi, atau dosen yang menyampaikan kuliahnya dengan jenaka, Renaud bisa membuat kita peduli terhadap gagasan Seuss, dan itu artinya mereka berhasil. So yes, ajakan menanam pohon demi menjaga lingkungan memang kerap terasa menggurui, tapi mereka sudah menyampaikan penyuluhan lingkungan selama hampir 90 menit itu dengan sangat fun untuk membuat kita ikut merasa tersentuh. You might even ended up buy or have your little loved ones plant them. Call it preachy, but in the most imaginative way it can be! (dan)

~ by danieldokter on March 22, 2012.

2 Responses to “THE LORAX : PREACHY IN THE MOST IMAGINATIVE WAY IT CAN BE”

  1. sangat bagus filmnya.Cukup mendidik anak agar menanampohon lebih banyak……

  2. […] Dr. Seuss’ The Lorax […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: