HI5TERIA : A LITTLE BUT GOOD SHOP OF HORRORS

HI5TERIA

Sutradara : Adriyanto Dewo, Chairun Nissa, Billy Christian, Nicholas Yudifar, Harvan Agustriansyah

Produksi : Upi Production & Starvision, 2012

Tak banyak mungkin sutradara yang memikirkan sebuah regenerasi bagi kelangsungan film kita nanti. Upi Avianto, yang sudah menghadirkan sebaris film-film kita yang berkualitas baik dari ’30 Hari Mencari Cinta’ sampai ‘Radit dan Jani’ kini bertindak sebagai produser dan menggandeng Starvision untuk memperkenalkan bakat-bakat baru yang sebelumnya masih berkiprah di karya-karya indie dan kru produksi-produksi layar lebar itu, lewat sebuah omnibus horor berjudul ‘Hi5teria’.

Sutradara pertama adalah Adriyanto Dewo, yang selain karya-karya videoklipnya, sudah membawa film pendeknya ‘Song Of The Silent Heroes (2010)’ ke festival-festival di Eropa. Lantas ada Chairun Nissa, seorang lulusan IKJ yang mendapat penghargaan Special Mention di Rome Independent Film Festival (RIFF) lewat karyanya, ‘Purnama Di Pesisir’ dan ikut dalam penggarapan film produksi KPK barusan, ‘Kita Versus Korupsi’.  Nama ketiga, Billy Christian, juga seorang jebolan IKJ yang sudah membawa film pendeknya, ‘Dear My Daughter’ ke Pusan, berikut tiga film pendek lainnya, ‘The Clown And The Bride’, ‘Bye Lulla Lullaby’ serta ‘Dunia Sempit’ bersama Adi Baskoro yang juga ikut serta dalam penggarapan ‘Hi5teria’. Dua nama terakhir adalah Nicholas Yudifar, sineas asal Jayapura, juga lulusan IKJ yang menang dalam Festival Film Independen Indonesia 2002 lewat karyanya, ‘Borland Bangun! Ayo Sekolah!’ serta membawa film pendeknya, ‘Kabar Gembira’ ke Kodak National Student Film Competition ; dan Harvan Agustriansyah yang sebelumnya sering menjadi asisten sutradara dalam sejumlah film layar lebar kita. Salah satu film pendeknya, ‘Orde’ (2007) juga banyak mendapat pujian.

Sekarang, bersama kolaborasi ini, mereka membawa nafas baru ke sinema horor Indonesia yang sering dipandang sebelah mata atas ulah produser-produser aji mumpung. Dengan tema-tema yang tergolong baru dan sebagiannya menyelipkan budaya mistis klasik yang belum tersentuh film-film horor kita, ‘Hi5teria’ merupakan angin segar yang menjanjikan setelah sebelumnya kita punya pola omnibus yang sama dalam ‘Takut (Faces Of Fear)’, and if you considered the same, ‘FISFic Vol.1’. Oh ya, horor memang dari dulu jadi wilayah paling menarik untuk sebuah omnibus, sebelum genre-genre lain mulai banyak merambahnya. Here are those five stories, and the reviews.

Pasar Setan (sutradara : Adriyanto Dewo)

Di sebuah hutan menuju puncak Gunung Lawu, Sari (Tara Basro), terpisah dengan pacarnya. Pencariannya kemudian membawa Sari tersesat dan bertemu dengan Zul (Dion Wiyoko), yang juga terpisah dari rekan-rekannya dalam pendakian pertamanya. Zul yang mencoba membantu Sari dalam pencarian itu kemudian terjebak ke sebuah lokasi misterius penuh suara keramaian pasar malam.

Ide mistis dalam pendakian gunung yang sebelumnya sudah pernah digagas Affandi Abdul Rahman dalam karya pertamanya, ‘Pencarian Terakhir’, mungkin tak lagi terasa benar-benar baru. However, ada sedikit pendekatan berbeda yang dilakukan Adriyanto, meski masih terbentur ke pakem tipikal film-film horor kita kebanyakan, menggelar musik mengejutkan justru sebelum adegannya mencapai level itu. Pilihan judul itu pun tak dimaksimalkan ke pengadeganan yang seakan sambil lewat saja. Sebagai pembuka, ‘Pasar Setan’ sudah berhasil membangun atmosfer eerie-nya tanpa harus dipenuhi adegan-adegan penampakan.

Wayang Koelit (sutradara : Chairun Nissa)

Nicole (Maya Otos), seorang wartawan asing tengah melakukan riset tentang budaya pertunjukan wayang kulit di Jawa Tengah. Ternyata dibaliknya, isu mistis dibalik seni budaya ini sekaligus mengancam nyawa Nicole tanpa disadarinya.

Budaya mistis dibalik pertunjukan Wayang Kulit itu berhasil digambarkan dengan eksotis sekaligus mengerikan sebagai atmosfer utama segmen ini. Atribut serta skor etnik Jawa-nya dimanfaatkan dengan baik oleh Chairun Nissa untuk membangun eerie-ness itu dengan baik bersama make-up yang cukup rapi, dan penampilan singkat Sigi Wimala terasa cukup kuat. Twistnya tak spesial, tapi konsepnya sudah kuat. Penghubung yang baik dari appetizer ‘Pasar Setan’ menuju kengerian berikutnya.

Kotak Musik (sutradara : Billy Christian)

Membawa gagasan science di tengah kepercayaan supranatural, ilmuwan muda Farah (Luna Maya) menggelar eksperimennya di sebuah apartemen tua bersama asistennya (Kris Hatta). Sebuah musicbox yang dibawanya kemudian mengantarkan Farah menghadapi dilema atas kepercayaannya yang selama ini menganggap kejadian supranatural hanyalah takhyul dibalik konsep ilmiah yang terjelaskan.

Konsep ide yang menarik, dari supranatural, science hingga reliji muncul solid dibalik konflik dilematisnya bersama kengerian yang menghentak dari awal namun kemudian dibangun dengan intensitas bertahap plus akting intens dari Luna Maya berhasil membawa ‘Kotak Musik’ menjadi segmen paling mengerikan dalam omnibus ini. Set apartemen beserta ornamen-ornamennya yang sekilas normal-normal saja berhasil dihadirkan sebagai elemen yang sangat mendukung atmosfer menyeramkan bersama karakter-karakter sampingannya. Twist di bagian penghujungnya juga juara.

Palasik (sutradara : Nicholas/Nicho Yudifar)

Mengangkat mitos makhluk halus dari Minangkabau yang dikenal dengan sebutan ‘Palasik’ dibalik konsep ilmu hitam yang mengancam para ibu hamil, Vita (Imelda Therinne), yang baru menikah dengan seorang duda dengan satu anak, gadis remaja (Poppy Sovia) dibawa menyepi di tengah kehamilannya ke sebuah villa. Liburan itu berubah menjadi mimpi buruk sejak Vita dihantui oleh sesosok kepala tanpa badan. Vita pun mulai menyelidiki rahasia dibalik sebuah kamar terkunci di villa tersebut.

Ketimbang memvisualkan sosok ‘Palasik’ ini dengan detil yang sebenarnya bisa membuat segmen ini jauh lebih menarik lagi, Nicho memilih bermain aman lebih ke plot serta twist-twistnya. Tak terlalu spesial serta tertebak memang, serta tendensi penjelasan latar Minangnya hanya digagas sekilas lewat panggilan ‘uda’ dan ornamen lukisan tanpa ada usaha ke dialek atau atribut lain yang lebih menekankannya, namun eksekusi di detik-detik penghujungnya cukup menghentak, dan Imelda Therinne mampu membawa intensitas ketegangannya dengan baik. Sayang publikasi tak pernah membiarkan kita banyak tahu tentang pemeran si ayah/duda yang justru jadi titik terlemah dalam segmen ini, sementara Irul si pelayan malah secara natural tampil menarik, namun sama-sama tak dipublikasikan lebih luas.

Loket (sutradara : Harvan Agustriansyah)

Penjaga loket parkiran basement sebuah gedung (Ichi Nuraini ; bila Anda ingat, ia pernah jadi pemeran iklan M-Tix 21 Cineplex dulunya) di suatu malam tiba-tiba mendapat kejadian aneh. Mulai dari palang pintu yang macet hingga diteror sesosok wanita (Bella Esperance) dalam penampilan menyeramkan.

Walau dipenuhi bloopers ke layar komputer parkiran yang tak pernah bergerak, Harvan menggagas ‘Loket’ dengan style thriller klasik yang claustrophobic di tengah set basement sepi dan tergenang air bersama make-up menyeramkan sosok teror-nya dengan penampakan tanpa kompromi. Twistnya menarik, namun berakhir sedikit terkesan buru-buru. Begitupun, ‘Loket’ cukup mampu menjadi penutup yang menggedor dibalik beberapa kekurangan itu, bersama duet Ichi dan Bella Esperance yang tampil dengan baik.

Whatever it is, ini adalah usaha yang sangat layak dihargai lebih dari Upi beserta bakat-bakat baru mulai dari sutradara sampai beberapa kru-nya yang juga dipilih dengan kecermatan tinggi oleh Upi sendiri. Editing dari Cesa David Lukmansyah dan skor Tya Subiakto juga seperti biasanya, bekerja dengan baik membangun omnibus penuh teror ini. Usaha Adriyanto, Chairun Nissa, Billy, Nicho dan Harvan di balik gagasan mereka mungkin masih terasa kelewat fokus untuk menghadirkan beberapa twist yang kadang terasa overlapping dengan konsep awalnya yang sudah kuat, namun dari sisi penyutradaraan mereka sudah menunjukkan bakat-bakat yang patut diperhitungkan untuk membawa sinema horor kita ke wilayah yang jauh lebih baik dari rata-rata yang ada sekarang. As to me, sama seperti ‘The Raid’ yang mengingatkan kita untuk kembali ke konsep klasik sebuah sajian sinematis tanpa harus membelitnya kemana-mana, sebagai sebuah horor, ‘Hi5teria’ hanya perlu satu persyaratan utama. Dalam tendensi utama genrenya untuk menakut-nakuti penonton, dimana sebuah horor harus mampu tampil menyeramkan, ‘Hi5teria’ sudah memenuhi itu. So yes, ini adalah sebuah omnibus yang meskipun masih terasa nafas indie-nya, namun hadir dalam kekuatan serba seimbang, tak kelewat pincang seperti ‘Takut (Faces Of Fear)’ yang di beberapa segmennya terlalu jomplang dengan yang baik karena terlalu memaksakan pembaharuan ide. A little, but good shop of horrors. Semoga regenerasi tadi berjalan sebagaimana mestinya, dimana bakat-bakat ini terus berkembang membawa sinema kita ke arah yang lebih baik lagi! (dan)

~ by danieldokter on March 29, 2012.

One Response to “HI5TERIA : A LITTLE BUT GOOD SHOP OF HORRORS”

  1. […] Hi5teria […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: