THE LADY : AN INCREDIBLE JOURNEY OF LOVE

THE LADY

Sutradara : Luc Besson

Produksi : Europa Corp & Left Bank Pictures, 2011

Those who knew the history of Burma/Rangoon/Myanmar, must already know Aung San Suu Kyi as well. Karir politiknya, Nobel hingga segudang penghargaan lainnya, dukungan-dukungan internasional terhadapnya, dan pastinya, perjuangannya menjadi tahanan selama puluhan tahun di negaranya sendiri. Ini adalah sebuah biopik yang sejak jauh-jauh sudah menancapkan pesona dengan pemilihan Michelle Yeoh, artis internasional asal Malaysia yang dulu lebih dikenal sebagai aktris laga, untuk memerankan sosok Suu Kyi. Dari banyak publikasi kita sudah melihat betapa Yeoh punya postur yang mirip dengannya, dan ia sendiri mengakui, bahwa ia mengharapkan peran ini sebagai puncak dari karir aktingnya. She looks just like the lady. Tapi sejauh mana seorang Luc Besson, yang semuanya tahu bukan sineas yang gemar bermain di wilayah drama dan film-film serius, dalam mengggarap sebuah biopik seperti ini?

Oh yeah. Besson memang tak sedang sekedar merekonstruksi sejarah. Dengan pendekatan komersil ala film-film dia biasanya, Besson membidik bagian dari kehidupan Suu Kyi yang belum banyak kita ketahui sebelumnya. A truly moving lovestory antara Suu Kyi dengan Michael Aris, suaminya yang berkebangsaan Inggris. Besson juga mengaku bahwa ini adalah sebuah tantangan yang akan memaksanya mengeluarkan semua kemampuannya sebagai sutradara, and after all, walau tanpa senjata, this is like a heroine, satu sisi yang sering muncul di film-film Besson. And so, ini adalah sebuah biopik yang berbeda di balik gaya Besson. Konsekuensinya, Yeoh memang takkan bisa berharap banyak akting luarbiasa-nya mimicking the real lady itu dilirik oleh festival-festival sekelas Oscar serta menjadikannya Meryl Streep baru, apalagi skenario Rebecca Frayn tak seluruhnya menempatkan dialog berbahasa Myanmar asli pada karakter Suu Kyi walaupun saat latar setnya ada disana. But then again, kadang kita juga tak perlu pengakuan juri atau festival untuk menyadari sebuah kisah sejati se-luarbiasa sejarah hidup Aung San Suu Kyi. Keterlibatan emosi justru jadi sasaran yang jauh lebih penting untuk bisa merasakan perjuangannya. Perjuangan yang layak didukung semua orang. A fight for a nation’s freedom, di sebuah bagian dunia dimana human rights masih jadi prioritas terbawah pemerintahan junta militernya.

Sebagai putri dari tokoh yang membawa bangsanya pada sebuah pengakuan kemerdekaan, Aung San Suu Kyi (Michelle Yeoh) tak pernah merasakan atribut itu terlalu lama. Di usia tiga tahun, sang ayah sudah terbunuh dalam sebuah kudeta militer yang masih berjalan hingga sekarang. Suu Kyi kemudian bersekolah di luar negeri, dari New Delhi, India sampai memperoleh kelulusan sarjana di Oxford, Inggris. Disana ia menikah dengan Dr. Michael Aris (David Thewlis) dan menetap lama di London, hingga di tahun 1988 sang ibu yang terserang stroke mengharuskan Suu Kyi kembali ke Burma, di tengah gejolak politik yang masih terus berlangsung. Kembalinya Suu Kyi sebagai putri seorang nasionalis membuat pemerintahan diktatorisme militer Burma yang masih banyak dipengaruhi tahyul dan mistis merasa terancam, apalagi barisan demonstran yang menolak diktatorisme militer itu segera meminta Suu Kyi membentuk partai dan ikut dalam pemilu bayangan yang mereka rancang. Toh kemenangannya membuat suasana makin keruh. Tak hanya dijadikan tahanan rumah dengan perlakuan tak manusiawi termasuk penangkapan seluruh anggota partainya, kedatangan Aris dan dua putranya juga ikut berkali-kali mendapat penolakan visa dan deportasi paksa. Namun perjuangan Suu Kyi tak berhenti. Bantuan Aris dan banyak pihak terus mendorongnya mendapatkan dukungan-dukungan internasional, termasuk Nobel perdamaian yang makin membuka mata seluruh dunia, tapi junta militer Burma terus menahan Suu Kyi dalam permainan politik. Suu Kyi pun harus membayar mahal pengorbanannya, berpuluh tahun menjadi tahanan rumah dalam kebebasan semu, tak bisa melihat anak-anaknya bahkan melewatkan kesempatan terakhir mendampingi Aris melawan penyakit kanker prostat-nya, tapi sebuah keteguhan hati demi tujuan kemanusiaan, juga tak semudah itu bisa berhenti.

Now I’m gonna put you standing on the line. Memilih biopik dengan penggarapan serba festival tapi membatasi simpati penonton merasakan kebesaran kisah sejati karakternya, atau pendekatan serba komersil sampai komikal yang membuat penonton betah mengikuti perjalanan panjang itu dengan perasaan tersentuh hingga ke dasar hati mereka? Now this, in terms of movies, jelas hanya garis batas dalam sebuah pilihan. Tapi pendekatan yang lebih universal tentu bukan selamanya jadi tak bagus. Dan Besson memilih yang kedua. Menyajikan biopik tentang Aung San Suu Kyi dengan gayanya yang kental. Walau mungkin tak se-over itu dan mendramatisasi sebagian sejarah asli, tampilan militer-militer Burma itu tak ubahnya menyaksikan film-film action gaya Besson dengan villain-villain super komikal, bertampang seram dan kejamnya tak kepalang. Dramatisasinya seringkali berlebih dalam sebuah penyampaian adegan, hitam putih serta penuh penghakiman, plus skor Eric Serra yang kadang juga over-dramatized seperti dialog-dialognya yang kadangkala kedengaran kelewat cheesy. Theme song-nya, ‘Soldier Of Love‘ yang dinyanyikan Sade pun sangat tidak bernuansa biopik.  Tapi taraf komunikatifnya, tak bisa disangkal, juga luarbiasa memancing sebuah kedekatan rasa antara penonton ke karakter-karakternya, dan dalam kisah-kisah seperti ini, komunikasi itu jelas penting sekali. As biopics seringkali membuat penonton beranjak karena penyajian yang lambat, trust me, you won’t find it in here. Begitupun, Besson tak sampai meninggalkan kepentingan set, sinematografi (Thierry Arbogast) serta beberapa detil lain termasuk alur maju-mundur dan penggunaan bahasa asli yang tergarap cukup baik dalam genrenya sebagai sebuah biopik.

Dan Michelle Yeoh, sudah menghandle semuanya dengan kesempurnaan akting yang merupakan pencapaian terbaik dalam karirnya. Selain transformasi totalnya meniru gestur Aung San Suu Kyi dalam seluruh gerak-geriknya, detil-detil  ekspresi hingga sekedar gerakan tangan pun muncul dengan mengagumkan. Kita seolah tak lagi melihat Yeoh yang biasa, namun Aung San Suu Kyi dalam media-media berita. David Thewlis juga tampil tak kalah sempurna membangun chemistry-nya dibalik penekanan kisah cinta Suu Kyi dan Aris yang jadi poin terpenting dalam pendekatan Besson. Tak hanya membuat kita tersentuh hingga sebagian penonton yang mungkin meneteskan air matanya, chemistry itu membuat kita percaya bahwa cinta bisa berbuat sejauh apapun yang ia bisa, bahkan dengan pengorbanan sebesar kisah aslinya. So it’s your choice. As to me, Besson sudah memilih jalan terbaiknya untuk menyampaikan kisah tentang semangat, perjuangan tanpa henti dibalik sosok seorang wanita dengan ketangguhan luarbiasa, and above all, cinta yang bisa membuat seseorang terus bertahan dalam tantangan apapun. Gejolak politik di Myanmar mungkin tak semudah itu berhenti meskipun pemilu-nya sudah digelar dengan kemenangan Suu Kyi sebagai buah perjuangan panjangnya, bersamaan dengan peredaran ‘The Lady’ di sederet negara Asia termasuk penundaan dan pelarangan di negara lainnya. But it’s not just about a nation. This is about humanity in all of us. An incredible journey of love, and let’s all hail for that! (dan)

~ by danieldokter on April 1, 2012.

One Response to “THE LADY : AN INCREDIBLE JOURNEY OF LOVE”

  1. […] The Lady […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: